[VoB2021] Ayah, Belajar-lah dari Nabi Ya’kub


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-230

Topik: Parenting

Sabtu, 06 Februari 2021

Materi VoB Hari ke-230 Pagi | Ayah, Belajar-lah dari Nabi Ya’kub

Oleh: Ayu S Larasaty 

#SaturdayParentingWeek33Part1

Part 1

Hari ini kita akan membahas satu surat yang sangat erat kaitannya dengan parenting.

Surat apakah itu? Yes, surat Yusuf, surat yang Allah perkenalkan kepada Nabi Muhammad shalallaahu ‘alaihi wassalam sebagai kisah terbaik. 🙂

Yuk langsung dilihat ayat Qur’an-nya, QS. Yusuf : 4

اِذۡ قَالَ يُوۡسُفُ لِاَبِيۡهِ يٰۤاَبَتِ اِنِّىۡ رَاَيۡتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوۡكَبًا وَّالشَّمۡسَ وَالۡقَمَرَ رَاَيۡتُهُمۡ لِىۡ سٰجِدِيۡنَ‏

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

Ustaz Nouman mengawali pembahasan tentang parenting kali ini dengan hal yang paling penting dalam relasi antara orang tua dan anak yakni komunikasi.

Yes, komunikasi adalah hal yang terpenting namun seringkali terabaikan dalam relasi antara orang tua dan anak. Sebagai orang tua sering kali kita tidak bisa meladeni anak kapanpun, meski kita berada di rumah.

Terkadang saat orang tua di rumah, anak-anak ingin menyampaikan apa yang baru saja mereka alami, apapun itu. Semisal anak baru saja bisa mematahkan sedotan, itu adalah hal yang sepele untuk kita namun untuk anak itu adalah sebuah pencapaian.

Selain itu, terkadang orangtua juga merasa anak kerap menyampaikan sesuatu di saat yang tidak tepat, di saat mereka sedang ada telepon, sedang masak, sedang bercanda dengan teman-teman di grup WA, streaming instagram.

Namun, teman-teman ternyata Nabi Ya’kub saat mendengarkan Yusuf itu bukan lah di saat beliau luang, namun beliau meluangkan waktu untuk Nabi Yusuf. 🙂

Terkadang kita sebagai orangtua menganggap anak-anak tidak memiliki sense untuk melihat kapan yang tepat untuk berbicara kepada kedua orangtuanya. Padahal anak masih belum dewasa untuk memahami hal itu.

Yuk, mulai perbaiki hubungan kita dengan anak. 🙂

Wallahu’alam

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Course > 17. Lessons in Parental Psychology Part 1 – Parenting (00.00 – 04.04)


Materi VoB Hari ke-230 Siang | Seberapa Dekat Anda dengan Anak?

Oleh: Ayu S Larasaty 

#SaturdayParentingWeek33Part2

Part 2

Masih membahas surat dan ayat yang sama.

QS. Yusuf ayat 4

اِذۡ قَالَ يُوۡسُفُ لِاَبِيۡهِ يٰۤاَبَتِ اِنِّىۡ رَاَيۡتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوۡكَبًا وَّالشَّمۡسَ وَالۡقَمَرَ رَاَيۡتُهُمۡ لِىۡ سٰجِدِيۡنَ‏

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

Dalam surat ini, Ustaz menceritakan bagaimana Nabi Ya’kub saat itu dekat dengan anaknya Yusuf, bahkan kedekatan ini sudah tercipta sebelum Nabi Ya’kub mengetahui Yusuf akan menjadi seorang nabi.

Sebagai orang tua, Anda pasti mengetahui bagaimana seorang anak menyampaikan sesuatu.

Ya, mereka tidak bisa menyampaikan sesuatu dengan cepat, seperti orang dewasa, tidak bisa dengan mudah menyampaikan maksud, apalagi memiliki hal yang bersifat ‘politis’ di balik perkataannya. Ya, anak-anak memang sepolos itu…

Saat mereka memanggil kita…

Abi…

Abi…

Abi…

Umi…

Umi…

Umi…

Lalu mereka mendapatkan perhatian kita, “Apa sayang?”

Mereka tidak dengan mudah menyampaikan apa yang dia ingin katakan, terbata-bata bahkan banyak dari mereka melihat respon orangtuanya terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembicaraannya.

Ayat ini menggambarkan bagaimana Yusuf kecil sangat dekat dengan ayahnya, karena dia mendapatkan kasih sayang dan perhatian saat ia menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan. 

Bahkan Yusuf kecil saat itu cukup nyaman untuk menyampaikan perihal mimpinya kepada Nabi Ya’kub, ayahnya.

Di ayat tersebut disampaikan, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan”

Sampai di kalimat ini saja, sebenarnya adalah kalimat sempurna, seandainya Nabi Ya’kub tidak terlalu perhatian kepada Yusuf kecil, pasti tidak ada kelanjutannya. Ibaratnya orangtua akan mengatakan, “Oh itu bagus, kamu luar biasa, sekarang lanjut main sana…”

Terlihat seperti perhatian, namun sayangnya tidak.

Namun, Ustaz Nouman mengatakan bahwa meski kalimat itu adalah kalimat yang sempurna, ternyata masih ada lanjutannya… “kulihat semuanya sujud kepadaku”

Hal ini mengindikasikan bahwa Nabi Ya’kub saat itu tetap mendengarkan Yusuf kecil seperti, “Ya sayang… lalu apalagi? Masih ada yang ingin kamu sampaikan, bukan?” “Tell me more, sugar…”

Mungkin sebagian dari Anda kini adalah orangtua atau juga seorang anak. Jika Anda adalah seorang anak dari orangtua yang juga seorang pendengar yang baik, maka bersyukurlah jadikan momen terbaik dalam hidup Anda tersebut berulang kepada anak-anak Anda.

Namun, jika orang tua Anda bukanlah seorang pendengar yang baik, maka bersabarlah. Maafkan mereka karena orang tua sama seperti kita, manusia yang kerap lupa juga tidak sempurna. Bedanya, orangtua akan sempurna pada waktunya, yakni saat mereka sudah tak lagi berada di sisi Anda.

Wallahu’alam

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Course > 17. Lessons in Parental Psychology Part 1 – Parenting (04.04 – 10.10)


Materi VoB Hari ke-230 Sore | Teruntuk Para Ayah

Oleh: Ayu S Larasaty 

#SaturdayParentingWeek33Part3

Part 3

Dalam Al-Qur’an banyak sekali kisah antara ayah dan anak, lebih banyak dibandingkan kisah ibu dengan anaknya. Perbincangan antara ayah dengan anak juga lebih banyak dibandingkan perbincangan ibu dan anak.

Hal ini mengindikasikan bahwa pentingnya peran seorang ayah dalam keluarga. Banyak sekali anak-anak yang mengalami kemalangan yang disebabkan oleh perbuatan yang sering kita sebut sebagai ‘kenakalan remaja’ sebenarnya berakar dari kondisi rumah dan yang paling besar adalah hilangnya peran ayah.

Bagaimana seorang ayah yang menyerahkan seluruh urusan mendidik anak kepada ibunya, padahal mendidik anak itu adalah tugas Ayah juga, loh!

Ibu memang madrasah bagi anak-anak, tapi ingat Ayah adalah kepala sekolahnya.

Ustaz Nouman mengatakan, tiap-tiap dari kita jelas memiliki kondisi yang berbeda (dalam memenuhi peran sebagai Ayah). Ada dari para Ayah yang harus pergi pagi lalu pulang malam, ada dari para Ayah yang harus bekerja jauh di luar kota selama satu hingga berbulan-bulan lamanya, ada dari para Ayah bahkan yang harus mengurus rumahnya sendiri.

Semangat ya, Ayah! 🙂

Ustaz Nouman mengingatkan, hal itu memang tidak bisa dihindarkan, namun ketika sampai di rumah peran seorang laki-laki yang berkeluarga adalah seorang Ayah. Beliau mengatakan ketika ia sampai di rumah atau sedang hari libur, beliau selalu meluangkan waktunya kepada anak-anaknya. Lalu ketika anak-anak sudah tidur baru dia kembali mengurus hal lain semisal pekerjaan atau hal lainnya.

Leave work at work, Fathers.

Wallahu’alam

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Course > 17. Lessons in Parental Psychology Part 1 – Parenting (10.11 – 15.10)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s