[VoB2021] Kualitas Sekelas Walmart


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-245

Topik: Leadership

Ahad, 21 Februari 2021

Materi VoB Hari ke-245 Pagi | Kualitas Sekelas Walmart

Oleh: Heru Wibowo

#SundayLeadershipWeek35Part1

Part 1

Pekan lalu kita membahas sebuah fenomena yang lucu. Yaitu kemungkinan adanya sebuah institusi yang mendapat label ini: fund-raising crazy only institution. 😃😃

Institusi atau lembaga yang gila-gilaan menggalang dana dan hanya menggalang dana. Tidak ada terobosan apa pun yang sedikit lebih kreatif untuk mendanai kegiatan operasionalnya.

Likuiditas keuangan institusi seperti ini terancam bahaya. Pendapatannya bisa fluktuatif. Kali ini dapat banyak. Kali berikutnya, belum tentu. 

Lalu, bisa jadi, institusi ini mencari sumber pendapatan ke tempat lain. Yang dijadikan target saja yang beda. Yang dilakukan sama saja: penggalangan dana.

Untuk sebuah masjid, kapan peak season untuk menggalang dana? Kurun waktu di mana pemasukan ke kas masjid bisa diharapkan mengalir deras? Saat bulan Ramadan.

Ada orang-orang tertentu, atau institusi-institusi tertentu yang mungkin terkenal nakal (notorious) dalam urusan penggalangan dana. Saat orang-orang mengetahui kenakalan mereka, mereka kehilangan kepercayaan. Dan tentu saja, kehilangan dana.

Orang-orang yang dermawan itu akan tetap menyalurkan dananya. Tapi mereka berpindah ke institusi yang lain. Yang tidak nakal.

Memang benar, akan selalu ada orang-orang yang dermawan dan siap menyalurkan dananya. Maka kita harus amanah. Dan harus bisa berpikir strategis terkait fakta itu.

Lalu ada murid ustaz yang bertanya tentang suatu usaha yang bisa dilakukan sebuah institusi untuk mendapatkan dana. Misalnya, menyelenggarakan konseling pernikahan (marriage counseling). 

Apakah itu mungkin? Apa jawaban atau respons ustaz?

Ustaz setuju. Ustaz mengiyakan ide tersebut. Bahkan ustaz mengonfirmasikan bahwa umat pasti membutuhkan konseling pernikahan tersebut. 

Bahkan ustaz melihat ide tersebut berpotensi mendapatkan dana dari non muslim juga. Karena masalah pernikahan itu umum terjadi di masyarakat. Baik yang muslim maupun yang non muslim.

Ide seperti itu, yang bisa menjadi magnet penarik dana baik dari muslim maupun non muslim, adalah ide yang memiliki nilai yang ruang lingkupnya menyeluruh (universal value). 

Gagasan lain yang ditawarkan ustaz adalah program yang bisa diselenggarakan seusai jam sekolah (after school program).

Jika lokasi dan/atau situasi masjid cukup strategis, sebagian lahan masjid bisa disewakan untuk Kumon. Atau masjid bisa punya program sendiri yang mirip Kumon.

Jadi ustaz menyukai ide di mana dana bisa didapatkan dari populasi yang lebih besar. Terlebih lagi di Amerika Serikat, di mana populasi non muslim lebih besar dari populasi yang muslim.

Layanan-layanan yang diberikan masjid seharusnya adalah layanan-layanan yang membuat masyarakat tertarik untuk mengikutinya.

Ustaz juga menekankan pentingnya kualitas layanan. Jika masjid membuka toko, maka kualitas layanan maupun kualitas kebersihannya harus prima. Toko kepunyaan masjid itu harusnya bisa berkompetisi dengan Walmart. 

Ada sebuah rahasia yang dibuka oleh ustaz. Rahasia supaya toko milik masjid menjadi toko yang kompetitif. Apa rahasia itu? Buat hadiah yang luar biasa (make an awesome gift)

Pikirkan apa yang biasanya membuat istri atau suami happy. Mungkin dengan memberikan sebuah CD. Atau apa pun. Yang jelas, pemberian itu adalah sebuah hadiah yang diberikan secara cuma-cuma (free gift). 

Di balik hadiah itu, Anda menyelipkan pesan. Permohonan donasi ke masjid. Misalnya 100 ribu saja. Cukup 100 ribu sekali saja.

Jika orang itu suka dengan hadiah yang tak terduga itu, dia tidak akan menyumbang cuma sekali. Komitmennya mungkin lebih besar lagi. Mungkin 100 ribu per bulan. Atau bahkan 100 ribu per minggu. Tanpa harus diminta. Tanpa kita harus memohon lagi. 

Hadiah yang sudah Anda “korbankan” tidak ada apa-apanya dengan apa yang masjid dapatkan sebagai timbal baliknya.

Orang-orang terus datang lagi dan datang lagi kepada Anda. Berharap untuk mendapatkan “hadiah selanjutnya” (the next gift).

Mereka kembali lagi dan kembali lagi. Kita harus siap untuk memberikan apa yang mereka inginkan. Free gift yang lain lagi. 

Layanan yang paling penting yang diberikan masjid kepada umat adalah khotbah Jumat. Pastikan khatibnya menarik. Bahkan sangat-sangat menarik. 

Kenapa sebaiknya seperti itu?

Karena ada orang-orang yang datang ke masjid itu seminggu sekali. Ya, hanya di hari Jumat itu saja. Di hari atau di waktu yang lain, mereka ini tidak datang ke masjid. Apalagi jika yang dimaksud dengan “waktu” di sini adalah waktu shubuh. Boro-boro.

Kita harus berani berkorban. Memberikan sesuatu dulu. Untuk mendapatkan timbal balik pada akhirnya. 

Ada yang “terpaksa” mengikuti khotbah Jumat karena orang tuanya yang membawanya. Mereka sebenarnya “tidak betah” berlama-lama di masjid. Inginnya segera pulang saja.

Itulah salah satu alasan mengapa khatibnya harus menarik. Harus sangat-sangat menarik. Supaya orang-orang seperti ini ingin datang lagi ke masjid. Bersama orang tuanya atau tidak.

Gagasan free gift akan menjadi sesuatu yang mencengangkan. Saat mendengar khotbah, orang-orang biasanya mendengar nasihat bahwa mereka harus “memberi”. Tapi apa yang mereka alami? Justru merekalah yang “diberi”. Oleh masjid. Atau oleh toko milik masjid.

Apa yang akan mereka rasakan? Apa yang akan mereka pikirkan?

Kita bahas insyaa Allaah ba’da zhuhur.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV / Quran / Courses / Leadership / 08. Leadership Workshop (26:45 – 30:26)


Materi VoB Hari ke-245 Siang | Menanamkan Religious Consciousness di Tengah Masyarakat

Oleh: Heru Wibowo

#SundayLeadershipWeek35Part2

Part 2

Mereka akan terkejut (shocked). Khotbah Jumat menasihati mereka untuk beramal, untuk memberi. Seusai salat Jumat, mereka malah diberi, bukan memberi.

Mereka akan punya kesan yang berbeda. Semua ini adalah tentang kesan (image) yang mereka tangkap. Yang membuat mereka akhirnya justru ingin berkontribusi lebih untuk masjid.

Rumusnya adalah: Anda memberi dulu. Maka Anda akan mendapatkan sesuatu nantinya sebagai timbal baliknya.

Ustaz juga mengingatkan pentingnya kita mendidik umat untuk memahami agamanya. Masalahnya, umat belum cukup terdidik untuk memahami agamanya secara baik. 

Jika umat memahami agamanya dengan baik, maka ada sebuah masalah yang terselesaikan. Yakni bahwa alasan yang sesungguhnya kenapa orang-orang itu mau memberi adalah untuk membangun akhirat mereka.

Masjid yang memberikan layanan pendidikan Islam kepada umat secara benar berarti telah sungguh-sungguh berinvestasi untuk membuat umat menjadi “dewasa”. 

Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa itu butuh investasi. Adalah sebuah prestasi jika masjid berinvestasi untuk memberi layanan pendidikan kepada umat soal ini. Sehingga umat bisa memiliki kedewasaan (maturity).

Pendidikan itu tidak seharusnya buru-buru. Ustaz merekomendasikan pendidikan yang pelan tapi pasti (slow but steady). Yang juga mencakup keterampilan duniawi maupun yang lebih bersifat spiritual.

Bisa dianggap sebuah langkah maju jika dari pendidikan yang dilakukan di masjid itu, kita bisa menanamkan kesadaran beragama (religious consciousness) di tengah masyarakat.

Ide-ide yang bagus yang sudah disetujui oleh pengurus masjid sebaiknya segera dilaksanakan. Karena ide-ide sebenarnya kurang bagus jika hanya berhenti sebagai sebuah ide.

Ada murid Ustaz yang lain yang bertanya, apakah kita harus membuat semua orang, semua jamaah, happy sepanjang waktu?

Alhamdulillah Bayyinah tidak pernah berpikir seperti itu. Karena making everybody happy is impossible. Membuat semua orang hepi itu tidak mungkin.

Pasti akan ada seseorang, atau orang-orang, yang tidak suka. Tapi mereka tidak bisa mendikte kebutuhan seluruh umat yang lain.

Pada saat yang sama, kita perlu mencari tahu. Orang-orang yang tidak suka itu, apa ya, yang mereka suka? Apa yang mereka butuhkan? Setelah kita mengetahuinya, dan kita punya kemampuan untuk memenuhinya, kenapa tidak? Kita penuhi kebutuhan mereka itu.

Logikanya sederhana saja. Kalau mereka tidak suka A, kemungkinan mereka suka B. Tapi kalau ternyata mereka tidak suka B, kemungkinan mereka suka C.

Kita gali terus seperti itu sampai kita menemukan apa yang mereka suka. Apa yang mereka butuhkan. Misalnya: E. Maka kita penuhi E untuk mereka. 

Bisakah kita membuat semacam sesi layanan pelanggan (customer service session) yang isinya bukan hanya tentang apa yang umat tidak sukai, tapi juga apa yang umat sukai.

Supaya kita bisa melayani mereka lebih baik, berdasarkan apa yang mereka sukai.

Jika ada satu orang yang mengeluh, boleh jadi dia mewakili sekelompok orang yang mengeluhkan hal yang sama. Yang berarti, kita harus menggali kebutuhan mereka juga. Dan mencoba memenuhinya.

Bisa jadi, untuk lapisan masyarakat tertentu, ada kebutuhan tertentu, sehingga program yang kita persiapkan fokusnya adalah khusus untuk lapisan masyarakat tersebut.

Tentang apakah sebaiknya kita punya karyawan atau hanya mengandalkan volunter, tinggal kita lihat konteks organisasinya. Untuk masjid, marbot biasanya adalah “karyawan” yang digaji secara bulanan.

Untuk Bayyinah sendiri, sebagian besar adalah karyawan. Memang ada volunter, tapi sedikit. Tapi di berbagai lokasi di luar kampus Bayyinah, volunternya banyak.

Ustaz juga bercerita tentang NAK Collection (www.nakcollection.com). 

Apakah NAK Collection adalah inisiatif Ustaz juga? 

Lebih banyak karyawannya atau volunternya di sana?

Kita bahas insyaa Allaah ba’da ‘ashar.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV / Quran / Courses / Leadership / 08. Leadership Workshop (30:26 – 33:31)


Materi VoB Hari ke-245 Sore | Meaningful Engagement for a Bond that is Built for Life

Oleh: Heru Wibowo

#SundayLeadershipWeek35Part3

Part 3

NAK Collection bukan inisiatif Ustaz. Ustaz malah belum pernah ketemu sama sekali dengan mereka. Ustaz juga tidak kenal siapa pun dari mereka. Meski hampir semua lecture Ustaz ada di sana.

Tapi Ustaz tidak mempermasalahkannya. Karena mereka secara jujur mengatakan ke publik bahwa mereka bukan representasi Ustaz. 

Yang menarik adalah, Ustaz tidak pernah meminta mereka untuk melakukannya. Bahkan, sekali lagi Ustaz menegaskan bahwa Ustaz tidak mengenal mereka.

Mereka sangat yakin dengan apa yang mereka lakukan, apa yang mereka perjuangkan, dengan cara mereka sendiri. Ustaz tidak bisa menghentikan mereka.

Mereka menghormati apa saja yang Ustaz ucapkan. Tapi organisasi mereka, bukan Ustaz yang mengatur. Mereka yang mengatur cara kerja mereka sendiri. Ustaz tidak pernah memberi instruksi kepada mereka, misalnya, tentang apa-apa yang harus mereka lakukan.

Seseorang bertanya kepada Ustaz, “Adakah masjid yang punya volunter yang secara konsisten menjadi volunter di sana?”

Ustaz mengiyakan. Ada. Ustaz meminta kepada murid yang bertanya tadi untuk mengunjungi Masjid Omar Al-Farouk di Anaheim, California.

Masjid dengan volunter yang loyal (consistent volunteers), kata Ustaz, juga ada di 

The Islamic Association of Raleigh di North Carolina

Di kedua tempat yang dirujuk Ustaz tadi, kita bisa menyaksikan banyaknya “tentara sukarelawan” yang sibuk bekerja (an army of volunteers).

Mengapa bisa sampai ada banyak sukarelawan muda di sana? Yang melakukan banyak hal yang berbeda untuk umat?

Karena mereka menyediakan layanan yang menarik dan dibutuhkan oleh kelompok-kelompok populasi yang ada di sana.

Bagaimana dengan volunter untuk proyek, usaha, atau inisiatif tertentu? Itu penting juga, menurut Ustaz, tapi “penting” di sini adalah secara organisasi. Tapi belum tentu “penting” secara sosial.

Yang perlu dipikirkan, menurut Ustaz, adalah menyediakan “aktivitas yang penuh makna” (meaningful activities) sebagai fondasinya. 

Bayangkan volunter yang bekerja di parkiran. Terus-menerus jaga mobil atau motor di situ. Atau volunter yang bekerja untuk urusan penggalangan dana (fund-raising) saja. Mereka bisa merasakan “kehilangan makna” dari apa yang mereka lakukan.

Jadi ada aktivitas awal lebih dulu yang melibatkan semuanya, semua volunter itu, sehingga semuanya menjadi bersemangat karena apa pun yang akan mereka lakukan nantinya adalah penuh makna. Untuk dakwah, untuk umat. 

Baru dari situ, mereka bisa memulai aktivitas dan tersebar di pos mereka masing-masing. Dengan tangki semangat yang terisi full. Masing-masing dari mereka merasa bahwa mereka adalah bagian penting dari sebuah perjuangan dakwah bersama.

Fakta bahwa mereka sudah mendaftarkan diri mereka untuk menjadi volunter, itu adalah ketertarikan awal. Tugas kita adalah menegaskan bahwa ketertarikan mereka akan berubah menjadi pengalaman yang penuh arti. Di sinilah pentingnya meaningful engagement first itu tadi.

Contoh nyata dari aktivitas untuk meaningful engagement ini misalnya adalah program khusus untuk anak muda, turnamen olahraga, “program satu malam” (overnight program), perjalanan darat (road trips) untuk wisata religi bersama misalnya, dan sebagainya.

Mengapa meaningful engagement ini penting? Karena ini akan menjadi ikatan yang terbangun di antara para volunter yang berlangsung lama. Tidak dibatasi hanya saat sama-sama terlibat di proyek, suatu usaha, atau satu inisiatif belaka (a bond that is built for life).

Kita lanjutkan insyaa Allaah minggu depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV / Quran / Courses / Leadership / 08. Leadership Workshop (33:31 – 37:26)[End]


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s