[VoB2021] Pertanyaan Sindiran dan Sekilas Logical Fallacies


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-246
Topik: Pearls from Juz ‘Amma
Senin, 22 Februari 2021

Materi VoB Hari ke-246 Pagi | Pertanyaan Sindiran dan Sekilas Logical Fallacies

#MondayAnNabaWeek36Part1

Part 1

Sebelumnya, kita telah membahas sekilas tentang kata sa’ala (سَأَلَ). Kali ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai hal ini. 

Dalam bahasa Arab, ketika kata sa’ala (سَأَلَ) disebut, ada dua kemungkinan. Yang pertama, sa’ala (سَأَلَ) dapat berarti istifham, yaitu pertanyaan yang ditanyakan agar kita mengerti sesuatu. 

Seperti “pertanyaan” pada umumnya, ketika kita bertanya sesuatu kepada seseorang, kita bisa saja menanyakan untuk mencari jawaban, dan bisa juga kita bertanya agar kita mengerti sesuatu. 

Nah, sa’ala (سَأَلَ) bisa juga berarti istihdza, yaitu pertanyaan yang sebenarnya hanya komentar pedas atau hanya sindiran saja. Misalnya di kalangan muda, pertanyaan seperti “Serius?” atau bentuk imutnya yaitu “Ciyus?”

Dan ketika kita bertanya “Serius?” dengan tatapan sinis (mata sedikit tertutup, dahi mengerut), sebenarnya kita tidak benar-benar bertanya apakah dia serius, tapi sebenarnya hanya sindiran atau komentar kita terhadap seseorang yang menurut kita melakukan hal-hal yang bodoh.

Dan juga, cara bertanya juga berpengaruh terhadap makna pertanyaan tersebut, misalnya “Itu beneran?” (dengan tatapan sinis seperti deskripsi sebelumnya), maka sebenarnya pertanyaan itu bermaksud untuk merendahkan atau meragukan seseorang atau sesuatu.

“Memang hanya seperti itu yang terbaik yang bisa kamu lakukan?”. Kita tahu bahwa ini bukan benar-benar pertanyaan. Atau contoh lainnya “Apakah hanya itu yang terbaik yang bisa kamu dapat?”. Jenis pertanyaan ini bukan benar-benar pertanyaan, tapi hinaan. 

Pertanyaan yang bertujuan untuk membuat orang merasa rendah diri, adalah sebuah taktik psikologis. Seperti kita tahu bahwa kita hidup di tengah-tengah propaganda media yang banyak menyudutkan Islam. Oleh karena itu, Ust. Nouman menyarankan agar kaum muda bisa mengenali apa yang disebut dengan logical fallacies. Ini akan sangat bermanfaat dalam hidup. 

Logical fallacies adalah ketika seseorang berargumen untuk menjadi arogan terhadap sesuatu. Dalam kasus yang sering kita alami, argumen untuk menjatuhkan Islam, mereka akan menggunakan taktik yang powerful, tapi tidak adil (fair). Kita tidak akan sadar ketika mereka menggunakan data dan fakta dengan curang. 

Kecurangan mereka itu seperti seorang petinju yang naik ke ring tinju, dan menggunakan batu bata di balik sarung tangannya. Sehingga mereka mendapatkan keuntungan yang tidak adil.

Keuntungan yang tidak adil itu ketika mereka (media) menggunakan data dan fakta yang tidak logis, tidak rasional, tidak berdasarkan alasan yang logis, tapi berdasarkan taktik-taktik emosional. 

Contohnya, misal kita sedang berdebat dengan seseorang dari agama Kristen. Walaupun kita tidak percaya pada debat tersebut, tapi kita tetap duduk di kursi debat dan berdiskusi tentang Yesus. Misalnya, hal ini dilakukan di dalam gereja. Dan tentu saja hampir seluruh audiens adalah orang-orang beragama Kristen, yang tentu saja menyukai pastur mereka – dimana pastur mereka sedang berdiskusi dengan kita di hadapan mereka. 

Setiap sang Pastur berbicara dan selesai, apa yang akan kita dengar dari kerumunan audiens? Kita akan dengar tepuk tangan meriah. Tapi setiap kita mulai berbicara – bahkan belum mulai bicara – apa yang kita dengar? Kita akan dengar semacam “Boo”, “Udah gak bener nih”, “Pergi saja deh”.

Peristiwa itu membuat sebuah kesan bahwa apapun yang kita bicarakan, akan terkesan ofensif, sementara apa yang sang Pastur katakan, akan terkesan valid. Dan tentu saja, kondisi kebalikannya juga bisa terjadi ketika hampir seluruh audiensnya beragama Islam. 

Misal ketika debat itu terjadi di hadapan mayoritas kaum muslimin, setiap kita berbicara, direspon dengan seruan takbir, sedangkan ketika sang Pastur berbicara, diseru juga dengan hinaan dan makian. 

Jika itu terjadi, itu adalah ketidakadilan. 

(bersambung in sya Allah di Part 2)

Sumber: 

Bayyinah TV  – Quran – Deeper Look – 01. An Naba (Ayat 1 -13) – A Concise Commentary (7:45 – 10:42)


Materi VoB Hari ke-246 Siang | Pertanyaan Sarkastik untuk Melemahkan Argumen Lawan

Oleh: Nurfitri Anbarsanti

#MondayAnNabaWeek36Part2

Part 2

Jika ada di situasi seperti itu, maka sebuah argumen tidak dinilai berdasarkan seberapa valid atau seberapa rasional atau seberapa masuk akal. Sekumpulan orang banyak jadi yang menentukan apakah argumen itu benar atau salah. Sekumpulan orang banyak juga jadi menentukan apakah sebuah argumen lebih masuk akal atau kurang masuk akal. 

Secara psikologis, orang yang berada di sana akan mudah terombang-ambing standar kebenarannya berdasarkan pendapat orang banyak. Kondisi seperti ini termasuk salah satu logical fallacies.

Kondisi yang sama ketika misalkan seseorang, sebut saja A, menyampaikan pendapat. Lalu ketika sang lawan bicara, sebut saja B, tidak punya argumen untuk menyanggah, sang lawan bicara B malah tertawa dengan pandangan meremehkan. Seakan-akan, tertawanya sang B tersebut mengesankan bahwa pendapat A adalah bodoh, tidak logis, pendapat A tidak pantas ditanggapi. 

Tertawanya sang B tersebut membuat seakan-akan si B adalah pihak yang sangat cerdas, jauh lebih cerdas daripada pendapat dan argumen yang disampaikan si A. Sedangkan kenyataannya adalah si B tidak punya jawaban untuk menjawab A. 

Inilah salah satu bentuk logical fallacy.

Logical fallacy ini sering dipakai juga untuk melawan Rasulullah Muhammad ﷺ, dapat sering kita lihat juga di berbagai debat politik, bukan hanya ada pada debat dan diskursus islami saja, dan Al-Qur’an juga menyebutkan hal ini. 

“Apakah kamu akan jatuh karena cara mereka melihat kepadamu, ketika mereka mendengarkan Al-Qur’an?” 

Ungkapan-ungkapan seperti “Oh, cuma seperti itu?”. Ungkapan seperti ini cukup untuk menjatuhkan psikologis seseorang. 

Jadi, salah satu dari logical fallacies adalah klaim yang dibuat dalam bentuk pertanyaan sarkastik. 

“Serius setelah mati ada kehidupan?”

“Oh, jadi setelah mati nanti ada neraka ya? Lalu, apinya datang dari mana? Kalau makan nanti di sana bagaimana? Sudah pasti termasak dong ya?”

Orang-orang yang membenci Islam akan terus menanyakan dengan sarkastik tentang surga, tentang neraka, tentang kebangkitan, tentang siksa kubur, tentang Hari Pembalasan.

“Oh, di pundak ada buku? Sebesar apa bukunya?”

“Bukunya ditaruh di ransel? Seberapa besar? Atau bukunya disimpan di cloud service?”

Jadi memang ada orang-orang yang melemparkan berbagai jenis pertanyaan-pertanyaan sarkastik untuk “melemahkan” argumen yang dihadapkannya. 

Al-Qur’an datang dengan begitu banyak argumen yang kuat. Sedangkan manusia adalah makhluk yang sedang dalam perjalanan untuk mengetahui kebenaran argumen-argumen yang ada dalam Al-Qur’an. Dan kebenaran-kebenaran ghaib itu akan baru diketahui ketika manusia sudah dihidupkan kembali setelah matinya. 

(bersambung in sya Allah di Part 3)

Sumber: 

Bayyinah TV  – Quran – Deeper Look – 01. An Naba (Ayat 1 -13) – A Concise Commentary (10:42 – 13:04)


Materi VoB Hari ke-246 Sore | Al-Qur’an Menjawab Pertanyaan Mendasar Hidup Manusia

#MondayAnNabaWeek36Part3

Part 3

Al-Qur’an datang dengan begitu banyak argumen yang kuat. Sedangkan manusia adalah makhluk yang sedang dalam perjalanan untuk mengetahui kebenaran argumen-argumen yang ada dalam Al-Qur’an. 

Manusia menganggap bahwa perjalanan hidup mereka belum dimulai di saat mereka belum lahir. Tapi Islam datang untuk mengatakan bahwa perjalanan hidup manusia dimulai sejak jauh bertahun-tahun sebelumnya. Perjalanan manusia sebenarnya dimulai ketika Nabi Adam a.s. mulai diciptakan ruhnya, termasuk diciptakannya ruh kita semua. 

Kemudian ruh kita semua ditanya oleh Allah ﷻ, 

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ

Dan ketika Rabbmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (QS 7:172)

Saat inilah perjalanan sebenarnya dimulai, di saat ruh kita sebenarnya mulai mengenal Allah ﷻ. 

Lalu, Allah ﷻ memutuskan untuk mengambil setiap ruh tersebut, dan menugaskan malaikat-malaikat untuk mengirimkan ruh-ruh tersebut ke dalam rahim ibu-ibu mereka di saat tertentu yang ditentukan di tengah kehamilan ibu-ibu mereka. 

Dan inilah bagian kedua dari perjalanan kehidupan kita, yang dimulai dari berkumpulnya ruh seluruh manusia di hadapan Allah ﷻ, sampai akhirnya ruh kita berada di dalam rahim ibu-ibu kita. 

Bagian ketiga dari perjalanan hidup kita adalah ketika dalam Al-Qur’an disebutkan berikut ini.

ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ

“Kemudian jalannya Dia mudahkan” (QS 80:20)

Ketika kita keluar dari rahim ibu kita, maka perjalanan hidup kita di dunia dimulai. Jadi sebenarnya perjalanan hidup kita tidak dimulai ketika kita keluar dari rahim ibu kita, namun dimulai jauh sebelumnya.

Begitu juga tentang akhir dari perjalanan kita. Perjalanan hidup kita sebenarnya tidak berakhir saat kita menemui kematian, walaupun memang kematian di dunia merupakan salah satu milestone penting dalam hidup. 

Setelah kematian, ada kehidupan yang baru dimulai, yaitu kehidupan di mana kita hidup dihadapkan dengan banyak pertanyaan. Kehidupan ketika kita mulai benar-benar bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan di kehidupan sebelumnya – atas apa yang kita lakukan saat “periode sementara”. Dan kehidupan inilah yang akan ditemui oleh setiap orang di alam kubur. 

Fase selanjutnya adalah ketika ada komando dari Allah ﷻ. Seluruh manusia yang masih hidup dimatikan, seluruh bumi meledak, dan setiap manusia dibangkitkan kembali. Seluruh manusia kemudian dihidupkan kembali, walaupun telah meninggal puluhan tahun, atau ratusan tahun atau berabad-abad sebelumnya. 

Setelah kita semua sudah dibangkitkan bersama-sama, lalu Allah ﷻ akan menanyakan setiap manusia bagaimana mereka hidup. Setiap perbuatan akan dinilai dan dihukum, dan kemudian hanya ada dua destinasi di perjalanan selanjutnya. Apakah akan pergi ke surga yang abadi atau neraka yang abadi. 

Runtutan perjalanan tersebut adalah argumen-argumen yang kuat. Karena kita akan mampu menjawab kita dari mana, kita akan ke mana, apa tujuan hidup kita. Argumen-argumen dalam Al-Qur’an menjawab semuanya. 

Bersambung in sya Allah minggu depan.

Sumber: 

Bayyinah TV  – Quran – Deeper Look – 01. An Naba (Ayat 1 -13) – A Concise Commentary (13:04-15:18)

***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,
The Miracle Team
Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s