[VoB2020] Tahun Baru Imlek dan Kesempatan Menyaksikan Video Tentang Ayat


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-236

Topik: Pearls from Al-Kahfi

Jum’at, 12 Februari 2021

Materi VoB Hari ke-236 Pagi | Tahun Baru Imlek dan Kesempatan Menyaksikan Video Tentang Ayat

Ditulis oleh: Heru Wibowo

#FridayAlKahfWeek34Part1

Part 1

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Kali ini kita akan dibombardir dengan hal-hal “gila” (crazy stuff). Jadi sebaiknya kita mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

Are you ready?

Pembahasannya sendiri berisi atau melewati banyak kejadian penting atau tonggak sejarah (milestones). Tapi ustaz tetap berusaha supaya fokus kepada satu hal saja.

Fokusnya akan ke mana? Ke manfaat surah Al-Kahfi dikaitkan dengan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. Itu satu hal yang akan menjadi fokus kita.

Menariknya, kita akan mulai dengan sesuatu yang “tidak kita harapkan”. Yaitu bahwa Al-Qur’an terus-menerus mengarah kembali ke satu hal. Yakni, istilah ”ayat” atau ”ayah”.

Jika seseorang melihat Al-Qur’an dari kacamata filosofi, maka kebijaksanaan-kebijaksanaan Al-Qur’an itu terarah (routed) ke istilah ”ayah”.

Ini memang bukan kuliah tentang ”ayah” dan tentang apa itu ”ayah”. Tapi kita perlu membahas ini karena pembahasan ini akan bermanfaat untuk memahami apa yang akan kita pelajari nanti.

Jika Anda bahkan tertarik untuk menikmati “intro” ini, silakan mengunjungi YouTube di channel Bayyinah Institute. Ustaz menjelaskan panjang lebar di sana dengan judul “What’s an Ayah? – Nouman Ali Khan – Malaysia Tour 2015”. Berikut adalah tautannya: https://youtu.be/HKjUgJD0Tw4 untuk memudahkan Anda.

Jadi, di titik ini, Anda boleh berhenti membaca. Silakan membacanya dilanjutkan kembali nanti, setelah Anda selesai menyaksikan video berdurasi 28 menit dan 29 detik di YouTube tadi.

Karena memang itu yang direkomendasikan oleh ustaz. Bahkan, lebih spesifik lagi, ustaz meminta kita untuk mencatat poin-poin penting yang ada di video itu.

Jika Anda tidak punya waktu untuk menyaksikan video itu, meski hari ini adalah hari libur Tahun Baru Imlek 2572 yang bertepatan dengan tanggal cantik yang simetris 12022021, tidak apa-apa juga.

Anda bisa terus melanjutkan membaca artikel ini. Toh tidak ada paksaan dalam beragama. Apalagi “cuma” menonton video. 😃😃🙏🙏

Aayaat itu banyak. Aayaat itu banyak hal. Salah satu cara untuk bikin kategorisasi soal aayaat adalah: ada ayat yang “wahyu” (revelation), dan ada ayat yang “bukan wahyu” (non revelation).

Ya, dua itu saja. Wahyu (revelation) dan segala sesuatu yang lainnya yang di luar wahyu (non revelation).

Sebenarnya jika kita melihat secara menyeluruh, tidak ada satu pun pengalaman, yang pernah kita alami, yang bukan ”ayah”.

Jika kita mempelajari Al-Qur’an dan mencoba memahami apa itu ”ayah”, atau ”aayaat” itu merujuk kepada apa, maka akan kita temukan bahwa ”aayaat” itu merujuk ke banyak hal.

”Aayaat” merujuk ke wahyu yang Allah turunkan.

”Aayaat” merujuk ke wahyu yang ada di Taurat.

”Aayaat” merujuk ke wahyu yang ada di Injil.

”Aayaat” merujuk ke wahyu yang ada di Al-Qur’an.

”Aayaat” juga merujuk ke langit yang terhampar di atas kita.

”Aayaat” juga merujuk ke bumi tempat kita berpijak.

”Aayaat” juga merujuk ke burung-burung yang beterbangan.

”Aayaat” juga merujuk ke sejarah manusia dan peradabannya.

Pengalaman hidup kita juga ”ayah”.

Yang akan terjadi di masa depan juga ”ayah”.

Waktu yang terus bergulir dan berjalan maju adalah ”ayah”.

Tahun Baru Imlek, karena merupakan bagian dari waktu, berarti juga ”ayah”.

Setelah kita melakukan survei tentang makna ”aayaat” atau ”ayah” di Al-Qur’an, akhirnya muncul sebuah pertanyaan.

Pertanyaannya bukanlah “apakah ’aayaat’ itu”. Pertanyaannya adalah, kalau begitu, apa yang bukan ’aayaat’. Ada nggak sih, sesuatu yang bukan aayaat?

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 08. Al-Kahf and Dajjal Part 1 – A Deeper Look (00:00 – 02:55)


Materi VoB Hari ke-236 Siang | Bermata Tapi Tak Melihat

Ditulis oleh:  Heru Wibowo

#FridayAlKahfWeek34Part2

Part 2

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Secara filosofis, “ayat” adalah pandangan pemersatu Al-Qur’an tentang realitas (the Quran’s unifying view of reality).

Artinya, kita harus selalu berkonsultasi dengan Al-Qur’an dalam memandang realitas. Karena Al-Qur’an adalah kitab yang mempersatukan semua pandangan tentang realitas.

Dalam pandangan Islam, ada dua dimensi dari realitas. Yakni realitas yang terlihat (seen reality) dan realitas yang tak terlihat (unseen reality). 

Contohnya adalah kita sendiri sebagai manusia. Ada realitas yang terlihat oleh kita, yaitu tubuh kita secara fisik. Tapi ada juga ruuh yang Allah letakkan di dalam diri kita, yang merupakan realitas tak terlihat.

Kata heart dalam bahasa Inggris bisa punya dua makna dalam bahasa Indonesia. Maknanya bisa “jantung”, bisa pula “hati”.

Ketika kita mendengar istilah heart rate, maka yang dimaksud adalah detak jantung, yang termasuk realitas yang terlihat. Karena tubuh kita bisa dibedah dan ditemukan “jantung” secara fisik di dalamnya.

Ketika kita mendengar kata-kata unbreak my heart, maka yang dimaksud adalah “jangan sakiti hatiku”, di mana “hati” di sini termasuk realitas yang tak terlihat.

Hati yang tak terlihat ini bisa menjadi keras (the heart becomes hard) seperti batu. Ini bukanlah sesuatu yang bersifat fisik. Itu adalah sesuatu yang tak terlihat.

“Dia itu memang parah! Disuruh pakai masker nggak mau! Hatinya sudah mengeras, dia! Sekarang dia terkena Covid-19. Sekarang dia merasakan akibatnya.”

Kita tidak bisa lantas mencoba melacak di mana letak hatinya, lalu merabanya, untuk memeriksa apakah benar hatinya “keras” atau tidak. Ini adalah realitas yang tak terlihat.

Ya, “realitas” karena kita bisa melihat dengan mata kepala kita sendiri, perilaku dari orang yang hatinya mengeras. Tapi “hati yang keras” itu tidak bisa kita lihat.

Ada realitas yang terlihat (seen reality), dan ada realitas yang tak terlihat (unseen reality).

Mirip dengan itu, kita punya kedua bola mata ini. Ada realitas yang terlihat oleh kedua mata kita. Melalui dua mata ini, kita bisa melihat realitas fisik.

Tapi ada realitas yang tak terlihat oleh kedua bola mata kita. Maka Allah menyatakan, lahum a’yunun laa yubshiruuna bihaa. (QS Al-A’raf, 7:179)

Mereka punya mata, tapi mereka tidak bisa melihatnya dengan kedua mata itu. Ada lagu jadul dari grup musik Bimbo yang menceritakan hal ini: “Bermata Tapi Tak Melihat”.

Ayat tadi bukan tentang orang yang buta. Orang yang kedua mata, atau kedua bola matanya tidak berfungsi. Bukan itu.

Yang dibicarakan Allah di ayat tadi adalah orang yang “buta secara spiritual” (spiritually blind).

Jadi ada realitas yang terlihat, dan ada realitas yang tak terlihat. Ada realitas yang bersifat materi, dan ada realitas yang bersifat spiritual. Kedua realitas ini saling menguatkan (go hand in hand).

Menariknya, di Al-Qur’an, berkali-kali disebutkan, saat Allah bicara tentang realitas fisik, Allah tidak menyebutnya “ayat”.

Dengan kata lain, Allah tidak menyebutkan bahwa langit dan burung-burung itu adalah “ayat”. Presisi Al-Qur’an menyatakan, “ada ‘ayat’ di dalamnya”.

Bukan “langit yang biru adalah ayat”. Tapi “ada ‘ayat’ di langit yang biru itu”.

Bukan “burung-burung yang beterbangan adalah ayat”. Tapi “ada ‘ayat’ di burung-burung yang beterbangan itu”.

Dari sudut pandang linguistik, ada banyak definisi tentang “ayat” itu sendiri. Tapi satu hal yang pasti: “ayat” itu menunjuk atau mengarah ke “sesuatu”. Sesuatu yang penuh makna (purposeful), sesuatu yang “lebih” dari sesuatu itu sendiri.

Contohnya adalah rambu-rambu lalu lintas. Tanda atau rambu itu bukanlah tujuan kita. Tanda atau rambu itu adalah alat untuk menuju ke tempat tujuan kita.

Misalnya tanda “belok kiri”. Atau tanda di jalan tol yang menunjukkan bahwa untuk menuju tempat tujuan kita, 1 km lagi kita harus belok kiri alias keluar tol.

Meski tanda atau rambu itu bukan tujuan kita, tapi dia sangat berharga buat kita. Karena dia membantu kita untuk mengarah ke tujuan yang benar.

Jadi, kalau begitu, ‘ayat’ itu apa berarti?

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 08. Al-Kahf and Dajjal Part 1 – A Deeper Look (02:55 – 06:16)


Materi VoB Hari ke-236 Sore | Antara Air Hujan, Al-Qur’an, Bunga-Bunga, dan Amalan Para Sahabat

Ditulis oleh: Heru Wibowo

#FridayAlKahfWeek34Part3

Part 3

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Dari penjelasan sebelumnya, kita bisa menyimpulkan bahwa “ayat” adalah cara atau alat untuk mengarahkan kita ke petunjuk yang kita butuhkan atau sarana untuk membimbing langkah kita (a means to guidance).

Definisi ini masuk akal karena Al-Qur’an adalah petunjuk atau pedoman (guidance). Dan cara Al-Qur’an memberi petunjuk itu adalah melalui “ayat”.

“Ayat” mengarahkan Anda pada sebuah kenyataan.

“Ayat” mengarahkan Anda pada “sesuatu”.

Semua “ayat” itu mengarahkan kita ke suatu tempat (somewhere).

Jika kita punya jenis penglihatan yang tepat (the right kind of eyes), yaitu penglihatan spiritual (spiritual eyes), bukan penglihatan fisik (material eyes), ketika kita melihat bumi atau dunia ini, maka penglihatan kita itu akan mengarahkan kita ke sebuah fakta bahwa Allah akan menghidupkan kembali apa yang sudah mati.

Itu adalah sebuah cara untuk “melihat realitas”. Jika kita bisa “melihat” ayat itu. Meski di dunia ini, ada juga orang-orang yang “buta” terhadap ayat itu.

Menariknya, Al-Qur’an bicara secara “dekoratif” tentang orang-orang yang menolak wahyu. Tentang orang-orang yang menolak ayat-ayat Al-Qur’an.

Apa maksudnya? Apa contohnya? Bagaimana penjelasannya?

Allah menyatakan bahwa ada orang-orang yang lupa, yang tidak sadar, terhadap ayat-ayat penciptaan. Mereka telah menyangkal ayat-ayat itu seumur hidup mereka. Sehingga fakta bahwa ada orang-orang yang menolak ayat-ayat wahyu bukanlah sesuatu yang baru.

Jika kita mempelajari surah Ar-Rahman, Allah bicara tentang Al-Qur’an di awalnya. Di awal surah Ar-Rahman.

Lalu, selanjutnya, di surah Ar-Rahman itu,  Allah bicara tentang realitas fisik. Tentang bumi. Tentang samudra. Tentang mutiara. Dan sebagainya. Di mana itu semua adalah “ayat” yang telah disangkal oleh mereka.

Ringkasnya, ayat tentang sesuatu yang tak terlihat, dan ayat tentang sesuatu yang terlihat, keduanya mengarahkan kita kepada satu hal yang sama.

Realitas fisik yang kita pandang sebagai ayat, dan realitas spiritual yang juga kita pandang sebagai ayat, semuanya mengarah kepada hal yang sama.

Artinya realitas itu dua dimensi. Keduanya berjalan seiring. Keduanya terkoneksi untuk kita.

Sungguh indah apa yang telah Al-Qur’an lakukan. Allah mengajari kita banyak sekali kebijaksanaan yang bersifat filosofis di dalam Al-Qur’an, mulai dari kebijaksanaan yang bersifat abstrak hingga contoh-contoh yang nyata.

Misalnya Allah bicara tentang kematian. Melalui ayat yang menjadi pengingat kematian (the reminder of death).

Allah bicara tentang keadaan fisik dari seseorang yang berusia lanjut. Waman nu’ammirhu nunakkis-hu fil-khalq. Yang Allah panjangkan umurnya, niscaya dikembalikan ke awal kejadiannya. (QS Yasin, 36:68) Ada penurunan kondisi fisik yang terjadi.

Kita sering menyaksikan, orang-orang yang sudah sangat lanjut usia, mereka terlihat tidak tegak lagi berdiri. Postur tubuhnya jadi agak membungkuk.

Apa itu artinya?

Saat usia semakin tua, pandangannya selalu melihat ke bawah. Setiap saat. Melihat ke “rumah masa depan” yang semakin dekat.

Kita dibuat dari tanah, dan akan kembali ke tanah. Di usia yang semakin tua, tubuh membungkuk, sehingga pandangan mengarah kembali ke tanah.

Subhaanallaah.

Ada realitas fisik dari pohon, burung-burung, samudra, dan semua hal ini. Dan melalui hal-hal itu, ditunjukkan kepada kita hal-hal yang bersifat spiritual.

Sebuah contoh lagi. Contoh yang indah. Saat hujan datang. Wa-anbatnaa fiihaa min kulli zawjin bahiij. (QS Qaf, 50:7) Semua tanaman yang indah beraneka warna dan jenisnya yang keluar dari dalam bumi, semuanya itu berasal dari air hujan yang sama.

Itu adalah realitas fisiknya.

Dari realitas fisik itu, Allah membuat perumpamaan, bahwa Al-Qur’an menyinari semua manusia, di mana manusia itu berasal dari tanah sehingga manusia bisa diibaratkan sebagai “bumi”-nya, dan Al-Qur’an adalah “air hujan” yang masuk meresap ke dalam “bumi manusia”.

Lalu apa yang keluar dari dalam “bumi manusia” itu?

Bunga-bunga yang indah. Pepohonan yang rindang. Buah-buahan yang lezat dan mengandung berbagai vitamin yang bermanfaat.

Yang keluar dari dalam bumi itu, sama atau berbeda?

Berbeda.

Maka “buah” dari “wahyu” itu berbeda. Tidak semua sahabat itu sama. Ada sahabat yang amal jariahnya gila-gilaan. Ada sahabat yang sangat kuat hafalannya. Ada sahabat yang perjuangannya begitu hebat menghadapi berbagai cobaan yang berat. Ada sahabat yang keberaniannya luar biasa di medan pertempuran. Ada juga sahabat yang sangat kenceng ibadahnya. Dan sebagainya. Dan sebagainya.

Amalan sahabat yang berbeda itu mencerminkan “bunga” yang beraneka warna.

Tapi keindahan realitas itu, realitas bahwa Al-Qur’an telah menginspirasi manusia secara berbeda, bagaimana cara Allah menjelaskannya?

Dengan berbagai tanaman dan tumbuhan yang keluar dari dalam bumi.

Air hujannya sama. Al-Qur’annya sama.

Yang tumbuh di muka bumi beraneka. Amalan para sahabat pun berbeda.

Buat yang pernah mengunjungi kebun raya (botanical garden), saat melihat bunga, sebagai pembelajar Al-Qur’an, aktivitas atau kejadian “melihat bunga” itu sebenarnya adalah sebuah “peristiwa spiritual”. Itu adalah sebuah “pengalaman spiritual”.

Jadi, pengalaman spiritual itu bukan hanya saat kita duduk mendengarkan khotbah. Karena Allah membuat segalanya menjadi sebuah “ayat”.

Awalnya ustaz berencana untuk menjadikan surah Qaf ayat 7 tadi sebagai contoh terakhir sebelum masuk ke pembahasan selanjutnya.

Tapi ustaz ngaku bahwa beliau tidak bisa menahan diri. ”I can’t help myself,” kata beliau. Maksudnya, beliau tidak bisa menahan diri untuk memberi contoh satu ayat lagi.

Surah apa? Ayat berapa? Contoh tentang apa?

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 08. Al-Kahf and Dajjal Part 1 – A Deeper Look (06:16 – 09:43)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s