[VoB2021] Cinta yang Membutakan


بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-213

Topik: Pearls from Ali Imran

Rabu, 20 Januari 2021

Materi VoB Hari ke-213 Pagi | Cinta yang Membutakan

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek31Part1

Part 1

Di ayat ini ada bagian yang sulit. Yaitu kata hubb. Kata ini cukup sulit dipahami atau dijelaskan.

Ibnu Asyur menunjukkan kecemerlangannya tatkala menjelaskan ayat ini. Allah tidak menyatakan bahwa hasrat akan wanita dijadikan indah. Atau hasrat akan anak-anak dijadikan indah. Atau hasrat akan kekayaan dijadikan indah. Dan seterusnya. Tidak seperti itu. Ibnu Asyur mengatakan bahwa ‘kecintaan terhadap hasrat yang seperti itu’, itulah yang dijadikan indah. The love of such desire, itulah yang dijadikan indah.

Begitulah cara Ibnu Asyur memahami ayat ini. Dan ustaz menganggapnya sangat menarik. Mengapa? Karena ketika kita mencintai sesuatu, maka sesuatu itu bisa membutakan kita.

Love is something that creates a bias. Cinta adalah sesuatu yang menimbulkan bias. Cinta adalah sesuatu yang menimbulkan kecenderungan tertentu yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat.

Jika Anda baru saja mendapat pastry yang lezat, yang kira-kira cukup hanya untuk 3 orang, sedangkan di rumah ada 10 orang, apa yang akan terjadi? Anda akan pastikan bahwa 3 orang yang paling Anda cintailah yang mendapatkan pastry itu. Jika Anda ditanya, kenapa harus 3 orang itu, Anda tidak bisa memberi alasan yang benar-benar logis. 

Cinta juga membutakan kita terhadap hal-hal yang negatif. Anda sedang jatuh cinta kepada seseorang. Anda sedang kasmaran. Yang Anda cintai sebenarnya punya banyak masalah: A sampai Z. Tapi Anda menganggap semua masalahnya tidak penting. Bahkan Anda tidak menganggap semua masalahnya itu sebagai ‘masalah’.

“I don’t wanna think about the negatives because I love you so much.”

Anda tidak ingin memikirkan hal-hal yang negatif karena Anda sangat mencintainya.

Apa yang telah dilakukan oleh cinta terhadap kita? Cinta membutakan kita terhadap masalah yang sesungguhnya. Kita tidak ingin memikirkannya karena cinta telah menggantikan semua masalah. Meskipun semua masalah itu begitu mencolok. Meskipun semua masalah itu ada di pelupuk mata. Meskipun semua masalah itu begitu benderang.

Salah satu makna dari ayat ini adalah: hasrat itu begitu kuat sehingga kita begitu mencintainya. Akibatnya, masing-masing hasrat tersebut menyembunyikan masalah yang serius. Masalah yang kita abaikan. Masalah yang tidak kita anggap sebagai ‘masalah’.

Tapi begitulah kita. Karena terlanjur cinta, kita tidak mampu melihat masalah yang tersembunyi. Bahkan masalah yang terlihat pun kita abaikan. Kita menjadi susah dinasihati. Nasihatnya benar, nasihatnya bagus, yang menasihati kita begitu peduli sama kita, tapi kita malah balik menyerang, “Bisakah kamu belajar untuk berpikir positif?”

Cinta telah menguasai kita.

Kata-kata yang digunakan di awal ayat ini adalah zuyyina linnaas. Ini juga menarik, karena ada kata ziina, yang sifatnya personal. Maksudnya, sesuatu yang tampak bagus buat Anda, belum tentu tampak bagus buat saya. Demikian pula sebaliknya. 

Ada orang yang suka mobil sedan. Ada juga orang yang tidak suka mobil sedan. Mengapa suka, dan mengapa tidak suka, tidak selalu ada alasannya. 

Secara ilmiah, mungkin orang yang suka sedan bilang bahwa dia suka sedan karena nyaman. Atau karena ingin dianggap orang kaya. Tapi ada juga yang bilang, “Nggak tahu aku. Suka aja.”

Yang tidak suka sedan, mungkin keluarganya banyak. Atau tidak ingin mobilnya bermasalah saat banjir. Tapi ada juga yang bilang, “Nggak tahu ya, kenapa. Suka aja.”

Jadi, suka atau tidak suka adalah masalah persepsi masing-masing orang. 

Tapi, secara umum, ada hal-hal yang bisa kita sepakati sebagai suatu keindahan, dan ada tingkatan-tingkatannya, ada patokannya juga. Wanita, anak-anak, dan aspek tentang uang yang disebut di ayat ini, semuanya menjadi patokan, apakah hal-hal itu pantas dikejar atau tidak, di dunia ini.

Zuyyina, hubb, dan syahawaat adalah tiga kata yang tergabung secara dahsyat di ayat ini. Three-in-one yang merupakan sebuah gabungan yang luar biasa. A powerful mix. 

Ketika menjumpai frasa Al-Qur’an yang rumit, yang benar-benar sulit diterjemahkan, Ibnu Asyur kadang mencoba untuk membongkarnya. Mencoba untuk melakukan unpack terhadap frasa yang sulit itu. Mungkin ada beberapa pernyataan yang digabung menjadi satu. Menjadi sebuah kemasan bahasa (packed language). 

Bagaimana hasil unpacking Ibnu Asyur terhadap ayat ini? 

Kita bahas jawabannya insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da zhuhur.

Sumber: Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali-Imran / 05. ‘Ali ‘Imran – Ayah 13-15 Ramadan 2018 (08:00 – 11:38


Materi VoB Hari ke-213 Siang | Siapa yang Menjadikannya Indah?

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek31Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Pertama, kecintaan terhadap wanita, anak-anak, dan harta benda itu dijadikan indah. Dan ketika keindahan itu membuat kita terpesona, kita menjadi kecanduan. Ketagihan. Akhirnya menjadi cinta yang tak wajar yang tak bisa kita lepaskan.

Semua kecintaan tadi dijadikan indah. Ada yang menarik dari pernyataan ini. Muncul pertanyaan: siapa yang menjadikannya indah? Siapa yang membuatnya indah? Siapa yang membuat wanita jadi indah buat laki-laki? Siapa yang membuat anak-anak dan harta benda jadi indah?

Ada sebuah jawaban untuk pertanyaan ini di Al-Qur’an: innaa ja’alnaa maa ‘alal-ardhi ziinatallahaa. Allah telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya. (Al-Kahfi, 18:7). Allah menjadikan indah segala sesuatu yang ada di bumi. Makanya kita jadi punya hasrat terhadapnya. 

Jadi salah satu jawaban dari pertanyaan itu, siapa yang menjadikan wanita, anak-anak, dan harta benda itu indah, adalah Allah.

Tapi ada jawaban yang lainnya: yaitu our own nafs. Nafsu kita sendiri. Kita sendiri yang menjadikannya indah. Kita yang memutuskan bahwa sesuatu itu indah. 

Faktanya, jika si Fulan terobsesi dengan si Fulanah, maka Fulan telah memutuskan bahwa Fulanah itu indah. Atau, Fulan telah menjadikan Fulanah itu indah. 

Teman si Fulan, katakanlah namanya Mulan, sampai terheran-heran, dan bertanya kepada Fulan, “Kamu serius? Kamu beneran suka sama Fulanah?” Karena menurut Mulan, Fulanah itu tidak indah. 

Menganggap sesuatu itu indah atau tidak, sifatnya memang pribadi. Begitu dalamnya kita tenggelam dalam keindahan itu, sehingga keindahan itu telah ‘mengambil alih’ diri kita.

Kita menjadi terobsesi dengan sesuatu. Keluarga kita tidak bisa memahaminya. Teman-teman kita tidak bisa memahaminya. Kita telah benar-benar ‘masuk ke dalamnya’.

Masih ada jawaban ketiga dari pertanyaan tadi: masyarakat, teman, dan keluarga. Seseorang yang sudah lama membujang, mungkin sering mendapat pertanyaan ini, “Kapan kamu menikah?” Atau, “Kapan kamu punya anak?” Pertanyaan ini bisa datang dari orang tuanya, keluarganya, atau teman-temannya.

Ini adalah contoh bagaimana kecintaan terhadap wanita dan anak-anak itu ‘dijadikan indah’ oleh keluarga, teman-teman dan masyarakat. Bahkan mereka menekan orang yang lama membujang itu. Dia mendapatkan tekanan dari keluarganya. Kecintaan terhadap wanita dan anak-anak itu ‘dijadikan indah’ oleh keluarganya.

Kadang kita melakukan sesuatu bukan karena kita harus melakukannya. Tapi karena itu adalah standar yang harus kita penuhi, menurut orang lain. Atau mereka menekan kita untuk melakukannya. Yang kita lakukan itu ‘dijadikan indah’ oleh orang lain. 

Kita mungkin happy-happy aja hidup di apartemen. Kita sudah merasa bahagia bisa punya uang dan bisa beli barang-barang yang kita butuhkan, di toko grosir. 

Lalu ada teman kita yang bilang bahwa kita seharusnya make more money. Dia meyakinkan kita bahwa kita memang butuh uang lebih banyak. Dia juga menyarankan bahwa kita seharusnya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. 

Awalnya, kepala kita tidak pernah berisi hal-hal seperti itu. Kita tidak pernah memikirkannya. Tapi teman kita telah menaruh hal-hal seperti itu di kepala kita. Kita akhirnya kepikiran akan hal itu. Teman kitalah yang membuat hal itu ‘dijadikan indah’ dalam pandangan kita.

Dengan kata lain, ada sesuatu yang dijadikan indah oleh Allah sendiri. Ada sesuatu yang dijadikan indah oleh nafsu kita. Lalu ada sesuatu yang dijadikan indah oleh orang lain: masyarakat, keluarga, orang tua, teman kerja, tetangga, teman sekolah. 

Orang lain dapat mencekoki kita dengan sesuatu yang dijadikan indah dari sudut pandang mereka. Tadinya nggak ada. Tiba-tiba menyesakkan pikiran. Lama-lama akhirnya menjadi bagian dari diri kita.

Satu lagi, tentu saja, setan bisa menjadikan indah banyak hal. Wazayyana lahumusysyaythaanu maa kaanuu ya’maluun (QS 6:43). Wazayyana lahumusysyaythaanu a’maalahum (QS 27:24, 29:38). Setan menjadikan indah perbuatan mereka. 

Tapi ada bedanya. Setan menjadikan indah perbuatan mereka yang haram. Padahal semuanya di ayat zuyyina linnaas ini: hasrat terhadap wanita, hasrat terhadap anak-anak, hasrat terhadap harta benda, adalah sesuatu yang halal. Artinya, semuanya ini bisa menjadi ibadah. 

Jadi, apa yang dilakukan setan dalam urusan ini?

Kita bahas jawabannya insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da ‘ashar.

Sumber: Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali-Imran / 05. ‘Ali ‘Imran – Ayah 13-15 Ramadan 2018 (11:38 – 14:50)


Materi VoB Hari ke-213 Sore | Mewaspadai Sang Perusak Keseimbangan

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek31Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Apa yang setan lakukan? Innaa kulla syay-in khalaqnaahu biqadar (QS 54:49) Allah menciptakan segala sesuatunya dengan terukur. Ada jumlah yang seimbang. Jumlah yang seimbang yang sehat. 

Allah membuat tubuh kita sedemikian rupa sehingga hanya ada sejumlah makanan tertentu yang bisa kita makan. Ada sekian banyak jumlah gula yang bisa kita konsumsi. Minuman yang bisa kita minum juga terbatas jumlahnya. 

Seseorang bisa jatuh sakit kalau dia minum terlalu banyak. Bahkan jika yang ia minum adalah air putih, maksudnya air bening, sekalipun. Yang seharusnya menyehatkan. Tapi tetap tidak sehat juga kalau terlalu banyak.

Secara fisik, dibutuhkan keseimbangan dalam nutrisi kita, dalam diet kita. Juga dalam hal tidur. Jam tidur kita tidak boleh kurang, tidak boleh kebanyakan. Pun dalam hal-hal lain yang kita lakukan, selalu ada keseimbangan.

Allah menciptakan seluruh alam semesta dengan mizan. Wassamaa-a rafa’ahaa wawadha’al miizaan (QS 55:7). Allah meletakkan mizan di sana, kemudian berfirman, allaa tath-ghaw fil miizaan (QS 55:8). Allah meletakkan neraca atau keseimbangan di sana, sehingga kita tidak melanggar keseimbangan itu dalam kehidupan kita. Tidak boleh kita merusak keseimbangan itu.

Dua ayat di surah Ar-Rahman tadi melakukan komparasi terhadap keseimbangan di alam semesta dengan keseimbangan dalam kehidupan pribadi kita. 

Kembali lagi ke setan: apa yang dia inginkan? Setan ingin supaya keseimbangan dalam kehidupan pribadi kita menjadi kacau. Menjadi terganggu. 

Apa yang setan lakukan? Dia akan mengambil semua hal yang sama, yang telah Allah jadikan kita mencintainya, dalam jumlah yang wajar, dalam jumlah yang sehat, lalu setan membuat kita melangkah ke luar batas sehingga jumlahnya tak lagi wajar, tak lagi sehat.

Mencintai istri itu wajar. Mencintai anak-anak itu wajar. Tapi setan membuat cinta kita itu kebablasan. Tidak wajar lagi. Tidak sehat lagi. Sehingga kita melangkah di luar batas, dengan dalih cinta. Menuruti hasrat secara liar tanpa tali kekang. Terjerat dalam kubangan godaan.

Dalam konteks ini, setan tidak membuat kita menyukai sesuatu. Karena yang kita sukai itu, secara alami, adalah sesuatu yang permissible, yang halal. Aslinya, tak berdosa kita menyukainya.

Setan mengambil keuntungan dari kenyataan bahwa kita sudah menyukainya. Setan tinggal menyalakan katalis yang membuat kecintaan kita menjadi out of proportion. Menjadi di luar kewajaran.

Ada orang yang mencuri mobil. Mengapa dia mencuri? Karena ia ingin membahagiakan keluarga dan anak-anaknya, mengajak mereka pulang mudik dengan mobil itu.

Ada orang yang sangat sayang dengan ibunya. Dia sampai hati mencuri, hanya karena ingin mempersembahkan yang terbaik kepada wanita yang telah melahirkannya itu, tepat di Hari Ibu.

Hasrat untuk memiliki penghasilan adalah hasrat yang wajar. Alami. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tergantung oleh pemberian orang lain. Inginnya berusaha atau bekerja. Mendapatkan penghasilan dari usaha atau pekerjaannya itu.

Hasrat untuk membahagiakan ibunda tersayang adalah hasrat yang wajar. Alami. Yang jika kita tidak hati-hati, bisa dimanfaatkan atau ‘ditunggangi’ setan untuk melakukan hal-hal yang di luar batas. Dengan dalih sayang mama.

Saat kita ingin menggapai hasrat yang wajar itu tanpa kendali, dan di luar batas kewajaran, saat itulah setan masuk untuk merusak dan mengacaukan keseimbangan hidup kita.

“Saya bangga dengan apa yang saya perbuat. Saya sangat mencintai mama saya. Untuk mama, saya akan lakukan apa saja, saya rela jika memang harus menginap di penjara.”

Ini hanyalah sebuah contoh. Berawal dari sebuah kewajaran yang universal. Rasa cinta terhadap sang ibunda. Angin cinta yang sepoi-sepoi itu lalu dikipasi setan sehingga berubah menjadi tornado yang merusak segalanya. Membuat kita terlena dan melanggar batas.

Tiga lapisan itu: Allah menjadikannya indah, kita sendiri menjadikannya indah, lalu orang-orang menjadikannya indah, setan memanfaatkannya dan menjadikannya go out of whack. Kacau balau dan amburadul. Tidak seimbang lagi. 

Di sisi lain, ada sesuatu yang menarik dari penggunaan bentuk pasif di ayat ini: ‘dijadikan indah’. Bagaimana tinjauannya dari segi linguistik? 

Kita kupas jawabannya insyaa Allaahu ta’aalaa minggu depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali-Imran / 05. ‘Ali ‘Imran – Ayah 13-15 Ramadan 2018 (14:50 – 17:20)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s