[VoB2021] Nabi Yakub – Ayah yang Baik


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-216

Topik : Parenting

Sabtu, 23 Januari 2021

Materi VoB Hari ke-216 Pagi | Nabi Yakub – Ayah yang Baik

Ditulis oleh: Muchamad Musyafa’

#SaturdayParentingWeek31

Part-1

Pada pekan sebelumnya, telah diceritakan kisah nabi Yusuf. Saat itu beliau yang masih kecil sedang menceritakan mimpinya kepada ayahnya, nabi Yakub a.s.

قَالَ يَٰبُنَيَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡيَاكَ عَلَىٰٓ إِخۡوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيۡدًاۖ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لِلۡإِنسَٰنِ عَدُوّٞ مُّبِينٞ  

“Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakanmu). Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.”

(QS. Yusuf 12:5).

Nabi Yakub telah memberi kita contoh bagaimana menjadi seorang ayah yang mau mendengarkan cerita anaknya. Begitu pula yang harus kita lakukan ketika menjadi seorang ayah. Kita harus siap sedia mendengarkan cerita apa pun dari anak kita, termasuk jika mereka bercerita tentang hal-hal yang tidak masuk akal, imajinasi mereka.

Dengan adanya diri kita yang mau mendengarkan cerita mereka, kita berharap kelak ketika mereka tumbuh dewasa mereka tidak akan sungkan untuk berbagi semua pengalaman sedih, marah, senang yang mereka alami kepada kita sebagai orang tuanya.

Kita perlu bersyukur apabila anak-anak menanyakan hal yang tidak masuk akal atau sulit dijawab. Karena itu artinya dia mau berbagi dengan orang tuanya.

Kemudian sebagai seorang Ayah, nabi Yakub sangat mengenali anak-anaknya. Sehingga ketika nabi Yusuf yang kecil bercerita pada ayahnya, maka nabi Yakub berusaha untuk mengingatkan Yusuf akan ancaman rasa iri dari saudara-saudaranya.

Di sini bisa kita lihat bagaimana nabi Yakub mengakui bahwa tidak semua anak-anaknya itu sempurna. Nabi Yakub sudah mengetahui karakteristik masing-masing anaknya. Dari situlah nabi Yakub bisa memprediksi apa yang kiranya akan dilakukan saudara-saudara Yusuf ketika mereka mendengar mimpi Yusuf.

Kita sebagai orang tua juga harus begitu, kita harus tahu potensi anak-anak kita. Potensi-potensi yang positif maupun yang negatif. Sehingga kita bisa memprediksi tingkah laku mereka dan membuat rangkaian usaha pencegahan yang bisa kita usahakan untuk mencegah anak kita terjerumus ke dalam kejahatan.

Ketika nabi Yakub menyampaikan peringatan kepada Yusuf, maka itu adalah cara nabi Yakub untuk mencegah saudara-saudara Yusuf jatuh ke dalam kejahatan.

Lalu, perlu kita catat juga bahwa Nabi Yakub tidak berkata bahwa saudara-saudara Yusuf adalah anak-anak yang jahat. Tapi nabi Yakub berkata bahwa sesungguhnya setan itu musuh yang jelas bagi manusia. 

Saudara-saudara Yusuf merencanakan hal buruk pada Yusuf bukan karena mereka adalah anak yang jahat, tetapi karena ada pengaruh setan di sana. Nabi Yakub memilih cara penyampaian seperti itu agar nabi Yusuf kecil tidak serta-merta membenci saudaranya.

Jadi memang nabi Yakub tidak hanya baik kepada Yusuf, tetapi juga kepada saudara-saudara Yusuf.

InsyaAllah berlanjut di Part-2

🌼🌼🌼🌼🌼

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Course > 15. Parental Psychology-Part-2, Parenting (00:00-02:00)

🌼🌼🌼🌼🌼


Materi VoB Hari ke-216 Siang | Pemilihan Yusuf

Oleh: Muchamad Musyafa’

#SaturdayParentingWeek31

Part-2

Jadi, seorang orang tua sudah sewajarnya menasihati anaknya untuk menjaga dirinya dari bahaya, dan termasuk menjaga anak-anaknya untuk menjauhi perbuatan kejahatan. Itulah cinta dari orang tua. Seperti nabi Yakub a.s.

Lalu setelah menasihati Yusuf, Yakub berkata :

وَكَذَٰلِكَ يَجۡتَبِيكَ رَبُّكَ

Dan demikianlah, Tuhan memilih engkau (untuk menjadi Nabi).

Kata ijtibaa اجتبى digunakan di dalam bahasa arab ketika kita memilih seseorang karena ia telah mengerjakan sesuatu, karena ia telah mencapai sesuatu.  

Ketika seseorang berkata bahwa ia menyukai sebuah susu coklat sebut saja susu coklat Cap Badak. Ia sungguh menyukai susu coklat Cap Badak ini. Tapi ia sendiri tidak punya penjelasan logis kenapa ia lebih menyukai susu coklat Cap Badak ini ketimbang susu coklat merek lainnya. Pokoknya ya suka saja. Merek lain? Enggak deh.

Memilih susu coklat Cap Badak tanpa alasan kuat bukanlah contoh ijtibaa.

Lain lagi ketika sebuah perusahaan yang merekrut karyawannya. Karyawan-karyawan tersebut tidak dipilih karena baju mereka bagus ketika wawancara. Mereka tidak direkrut hanya karena CV mereka terlihat cantik. Pastinya mereka dipilih karena mereka memiliki kemampuan yang dibutuhkan perusahaan tersebut, mereka dipilih karena mereka memiliki pengalaman kerja yang dibutuhkan. Atau apa pun alasannya, pastinya masing-masing perusahaan memiliki alasan yang bagus ketika memilih seseorang untuk bekerja di perusahaannya.

Memilih karyawan dengan alasan-alasan yang jelas seperti inilah adalah contoh dari ijtibaa. Jadi ijtibaa adalah memilih sesuatu dari yang lainnya dengan kualifikasi tertentu yang bisa memenuhi kualifikasi tersebut, maka akan terpilih.

Jadi pada kisah Yusuf ini, pasti Yusuf telah memiliki kualifikasi tertentu sehingga Allah meng- ijtibaa Yusuf. Allah memilih Yusuf. Kualifikasi apa yang dimiliki Yusuf? Bukankan ia hanya melihat mimpi saja?

Sesungguhnya Yusuf tidak hanya melihat mimpi saja, tapi ia mampu menafsirkan mimpi tersebut. Sambungan dari ayat ini dijelaskan,

وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِ 

Dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi

Dengan kualifikasi itulah Allah ﷻ memilih Yusuf. Karena Yusuf spesial dan pemilihan Yusuf (menjadi seorang nabi) juga merupakan bentuk apresiasi atas kemampuan Yusuf dalam menafsirkan mimpi.

Pelajaran yang bisa kita ambil di sini adalah bahwa apa pun pencapaian anak kita, baik pencapaian kecil atau besar, kita harus mengapresiasinya. Ketika ia bisa memakai celananya sendiri, ketika ia membantu ibunya membersihkan rumah, ketika ia mendapatkan nilai ujian yang bagus. Sampaikan saja pujian kita kepadanya, apresiasi dirinya. “Kamu hebat, ayah dan ibu bangga padamu.”

InsyaAllah berlanjut di Part-3

🌼🌼🌼🌼🌼

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Course > 15. Parental Psychology-Part-2, Parenting (02:01-05:00)

🌼🌼🌼🌼🌼


Materi VoB Hari ke-216 Sore | Doa yang Baik

Oleh: Muchamad Musyafa’

#SaturdayParentingWeek31

Part3

Selanjutnya ayat Yusuf keenam ini berlanjut, Allah ﷻ berkata :

 وَيُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكَ وَعَلَىٰٓ ءَالِ يَعۡقُوبَ 

“dan menyempurnakan (nikmat-Nya) kepadamu dan kepada keluarga Yakub,”

Setelah menyampaikan kabar bahwa Yusuf menjadi yang terpilih, Allah juga menyampaikan bahwa Ia akan menyempurnakan nikmatnya. Seluruh anggota keluarga Yakub akan mendapatkan nikmat. Mereka akan bangga pada diri Yusuf.

Banyak doa dan harapan yang positif di sini. Sebagai orangtua pun, kita harus begitu. Kita harus senantiasa mendoakan hal-hal baik bagi anak kita. Bahkan ketika mereka menjengkelkan kita.

Jika anak kita memecahkan piring, menyorat-coret dokumen pekerjaan kita atau bahkan membuat onar di sekolah, pasti kita akan merasa kesal, bukan? Marah, wajar. Tapi jangan sampai keluar dari mulut kita doa-doa yang buruk. 

“Anak sial!”

“Anak durhaka, kamu pasti masuk neraka!”

Bukan begitu seharusnya, sejelek-jeleknya apa yang anak kita lakukan, jangan sampai kita mendoakan hal buruk untuknya. Doakan yang baik untuknya. Semangati dirinya.

كَمَآ أَتَمَّهَا عَلَىٰٓ أَبَوَيۡكَ مِن قَبۡلُ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَ  إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٞ

“sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang kakekmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sungguh, Tuhanmu Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”

(QS. Yusuf 12:6)

Bahwa Yusuf akan mendapatkan nikmat seperti apa yang didapatkan orang tuanya, kakeknya, Ibrahim dan Ishak. Ini adalah sebuah pemberian semangat yang luar biasa kepada Yusuf. 

Orang tua yang bijaksana adalah orang tua yang mampu terus menerus memberi semangat-semangat positif kepada anaknya.

Dalam pembahasan beberapa ayat surat Yusuf ini, kita telah mempelajari banyak hal tentang bagaimana seharusnya hubungan antara seorang ayah dan anaknya.  

Cinta.

Kepercayaan diri.

Menjaga rahasia.

Komunikasi yang terbuka.

Apresiasi.

Doa yang baik.

Lakukan apa yang telah kita pelajari dari ayat ini, walaupun itu susah. Tentu saja kita memiliki anak seorang manusia. Kita tidak melahirkan seorang malaikat yang penurut tanpa dosa. Masing-masing anak manusia memiliki kekurangan dan kelebihan yang unik.

Bahkan anak Yakub yang lainnya itu pada akhirnya bertobat, mereka menyesali perbuatan mereka. Mereka kembali lurus.

Beri ucapan selamat atas pencapaian baik yang ia lakukan. Jika ia berbuat salah, jangan sampai kita mengutuk atau memberi doa buruk baginya. Semua anak memiliki peluang menjadi orang yang baik. Beri mereka kesempatan untuk menjadi orang baik. Percayalah pada mereka.

Demikianlah ayat ini bercerita tentang hubungan ayah dan anak, tentang permusuhan antar saudara. Pada pembahasan lain, jika berkesempatan InsyaAllah kita akan mengkaji surat Al-Qashash yang akan menyoroti hubungan antara Ibu dan anaknya. 

InsyaAllah berlanjut pembahasan parenting lainnya di minggu depan.

🌼🌼🌼🌼🌼

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Course > 15. Parental Psychology-Part-2, Parenting (05:01-End)

🌼🌼🌼🌼🌼


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s