[VoB2021] Kita Terbiasa dengan Urutan Tertentu, Sementara Al-Qur’an Tidak Begitu


بسم الله الرحمن الرحيم

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-255

Topik: Divine Speech

Kamis, 4 Maret 2021 

Materi VoB Hari ke-255 Pagi | Kita Terbiasa dengan Urutan Tertentu, Sementara Al-Qur’an Tidak Begitu

oleh: Nurfitri Anbarsanti

#ThursdayDivineSpeechWeek37Part1

Part 1

————————————–

بسم الله الرحمن الرحيم 

وَالْعَصْرِۙ

اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.  (QS Al-Ashr 103:1-3)

Ust. Nouman memulai sesi kali ini dengan sedikit mengulas sesi 6 sebelumnya. Setelah itu, in sya Allah Ust. Nouman akan (walaupun sebenarnya Ust. Nouman merasa ini tidak mungkin dilakukan ) menyampaikan apa yang benar-benar Ust. Nouman ingin sampaikan, mungkin dengan waktu yang panjang dan menyebabkan waktu break menjadi lebih sempit.  

Jika kita ingin melakukan sequencing atau pengurutan saat kita berbicara, biasanya kita bisa menyebutkan dua hal dalam satu kalimat saat berbicara. Misal “Siang dan malam, telah aku habiskan untuk liburan.”. Sehingga, kita menyebutkan “siang” dan “malam” secara berurutan.

Saat kita menyebutkan “siang” dan “malam” saat sedang berbicara, apakah kita benar-benar sadar bahwa kita dengan sengaja mengurutkan dua kata tersebut? Seringkali kita melakukannya dengan tidak sadar. Begitu saja terlintas di kepala dan mengatakannya. 

Atau terkadang di obrolan lain, kita membalikkan urutannya dengan mengatakan “Setiap malam dan siang yang kuhabiskan di sana benar-benar luar biasa mengesankan.”. Terkadang kita mengatakan “siang dan malam”, terkadang juga kita mengatakan “malam dan siang” tanpa sadar tanpa benar-benar memikirkan kenapa urutannya begitu. 

Ketika manusia berbicara, ada bagian yang benar-benar penuh kesadaran saat berbicara (conscious speech), ada juga bagian yang begitu saja dikatakan dari alam bawah sadar (subconscious speech). Sehingga kita tidak benar-benar mengendalikan apa yang datang dari alam bahwa sadar saat kita berbicara.

Biasanya ketika kita terbiasa mengatakan sesuatu dengan cara tertentu, maka kita akan terus mengatakan dengan cara yang sama. Misal ketika kita mengurutan “laki-laki dan perempuan”. Kita akan terus mengurutkan “laki-laki dan perempuan” dengan urutan seperti itu. Kita hampir tidak pernah mengatakan “perempuan dan laki-laki”. Ketika kita mengatakan “perempuan dan laki-laki”, maka kita dengan benar-benar sadar memikirkan urutannya saat berbicara. 

Kita terbiasa mengatakan sesuatu dengan cara tertentu. Cara tertentu itu menjadi hal yang natural terjadi begitu saja saat kita berbicara. Biasanya, ketika kita mengurutkan satu hal di pertama dan hal lain di tempat kedua, kita mengurutkannya seperti itu karena terbiasa. 

Hal yang menarik, urutan ini terdapat juga di dalam Al-Qur’an. Dalam perspektif linguistik, urutan ini menjadi hal yang luar biasa karena Allah ﷻ  terkadang “merombak” pola-pola aturan yang biasa ini di dalam Al-Qur’an. Allah ﷻ tidak terpaku dengan pola-pola yang tetap dalam berfirman di dalam Al-Qur’an. 

Apa saja contohnya?

———————————————–

(bersambung in sya Allah di Part 2)

Sumber: 

Bayyinah TV  – Quran – Courses – Divine Speech – 07. Sequencing in the Quran (0:00-02:58)


Materi VoB Hari ke-255 Siang | Allah ﷻ Sengaja Membalikkan Pola-Pola Frasa dalam Al-Qur’an

oleh: Nurfitri Anbarsanti

#ThursdayDivineSpeechWeek37Part2

Part 2

————————————–

بسم الله الرحمن الرحمن

Allah ﷻ tidak terpaku dengan pola-pola yang tetap dalam berfirman di dalam Al-Qur’an. Contohnya, dalam banyak ayat Al-Qur’an sering disebut (mungkin saking seringnya disebut, kita sampai hafal) sebagai berikut:

وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

“Allah, terhadap apa yang kamu kerjakan, Maha Teliti” (QS Al-Mujadilah 58:3)

tetapi, dalam Al-Qur’an terkadang urutannya berbeda, seperti ini:

وَاللّٰهُ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS At-Taubah 9:16)

Bagi seorang manusia normal yang terbiasa mengatakan sesuatu dengan pola yang sama berulang-ulang, biasanya akan mengatakan sesuatu dengan satu pola dan akan tetap bertahan dengan pola itu. Butuh usaha keras bagi manusia normal untuk mengubah kebiasaan. 

Tetapi, Allah ﷻ mengubah pola-pola bahasa berkali-kali dalam banyak kesempatan di dalam Al-Qur’an. 

Terkadang, Allah ﷻ mengubah sebuah pola dengan sangat cepat, sehingga kita sebagai manusia biasa pasti akan kesulitan untuk mengejar dan mengikuti bagaimana cara Allah ﷻ mengubah pola firman-Nya. 

Ust. Nouman memberikan contohnya, bagaimana Allah ﷻ mengubah pola-pola urutan bahasa di mana manusia biasa tidak akan mampu mengikuti perubahan pola tersebut dengan tanpa sadar (subconsciously), yaitu ayat berikut ini:

قُلْ هُوَ الرَّحْمٰنُ اٰمَنَّا بِهٖ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَاۚ

Dialah Yang Maha Pengasih, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya kami bertawakal.” (QS Al-Mulk 67:29)

Ini urutan yang “aneh”. Karena jika kita mengikuti pola yang “biasa” manusia lakukan, maka urutannya biasanya akan menjadi “kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Ini urutan yang biasa kita katakan, kan?

Tapi, di kalimat ini terdapat pembalikan pola. Di frasa pertama,  urutannya bisa kita anggap normal yaitu “kami beriman kepada-Nya”. Di frasa kedua, Allah ﷻ balikkan urutannya. Allah ﷻ tidak berfirman “kami bertawakkal kepada-Nya”, tapi dibalik menjadi “kepada-Nya, kami bertawakkal”. Langsung dibalik. 

Pembalikan pola ini di dalam satu kalimat ini memiliki sebuah alasan. 

Di dua sesi sebelumnya, Ust. Nouman pernah berbagi tentang “urutan yang normal (normal order)” dan “urutan yang aneh (strange order)”.

“Urutan yang normal (normal order)” dan “urutan yang aneh (strange order)” ini kita pelajari di subjek yang membahas tentang At-Taqdiim dan At-Takhiir. Dan dalam pelajaran Balaghoh, pembalikan urutan ini ada manfaat dan hikmahnya. 

———————————————–

(bersambung in sya Allah di Part 3)

Sumber: 

Bayyinah TV  – Quran – Courses – Divine Speech – 07. Sequencing in the Quran (02:58-05:31)


Materi VoB Hari ke-255 Sore | Ketika Ada Urutan yang Tidak Biasa, Maka Ada Tambahan “Hanya” di Dalamnya

oleh: Nurfitri Anbarsanti

#ThursdayDivineSpeechWeek37Part3

Part 3

————————————–

بسم الله الرحمن الرحمن

“Urutan yang normal (normal order)” dan “urutan yang aneh (strange order)” ini dipelajari di subjek yang membahas tentang At-Taqdiim dan At-Takhiir. Dan dalam pelajaran Balaghoh, pembalikan urutan ini ada manfaat dan hikmahnya. 

Kita tidak akan membahas terlalu teknis dan terlalu dalam, tapi yang ingin Ust. Nouman sampaikan adalah ketika kita menggunakan urutan yang tidak biasa, maka sebenarnya kita menambahkan kata “hanya”.

Kita ingat di pembahasan sebelumnya, bahwa Hamd hanya untuk Allah ﷻ.

Sehingga, apa yang ingin Allah ﷻ firmankan di sini adalah, kita beriman kepada Allah ﷻ, tapi kita hanya bertawakal kepada Allah ﷻ. 

Sehingga, di frasa kedua terdapat makna tersembunyi dari “hanya”. Dari mana “hanya” ini? Dari urutan kata-kata yang tidak biasa. 

Sehingga, ini sungguh luar biasa. Kenapa?

Karena kita memang percaya pada Allah ﷻ, tetapi kita tidak hanya percaya kepada-Nya saja. Kita percaya pada Allah ﷻ, tetapi kita juga percaya kepada Nabi Muhammad ﷺ, kita percaya kepada para malaikat-Nya, kita percaya kepada Hari Akhir, kita percaya kepada kitab-kitab-Nya, kita percaya kepada takdir, kita percaya pada surga, kita percaya pada neraka Jahannam, kita percaya kepada Hari Kiamat – kita percaya pada banyak hal. 

Kita tidak hanya percaya pada satu hal. Justru akan jadi masalah besar jika kita mengatakan “kami hanya beriman kepada Allah”, tapi tidak percaya kepada yang lainnya (misalnya tidak mau percaya kepada Nabi Muhammad ﷺ).

Jika kita mengatakan “kami bertawakal kepada Allah”, maka ada kemungkinan kita bertawakal pula pada hal lainnya. Apakah kita bertawakal (menggantungkan nasib) kepada para malaikat? Apakah kita layak menggantungkan hidup kita kepada ciptaan-ciptaan Allah ﷻ? Apakah kita pantas menggantungkan hidup kita kepada surga atau neraka?

Tentu, sosok yang pantas untuk kita menggantungkan hidup dan nasib kita kepadanya hanyalah sosok Allah ﷻ. Benar-benar hanya kepada Allah, secara eksklusif kepada Allah ﷻ. 

Itulah mengapa Allah mengganti urutan di dalam surat Al-Mulk ayat 29 tadi secara langsung, agar kita paham, bahwa hanya kepada Allah-lah, kita bertawakal. Bahwa hanya kepada Allah-lah, kita menggantungkan harapan. 

Bisa kita katakan bahwa pertukaran urutan ini terjadi hanya dalam hitungan detik, sesuatu yang keren bukan? 

———————————————–

Bersambung in sya Allah minggu depan.

Sumber: 

Bayyinah TV  – Quran – Courses – Divine Speech – 07. Sequencing in the Quran (05:31-07:00)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s