[VoB2021] Kalau Kita Membiarkan Mereka di Dalam Hati


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-226

Topik: Pearls from Al Baqarah

Selasa, 2 Februari 2021 

Materi VoB Hari ke-226 Pagi | Kalau Kita Membiarkan Mereka di Dalam Hati

Ditulis oleh: Rendy Noor Chandra

#TuesdayAlBaqarahWeek33Part1

Part 1 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kita pekan lalu membahas tentang apabila kita mengusir setan dari dalam rumah hati kita.

Kalau kita membiarkan mereka tetap ada di dalam hati kita, Allah akan mengatakan,

“Baiklah, lanjutkan saja.”

Allah akan membiarkan kita dalam penyakit hati tersebut.

“Kamu mau mendengarkan syaithon? Silakan, dengarkan lagi saja. Ajak saja teman-temannya masuk ke dalam rumah hatimu. Biarkan mereka mengadakan pesta di rumah hatimu.”

“Biarkan saja dia merusak di dalam hatimu, bahkan di bulan Ramadhan yang mereka dibelenggu, kamu sudah mengubah banyak sekali di dalam hatimu.”

“Seakan-akan tidak perlu lagi ada syaithon, karena dekorasi hatimu sudah berubah dan kamu sudah terbiasa dengan dekorasi yang baru itu.”

“Kamu merasakan sesuatu seperti yang mereka inginkan.”

Na’udzubillahi min dzalik

Kita ketahui ada setan dari manusia dan jin.

Menurut Anda, mengapa Allah menyebutkan ada setan dari manusia dan jin? Kalau setan dari jin memang sudah jelas. Tapi kok ada setan dari manusia?

Kalau manusia mengizinkan setan menetap di dalam rumah hatinya lama sekali, mereka menjadi setan juga. Manusia itu berubah. Mereka juga menjadi syayathiin.

Subhanallah.

Allah menjelaskan tentang orang –orang yang mengizinkan setan di dalam hatinya ini. Merekalah orang munafik. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya. 

Orang-orang munafik punya penyakit serius di dalam hatinya.

Penyakitnya apa?

Penyakit mereka adalah sikap pengecut. Orang munafik tidak mau membela agama Islam. Semoga kita bukan salah satu diantaranya.

Sikap munafik orang-orang di zaman Rasulullah tidak bisa disamakan dengan zaman ini. Kita di zaman now punya masalah yang mirip tapi tidak sama persis. Akan ada 3 reaksi terhadap Islam, baik di zaman dulu maupun sekarang.

Seperti apakah itu?

InsyaAllah masih akan berlanjut ba’da Zuhur

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 05. Al-Baqarah (Ayah 9-12) – A Deeper Look (32:20-33.30)


Materi VoB Hari ke-226 Siang | Tiga Golongan

Ditulis oleh: Rendy Noor Chandra

#TuesdayAlBaqarahWeek33Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Sekarang kita akan membahas tentang 3 reaksi terhadap Islam. Seperti apa saja?

Akan ada orang yang mengucapkan syahadat, laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah ﷺ.

Mereka bangga dengan kalimat itu. Mereka bangga menjadi seorang muslim karena tidak ada kalimat yang lebih tinggi dari kalimat Allah. Tidak ada yang mereka patuhi lebih dari Allah dan Rasul-Nya.

Kepatuhan mereka sangat tinggi. Mereka menyadari bahwa mereka pernah dan akan membuat salah tetapi agama Allah tidak pernah salah.

👿😶😇

Di sisi yang lain, akan ada orang membenci Islam dan muslim. Sangat-sangat benci.

Dan coba tebak apa yang di antara keduanya?

“Ummm… kita bisa berkompromi. Kita tidak harus kaku dengan hal-hal yang dibahas Qur’an. Lagipula, ini kan sudah 2021. Kita harus menyesuaikan zaman, dong. “

Reaksi yang mengompromi ini dan itu, itulah sikap munafik. Orang munafik beranggapan kalau kita tidak boleh terlalu ekstrem, seharusnya kita menyeimbangkan kedua kubu tadi. 

Itulah sesungguhnya sikap munafik yang terbentuk pada awal lahirnya Islam di zaman Rasulullah ﷺ.

👿😶😇

Agama kita, Islam, sudah Allah ciptakan seimbang. Jadi kita tidak perlu lagi mengusulkan konsep seimbang yang baru. Islam sudah menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Seimbang untuk kita menurut pandangan Allah.

Kalau kita bilang, “ Eh, yuk.. coba kita seimbangkan Islam.” 

Apakah kita mau membawa keseimbangan versi kita sendiri? Atau kita terlalu takut kita dianggap remeh orang lain? Atau kita mau diterima orang lain? Atau kita mau berbaur dengan orang-orang sekitar tapi mengesampingkan agama?

Kalau begitu ceritanya ketakutan lah yang menutupi Islam. Itu juga terjadi di zaman kita. Artinya, ketika kita mempelajari ayat ini, kita juga harus bercermin.

Seperti apa mental kita terhadap Islam?

InsyaAllah bersambung ba’da Ashar

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 05. Al-Baqarah (Ayah 9-12) – A Deeper Look (33.30-35.27)


Materi VoB Hari ke-226 Sore | Tingkat Demi Tingkat

Ditulis oleh: Rendy Noor Chandra

#TuesdayAlBaqarahWeek33Part3

Part 3

فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ 

Ketika seseorang mempunyai penyakit seperti itu di dalam hati yang ingin mengambil jalan tengah dari keimanan dan kekafiran, Allah akan mengizinkan penyakit itu bertambah.

Dan ketika penyakit di dalam hatinya bertambah parah, si fulan berkata, 

“Sepertinya apa yang diatur Islam ini tidak masuk akal.” 

Kemudian bertambah parah lagi hingga ia berkata,

“Qur’an itu benar, tapi apa yang disebutan dalam hadits ini saya rasa aneh.”

Kemudian bertambah parah lagi,

“Tahu enggak? Surah di Al-Qur’an ini sudah enggak relevan lagi.”

Lalu bertambah parah lagi,

“Saya tahu Al-Qur’an, tapi semua agama itu baik.”

Kemudian bertambah parah lagi,

“Aku tidak percaya agama, dan aku tidak ikut agama manapun.”

Kemudian bertambah lagi,

“Aku sebenarnya ateis. Mungkin Tuhan ada, mungkin tidak. Peduli amat. Aku punya pekerjan yang harus dibereskan.”

Na’udzubillahi min dzaalik

📶📶📶

لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَنْ طَبَقٍ

Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan),

-QS. Al-Insyiqaaq:19

Penyakit hati itu mulai bertambah sedikit demi sedikit.

Oleh karena itu, kita akan menemukan orang yang dulunya muslim, dan seiring berjalannya waktu, orang ini malah menyebar kebencian terhadap Islam, hobinya hanya menjelek-jelekkan Islam saja.

📶📶📶

فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Dan bagi mereka hukuman atau yang pedih karena kebohongan yang mereka ada-adakan. 

كَانُوا يَكْذِبُونَ

Ini adalah bentuk continuous past tense atau kalimat lampau berkelanjutan.

Maksudnya seperti apa? Kenapa kalimat lampau berkelanjutan dipakai di ayat ini?

Idenya adalah kaum munafik terus-menerus datang ke Rasulullah ﷺ, dan mereka selalu berkata,

“Kami loyal kepadamu. Tentu saja kami percaya. Kami beriman, kok. “

Kalau memang kalian tidak percaya, ucapkanlah sejujurnya. Kalau memang bukan untukmu, katakanlah kalau itu memang bukan untukmu. Lebih baik jelas. 

Tapi, kaum munafik mau kaki mereka ada di kedua belah pihak. Kalau kaum muslim menang, mereka teman kami. Tapi, kalau kaum muslim kalah, seenggaknya kami ada rencana cadangan dengan Quraisy.

Oleh karena itu, mereka harus terus berbohong agar bisa melompat kesana dan kesini. Itulah alasan mengapa disini menggunakan kalimat lampau berkelanjutan.

Bagaimana kelanjutannya?

InsyaAllah bersambung pekan depan.

📶📶📶

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 05. Al-Baqarah (Ayah 9-12) – A Deeper Look (35.27-37.15)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s