SSS Kekuasaan Yang Diberikan Kepada Manusia – Nouman Ali Khan


🌿🌿 *SSS NAK Indonesia* 🌿🌿

Bismillahirrahmanirrahim.

In syaa Allah hari ini kita ada agenda rutin sharing pekanan.

Teknisnya:

1⃣ Tonton video ini ⬇️

**Kurang dari 6 menit. Ada subtitlenya.

2⃣ Catat poin-poin menarik, insight, share ke sosial media/blog/podcast.

3⃣ Kirim tanggapan/pertanyaan terkait video di grup wa/telegram NAKIndonesia.

🗓 SSS-nya in syaa Allah dilaksanakan tiap Sabtu paralel di grup whatsapp dan telegram NAK Indonesia.

Yuk ramaikan ^^

*************

Kekuasaan Yang Diberikan Kepada Manusia – Nouman Ali Khan

Allah telah memberi setiap kita

sejumlah kekuatan.

Dia memberi kita kendali terhadap tubuh kita.

Dia memberi kita kendali terhadap anggota tubuh,

mata, lidah.

Semua itu semacam (مُلْك) yang diberi-Nya kepada kita

di wilayah ini.

Tubuh ini bukanlah milik saya,

tapi sesuatu yang atasnya Allah beri saya kekuasaan.

Fakta bahwa saya bisa menggerakkan lidah

saat ini,

atau otak saya bisa memikirkan sesuatu,

dan menyampaikan ke bawah dengan cara

yang mampu dicapai lidah saya.

Fakta bahwa Anda bisa mendengar suara saya,

memproses dan memahaminya,

semua adalah kekuatan yang diberikan Allah kepada kita,

sebuah (مُلْك) yang diberikan Allah kepada kita,

dan semua ini sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita.

Sama halnya, sedikit lebih jauh

di luar tubuh kita sendiri,

Allah telah memberi semacam kewenangan,

pengaruh, atau kendali di kehidupan kita.

Anda memiliki sebentuk kewenangan

terhadap benda-benda yang Anda miliki.

Fakta bahwa Anda membelokkan setir ke kanan,

lalu mobilnya bergerak ke kanan

adalah qudrah di dalam (مُلْك) yang telah diberi Allah pada Anda atas mobil Anda.

Karena jika Allah berkehendak, keleluasaan mengendalikan mobil bisa saja diambil

sehingga mobil akan tetap berjalan lurus

tidak peduli berapa keras usaha Anda.

Seperti yang sering terjadi saat saya tinggal di New York

dan sedang turun salju,

Anda boleh saja berbelok sekuat tenaga,

mobilnya tetap berjalan lurus.

Jadi ini sesuatu yang dikaruniakan oleh Allah,

bukan sesuatu yang kita miliki atau kuasai.

Di luar semua itu, tentunya ada kendali

dan wewenang kita terhadap orang lain.

Sebagai orang tua saya memiliki sebentuk kendali

terhadap anak-anak saya.

Meski ingin punya kendali lebih,

tapi saya tidak punya.

Saya hanya punya kendali yang terbatas

terhadap anak-anak saya.

Pasangan bisa menggunakan pengaruh

atau kendali terhadap pasangannya.

Guru bisa menggunakan kendali

atau pengaruh terhadap siswa-siswanya.

Jadi di dalam kehidupan pribadi, di masyarakat,

di keluarga atau pekerjaan.

Mungkin saja Anda seorang manajer,

Anda memiliki semacam kendali terhadap tim Anda,

orang-orang yang bekerja di bawah tim Anda.

Mungkin saja Anda pemilik usaha,

pemilik bisnis,

Anda punya kendali terhadap karyawan Anda.

Allah memberi kita tingkatan kekuasaan yang berbeda,

tingkat kendali,

wewenang, dan kekuasaan yang berbeda di dalam hidup kita.

Jadi ketika kita mendengar ayat ini,

yang harus Anda dan saya dengarkan,

karena masing-masing dari kita sebenarnya…

telah diberi sebentuk kekuasaan dan pengaruh.

Setidaknya terhadap diri kita sendiri,

namun juga di luar diri kita.

Allah (عز و جل) berkata,

memerintahkan kita untuk menyatakan hal ini.

Dia berfirman, قُلِ ٱللَّهُمَّ مَـٰلِكَ ٱلْمُلْكِ تُؤْتِى ٱلْمُلْكَ مَن تَشَآءُ

وَتَنزِعُ ٱلْمُلْكَ مِمَّن تَشَآءُ

وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ ۖ

بِيَدِكَ ٱلْخَيْرُ ۖ

(QS Ali-Imran: 26) إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ

Ini ayat yang sangat terkenal dari surat Ali-Imran.

Dimulai dengan Allah memerintahkan kita

untuk menyatakan,

(قُلِ ٱللَّهُمَّ)

Katakan! Wahai Allah.

Katakan ini kepada Allah.

Artinya

ini sesuatu yang harus selalu diucapkan.

Ini bukan sekedar doa,

di dalam doa

ada semacam permintaan (talab).

Biasanya ketika menemukan doa di Al-Qur’an,

Anda temukan (رَبَّنَا),

(رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا)

(رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا)

Di surat yang sama (QS Ali-Imran: 8)

Namun di sini kita temukan sesuatu yang berbeda,

Anda dan saya menyatakan sesuatu kepada Allah,

menyatakan kepada Allah,

seolah-olah kita bersaksi kepada-Nya

bahwa kita beriman kepada-Nya

lalu kita dibawa kepada pernyataan ini.

Ini sebenarnya merupakan perpanjangan

dalam pengertian pemahaman kita

tentang syahadat (لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ).

Apa maknanya bagi kita secara sederhana?

Kita katakan, “Wahai Allah, (مَالِكَ الْمُلْكِ),

pemilik semua kerajaan,

semua kedaulatan, semua kekuatan,

frase ini,

meski seluruh khutbah

bisa saja hanya tentang frase ini,

saya ingin Anda berpikir

tentang frase yang luar biasa ini,

(مَـٰلِكَ ٱلْمُلْك).

(مَالِك) adalah seseorang yang memiliki

sesuatu.

Jadi saya bisa saya (مَالِك) dari sebuah pena,

atau TV ini,

atau sebuah objek, saya memiliki barang-barang.

Zaman dahulu orang lazim memiliki domba

atau sapi, mereka adalah (مَالِك) nya.

Barang-barang yang Anda miliki,

Anda memiliki hak penuh untuk melakukan apa pun yang Anda inginkan padanya.

Jika saya ingin mematahkan pena saya, itu hak saya,

jika saya ingin melemparnya ke sampah, itu hak saya,

jika saya ingin menulis menggunakannya, itu hak saya.

Saya memiliki otoritas mutlak untuk melakukan apa saja yang saya inginkan,

dan tak seorang pun bisa mempertanyakannya,

mengapa saya melakukannya,

karena pena itu milik saya sepenuhnya.

Jika Anda punya mobil

dan memutuskan mengganti bannya,

atau mengiris bannya,

itu urusan Anda.

Tidak seorang pun bisa mempertanyakannya,

karena itu milik Anda.

Zaman dahulu seseorang memiliki seekor kambing,

apakah mereka ingin menyembelih

atau memerah susunya, itu terserah mereka.

Jadi ketika Allah menggambarkan diri-Nya sebagai (مَالِك),

sebelum menyebutkan (مُلْك),

dalam (مَـٰلِكَ ٱلْمُلْك).

Kita mengkomunikasikan sesuatu kepada Allah

yang kita pahami tentang-Nya,

Dia mutlak memiliki semua kekuasaan,

kekuasaan yang saya miliki adalah milik-Nya,

kekuasaan yang diberi

atau diambil-Nya dari saya adalah milik-Nya.

Dengan kata lain, mengapa Dia memberi wewenang kepada orang ini,

mengapa Dia mengambil wewenang dari orang ini,

bukanlah sesuatu yang layak saya pertanyakan.

Keputusan-Nya itu adalah hak-Nya,

milik-Nya.

Itu bukan sesuatu

yang layak saya pertanyakan,

karena kekuasaan itu sendiri milik Allah,

Dia punya hak penuh atasnya

untuk menggunakan dan menyebarkannya sesuai kehendak-Nya.

************

👤 Mas Ario

Allah telah memberikan kekuasaan kepada semua manusia sesuai dengan kadar yang telah ditentukan-Nya.

Semua itu akan dipertanggungjawabkan.

Saya pernah merenungkan hal yang sederhana, seperti naik sepeda. Kok kita naik sepeda ga jatuh?

Atau kita mengendarai motor, kok bisa tidak jatuh?

Kita tidak jatuh karena Allah memberikan kita “kekuasaan untuk mengendalikan sepeda/motor”.

👤 Mas Rizki F

Dan sepeda motor yg sudah ditundukkan Allah buat manusia. Kalau bahasa Qur’an nya, _Sakhkhara lakum maa fissamaawaati wal ardh_

👤 Bella

Bismillah.

Sebenernya video ini pertama aku tonton waktu nyari materi pertama SSS (yg jadinya dipilih ayat 29 Ar Rahman).

Ada yang masih inget?

Sekilas kaya serupa gitu. Karena sama-sama dibahas, kalau tubuh kita “butuh” Allah.

Kalau di video ini, Allah menekankan bahwa power/kekuasaan kita atas tubuh kita, kendaraan, internet, hp, atau yang punya jabatan baik di rumah, tempat kerja maupun pemerintahan, — itu semua sebenernya Allah yang kasih.

Tapi yang bikin aku ngerasa video ini berkesan buatku. Adalah karena ayat yang dibahas merupakan ayat yang sering dijadikan dzikir pagi petang.

Jadi dulu, kalau baca arti terjemahannya aja. Aku selalu mikir ayat ini tentang kekuasaan yang Allah pergilirkan, ke org mukmin dan org kafir.

Tapi setelah nonton video ini, jadi sadar kalau ternyata bukan tentang itu aja.

Ada kekuasaan lain, yang kita seringnya lupa. Bahwa itu diberikan pada kita, dan bs Allah cabut.

Dan bahwa bersamaan dgn kekuatan itu, ada tanggung jawab. *jadi inget quotes film hehe.

🌼🌼🌼

Trus ada satu lagi dari video yang berkesan.

Tentang doa. Ustadz nekenin, bahwa doa ini berbeda sama doa lain yang biasanya berisi permintaan.

Memang ada kata Allahumma… Tapi lanjutannya bukan permintaan. Tapi kaya pernyataan, yang harus diulang2.

Bahwa Allah Malikal Mulk. Pemilik asli kekuatan/kekuasaan itu Allah.

Allah berhak untuk mendistribusikannya ke siapapun.

Dan sekalipun kita temukan ada orang dzalim yang Allah beri kekuasaan.

Kita gak berhak untuk protes.

*tapi kita boleh untuk berdoa (:

Dan dibalik takdir Allah, akan kekuasaan yang Allah berikan/Allah cabut, ada hikmah. Selain itu, kaya jadi bentuk ujian juga.

🌼🌼🌼

Kalau dari aku, itu yang aku dapetin dari materi SSS pekan ini.

Mohon koreksinya kalau misal salah. Wallahua’lam

👆 video full lecturenya.

Mangga yang lain kalau ada yang mau share tanggepan, share ilmu/catetan terkait materi pekan ini.

Dari sumber lain juga gapapa.

👤 Mas Ario

Iya kekuasaan sebenarnya bergilir, jadi sebenarnya itu seharusnya jadi pengingat untuk orang-orang yang berkuasa.

Kekuasaan mereka pasti akan selesai pada waktunya dan digantikan oleh yang lain.

Jadi kesempatan untuk berkuasa sebenarnya kesempatan untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya untuk umat manusia terutama untuk umat muslim.

👤 Mas Ario

⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽

Ini OOT (mungkin tidak berhubungan dengan SSS)

Saya menyukai AC Milan sejak kecil. Dari AC Milan ini saya mendapat hikmah kalau Milan dan tim sepakbola lainnya ga bisa menang terus, ga bisa berkuasa (juara) terus. Pasti akan ada masa suatu tim akan kalah.

Tapi yang ingin saya bagi bukan soal pelajaran kekuasaan di sepak bola.

Saya tertarik berbagi soal rasa syukur. Sering penggemar suatu tim tidak bersyukur dengan kehadiran/permainan seorang pemain.

Saya beri contoh (maaf kalau ada yang tidak mengerti sepak bola, apalagi mengerti AC  Milan 😅)

AC Milan sejak lockdown belum pernah kalah di Seri A.

Namun penggemar kalau melihat seorang pemain tampil jelek, dengan mudahnya meledek.

Seperti yang terjadi pada Ante Rebic, dia seorang pemain sayap yang dimainkan sebagai penyerang dalam beberapa pertandingan terakhir karena Zlatan Ibrahimovic cedera dan Milan tidak punya striker cadangan berpengalaman. Jadilah Rebic didorong sebagai penyerang.

Rebic tidak bisa mencetak gol selama bermain sebagai penyerang.

Tapi fans ga mau tahu, mereka mengira main sebagai penyerang itu mudah, mencetak gol itu gampang.

Karena Rebic ga bisa bikin gol, jadilah dia dicacimaki.

Sekarang pada pertandingan besok, Rebic tidak bisa bermain karena cedera.

Terpaksa Milan harus menyiapkan 3 orang penyerang muda yang usianya masing-masing 19, 18, 17 tahun.

Dua di antaranya sudah pernah dicoba tampil di Seri A dan bermain jelek (tidak berpengalaman). Satu penyerang lagi belum pernah tampil di Seri A.

Fans yang melihat kenyataan ini sekarang justru menginginkan Rebic bermain karena tidak percaya dengan para penyerang muda.

Fans sudah berpikir pasti Milan kalah.

Seperti itulah, saya sering melihat di dunia olahraga, fans seringkali tidak bersyukur

👤 Mas Ario

Saya banyak terbantu dengan ustaz-ustaz yang mengajarkan saya hikmah.

Jadi ketika saya melihat sesuatu saya mencoba mempelajari hikmahnya.

Jadi ketika melihat sepakbola, politik, kejadian kehidupan sehari-hari saya mencoba mendapatkan hikmahnya. Pelajaran apa yang bisa saya ambil.

Saya rasa kita semua harus demikian. Karena itu akan membantu kita terhubung dengan Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s