[VoB2021] Perlindungan Semu


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-221

Topik: Divine Speech

Kamis, 28 Januari 2021

Materi VoB Hari ke-221 Pagi | Perlindungan Semu

🐊🐊🐊🐊🐊

Perlindungan Semu

#ThursdayDivineSpeechWeek32Part1

Part 1

Oleh: Ayu S Larasaty

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Pagi Kawan,

Hari ini kita akan membahas QS. Muhammad : 11

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَىٰ لَهُمْ

Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung.”

Pada ayat ini, kata مَوْلَى berarti ‘pelindung’, tapi bukankah kemarin kita sudah membahas bahwa ‘pelindung’ itu adalah وَلِىُّ ???

Apa ya perbedaan pelindung (وَلِىُّ) dengan pelindung (مَوْلَى)??

Orang mukmin punya waliiy, sama seperti orang kafir.

Akan tetapi, orang kafir tidak memiliki mawlaa seperti orang-orang yang beriman kepada Allah.

Pelindung dalam kata waliiy berarti seseorang yang memiliki keinginan untuk melindungi.

Sedangkan Pelindung dalam kata mawlaa berarti seseorang yang melindungi.

Kata Ustaz Nouman, وَلِىُّ itu adalah “a friend who wants to protect”. Maksudnya adalah orang yang bisa saja mengatakan bersedia melindungi, memberikan jaminan, janji-janji bahwa dia pasti back-up semua keperluan dan kebutuhan.

Tapi ternyata itu semua sangat palsuuuuuwwwwhhh. 

🐊🐊

Pelindung orang-orang kafir hanya sebatas berjanji dan ingin melindungi saja, namun sejatinya mereka tidak memiliki seorang pun yang melindungi mereka.

Berbeda dengan orang mukmin yang pasti Allah lindungi, orang kafir hanya mendapatkan janji dari orang-orang sekitarnya untuk melindungi mereka.

وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَىٰ لَهُمْ

sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung”

Na’udzu billaah

Wallahu’alam

Sumber: Bayyinah TV / Home / Quran / Divine Speech / 6.Transitions in The Qur’an (00:54:12 – 1:00:10)


Materi VoB Hari ke-221 Sore | Saat Pertama Kali

Saat Pertama Kali

#ThursdayDivineSpeechWeek32Part2

Part 2

Oleh: Ayu S Larasaty

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kali ini Ustaz bercerita tentang kebiasaan jin traveling di langit, mencuri sedikit informasi yang dibawa oleh malaikat, meski yang didapatkan sangat sedikit sekali.

Lalu saat Al-Qur’an diturunkan dari langit.

Seluruh langit tetiba terkunci, langit locked down!

Siapa yang melakukannya sehingga para jin tidak bisa hang-out lagi di langit?

Yang melakukannya adalah malaikat jibril dan bala tentaranya, kejadian itu menyebabkan jin harus menetap di bumi. Ya buat apa lagi pergi ke langit, sedangkan langit dikunci.

Namun, saat pertama kali jin mendengarkan ayat Al-Qur’an diucapkan oleh Rasulullaah, jin langsung menyadari, “Oooohhh, jadi ini sebabnya langit dikunci?”

Nah, di sini Ustaz memberikan argumen dengan santai tentang tuduhan orang Quraisy, “Muhammad pendusta, dia bukan seorang yang membawa risalah namun orang yang sering dirasuki setan dan jin,”

Ustaz mengatakan, di masa itu banyak sekali orang-orang Quraisy yang meyakini demikian, tapi setelah mengetahui kejadian setiap saat Al-Qur’an diwahyukan kepada Rasulullah, Ustaz membayangkan bahwa jin yang menyaksikan pembicaraan tersebut langsung berkata “Ewhh… Enggak juga, sih… Kita aja gak berani dekat-dekat kesana, bisa-bisa kita die,”

Hehe… lucu ya, Ustaz?

Setelah ini Ustaz akan menyampaikan tentang bagaimana sabarnya Allah dan kasih sayang Allah kepada kaum Quraisy. See you on the  next part!

Wallahu’alam

Sumber: Bayyinah TV / Home / Quran / Divine Speech / 6.Transitions in The Qur’an (1:00:11 – 1:05:05)


Materi VoB Hari ke-221 Malam | How Allah Treated Quraisy

😭😭😭😭😭😭😭😭😭

How Allah Treated Quraisy

#ThursdayDivineSpeechWeek32Part3

Part 3

Oleh: Ayu S Larasaty

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Jadi, tujuan sebelumnya Ustaz menceritakan kisah mengenai jin adalah untuk menjelaskan ayat ini, pada saat ayat Al Qur’an diturunkan dari langit para jin mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui isi dari ayat-ayat Qur’an itu.

وَأَنَّا لَا نَدْرِىٓ أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِى ٱلْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.”

By the way, Ustaz Nouman mengatakan ayat ini adalah satu ciri ayat yang sangat beradab kepada Allah. Kok bisa??

Yuk coba kita klasifikasi ayatnya.

1. Keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi 

2. Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.

Bisa liat bedanya ndak?

Yap, kalimat nomor satu menggunakan kalimat tidak langsung (pasif) yang tidak dijelaskan siapa subjeknya dan kalimat kedua adalah kalimat langsung (aktif) yang jelas siapa subjeknya, yakni Tuhan.

Ini adalah cara Jin menunjukkan adabnya kepada Allah, Rabb semesta alam.

Di sisi lain, kalimat tidak langsung juga kerap digunakan dalam hal-hal yang bersifat persuasif (membujuk). Anda pasti tahu dalam psikologi ada istilah Central and Peripheral Route to Persuasion, simple-nya ini adalah cara yang digunakan orang-orang untuk meyakinkan orang lain. 

Ada banyak cara berkomunikasi dengan persuasif itu, bisa dengan memberikan argumen, bukti, alasan, dan banyak hal lainnya. Bisa dibilang dalam menghadapi karakter orang yang berbeda, cara persuasinya juga berbeda.

Membujuk seorang yang penurut dan pembangkang itu beda caranya.

Ustaz memberikan kisah yang cukup bisa menggambarkan bagaimana salah satu cara persuasi ini bekerja.

Jadi Ustaz berkisah tentang jama’ah sholat Jum’at yang sudah ready mendengarkan khutbah, lalu tetiba dari pintu masuk masjid datang lah seorang anak muda, dengan jenggot lancip seperti pensil (iya, Ustaz mendeskripsikan seperti ini, saya tidak membuat-buat haha), celana yang gombrong di atas mata kaki, topi snapback, kemeja yang gombrong, pokoknya style hip-hop banget lah.

Dia datang masuk ke dalam masjid menuju shaf paling depan melalui shaf jama’ah yang sudah terisi…

“Permisi…permisi, saya mau lewat…”

Ya gapapa sih bilang permisi, tapi kan tetap saja menyebalkan! Shaf kan sudah terisi penuh, kenapa dia tetap maksa untuk ke depan, cari saja shaf di belakang. Mungkin demikian pikiran orang-orang yang dilewati pria tersebut, sudah kesal, khatib-nya juga tidak kunjung datang, mereka kan lapar juga mau makan siang.

Lalu setelah sampai di shaf terdepan, pemuda tersebut melanjutkan langkahnya menuju mimbar, yap dia lah Khatib dan Imam sholat Jum’at yang ditunggu-tunggu.

Astaghfirullah! Jama’ah tetap saja merasa sebal!

Tapi, masyaaAllah, ternyata isi khutbah-nya sangat bagus, bacaan Qur’an-nya juga sangat merdu hingga semua jama’ah menikmati sholat siang itu.

Meskipun demikian, orang-orang yang dilangkahi shaf-nya bisa saja masih kesal dengan tingkah pemuda itu. Namun, hal itu akan berbeda sudut pandang jamaah yang makmum masbuk, sholatnya dekat rak sepatu dan tempat wudhu, hehe.

Mereka pasti akan merasa…. “MasyaaAllah, luar biasa ini Ustaz, masyaaAllah… Hidupku tercerahkan, bisa gak ya aku ketemu dia, rasanya mau memeluk, berjabat tangan, kemudian ambil foto… MasyaaAllaah…”

Nah, meskipun pemuda tadi memberikan khutbah yang sangat mencerahkan, orang-orang akan selalu menilainya dari dua sisi yakni berdasarkan apa yang mereka lihat dan berdasarkan dengan yang mereka dengar.

People will judge you, even before you open your mouth.”

Oleh karena itu, cara menyampaikan sesuatu dengan persuasif pun berbeda-beda caranya. Karena ada orang yang langsung menolak hal baik bukan berdasarkan apa yang disampaikan, melainkan dari siapa yang menyampaikan.

Di periode Mekkah, orang-orang Quraisy tuh pembangkang banget, Gaes. Asal mereka dengar kata Allah, mereka langsung menolak apa yang disampaikan Rasulullaah kepada mereka.

Tapi tentu Allah tetap menyampaikan firmanNya dengan cara persuasif, lihat QS. Al-Hajj ayat 73.

Wahai manusia! *Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah!* Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya.”

Ini adalah seruan Allah kepada kaum Quraisy di periode Mekkah, MasyaaAllah, Allah menggunakan kalimat tidak langsung kepada Quraisy karena Allah mengetahui saat Allah menyampaikan dengan kalimat langsung, Quraisy pasti akan langsung menolak firmanNya.

Padahal Allah Mahakuasa atas segalanya, Allah bisa saja langsung menghukum kaum Quraisy yang dengan sombong langsung menolak firman Allah hanya karena ada kata Allah. Namun kasih sayang Allah tak berkurang kepada mereka, malah Allah yang mengubah ‘style’ atau cara mengajaknya dengan cara yang beradab.

MasyaaAllah, Allah baik banget, aku terharu waktu menulis ini.

Kita sering lalai sama kewajiban kita kepada Allah, tapi Allah juga yang lebih sayang.

Wallahu’alam

Sumber: Bayyinah TV / Home / Quran / Divine Speech / 6.Transitions in The Qur’an (1:05:05 – 1:10:30)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s