[VoB2021] Tempat Kembali Terbaik


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-241

Topik: Pearls from Ali Imran

Rabu, 17 Februari 2021

Materi VoB Hari ke-241 Pagi | Tempat Kembali Terbaik

Oleh: Rizka Nurbaiti

#WednesdayAliImran35Part1

Part 1

Pada awal surat Ali ‘Imran ayat 14 Allah ﷻ menjabarkan keinginan-keinginan (syahawaat) yang dimiliki manusia. 

Keinginan seperti itu pada dasarnya sah-sah saja dan bahkan merupakan hal yang penting agar manusia bisa bertahan hidup di bumi ini. Namun keinginan itu harus dipenuhi dengan cara yang baik dan benar. Itulah yang Allah ﷻ inginkan.

Sebaliknya, syaitan menginginkan manusia untuk memenuhi keinginan mereka dengan cara yang salah. 

🍂🍂🍂

Pada ayat lain di surat Ali ’Imran ini, Allah ﷻ  menjelaskan apa yang terjadi pada orang-orang kafir ketika mereka melakukan usaha untuk memenuhi keinginan mereka.

إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ ٱلْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُ

Jika kamu mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun mendapat luka yang serupa juga…. (QS Ali ’Imran, 3:140)

مَثَلُ مَا يُنفِقُونَ فِى هَـٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيحٍ فِيهَا صِرٌّ

Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin…. (QS Ali ’Imran, 3:117)

Jadi, orang-orang kafir itu juga menghabiskan uang mereka. Mereka menafkahkan harta mereka untuk memenuhi hasrat mereka akan dunia dan juga untuk melawan Islam. 

Di bagian akhir surat Ali ‘Imran (ayat 200), Allah ﷻ mengatakan:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ 

Bersabarlah dan bersainglah dengan mereka dalam bersabar. (QS Ali ‘Imran, 3:200)

 Jadi, orang-orang kafir tersebut juga bersabar. Mereka juga melakukan pengorbanan.

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فِى ٱلْبِلَـٰدِ

Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. (QS Ali ‘Imran, 3,196)

Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang kafir tersebut juga bepergian di seluruh negeri demi melawan orang-orang muslim. 

Mereka melakukan usaha yang keras dan menghabiskan waktunya juga. 

Hal itu bukanlah sesuatu yang yang dapat dianggap enteng, kan?

Jadi, jika orang-orang muslim melakukan ’jihad fi sabilillah’, maka orang-orang kafir juga melakukan jihad, yaitu ‘jihad fi sabidunia’.

Keduanya sama-sama melakukan pengorbanan terhadap tenaga, waktu, dan harta mereka. Yang berbeda adalah tujuan dan cara mereka melakukannya. 

Tapi, ingatlah hanya di sisi Allah ﷻ tempat kembali yang terbaik. Itulah yang Allah ﷻ katakan di akhir ayat 14 surat Ali ‘Imran.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَـٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَـٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَـٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ *وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ*

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (QS Ali ‘Imran, 3:14)

Ada hal yang sangat indah terkait kata ma’ab (ٱلْمَـَٔابِ)’ yang terdapat pada ayat di atas. 

Kata ma’ab (ٱلْمَـَٔابِ)  dapat diartikan dari kata aaaba (آب), ya’ubu (يَئُوْبُ)’. Yang berarti ‘kembali’ atau roj’a (رجع).

Selain itu, kata ma’aab (ٱلْمَـَٔابِ) juga dapat diartikan dari kata aub, yang memiliki arti ‘lebah madu’.

Lebah madu melakukan perjalanan untuk mengambil sari bunga. Ia hinggap di satu bunga, kemudian pergi lagi menghampiri bunga yang lain.  Dan pada akhirnya ia akan kembali ke sarangnya. Ia kembali ke rumahnya. 

Jika kita hubungkan dengan ayat di atas maka dapat dikatakan bahwa Allah ﷻ  memiliki tempat kembali yang terbaik untuk kita (ٱلْمَـَٔابِ), seperti halnya lebah madu yang kembali ke sarangnya setelah ia melakukan perjalanan.

Kita bisa hinggap di bunga ini dan di bunga itu selama beberapa waktu. Tapi yang perlu kita ingat adalah kita harus pulang. 🔙

Pulang kemana?

Pulang ke rumah terbaik kita, yakni di sisi Allah ﷻ. ✨

Hal ini juga menunjukkan bahwa saat kita pergi menuju Allah ﷻ kelak, itu bukanlah pertama kalinya kita ke sana. Karena kata yang digunakan adalah ‘kembali’, yang berarti kita sudah pernah ke sana dan dari sanalah kita berasal. 

The true sweetness is actually returning to Allah ﷻ . Kenikmatan yang sejati adalah kembali kepada Allah ﷻ.

وَٱللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ

Bersambung insyaAllah ba’da zhuhur.

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 05. ‘Ali ‘Imran – Ayah 13-15 Ramadan 2018 (43:07 – 44:57)


Materi VoB Hari ke-241 Siang | Merindukan Tempat Kembali

Oleh: Rizka Nurbaiti

#WednesdayAliImran35Part2

Part 2

Pada akhir Surat Ali ‘Imran ayat 14 Allah ﷻ  mengatakan,

وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ

Di sisi Allah-lah tempat kembali yang terbaik.

 Kemudian, ayat selanjutnya yaitu QS Ali ‘Imran ayat 15 Allah ﷻ mengatakan,

۞ قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍۢ مِّن ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّـٰتٌۭ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَٰجٌۭ مُّطَهَّرَةٌۭ وَرِضْوَٰنٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِٱلْعِبَادِ

Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) pasangan yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

Jadi, pertama-tama Allah ﷻ mengatakan bahwa kembali di sisi-Nya adalah tempat terbaik. Kemudian di ayat setelahnya, Ia ﷻ baru memberi kita gambaran tentang “tempat kembali yang terbaik” tersebut.

********

Kembali membahas tentang keinginan yang dimiliki oleh manusia, pada dasarnya kita memiliki keinginan akan beberapa “hal”, salah satunya adalah keinginan akan pemenuhan kebutuhan materi. 

Contohnya kuda, mobil, rumah, atau benda lainnya yang menunjukkan kekayaan. Hal itu disebutkan di ayat 14.

Di sisi lain, pada ayat ke 15 Allah ﷻ menyebutkan hal yang Ia ﷻ  tawarkan kepada kita sebagai tempat kembali. 

عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّـٰتٌۭ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ 

Pada sisi Tuhan mereka (Allah) ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. (QS Ali ‘Imran, 3:15)

Jadi, di ayat ini Allah ﷻ  mengatakan bahwa di tempat kembali tersebut (surga) terdapat taman yang memiliki air terjun, sungai mengalir. 

Sekarang coba kita pikirkan, kira-kira ketika seseorang menghasilkan uang yang banyak dan bisnisnya berjalan dengan baik. Maka, hal apa yang ingin dia wujudkan?

Ngomong-ngomong di sini ustaz mengatakan bahwa ia melewatkan terlebih dahulu penjelasan mengenai لِلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟, karena beliau akan menjelaskannya pada akhir sesi ini.

Kebanyakan orang ingin membuat rumah yang megah dan indah. Mereka ingin memiliki rumah di atas gunung dan menghadap ke laut. 

Mereka ingin memandang laut dan menikmati sejuknya pegunungan di rumahnya.  

Terbayang tidak betapa indahnya rumah yang berada di tepi pantai, dikelilingi taman dan ada air terjunnya?

Berapa biaya yang kita perlukan untuk memiliki rumah mewah tersebut?

Orang-orang yang telah mencapai kesuksesan secara materi kebanyakan sangat menginginkan rumah yang indah. 

Mereka ingin memiliki pemandangan air di rumahnya. Sehingga, mereka membuat air terjun buatan di rumahnya tersebut.

Mereka menempatkan kolam renang dengan bebatuan palsu, yang membuatnya seakan-akan seperti air terjun.

Ada juga yang membuat taman ala taman di Jepang, sehingga mereka bisa mendengar suara air mengalir yang membuat mereka rileks.

Mereka juga membuat kolam ikan. Kolam ikan ini seakan meniru lautan.

Jika diperhatikan bahwa apa yang Allah ﷻ jelaskan sebagai “tempat kembali” mirip dengan pencapaian materi yang kita inginkan di dunia.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Hal itu dapat terjadi karena hal-hal tersebut pada dasarnya telah tertanam di benak kita secara alami. Kita merindukan tempat yang indah itu, karena tempat itu adalah tempat di mana kita berasal. 

Jadi, di ayat 15 ini Allah ﷻ mengatakan bahwa semua keinginan material yang ingin kita miliki di dunia, semuanya tercakup di “tempat kembali” yang Dia ﷻ  sediakan. 

*****

Di ayat 14, selain membahas tentang kecintaan terhadap harta dan benda seperti kuda pilihan. Allah ﷻ  juga menyebutkan bahwa manusia memiliki kecintaan terhadap harta benda yang bertumpuk, hewan ternak, sawah ladang, atau di zaman sekarang kita lebih familiar dengan “investasi”. 

Mengapa manusia menginginkan hal tersebut?

Manusia menginginkan hal tersebut untuk mendapatkan pendapatan yang berkelanjutan sebagai perlindungan di masa depan.

Di sisi lain, apa yang Allah ﷻ tawarkan kepada kita di jannah sebagai perlindungan di masa depan?

خَـٰلِدِينَ فِيهَا

Apakah itu?

Bersambung insyaAllah ba’da ashar.

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 05. ‘Ali ‘Imran – Ayah 13-15 Ramadan 2018 (44:57 – 47:59)


Materi VoB Hari ke-241 Sore | Keindahan di Dunia Vs Keindahan di Surga

Oleh: Rizka Nurbaiti

#WednesdayAliImran35Part3

Part 3

Di ayat 14, Allah ﷻ membahas tentang kecintaan manusia terhadap harta benda yang bertumpuk, hewan ternak, sawah ladang, atau di zaman sekarang kita lebih familiar dengan “investasi”. 

Hal tersebut untuk mendapatkan pendapatan yang berkelanjutan sebagai perlindungan di masa depan.

Begitu juga dengan keinginan manusia terhadap keturunan (memiliki anak).

Apa tujuan dari memiliki keturunan? 

Tujuan memiliki anak adalah agar “nama” kita terus berlanjut. 

Tetapi apakah di surga kita membutuhkan “nama kita”  dilanjutkan juga?

Tidak, karena di sana kita kekal di dalamnya (خَـٰلِدِينَ فِيهَا).

Jadi, kalimat ini (خَـٰلِدِينَ فِيهَا) juga membuat kebutuhan akan “anak” yang ada di dunia tidak berlaku di surga.

Jika kita perhatikan urutan antara keinginan manusia di dunia dengan apa yang Allah ﷻ akan berikan di surga memiliki struktur seperti “cermin”.

1. “Hal terakhir” yang disebutkan dalam ayat yang membahas mengenai keinginan manusia di dunia adalah “kekayaan”. Sebaliknya, “hal pertama” yang disebutkan dalam ayat mengenai jannah  adalah kekayaan. 

Jadi, hal yang terakhir disebutkan pada ayat 14 berpasangan dengan hal yang pertama disebutkan pada ayat 15. Terakhir dengan pertama. 

2. “Hal kedua yang disebutkan di ayat 14 membahas tentang “keturunan”. Keinginan akan “keturunan” ini bertujuan untuk melanjutkan “nama”, sehingga membuat namanya menjadi kekal (karena namanya diturunkan ke generasi selanjutnya). 

Sebaliknya, di jannah kita tidak perlu membawa nama kita melalui “anak-anak” kita, karena di jannah kita “kekal di dalamnya (خَـٰلِدِينَ فِيهَا)”. 

Jadi, yang kedua disebutkan di ayat 14 berpasangan dengan yang kedua disebutkan di ayat 15. Kedua dengan kedua.

3. “Hal pertama” yang disebutkan di ayat 14 adalah an-nisa (النِّسَآءِ) yang berarti wanita. Sedangkan, “hal terakhir” yang disebutkan di ayat 15 adalah azwaajun (أَزْوَٰجٌ) yang berarti pasangan.

Jadi, yang pertama disebutkan di ayat 14 berpasangan dengan yang terakhir disebutkan di ayat 15. Pertama dengan terakhir.

Kata azwaajun (أَزْوَٰجٌ) yang terdapat dalam ayat 15 memiliki makna yang lebih luas dari an-nisa, karena أَزْوَٰجٌ memiliki arti “pasangan”. 

Ada hikmah yang menarik dibalik penggunaan kata أَزْوَٰجٌ dengan النِّسَآءِ yang digunakan pada masing-masing ayat tersebut.

Penggunaan kata  ”an-nisa” yang berarti “wanita”  pada ayat 14 menunjukkan bahwa Allah ﷻ hanya membicarakan keinginan dari sisi laki-laki ketika Ia ﷻ membahas tentang “keinginan manusia” akan pasangan di dunia. 

Sebaliknya, di ayat 15 Allah ﷻ  tidak mengucapkan  حُورٌ مَّقْصُورَٰتٌ, yang berarti “bidadari-bidadari yang dimurnikan”, seperti yang Ia ﷻ katakan pada surat Ar-Rahman.

Melainkan di ayat ini, Ia mengatakan أَزْوَٰجٌ مُّطَهَّرَةٌ, yang berarti “pasangan yang dimurnikan”.

Kata “pasangan” bisa digunakan untuk laki-laki atau perempuan. 

Jadi, Allah ﷻ menyebutkan keinginan pria dan wanita, ketika Dia berbicara tentang jannah.

Sebaliknya, Dia ﷻ tidak membahas keduanya, ketika dia berbicara tentang “keinginan di dunia”. 

Jadi, di ayat ini seakan-akan Allah ﷻ mengatakan bahwa pria telah diprogram dengan sangat jelas, mengenai apa yang dia inginkan di dunia.

Menurut ustaz, hal ini kita bisa lihat dari anak laki-laki yang berusia 18 tahun dengan anak perempuan yang berusia 18 tahun. 

Jika kita bertanya kepada anak laki-laki tersebut tentang apa yang dia inginkan. Kemungkinan besar dia akan menjawabnya dengan cepat.

Sebaliknya, jika kita bertanya ke anak perempuan pertanyaan yang sama di atas, maka dia akan menjawab:

“Yah, tergantung”

“Tunggu sebentar biarkan aku berpikir terlebih dahulu”.

Mengapa hal tersebut terjadi?

Hal tersebut terjadi karena keadaan emosional wanita jauh lebih kompleks daripada pria. 

Sehingga keinginannya pun jauh lebih kompleks jika dibandingkan dengan pria.

Jadi, melalui dua ayat ini kita bisa melihat bahwa Allah ﷻ mengakui kompleksitas itu. 

Oleh karena itu, di ayat yang membahas tentang jannah Allah ﷻ mengatakan “pasangan yang dimurnikan ( أَزْوَٰجٌ مُّطَهَّرَةٌ)”  bukan “pasangan yang cantik”.

Penggunaan kata “pasangan yang dimurnikan” di ayat ini  juga merupakan hal yang indah. Karena dengan menggunakan kata ini berarti bahwa “pasangan” yang kita miliki “murni” sesuai dengan apa yang kita inginkan. 

Itulah tiga hal perbandingan antara apa yang kita inginkan di dunia dengan apa yang Allah ﷻ akan berikan di surga. 

Dengan melihat perbandingan keduanya tersebut, kita bisa tahu bahwa apa yang kita inginkan di dunia ini tidak sebanding dengan apa yang Allah akan berikan di surga. 

Keinginan kita akan kenikmatan di dunia masih kalah jauh dengan kenikmatan yang Allah janjikan di surga.

Segala hal yang ditawarkan Allah ﷻ di surga memiliki level yang jauh lebih tinggi dari semua keinginan kita di dunia.  

Selanjutnya Allah mengatakan,

وَرِضْوَٰنٌ مِّنَ ٱللَّهِ

Bagaimana penjelasannya?

Bersambung insyaAllah pekan depan.

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Look > 05. ‘Ali ‘Imran – Ayah 13-15 Ramadan 2018 (47:59 – 50:47)

***


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s