[VoB2021] Do’s and Don’ts’ dalam Komunikasi Orang tua-Anak


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-209

Topik: Parenting

Sabtu, 16 Januari 2021

Materi VoB Hari ke-209 Pagi | Do’s and Don’ts’ dalam Komunikasi Orang tua-Anak

Oleh: Indri Djangko

#SaturdayParentingWeek30Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Do’s

Sosok ayah pada QS Yusuf:4 adalah sosok ayah yang perlu kita hadirkan di rumah-rumah kita. Untuk anak-anak kita. 

Tidak banyak ayah yang punya hubungan dengan anak laki-lakinya hingga anak laki-laki nyaman untuk curhat apapun. 

Tanpa takut dicela, takut tidak digubris, atau dianggap terlalu berimajinasi.

Ustaz juga pernah mengalami masalah dalam memberikan perhatian penuh terhadap perbincangan sang anak. 

Ustaz berusaha keras untuk bisa memerhatikan anaknya yang sedang mengoceh. Apalagi jika topiknya adalah sesuatu yang tidak masuk akal. 

Misalnya, jika anak Ustaz bercerita tentang Ninja Turtle selama 20 menit. Sulit sekali bagi Ustaz untuk menyimak dengan seksama selama 20 menit tersebut.

Tetapi QS Yusuf ayat 4 ini menginspirasi Ustaz. Maka Ustaz berusaha untuk mendengar, dan merespon “lalu, apa yang dilakukan Michelangelo?”. 

Dalam rangka merespons cerita anaknya, Ustaz perlu memberikan feedback berupa pertanyaan.

— 

Di kalangan komunitas muslim, para ayah diasosiasikan dengan otoritas, pemberi hukuman, keseriusan, dan ekspektasi yang tinggi terhadap anaknya. 

Tapi seakan kebalikan dari apa-apa yang diasosiasikan di atas, Yusuf paham bahwa ayahnya akan mendengarkannya. 

Ayahnya tidak akan menertawakannya dan akan menjaga rahasianya.

Yusuf tahu, ayahnya tidak akan mempermalukannya di depan saudara-saudaranya dengan meremehkan mimpi Yusuf.

Ayat ke-4 QS Yusuf ini menjadi pelajaran paling berharga bagi ustaz dalam kapasitasnya sebagai seorang ayah. 

Don’ts

Ustaz melihat, masalah terbesar bagi orang tua adalah ketika anak-anak mereka tidak memberi tahu orangtua tentang apa yang mengganggu pikirannya, sampai akhirnya semuanya terlambat.

Ketika anak-anak kita berumur 8-10 tahun, mereka melihat atau mendengar sesuatu yang mengganggu mereka, dan berharap bisa menceritakannya kepada kita. 

Tapi sang anak akhirnya memilih tidak menceritakannya kepada kita karena sudah bisa menebak ekspresi dan respons orang tua atas ceritanya itu.

Respons orang tua yang seolah tidak menyambut cerita anaknya, secara tidak langsung seperti menghindari anak bercerita kepada orang tua.

Ketika anak tidak mendapat tempat bercerita pada orang tuanya, keinginan mereka untuk mencurahkan perasaan dan bercerita tidak lantas hilang begitu saja. 

Mereka tetap membutuhkan tempat berkeluh kesah. Maka sang anak pergi mencari hal itu di tempat lain. 

Ustaz memberikan ilustrasi yang cukup miris terkait ini.

Sang anak mungkin akan bercerita kepada temannya tentang sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada orang tuanya. 

Sedangkan orang tua, mungkin hanya mendapatkan potongan cerita-cerita yang dibagikan anak melalui Facebook.

Ketika orang tua mencoba untuk menjalin pertemanan dengan anaknya di Facebook, sang anak membuat akun kedua yang dirahasiakan dari orang tuanya, supaya orang tua tidak mengganggu dan tidak mengetahui pembicaraan sang anak dengan teman-temannya.

Tidak hanya dua akun. Jika ternyata akun kedua masih berpotensi terlacak oleh orang tua, maka sang anak mengantisipasi dengan membuat banyak akun lainnya sehingga orang tuanya akan samar melihat apa yang sebenarnya sedang dipikirkan anaknya. 

Anak-anak ini mencoba berbagai macam cara untuk mencegah orang tuanya membaca pikirannya.

Ilustrasi ini cukup untuk bisa membuat kita mengantisipasinya, sehingga tidak terjadi di rumah-rumah kita.

Jangan sampai anak-anak kita menganggap orang tuanya sebagai pengganggu.

Tidak hanya itu, kita perlu bersiap agar gangguan-gangguan pada pola komunikasi anak dengan orang tua ini tidak beralih menjadi kemarahan, frustrasi, cacian yang kita tujukan kepada anak-anak kita.

Karena sekalinya mereka mengalami hal buruk karena sikap orang tuanya, mereka akan memilih menjauh dan tidak akan bercerita kepada orang tuanya lagi. 

Mereka kapok dan tidak mau mengalami hal yang sama: dimarahi, dicaci, dan diremehkan orang tuanya.

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 14. Parental Psychology Part 1 – Parenting (09:00 – 12.40)


Materi VoB Hari ke-209 Siang | Children Dignity Attack and Its Effect

Oleh: Indri Djangko

#SaturdayParentingWeek30Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ …

Di QS Al-Isra:70, Allah berfirman bahwa Allah memuliakan anak-anak Adam. 

Sejatinya, manusia memiliki sesuatu yang disebut ‘martabat’ atau dignity.

Ketika anak-anak diteriaki, dicaci, dan dipermalukan di depan orang lain, maka itu adalah penyerangan terhadap martabat anak-anak. 

Tidak ada manusia yang suka dipermalukan. Tidak terkecuali anak-anak. 

Jika merasa dipermalukan atau martabatnya diserang, anak-anak akan melakukan apapun untuk menghindari orang tua, sehingga tidak harus menceritakan apa-apa atau berbagi perasaan dengan orang tua.

Karena sebenarnya, dibanding takut mendapat hukuman, anak-anak jauh lebih takut dipermalukan. 

Tapi para orang tua, sadar atau tidak sadar sering mempermalukan anaknya.

Seorang ayah harus mendengarkan dan menjaga rahasia anaknya, yang dalam konteks QS Yusuf:4 adalah anak laki-laki. 

Ayah harus menjadi sahabat dan orang pertama yang terlintas di pikiran sang anak ketika ingin menceritakan sesuatu.

Perlu digarisbawahi bahwa kisah tentang ‘curhatan’ Yusuf kepada ayahnya ini terjadi sebelum Yusuf beranjak remaja. Saat itu, Yusuf masih seorang anak kecil. 

Ini menjadi poin penting selanjutnya dalam ayat ini.

Ketika kita tidak membuka diri kepada anak kita dan mengetuk ‘pintu’nya saat mereka masih kecil, maka ‘pintu’ anak-anak kita juga akan selamanya tertutup untuk kita ketika mereka beranjak dewasa.

Semakin lama, mereka akan semakin menghindari berlama-lama bercakap dengan kita. Mereka akan berusaha menjawab setiap pertanyaan orang tua dengan sesingkat mungkin, misalnya:

🧔🏻: Bagaimana harimu di sekolah hari ini?

🤷‍♂️: Ya, begitulah.

🧔🏻: Tadi makan apa di sekolah?

🤷‍♂️: Makanan.

🧔🏻: Setelah ini kamu mau ngapain?

🤷‍♂️: Ngerjain PR.

🧔🏻: Setelah itu ngapain?

🤷‍♂️: Ga tau.

Jawabannya hanya 1-2 kata. Bukan tidak mungkin ketika orang tua terus bertanya, anak-anak ini rasanya ingin menghentikan orang tuanya, “Bisakah berhenti bertanya? Ayah terlalu banyak bicara kepadaku”.

Atau mengalihkan pembicaraan dan berkata, “Sebentar, ada telepon. Aku angkat telepon dulu”. Padahal tidak ada yang meneleponnya. Yang penting ia lolos dari percakapan dengan orang tuanya.

Menyikapi hal ini, orang tua perlu melakukan sesuatu. Entah itu berolahraga bersama anak-anak, jalan-jalan, menonton kartun favorit mereka, mendengarkan dan bersama-sama melakukan apa yang mereka sukai, atau berdiskusi.

Kita harus memperlakukan anak-anak dengan kapasitas intelektualnya yang terus berkembang. Ustaz Nouman pernah punya pengalaman terkait perkembangan anak ini. 

Ustaz sangat menyukai bayi dan anak-anak, juga aktivitas bermain dengan mereka. Tapi Ustaz lupa bahwa anak-anaknya bertumbuh dan menjadi besar. 

Beliau masih berpikir bahwa anaknya masih bayi, dan memperlakukan mereka seperti bayi.

Seiring waktu, Ustaz harus mengubah caranya berinteraksi dengan anaknya sesuai dengan pengalaman dan kedewasaannya. Karena setiap tahun, anak-anak mengalami perubahan.

Orangtua yang terus memperlakukan anaknya seperti bayi, dan tidak sadar bahwa anaknya terus tumbuh, tidak akan menyadari dan tidak mengenali anaknya yang sudah berubah.

Sebagai pengajar, Ustaz Nouman juga pernah kaget dengan perubahan muridnya.

Ketika mengajar pada program Dream, ada satu murid Ustaz yang dikenal begitu pendiam, lebih suka menyimak, kadang-kadang merespons candaan di kelas seperlunya. 

Selama pembelajaran, Ustaz belum pernah terlibat diskusi mendalam dengan anak tersebut. 

Hingga akhirnya, ketika akan wisuda, mereka berdiskusi dan Ustaz baru menyadari bahwa muridnya itu sudah tumbuh dewasa, tak terkecuali cara berpikirnya. 

Gagasan dari anak tersebut membuat Ustaz takjub dan tidak menyangka bahwa ia sudah sangat pintar dan dewasa. 

Hal ini membuat Ustaz berpikir, bagaimana jika ternyata Ustaz luput dari perubahan yang terjadi pada anak-anaknya?

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 14. Parental Psychology Part 1 – Parenting (12.40 – 17.00)


Materi VoB Hari ke-209 Sore | Know Your Children Well

Oleh: Indri Djangko

#SaturdayParentingWeek30Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Percakapan antara orang tua dan anak akan membantu orang tua mengenali perubahan yang terjadi pada anaknya. 

Hal ini perlu dilakukan terus menerus. Karena meskipun sering jalan-jalan atau bersama dalam satu ruangan dengan anak, kita akan kehilangan jejak perubahannya ketika anak memutuskan untuk tidak menceritakan sesuatu atau banyak hal kepada kita.

Orang tua perlu memastikan anak-anak cukup nyaman untuk dapat bercerita apa yang sedang dipikirkan. 

Karena orang tua lah yang butuh tahu apa yang dipikirkan anak-anaknya agar bisa membina dan memandu pola pikir anak-anak. 

Ustaz mengajak para orang tua untuk bersyukur apabila anak-anak menanyakan hal yang tidak masuk akal atau sulit dijawab. Karena itu artinya dia mau berbagi dengan orang tuanya. 

Perlu digaris bawahi, ketika anak tidak bertanya sesuatu, bukan berarti mereka tidak memikirkannya. 

Sehingga jika muncul pertanyaan aneh dari sang anak, berarti tingkat ‘kepercayaan’ anak untuk bercerita kepada orang tua juga sudah di level yang tinggi.

Kita kembali kepada QS Yusuf:4.

Sang Ayah, Ya’qub, adalah seorang pendengar yang baik dan mampu membaca kemampuan anaknya. 

Ia mengerti bahwa anak ini mampu menceritakan ulang mimpi dan menginterpretasikannya (melalui kata-kata yang disampaikan Yusuf di ayat ini).

Ya’qub, 🧔🏻 berkata: Yaa bunayyaa, anakku sayang. ( FYI, yaa bunayya artinya lebih dalam daripada sekadar mengatakan yaa ibniy atau yabniy, karena mengungkapkan rasa cinta), kemarilah, aku beritahu sesuatu.

🧔🏻: Jangan ceritakan mimpi ini kepada saudara-saudaramu.

👦🏻: Kenapa, Ayah? Toh, mereka juga tidak akan menafsirkan mimpi itu, kan?.

🧔🏻: Tidak. Jika kamu menceritakan kepada mereka tentang apa yang kamu lihat dalam mimpimu, mereka akan berkata, “Oh, jadi kamu pikir kamu hebat, Yusuf? Sayangnya, menurut kami, kamu sama sekali tidak hebat”.

Dibalik penjelasan kepada Yusuf ini, sang Ayah, Ya’qub paham bahwa berita ini akan membuat saudara-saudaranya iri. Situasi akan menjadi kacau jika mereka tahu Yusuf bermimpi seperti itu.

Apakah Ya’qub hanya baik saat berinteraksi dengan Yusuf, dan bukan ayah yang baik untuk saudara-saudara Yusuf? Tentu bukan begitu. 

Yang dilakukan Ya’qub tidak menjadikannya pilih kasih terhadap anak-anaknya. 

Ya’qub mengenal karakter anak-anaknya, dan berusaha melakukan kewajibannya memperingatkan Yusuf kecil agar dapat terhindar dari bahaya akibat rasa iri saudara-saudaranya.  

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 14. Parental Psychology Part 1 – Parenting (17.00 – 20:06/end)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s