[VoB2021] Jangan Memberi Label kepada Anak


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-244

Topik: Parenting

Sabtu, 20 Februari 2021

Materi VoB Hari ke-244 Pagi | Jangan Memberi Label kepada Anak

Oleh: Rendy Noor Chandra

#SaturdayParentingWeek35Part1

Part 1

Pekan lalu, kita membahas tentang para nabi yang anak-anaknya berbuat kesalahan seperti Nabi Ya’qub dan Nabi Nuh ‘Alayhimussalam.

Kalau kita memberi label pada anak kita, misalnya anak yang ini sabar sekali, kalau yang ini suka marah-marah. Ini anak yang penurut kalau anak yang ini bebal. Anak yang ini pintar sedangkan kalau yang ini masyaa Allah.

Kalau kita begitu, kita berarti bertentangan dengan semangat yang Allah ajarkan di dalam Al-Qur’an, yaitu tentang bagaimana kita bersepakat dan bersikap dengan anak-anak kita.

Bahkan ketika Nabi Ya’qub menyampaikan kepada Nabi Yusuf ‘Alayhimussalam, “Jangan ceritakan mimpi ini kepada saudara-saudaramu.”

قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ

(Ya’qub) berkata, “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar kepadamu”

Q.S. Yusuf:5

“Mereka akan membuat prank kepadamu. Atau mereka membuat suatu rencana melawanmu. 

“Mereka akan membuat rencana melawanku? Apakah mereka musuhku?”

Dan ayat berikutnya adalah sebagai berikut,

إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”.

Q.S. Yusuf:5

Nabi Ya’qub tidak mengatakan bahwa saudara-saudara Nabi Yusuf ‘Alayhimussalam sebagai musuh, tetapi yang ia katakan adalah setanlah musuh yang sebenarnya. 

Kira-kira percakapan antara Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf ‘Alayhimussalam menurut Ustaz Nouman kira-kira seperti ini,

“Mungkin kadang-kadang, saudaramu marah dan kau tahu bagaimana kalau mereka marah. Terkadang mereka marah karena engkau sudah menghabiskan banyak waktu denganku. Engkau sudah pernah mendengar tentang ini kan?”

“Iya, aku sudah mendengarnya ya abati.

“Kalau kau memberitahu mereka tentang ini, mereka akan sangat marah. Mereka sudah terlihat marah kepadamu sekarang. “

Kemudian di benak Nabi Yusuf ‘Alayhissalam mungkin akan terlintas,

“Apakah aku harus berpikiran negatif tentang saudaraku?”

“Tidak…tidak… kau seharusnya tidak berpikir negatif kepada saudaramu. Kita harusnya marah kepada setan. Merekalah yang meniupkan waswas ke saudaramu. Semoga waswas itu akan hilang.”

إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Tapi berdasarkan pengalaman, Nabi Ya’qub memberi nasihat Nabi Yusuf ‘Alayhimussalam agar tidak menceritakan perihal mimpi itu kepada saudaranya.

Nasihat yang seperti inilah yang harus kita berikan kepada anak kita.

Bersambung insya Allah ba’da Zhuhur.

Sumber: 

– Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 17. Lessongs in Parental Psychology Part 1 (19:47-21:27)


Materi VoB Hari ke-244 Siang | Sibling Rivalry

Oleh: Rendy Noor Chandra

#SaturdayParentingWeek35Part2

Part 2

Misalkan anak kita mendapat medali di sekolahnya. Anak yang pertama kelas 4 SD, sedangkan anak kedua kelas 3 SD. Kemudian anak kedua menang lomba dan dapat medali.

Tentu anak tersebut akan bilang,

“Lihat ayah, ibu, aku menang!” Sambil memamerkan medalinya.

“Kakak dapat enggak? Aku menaaaang ♪…. aku menaaaaang ♫…yeay! Lihat nih medalinya, bagus ‘kan?”

Kita harusnya melatih anak kita dengan berkata,

“Hey, ayah bangga kau mendapatkannya. Tapi ayah enggak nyaman dengan sikapmu yang membuat kakakmu sedih. Ayah tidak suka. Jangan beritahu dia. Katakan pada ayah. Kalau ada kabar apapun ayah ingin tahu. Kalau kau mengulanginya, ayah akan ambil medalinya.”

“Ayah akan kembalikan ke gurumu. Ayah tidak mau di dalam keluarga kita saling meremehkan dan membuat yang lain sedih seperti itu.”

Ustaz Nouman mengingatkan untuk tidak berteriak kepada anak. Berteriak itu tidak akan efektif. Ustaz Nouman menyadari terkadang kita kelepasan berteriak, kalau itu Ustaz memahaminya.

Terkadang Incridible Hulk dari dalam kita muncul, dan kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Tapi, seharusnya kita selalu mengusahakan  untuk mengendalikan amarah kita.

Kita harus mengajarkan kepada anak-anak kita, baik yang mem-bully atau korban. 

Akan ada yang selalu dikeroyok dan berkata.

“Huaaaaa….. Aba, mereka ngomong itu lagi! Huhuhuhu…”

Dan akan ada yang menjadi pelakunya dan berkata’

“Enak aja! Aku enggak ngomong gitu! Aku bahkan enggak melototinya! Kamu selalu saja menyalahkanku!”

Akan ada yang seperti itu. Anak yang ter-bully dan mem-bully.

Tugas kita adalah tidak mengakui peran tersebut.

Tahu tidak kenapa?

Kalau bully tersebut terjadi sampai 5 kali dan pelakunya dihukum, diteriaki, atau diberi denda, kemudian yang terbully berhasil lolos. Anak yang ter-bully akan menganggap,

“Wah, bagus nih sistemnya. Aku bisa berteriak ‘Hua…. Jangan ngomong begitu!’, kapanpun aku mau. Dan dia akan dihukum, karena sudah ada 5 kasus sebelumnya, dan aku korbannya. Secara statistik, hampir tidak mungkin ayah dan ibu akan bilang, ‘Ah, mungkin sekarang ia balik mem-bully.’ Sepertinya mereka tidak akan menyalahkanku.”

Sebenarnya, yang ter-bully pun bisa balik mem-bully. Anak-anak itu cerdas, man. Mereka benar-benar cerdas.

Ustaz Nouman bukannya menyuruh kita memasang kamera CCTV di kamar anak kita, ya. Kita tidak perlu sampai mengintai sedemikian rupa untuk tahu siapa yang memulai bully ini. Sibling rivalry. Persaingan antarsaudara ini. 

Intinya, kita tidak bisa mengatakan anak yang ini menekan yang ini tertekan. Yang ini baik yang ini jahat. Yang ini yang selalu memulai pertikaian yang ini yang selalu dikeroyok.

Kita tidak bisa begitu. 

Kalau kita memberi label kepada anak, kita akan merusak 2 anak.

Anak yang satu akan sakit hati karena dicap sebagai pem-bully dan kita tidak akan percaya kepadanya, apapun yang anak lakukan. Dirinyalah yang jahat. 

Mereka mulai menerima bahwa diri mereka jahat, dan mereka mulai berlaku jahat dan beralasan,

“Aku kan memang jahat. Aku begitu karena dikatakan jahat. Kamu mau bilang apa? Orang tua ku tidak menyayangiku. Tidak seperti ke anak lainnya.”

Kita tidak ingin anak kita merasakan seperti itu. Kebencian itu akan berubah menjadi hal yang buruk di kemudian hari ketika mereka sudah dewasa.

Di sisi yang lain, kita membuat anak yang lain berpikir, “Aku bisa kabur dari tuduhan. Aku bisa menyangkal kapanpun aku tertuduh. Karena akulah yang selalu menjadi korban.”

Apa yang terjadi pada anak seperti ini?

Mereka menangis, berteriak, dan tantrum sebagai jalan lari dari masalah, dan kita memberikan apa yang mereka mau. Ini juga menandakan bahwa di kesempatan berikutnya mereka akan seperti itu lagi. 

Terakhir kali aku tantrum, aku diberi uang. Lihat apa yang kudapatkan karena aku menangis dan berteriak. 

Orang tua pun pusing ketika menghadapi situasi seperti ini. 

“Bagaimana saya bisa menyelesaikan masalah ini?Ini bertambah buruk.”

Dan keduanya mulai membenci satu sama lain. 

Yang satu beranggapan orang tuaku sudah tidak sayang lagi kepadaku karena dia, sedangkan yang lain dia selalu memojokkanku dan sekarang saatnya aku balas dendam, karena dia tidak suka padaku.

Inilah yang harus kita waspadai. Inilah salah satu masalah besar dalam mendidik anak kita.

Bersambung insya Allah pekan depan.

Sumber: 

– Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 17. Lessongs in Parental Psychology Part 1 (21:27-25:53)-end


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s