[VoB2021] Ghafuurur-Rahiim dan Rahiimul-Ghafuur


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-249

Topik: Divine Speech

Kamis, 25 Februari 2021

Materi VoB Hari ke-249 Pagi | Ghafuurur-Rahiim dan Rahiimul-Ghafuur

Oleh: Heru Wibowo

#ThursdayDivineSpeechWeek36Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dalam doa nabi-nabi yang kita baca di Al-Qur’an terkandung pelajaran yang luar biasa (tremendous lessons). Pelajaran tentang bagaimana masyarakat seharusnya berfungsi. Pelajaran yang relevan di masa kenabian saat itu, bahkan sampai hari ini.

Ada satu contoh lagi yang ingin Ustaz sampaikan untuk memperkaya wawasan kita tentang transisi di dalam Al-Qur’an.

Tapi ini adalah contoh yang berat menurut Ustaz. Jadi semua muridnya dimohon untuk “pasang radar”. Untuk benar-benar mendengarkan dengan saksama.

یَعۡلَمُ مَا یَلِجُ فِی ٱلۡأَرۡضِ وَمَا یَخۡرُجُ مِنۡهَا وَمَا یَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ وَمَا یَعۡرُجُ فِیهَاۚ وَهُوَ ٱلرَّحِیمُ ٱلۡغَفُورُ

(QS Saba’, 34:2)

Ya’lamu maa yaliju fil-ardhi wa maa yakhruju minhaa wa maa yanzilu minassamaa-i wa maa ya’ruju fiihaa. Wa huwarrahiimul-ghafuur.

Allah berulang-ulang di dalam Al-Qur’an, puluhan kali, menggunakan kata-kata ghafuururrahiim.

Allah Maha Memaafkan, Maha Mencintai, Maha Peduli (forgiving, loving, and caring).

Dengan kata lain, “Maha Memaafkan” (forgiving) disebutkan lebih dulu. Lalu “Maha Mencintai dan Maha Peduli” (loving and caring) disebutkan kemudian. Ghafuur dulu, baru rahiim.

Selalu seperti itu. Di banyak tempat di Al-Qur’an. Urutannya seperti itu. Ghafuur dulu, baru rahiim. Kecuali di satu tempat. Yakni di ayat ini, QS Saba’, surah ke-34 ayat 2.

“Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya. Dia mengetahui apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke langit. Dan dia Maha Mencintai, Maha Peduli (Ar-Rahiim). Dan Dia Maha Mengampuni (Al-Ghafuur).”

Di ayat ini kita menyaksikan bahwa urutannya dibalik dari yang biasanya. Bukan ghafuururrahiim, tapi rahiimul-ghafuur.

Membuat kita penasaran. Rasa ingin tahu pun muncul. Mengapa Allah menggunakan rahiimul-ghafuur di ayat ini?

Apa pun yang telah Allah ciptakan, tidak ada yang sia-sia. Termasuk ayat ini. Yang urutannya di balik, atau, tidak seperti biasanya ini. Maka mari kita telusuri manfaat dari ayat ini.

Yang pertama kali perlu kita ketahui adalah bahwa ayat ke-2 dari surah Saba’ ini adalah tentang pengetahuan Allah (the knowledge of Allah), karena dimulai dengan “Dia mengetahui”.

“*Dia mengetahui* apa yang masuk ke dalam bumi.”

“*Dia mengetahui* apa yang keluar dari bumi.”

“*Dia mengetahui* apa yang turun dari langit.”

“*Dia mengetahui* apa yang naik ke langit.”

Jadi ayat ini adalah tentang pengetahuan Allah.

Secara indah, di Al-Qur’an, lagi dan lagi, Allah membuat asosiasi antara pengetahuan dengan cinta dan perhatian.

Ada hubungan antara pengetahuan (‘ilm) dan kasih sayang (rahmah) di Al-Qur’an. Dari mana kita tahu hubungan antara kasih sayang dan pengetahuan itu?

Dari surah yang dimulai dengan ayat ini: Ar-Rahmaan. Apa lanjutannya? ’Allama. Quran surah Ar-Rahman ayat pertama dan kedua. 

Kasih sayang-Nya disebut, lalu ta’lim Allah juga disebut. Allah Sang Pemberi Kasih Sayang. Lalu, segera setelah itu, “mengajarkan pengetahuan” disebut. Segera, langsung, seketika.

رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَیۡءࣲ رَّحۡمَةࣰ وَعِلۡمࣰا 

(QS Ghafir, 40:7)

“Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu, meliputi segala sesuatu.” Kasih sayang (love and care) dan ilmu (knowledge).

Di surah Al-Kahfi, ada ayat yang lain yang menyebutkan tentang kasih sayang dan ilmu. Ayat berapakah itu?

Kita lanjutkan pembahasannya insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da zhuhur.

💎💎💎💎💎

Sumber: Home / Quran / Courses / Divine Speech / 06. Transitions in the Quran (1:30:07 – 1:32:51)


Materi VoB Hari ke-249 Siang | Wahyu dari Ar-Rahiim dan Amal yang Membutuhkan Al-Ghafuur

Oleh: Heru Wibowo

#ThursdayDivineSpeechWeek36Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Tentang kasih sayang dan ilmu, Allah menyebutkan lagi di surah Al-Kahfi, 18:65. 

فَوَجَدَا عَبۡدࣰا مِّنۡ عِبَادِنَاۤ ءَاتَیۡنَـٰهُ رَحۡمَةࣰ مِّنۡ عِندِنَا وَعَلَّمۡنَـٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلۡمࣰا

Fawajada ‘abdan min ‘ibaadinaa aataynaahu rahmatan min ‘indinaa wa ‘allamnaahu min ladunnaa ‘ilman.

Ada rahmah, lalu ada ’ilm

Jadi, ada asosiasi antara rahmah dan ’ilm. Ada hubungan antara love and care dan knowledge. Antara cinta dan perhatian dengan ilmu.

Kembali ke surah Saba’, 34:2. Ayat ini dimulai dengan apa? Pengetahuan Allah. Ayat ini dimulai dengan ilmu (knowledge). Maka Rahiim juga disebut lebih dulu.

Itu adalah “sebuah” penjelasan. Mari kita mencoba memahami lebih jauh lagi.

“Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi.”

Apa contohnya yang masuk ke dalam bumi? Benih, misalnya.

“Dia mengetahui apa yang keluar dari dalam bumi.”

Apa contohnya yang keluar dari dalam bumi? Tanaman, misalnya. Pohon. Rumput.

“Dia mengetahui apa yang turun dari langit.”

Apa contohnya yang turun dari langit? Hujan.

“Dia mengetahui apa yang naik ke langit.”

Apa contohnya yang naik ke langit? Uap air. 

Mari kita melangkah mundur sebentar.

Kita, manusia, juga masuk ke dalam bumi.

Dan suatu hari nanti, kita juga akan keluar dari bumi. Betul?

Allah tidak saja mengirim hujan dari langit, tapi juga mengirim rizq dari langit. Allah juga mengirim wahyu dari langit. Allah juga mengirim malaikat yang melindungi, dari langit. Allah mengirim banyak hal yang baik dari langit.

Allah juga mengetahui apa yang naik ke langit.

Kita, manusia, ruuh kita, naik ke langit, saat kita meninggal dunia.

Ada juga yang dibawa naik ke langit setiap hari. Yakni, amal-amal kita. Catatan amal kita dibawa naik ke langit setiap hari.

Ada yang naik dan turun secara fisik.

Ada juga yang naik dan turun secara spiritual.

Sekarang, mari kita kembali lagi. Supaya kita bisa melihat hubungannya. Supaya kita bisa menangkap hikmahnya, insya Allah.

Saat kita “masuk ke dalam bumi”, Allah mengetahui apa yang masuk ke bumi.

Saat kita “masuk ke dalam bumi”, itu adalah saat di mana kita meninggal dunia, betul?

Saat kita “keluar dari perut bumi”, itu adalah saat di mana kita berada di Hari Kebangkitan (The Day of Resurrection).

Saat kita “masuk ke dalam bumi”, kita mencari cinta dan perhatian Allah.

Saat kita “keluar dari perut bumi”, kita mencari pengampunan Allah.

Maka Allah menyebutkan Rahiim lebih dulu, baru setelah itu, Ghafuur.

Lalu apa yang turun dari langit? Hujan, wahyu, rizq. Semua itu adalah bukti atas apa? Cinta dan perhatian Allah, betul? Jadi apa yang turun dari langit adalah rahmah.

Lalu apa yang naik ke langit? Setiap hari? Catatan amal perbuatan kita.

Apa yang kita butuhkan sesungguhnya? Pengampunan (forgiveness).

Jadi Allah menyebutkan hujan, wahyu, rizq sebagai bentuk cinta dan perhatian, lalu Allah menyebutkan amal dan perbuatan yang membutuhkan pengampunan.

Maka di akhir ayat Allah menyebutkan cinta perhatian lebih dulu (Rahiim), baru setelah itu pengampunan (Ghafuur). Maka Saba’ ayat 2 ditutup dengan Ar-Rahiimul-Ghafuur.

Subhaanallaah.

Ada satu hal lagi yang ingin Ustaz bahas, terkait kesempurnaan Al-Qur’an.

Insya Allah kita bahas ba’da ‘ashar.

💎💎💎💎💎

Sumber: Home / Quran / Courses / Divine Speech / 06. Transitions in the Quran (1:32:51 – 1:35:45)


Materi VoB Hari ke-249 Sore | Ar-Rahiim yang Universal dan Al-Ghafuur yang Spesifik

Oleh: Heru Wibowo

#ThursdayDivineSpeechWeek36Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Yang masuk ke dalam bumi adalah benih. Yang masuk ke dalam bumi adalah manusia, kita semua, saat kita meninggal dunia.

Dengan kata lain, yang masuk ke dalam bumi adalah manusia dan bukan manusia, betul?

Yang diturunkan dari langit adalah juga untuk manusia (wahyu, rizq, hujan) dan untuk selain manusia (hujan).

Yang naik ke langit adalah juga manusia (ruuh) dan bukan manusia (uap air).

Jada ayat ke-2 dari surah Saba’ ini tidak dibatasi untuk aktivitas manusia saja. Tapi tentang semuanya. Manusia dan bukan manusia.

Ada dua nama Allah di akhir ayat. Yakni Ar-Rahiim dan Al-Ghafuur. 

Sekarang silakan diperhatikan dengan secermat-cermatnya. Dari dua nama Allah itu, manakah nama yang secara khusus adalah untuk manusia?

Apakah Ar-Rahiim yang spesifik untuk manusia? Atau Al-Ghafuur yang spesifik untuk manusia?

Al-Ghafuur.

Mengapa? 

Mengapa Al-Ghafuur adalah spesifik untuk manusia?

Karena pohon tidak meminta pengampunan. Pohon tidak pernah melakukan kesalahan. Pohon tidak pernah melakukan maksiat kepada Allah. Justru manusialah yang bisa melakukan kesalahan kepada pohon.

Kucing-kucing peliharaan kita tidak perlu mengucapkan istighfar. Meski mungkin ada yang suka pipis sembarangan.

Anjing tidak perlu mengucapkan istighfar. Meski gonggongannya suka mengagetkan dan bikin kita tidak nyaman.

Yang perlu mengucapkan istighfar adalah kita, manusia, betul?

Karena ayatnya bersifat universal, maka nama Allah yang universal disebut lebih dulu, yakni Ar-Rahiim.

Jika ayatnya tidak bersifat universal, jika ayatnya adalah tentang kita, tentang manusia, maka apa yang disebut lebih dulu? Sifat yang lebih spesifik untuk kita, manusia, yakni Al-Ghafuur.

Surah Saba’ ayat 2 adalah ayat yang bukan tentang kita saja. Bukan tentang manusia saja. Tapi tentang yang selain manusia juga. Maka yang disebut pertama adalah Ar-Rahiim. 

Sekarang kita memahami bahwa di seluruh Al-Qur’an, saat Allah menyebutkan Ghafuurur-Rahiim, silakan bisa dicek masing-masing, yang jumlahnya ada puluhan kali itu, ayat-ayat itu semuanya adalah tentang manusia. 

Di Al-Baqarah saja, Ghafuurur-Rahiim disebutkan cukup banyak. Yakni di ayat 173, 182, 192, 199, 218, dan 226. Semuanya adalah tentang manusia.

Surah Saba’ ayat 2 adalah satu-satunya yang isinya tentang manusia dan selain manusia (human beings and beyond). Makanya Allah menyebutkan sifat Rahiim lebih dulu.

Artinya, ayat yang universal membuat nama Allah yang disebutkan lebih dulu adalah nama yang universal (the universal goes with The Universal).

Sementara itu, untuk ayat-ayat tentang manusia, maka Allah menyebutkan sifat Ghafuur lebih dahulu (the specific goes with The Specific).

Ini adalah kesempurnaan Al-Qur’an. Presisinya begitu mengagumkan. Tidak bisa terpikirkan ada yang selain Allah yang bisa berkata seteliti ini.

Masih banyak hal-hal yang menarik untuk dibahas terkait kesempurnaan Al-Qur’an. Bahkan ada yang menyenangkan juga. Ustaz masih menyimpannya untuk saat ini. Akan tiba saatnya nanti Ustaz menyampaikannya sebagai sebuah kejutan 😃😃.

Insya Allah kita lanjutkan pekan depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Home / Quran / Courses / Divine Speech / 06. Transitions in the Quran (1:35:45 – 1:38:45) [End]


***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s