[VoB2021] Keseimbangan Ilmu dan Tindakan dalam Al-Fatihah


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-232
Topik: Al Fatihah
Senin, 8 Februari 2021

Materi VoB Hari ke-232 Pagi | Keseimbangan Ilmu dan Tindakan dalam Al-Fatihah

Oleh: Rizka Nurbaiti 

#MondayAlFatihahWeek34Part1 

Part 1 

Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang keseimbangan yang terdapat dalam surat Al-Fatihah. 

Untuk membahasnya terlebih dahulu kita bagi Al-Fatihah menjadi tiga bagian. 

Bagian pertama terdiri dari tiga ayat awal di surat Al-Fatihah, yaitu:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. 

ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 

مَـٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

Yang menguasai di Hari Pembalasan. 

Ketiga ayat di awal surat Al-Fatihah ini  merupakan ’knowledge (ilmu)’. Knowledge mengenai siapa Allah ﷻ itu. 

Jadi, melalui bagian pertama surat Al-Fatihah ini kita mendapatkan ilmu tentang Allah ﷻ. 

Selanjutnya, bagian kedua yaitu: 

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

Dalam ayat ini kita siap untuk melakukan ‘tindakan (action)’.

So di surat Al-Fatihah, pertama kita mendapatkan ‘ilmu’ tentang Allah ﷻ, kemudian setelah itu kita siap untuk melakukan ‘tindakan (amal)’ atas ilmu yang telah kita dapatkan. 

Dalam Islam, ilmu dan amal merupakan hal yang sangat penting, kan? 

Sehingga, ketika kita telah mempelajari suatu ilmu, maka selanjutnya kita harus mengamalkannya. 

Hal itu terus menerus berlanjut. Kita harus terus-menerus belajar dan kemudian terus menerus pula mengamalkannya. 

Selanjutnya, kita meminta ‘petunjuk’ kepada Allah: 

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ 

Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Ketika kita berbicara mengenai ‘meminta petunjuk’, kita bisa membedakan orang-orang menjadi tiga kelompok. 

Tiga kelompok ini disebutkan di dalam Surat Al-Fatihah, yaitu sebagai berikut: 

1. Orang-orang yang berada di jalan yang lurus

2. Orang-orang yang terkena marah

3. Orang-orang yang tersesat 

Jadi, bagian pertama dari Al-Fatihah adalah tentang ‘ilmu’. Bagian kedua adalah tentang ‘amal’. Dan bagian ketiga adalah tentang ‘meminta petunjuk’. Kita meminta kepada Allah ﷻ untuk diberikan ‘petunjuk’. 

Petunjuk itu  berasal dari tiga kelompok orang yang dibedakan berdasarkan ilmu dan amal yang mereka miliki. 

Bagaimana hubungan antara tiga kelompok orang yang disebutkan dalam surat Al-Fatihah ini dengan ilmu dan amal yang mereka miliki?

✅ Kelompok pertama, orang-orang yang berada di jalan yang lurus, yaitu orang-orang yang berilmu dan mengamalkannya

❌ Kelompok kedua, orang-orang yang terkena marah yaitu orang-orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya.

✖ Kelompok ketiga, orang-orang yang tersesat yaitu orang-orang yang beramal tetapi tidak memiliki ilmu.

Jadi, dalam bagian ketiga surat Al-Fatihah ini kita meminta kepada Allah ﷻ agar kita diberi petunjuk untuk menjadi ‘orang yang berilmu dan mengamalkannya’. 

Dan dijauhkan dari ‘orang yang memiliki ilmu tapi tidak beramal’, maupun dari ‘orang yang beramal tapi tidak berilmu’.

Sehingga, dapat dikatakan bahwa keseluruhan surat Al-Fatihah ini menunjukkan keseimbangan antara ‘ilmu (knowledge)’ dan ‘amal (action)’. Dari awal hingga akhir surat. Masyaa Allah.

🍂🍂🍂 

Selanjutnya, ustaz membahas hubungan antara ilmu tentang Allah ﷻ dengan petunjuk yang  akan diberikan.

Bagaimana penjelasannya?

Bersambung insyaa Allah ba’da zhuhur.

Sumber: Bayyinah TV  – Quran – Deeper Look – 1. Al-Fatihah – 05. Al-Fatihah – A Deeper Look (1:00:16 – 1:01:55).


Materi VoB Hari ke-232 Siang | Personalized Guidance from Allah

Oleh: Rizka Nurbaiti

#MondayAlFatihahWeek34Part2

Part 2 

Sebelumnya, kita telah bahas bagian awal surat Al-Fatihah yang merupakan ‘knowledge’ , yaitu:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

مَـٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

Pada ayat tersebut, Allah ﷻ memperkenalkan kita betapa luas ilmu-Nya. Kemudian, ayat setelahnya menjelaskan bahwa Allah ﷻ memberikan kita petunjuk bersifat khusus (personalized).

Mengapa petunjuk itu dikatakan bersifat personalized? 

Karena adanya kata ‘ٱلْعَـٰلَمِينَ’ pada ayat yang berisi tentang pengetahuan tentang Allah ﷻ . 

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

Kata ‘ٱلْعَـٰلَمِينَ’ ini merujuk kepada ‘kita semua’ secara pribadi, yang berbeda generasi, berbeda budaya, dan berbeda bangsa.

Jadi, petunjuk yang bersifat personalized itu akan datang kepada kita sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing. Karena Allah ﷻ adalah Rabb dari al ‘aalamiin.

Setelah petunjuk tersebut datang, kita akan dibedakan menjadi tiga golongan.

Jadi, dari semua‘ٱلْعَـٰلَمِينَ’ hanya ada tiga golongan ini. 

Tidak peduli apa budayanya, bagaimana lingkungan sosialnya, apa bangsanya, apa bahasanya, apa etnisnya. Semuanya hanya terbagi menjadi tiga golongan ini. 

Apa sajakah golongan tersebut?

1. الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ  

2.  الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ 

3.  الضَّاۤلِّيْنَ

So, ketika membahas tentang ‘petunjuk’, maka setiap orang hanya dapat dikelompokkan menjadi 3 golongan tersebut.

1.) Golongan orang-orang yang selalu mencari inspirasi dari teladan-teladan di masa lalu (الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ).

2.) Golongan orang-orang yang tahu tapi tidak peduli terhadap ilmunya (الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ) 

3.) Orang yang sudah beramal, tapi amal yang dia lakukan salah karena tidak berilmu (الضَّاۤلِّيْنَ)

Itulah tiga golongan berdasarkan sikap yang ditunjukkan ketika petunjuk datang.

🍂🍂🍂 

Selanjutnya, ustaz membahas hubungan antara surat pertama di Al-Qur’an yaitu Al-Fatihah dengan surat terakhir yaitu surat An-Nas?

Bagaimana penjelasannya?

Bersambung insyaa Allah ba’da ashar.

Sumber: Bayyinah TV  – Quran – Deeper Look – 1. Al-Fatihah – 05. Al-Fatihah – A Deeper Look (1:01:55 – 1:03:32).


Materi VoB Hari ke-232 Sore | Hubungan antara Surat Al-Fatihah dengan Surat An-Naas

Oleh: Rizka Nurbaiti

#MondayAlFatihahWeek34Part3

Part 3

Pada part 3 ini kita akan membahas hubungan antara surat Al-Fatihah dengan surat An-Naas.

Surat pembuka dan penutup dalam Al-Qur’an ini memiliki hubungan paralel yang begitu menarik. 

1. Diawali dengan positif _vs_ diawali dengan negatif

Surat Al-Fatihah diawali dengan kalimat positif, yaitu اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ (segala puji dan syukur bagi Allah …). Sedangkan surat An-Naas diawali dengan kalimat negatif yaitu  قُلْ اَعُوْذُ (katakanlah, “aku berlindung…”). 

Surat Al-Fatihah dimulai dengan sesuatu yang positif karena dimulai dengan ayat yang berisikan pujian dan ungkapan rasa syukur. 

Sedangkan, surat An-Naas dimulai dengan sesuatu yang negatif karena kita meminta perlindungan dari gangguan yang bersifat negatif.

2. Terdapat pengenalan Allah sebagai Rabb

Pada ayat pertama surat Al-Fatihah terdapat frasa رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ , dan pada surat An-Naas juga terdapat kata Rabb yaitu رَبِّ النَّاسِ. 

Jadi kedua surat ini memiliki pengenalan Allah sebagai Rabb (رَبٌّ) dengan menggunakan bahasa yang berbeda, tetapi konsepnya sama. 

3. Terdapat pengenalan Allah sebagai مٰلِكٌ

Kedua surat ini juga sama-sama menegaskan kedudukan Allah sebagai مٰلِكٌ (Maalik).

Pada surat Al-Fatihah terdapat kalimat مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. Sedangkan, pada surat An-Naas, terdapat kalimat  مَلِكِ النَّاسِۙ .

4. Terdapat pernyataan kedudukan Allah sebagai اِلٰهٌ

Pada surat Al-Fatihah terdapat ayat yang menyebutkan  اِيَّاكَ نَعْبُدُ  yang berarti, “hanya kepada-Mu kami menyembah”. Atau dengan kata lain berarti, hanya kepada Allah-lah kita menyerahkan diri kita.

Pada surat An-Naas terdapat ayat yang menyebutkan اِلٰهِ النَّاسِۙ, yang memiliki arti, “sesembahan manusia”.

Jadi, kedua surat ini sama-sama mengandung ayat yang menyatakan kedudukan Allah sebagai ‘sesuatu yang disembah’. 

5. Terdapat dua hal negatif

Pada bagian akhir surat Al-Fatihah terdapat ayat yang menyebutkan satu kelompok yang positif (kelompok yang benar), yaitu الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ. Dan dilanjutkan dengan dua kelompok yang negatif, yaitu الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ dan الضَّاۤلِّيْنَ.

Pada surat An-Naas, kita meminta perlindungan dari sesuatu yang negatif. Dan jumlah hal yang negatif yang disebutkan juga berjumlah dua, yaitu:

1) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

2) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Jadi, di surat An-Naas ada dua jenis kejahatan yang disebutkan yaitu kejahatan dari bisikan jin dan kejahatan dari bisikan manusia. Begitu juga dengan surat Al-Fatihah, ia juga menyebutkan dua hal negatif yaitu الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ dan الضَّاۤلِّيْنَ.

****

Begitulah keindahan susunan surat di dalam Al-Qur’an. Susunan ayat demi ayatnya seimbang begitu juga dengan surat-suratnya. 

Dari awal surat sampai akhir surat, kita bisa melihat keseimbangan. Masyaa Allah. 

Menurut ustaz Nouman, dengan mempelajari surat An-Naas maka akan membuat kita mengerti surat Al-Fatihah lebih baik. 

Hubungan antara surat Al-Fatihah dengan surat An-Naas ini menggambarkan betapa Al-Quran itu mengalir dari awal hingga akhir. Dan juga menunjukkan bahwa ayat-ayat di dalam Al-Quran saling terhubung antara satu ayat dengan ayat lainnya.

🍂🍂🍂 

Selanjutnya, ustaz membahas contoh lain mengenai keseimbangan yang terdapat di dalam Al-Qur’an.

Menurut ustaz Nouman, ini adalah contoh keseimbangan yang sangat powerful di dalam Al-Qur’an. 

Apakah contohnya dan apa yang membuat ia menjadi sangat powerful?

Bersambung insyaa Allah minggu depan.

Sumber: Bayyinah TV  – Quran – Deeper Look – 1. Al-Fatihah – 05. Al-Fatihah – A Deeper Look (1:03:32 – 1:05:02).

***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,
The Miracle Team
Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s