[VoB2021] Logika Di Balik Urutan Kecintaan Manusia


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-220

Topik: Pearls of Ali Imran

Rabu, 27 Januari 2021

Materi VoB Hari ke-213 Pagi | Logika Di Balik Urutan Kecintaan Manusia

#WednesdayAliImranWeek32Part1

Part 1

“Dijadikan indah” merupakan bentuk pasif, ditinjau dari sisi linguistik menarik sekali.

Si pelaku menjadi tidak ada kaitannya sama sekali atas apapun yang dia lihat indah.

Jangan khawatir jika kita melihat keindahan yang disebut dalam ayat 14, karena fitrahnya manusia diciptakan mengenali keindahan tersebut, meskipun manusia bisa menjadi terobsesi kepada keindahan-keindahan ini.

Dalam ayat 14, Allah menyusun kecintaan kepada apa-apa yang diingini dengan sangat masuk akal, begini urutannya: 

ḥubbusy-syahawāti minan-nisā`i wal-banīna wal-qanaṭīril-muqanṭarati minaż-żahabi wal-fiḍḍati wal-khailil-musawwamati wal-an’āmi wal-ḥarṡ, żālika matā’ul-ḥayātid-dun-yā

“Kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang”

Ustaz mengajak kita untuk mencari logika dibalik urutan yang dimulai dengan wanita kemudian anak-anak.

Tema ayat 14 adalah mengenai masa dewasa manusia, anak lelaki 6 tahun mungkin tidak tertarik untuk menikah.

Ketika menyentuh usia dewasa, keinginan dan kecintaan terhadap wanita mulai tumbuh, masa-masa sulit untuk menjaga mata, menjaga hati, menjaga khayalan-khayalannya. 

Seorang remaja lelaki usia 17 tahun mungkin sudah mulai mengenal wanita dan memiliki rasa terhadap salah seorangnya.

Mereka mulai mencari-cari pengalaman rekan mereka yang lain di internet misal mengenai tema baru untuk mereka ini

‘Seberapa sering seorang lelaki memikirkan wanita?’

Hormon yang bergejolak, hasrat yang kuat, kadang membuat laki-laki dewasa melakukan hal-hal yang dianggap ‘gila’.

Seperti, mencari penghasilan untuk diri sendiri saja sudah sulit, kenapa laki-laki mau makin menyusahkan diri dengan menambah satu mulut lagi untuk diberi makan? Belum lagi jika ada anak-anak.

🧑🏻‍💼🧕🏻👶🏻

Semua beban yang harus ditanggung laki-laki sebenarnya untuk apa? 

Dari mana datangnya kerelaan untuk menanggung beban berat ini? 

Karena ‘tergila-gila’ dengan seorang wanita? 

Yang menghasilkan keinginan untuk menikah dengannya, melindunginya, menyediakan kebutuhannya?

Yah, yang jelas dorongan dan keinginan ini sudah cukup untuk membuat seseorang memulai sebuah keluarga.

Jadi, sangat logis Allah membuat urutan dimulai dari hal paling mendasar: keinginan memiliki wanita, lalu kemudian konsekuensi logis dari pernikahan, yaitu memiliki anak-anak.

Wal-banīna memiliki arti “anak laki-laki”, pada jaman jahiliyah, jika bayi perempuan lahir dia akan dianggap sebagai beban untuk orang tua, orang tuanya harus memberinya makan, memberinya pakaian, sampai ia kelak dewasa dan menikah dengan orang lain dan beban tersebut pindah.

Dianggap sebagai beban karena bagi masyarakat jahiliyah anak wanita tidak bisa membantu di ladang, tidak bisa berangkat ke medan perang, tidak bisa mengangkat derajat keluarga, pokoknya hanya bisa menghabiskan keuangan keluarga.

Memiliki anak perempuan seolah-olah merupakan aib, menjadikan keluarga tersebut bahan tertawaan.

Di al-Qur’an, ketika ada yang memberikan kabar baik kelahiran bayi perempuan, wajah mereka menjadi gelap karena menelan rasa frustrasi, saking malunya sampai menghindari orang lain, dan ingin mengubur bayi perempuannya saat itu juga.

Al-Qur’an menangkap dan mengabadikan potret masyarakat jahiliyah dan apa yang bersarang di hati mereka.

Tapi tahukah? Umat muslim saat ini juga banyak yang seolah kembali ke masa jahiliyah, ketika anaknya yang lahir perempuan reaksinya hanya 

“Oh, yah, baik, in syaa Allah setelah satu ini yang lahir anak laki-laki”

‘In syaa Allah nanti?’ Hey, maksudnya bagaimana?

Setelah ini ustaz akan menceritakan pengalamannya sendiri yang masih membuat beliau kesal sampai hari ini.

Sumber: Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali-Imran / 05. ‘Ali ‘Imran – Ayah 13-15 Ramadan 2018 (17:20 – 20:20)


Materi VoB Hari ke-213 Siang| Hasrat Hidup Abadi

#WednesdayAliImranWeek32Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ustaz masih ingat kejadian yang membuat beliau kesal sampai hari ini, ketika anak ketiganya lahir, beliau merayakan dengan membeli dunkin donuts (promosi tidak berbayar) membagi-bagikannya kepada semua jamaah yang ada di masjid, karena saking gembiranya.

Seseorang kemudian bertanya: 

“Wah, ada perayaan apakah ini?”

Ustaz menjawab dengan wajah bahagia:

“Istri saya melahirkan anak perempuan”

Seseorang ini merespon dengan mimik muka yang dicontohkan ustaz seolah iba:

“Oh, tidak apa-apa, lain kali anak laki-laki mungkin”

Rasanya ustaz ingin sekali memukul tepat di wajah orang ini tapi beliau lagi di masjid. 

😡😡😡

Terlepas dari itu, ada alasan kenapa anak laki-laki diberikan tempat istimewa di pandangan masyarakat jahiliyah, mengapa? 

Karena anak laki-laki dianggap menambah kekayaan keluarga tersebut.

Orang tua pasti tetap akan menghabiskan uangnya untuk memberi makan anak laki-lakinya, sebagaimana ia juga memberi makan anak perempuannya, tapi anak laki-laki kelak akan menjadi pelindung rumah orang tuanya.

Mereka akan bekerja di ladang, atau meneruskan usaha keluarganya, dan banyak hal lainnya.

Orang tua tidak perlu melindungi anak laki-laki mereka sebagaimana mereka melindungi anak-anak perempuannya.

Mentalitas jahiliyah saat itu, yang sesungguhnya berujung pada alasan ekonomi juga.

Anak laki-laki mereka akan meneruskan nama keluarga ketika telah memiliki anak, sementara anak perempuan akan melanggengkan nama keluarga lain ketika ia melahirkan seorang anak.

Anak laki-laki kelak akan mewarisi nama keluarganya, apalagi jika diteruskan dengan anak laki-laki lagi setelahnya, mengabadikan nama keluarga. 

Cara pandang masyarakat yang ingin mendominasi atau kompetisi di antara mereka, juga mentalitas yang menggambarkan keinginan masyarakat jahiliyah untuk terus hidup bahkan setelah mereka mati nanti.   

Manusia memiliki batas umur, dan Allah menaruh pada manusia hasrat ingin berumur panjang.

☀️🌅🌌

Bagi manusia yang tidak memercayai Hari Akhir, bagaimana memuaskan hasrat ingin berumur panjangnya? 

Dengan nama tentu saja.

Dan bagaimana agar namanya terus hidup? 

Dengan memiliki anak laki-laki.

Itu sebabnya wal-banīna (anak laki-laki) termasuk hasrat manusia.

Beginilah kenapa Quraisy jahiliyah mengolok-olok Rasulullah ﷺ ketika putranya meninggal. 

“Tidak ada lagi yang akan meneruskan nama keluarganya Muhammad”

“Dia tidak akan abadi”

Di ayat lain, mengenai kisah Ibu Maryam yang sebelumnya telah berjanji pada Allah akan menjadikan anaknya kelak mengabdi pada rumah ibadah, berkata

“Ya Allah, bagaimana ia akan mengabdi pada rumah-Mu?”

Ibu Maryam memiliki tauhid yang kuat tentu, bahkan ia pun kaget dan kecewa ketika melahirkan bayi perempuan, karena pandangan masyarakat masa lampau bahwa pendeta-pendeta yang melakukan dakwah, mengajarkan ilmu tauhid adalah laki-laki, bukan perempuan, sedangkan Ibu Maryam sudah bernazar akan menjadikan anaknya mengajarkan tauhid kepada masyarakat.

Tapi Allah mengatakan bayi perempuan ini pengecualian, Maryam, a.s ini istimewa.

Seperti itu potret masyarakat jahiliyah, dan umat saat ini hidup di masa yang teknologinya lebih maju daripada jahiliyah dulu, tapi bagaimana orang tua memperlakukan anak laki-laki dan anak perempuan mereka?.

Bersambung in syaa Allah ba’da Ashar 

Sumber: Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali-Imran / 05. ‘Ali ‘Imran – Ayah 13-15 Ramadan 2018 (20:20 – 23:50)


Materi VoB Hari ke-213 Sore| Anak Bukan Investasi Dunia

#WednesdayAliImranWeek32Part3

Part 3

Oleh: Wina Wellyanna

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Orang tua masa kini memperlakukan anak mereka, terutama anak laki-laki dengan tipikal seperti investasi yang mereka tanam.

Padahal kita bukan masyarakat jahiliyah, hidup di tengah teknologi maju, tapi masih ada orang tua yang memperlakukan anak laki-laki dewasa mereka seolah mereka bocah 7 tahun.

Tidak boleh meninggalkan rumah orang tuanya, memiliki rekening yang kedua orang tuanya bisa mengakses, bahkan ketika ia sudah menikah pun, orang tuanya tidak mengizinkan anak laki-laki dan menantu perempuannya tinggal terpisah dengan mereka.

“Dirumah ini, engkau hanya tamu, saya membesarkannya dan menjadikannya seorang dokter, engkau tidak punya hak atas dia” begitu kesan yang ingin ditampilkan: ‘kepemilikan’ atas anak laki-laki mereka.

“Penghasilannya adalah milik kami, dia adalah investasi kami, sekarang kami menikmati hasilnya”.

Ada, orang tua yang masih memiliki pemikiran jahiliyah seperti itu, hasrat wal-banīna.

Seorang anak tentu wajib menjaga orang tuanya, apalagi jika sudah tua, tapi anak-anak juga harus menjalani kehidupannya sendiri, tidak tergantung kepada orang tuanya.

Hasrat harta

wal-qanaṭīril-muqanṭarati

“harta yang banyak dari jenis emas”

Setelah memiliki perempuan yang ia idamkan, dan anak-anak yang telah lahir, hasrat manusia selanjutnya memiliki harta.  

Qanaṭīril-muqanṭarati memiliki akar kata yang sama, yaitu قِنطَار 

Penggunaan kata yang diulang, atau dirangkap, ‘banyak’ di sini seperti istana uang Paman Gober yang koin emasnya dimasukkan ke dalam kain lalu kain itu dilipat sehingga menjadi bundelan.

Bundelan ini ada banyak dan dijejer sehingga memanjang.   

Seperti itu qanaṭīril.

Sedangkan -muqanṭarati bundelan yang ditumpuk sehingga menjulang tinggi dan disimpan di tempat yang sangat aman.

Hasrat memiliki harta yang banyak kemudian menyimpannya di tempat yang aman; wal-qanaṭīril-muqanṭarati.

Jika kita memiliki uang cash sebanyak seratus juta rupiah, tentu kita tidak mungkin menyimpannya di bawah kasur, kan? 

Kalau pun disimpan di bawah kasur, rasa was-was selalu menghantui 

“Uang saya diambil tidak ya?”

Normalnya kita akan mendatangi bank untuk menyimpannya.

Aman. Muqanṭarati.

Jadi, memang ini hasrat yang Allah letakkan di setiap manusia.

Mencemaskan harta kita yang sudah kita dapatkan dengan susah payah, dan menginginkan disimpan dengan aman.

Bersambung in syaa Allah minggu depan mengenai hasrat selanjutnya.

Sumber: Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali-Imran / 05. ‘Ali ‘Imran – Ayah 13-15 Ramadan 2018 (22:50 – 26:20)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s