[VoB2021] Yang Tidak Dijelaskan di dalam Terjemah Al-Qur’an


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-242

Topik: Divine Speech

Kamis, 18 Februari 2021

Materi VoB Hari ke-242 Pagi | Yang Tidak Dijelaskan di dalam Terjemah Al-Qur’an

Oleh: Icha Farihah

#ThursdayDivineSpeechWeek35Part1

Part 1

بسم الله الرحمن الرحيم

Kata laa (لا) di dalam Al-Qur’an sangat banyak kita jumpai.

Laa  jika diterjemahkan secara sederhana artinya tidak/jangan. 

Tapi, di dalam bahasa Al-Qur’an, laa memiliki arti yang berbeda-beda tergantung pada bunyi akhiran kata setelahnya, apakah berbunyi -un atau -a.

Ketika akhiran bunyi kata setelah laa adalah -un maka makna kata laa menjadi tidak terlalu absolut, masih ada celah untuk pengecualian.

Sedangkan, ketika akhiran bunyi kata setelah laa adalah -a maknanya menjadi laa yang absolut, tidak dapat diganggu gugat.

*****

Misalnya,

Dzaalikaal kitaabu laa rayba fiihi…

“Kitab itu tidak ada keraguan padanya…” (QS Al-Baqarah, 2: 2)

Di sini kata yang dipilih setelah laa berakhiran -a, laa rayba.

Apa bedanya menggunakan laa rayba dengan laa raybun?

Seperti penjelasan di atas, implikasi penggunaan rayba pada ayat ini membuat maknanya menjadi absolut. Tidak ada celah sedikitpun untuk ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an.

Tentunya akan menjadi masalah ketika kita mengatakan la raybun karena maknanya menjadi untuk sebagian besar, ini benar, tapi ada celah untuk salah.

*****

Contoh lainnya lagi,

Laa ikraaha fiddiin…

“Tidak ada paksaan untuk menganut agama (Islam)…” (QS Al-Baqarah, 2:256)

Di sini, Allah menggunakan akhiran bunyi kata setelah laa adalah -a. Maka maknanya juga sama, tidak ada paksaan sama sekali dalam memeluk agama Islam.

Al-Qur’an mendeklarasikan sendiri tentang tidak boleh adanya paksaan dalam berislam. 

Maka, kita juga dilarang untuk mengancam, memersekusi, atau menggunakan kekerasan lainnya kepada orang lain supaya mereka mau beriman. 

*****

Begitu juga dengan kalimat yang sudah sangat familiar untuk kita. 

Laa ilaa haa ilallaah.

Dengan akhiran bunyi -a setelah laa, maka kalimat tauhid ini mengandung makna tidak ada yang dapat disembah, dicinta, dan ditaati kecuali Allah ta’ala, apapun kondisinya.

*****

Laa khalaaqa lahum fil akhirati…

“Mereka tidak memperoleh bagian di akhirat…” (QS Ali ‘Imran, 3:77)

Tidak ada bagian sama sekali untuk orang-orang munafik di akhirat kelak. 

*****

Ustaz Nouman ingin menyampaikan hal ini di dalam materi Divine Speech karena menurut beliau, ketika kita membaca terjemah Al-Qur’an makna laa akan ditulis sama. Tidak ada perbedaan makna antara akhiran -un dan -a sehingga kita terlewat tentang makna aslinya yang begitu dalam.

Materi seperti ini menurut ustaz tidak sulit untuk dipelajari, mungkin butuh kurang lebih 120-200 jam untuk terlatih memahaminya.

Insya Allah bersambung ba’da zhuhur.

Sumber: 

– Bayyinah TV – Quran – Courses  – Divine Speech – 06. Transitions in the Quran (1:23:43-1:25:18)


Materi VoB Hari ke-242 Siang | Doa Ibrahim di Kota Makkah

Oleh: Icha Farihah

#ThursdayDivineSpeechWeek35Part2

Part 2

بسم الله الرحمن الرحيم

Selain kata laa dan akhiran bunyi setelahnya, ada satu contoh lagi tentang betapa menakjubkannya bahasa Al-Qur’an dalam menjelaskan sesuatu.

Kali ini tentang doa nabi Ibrahim ‘alayhis salam di kota Makkah.

Allah ta’ala merekam doa Nabi Ibrahim ‘alayhis salam untuk kota Makkah setidaknya di dua tempat berbeda dalam Al-Qur’an.

Yang pertama, di dalam surat Al-Baqarah.

 رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنٗا…

“Ya Tuhan, jadikanlah ini sebuah kota yang damai…” “Make this a peaceful city.” (QS Al-Baqarah, 2: 126)

Dan yang kedua ada di surat Ibrahim.

 رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا…

“…Ya Tuhan, jadikanlah kota ini (Makkah), kota yang damai.” “Make this city peaceful.” (QS Ibrahim, 14: 35)

Kalau tidak saksama, kedua doa ini tampak terlihat sama saja. Tapi, dengan pendekatan bahasa maknanya jadi jauh berbeda.

Pada doa pertama di surat Al-Baqarah, ketika Ibrahim ‘alayhis salam berdoa, make this a peaceful city, kondisi yang ada di hadapan beliau ‘alayhis salam adalah tanah kosong dan tandus yang luas. Makkah belum berdiri, tidak ada apapun di sana. Oleh karena itu, di dalam doa ini, Ibrahim ‘alayhis salam meminta supaya Allah menjadikan dataran kosong itu sebuah kota. Dan bukan sekadar kota saja, tapi kota yang penuh dengan kedamaian. 

Jadi, kurang lebih terjemahannya menjadi, “Ya Allah, jadikan tanah yang kosong ini menjadi kota yang damai.”

Dari doa yang termaktub di surat Al-Baqarah ini, kita tahu bahwa nabi Ibrahim ‘alayhis salam berdoa saat beliau baru saja menginjakkan kakinya pertama kali di Makkah. 

Nabi Ibrahim ‘alayhis salam menggunakan imajinasinya dan melihat secara visioner tentang sebuah kota di tanah yang tandus tersebut.

Kemudian beberapa tahun setelahnya, ketika nabi Ibrahim ‘alayhis salam kembali ke tanah yang sama, kota itu sudah ada. 

Maka nabi Ibrahim ‘alayhis salam memanjatkan doa supaya kota itu menjadi kota yang damai, Make this city peaceful. “Ya Allah jadikanlah kota ini sebagai kota yang damai.” Inilah doa kedua yang kita temukan di dalam Surat Ibrahim.

*****

Penggunaan bahasa yang sangat sedikit sekali perbedaannya ini mampu menjelaskan kepada kita tentang kronologi doa yang terjadi di masa itu. 

Satu doa dipanjatkan di awal sebelum kota itu berdiri, sedangkan doa lainnya dipanjatkan setelah kota tersebut berdiri.

Subhanallah.

InsyaaAllah bersambung ba’da ashar.

Sumber: 

– Bayyinah TV – Quran – Courses  – Divine Speech – 06. Transitions in the Quran (1:25:18-1:27:33)


Materi VoB Hari ke-242 Sore | Belajar Kesejahteraan Negeri dari Doa Nabi Ibrahim

Oleh: Icha Farihah

#ThursdayDivineSpeechWeek35Part3

Part 3

بسم الله الرحمن الرحيم

Doa Nabi Ibrahim ‘alayhis salam di dalam surat Al-Baqarah tidak hanya meminta kedamaian, ia ‘alayhis salam juga meminta satu hal lainnya.

رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنٗا وَٱرۡزُقۡ أَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ 

“Ya Tuhanku, jadikanlah ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya.” (QS Al-Baqarah, 2: 126) 

Nabi Ibrahim ‘alayhis salam meminta kedamaian dan buah-buahan untuk kota Makkah.

Kedamaian pada ayat ini dapat dilihat sebagai hukum dan aturan, sedangkan buah-buahan dapat dilihat sebagai ekonomi yang kuat.

Untuk menciptakan masyarakat yang stabil, kita membutuhkan hukum dan aturan serta ekonomi yang kuat.

Bayangkan jika tidak ada hukum dan aturan yang berlaku, ketika menjalani bisnis, kita pasti mudah sekali untuk dicuri, kita merasa tidak aman.

Begitu juga jika tidak ada ekonomi yang kuat. Pasti akan sangat sulit untuk mencari pekerjaan, bisnis yang melemah, dan makanan yang tidak dapat dibeli. Semua itu membuat masyarakat menjadi lumpuh, meningkatkan angka kriminalitas, dan menimbulkan revolusi untuk menjatuhkan pemerintah.

Tidak adanya hukum dan aturan yang berlaku serta ekonomi yang kuat akan menimbulkan banyak masalah.

Maka untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang sehat, kita membutuhkan kedamaian melalui hukum dan aturan. Dan kita juga membutuhkan kemakmuran melalui ekonomi yang kuat. 

*****

Nabi Ibrahim ‘alayhis salam berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kota Makkah ini kota yang terdapat kedamaian di dalamnya serta jadikanlah kota ini sebagai kota yang memiliki berbagai macam buah-buahan.”

Hanya dengan beberapa kata yang dipanjatkan di dalam doanya, kita bisa tahu bahwa Nabi Ibrahim ‘alayhi salam adalah orang yang sangat jenius. Kata-kata itu mewakilkan seluruh kerangka berpikir tentang apa yang dibutuhkan masyarakat agar berfungsi dengan baik.

Saat ini, kita menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat di beberapa negara hancur berantakan karena masalah hukum dan aturan atau karena ekonomi yang tidak stabil atau bahkan karena keduanya.

Kedua hal itu, hukum dan aturan dan ekonomi yang kuat, adalah sesuatu yang saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Ketika terdapat korupsi di dunia politik biasanya itu akan menimbulkan masalah ekonomi. Begitu juga jika terdapat kerusakan di bidang ekonomi, itu biasanya akan menyebabkan korupsi di dunia politik. Keduanya berjalan beriringan.

*****

Di dalam Al-Qur’an, ada banyak doa nabi lainnya yang bisa kita baca yang memiliki kehebatan tentang bagaimana kehidupan bermasyarakat dapat berjalan dengan semestinya.

InsyaaAllah bersambung pekan depan.

Sumber: 

– Bayyinah TV – Quran – Courses  – Divine Speech – 06. Transitions in the Quran (1:27:33-1:30:07)


***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s