[VoB2021] Transisi Visual di Al-Quran


Topik: Divine Speech

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-207

Kamis, 14 Januari 2021

Materi VoB Hari ke-207 | Transisi Visual di Al-Quran 

💎💎💎💎💎

Transisi Visual di Al-Qur’an

Oleh: Muchamad Musyafa’

#ThursdayDivineSpeechWeek30Part-All

🎞️🎞️

Pembahasan hari ini akan mencoba menyampaikan satu contoh lain tentang transisi visual yang ada di dalam Al-Qur’an. Kali ini kita akan mencoba mengambilnya dari surat Yunus ayat 22.

هُوَ ٱلَّذِي يُسَيِّرُكُمۡ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۖ  حَتَّىٰٓ إِذَا كُنتُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ وَجَرَيۡنَ بِهِم بِرِيحٖ طَيِّبَةٖ وَفَرِحُواْ بِهَا

Dialah Tuhan yang menjadikan kalian dapat berjalan di daratan, (dan berlayar) di lautan. Sehingga ketika kalian berada di dalam kapal. Dan meluncurlah (kapal) itu membawa mereka (orang-orang yang ada di dalamnya), dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya; (Yunus 10:22)

جَآءَتۡهَا رِيحٌ عَاصِفٞ وَجَآءَهُمُ ٱلۡمَوۡجُ مِن كُلِّ مَكَانٖ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُمۡ أُحِيطَ بِهِمۡ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ لَئِنۡ أَنجَيۡتَنَا مِنۡ هَٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ  

Tiba-tiba datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru, dan mereka mengira telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa dengan tulus ikhlas kepada Allah semata. (Seraya berkata), “Sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, pasti kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Yunus 10:22)

🎞️🎞️

Bayangkan ketika kita membaca ayat ini, kita melihat situasinya dari sudut pandang kamera.

🛥️🌴

Adalah daratan dan lautan di depan kalian yang terduduk.

Dua yang terpisah oleh garis-garis pantai dengan semen yang dibentuk.

Di darat ada beberapa pekerja yang mengangkut peti yang hampir lapuk.

Di laut, kapal-kapal berukuran sedang berjejer menghalangi garis ufuk.

🎒🎫

Lalu kalian berkemas-kemas.

Menuju dermaga, kalian bergegas.

Dengan sepotong kertas, kalian tunjukkan kepada seorang petugas. 

Lalu kalian masuk ke dalam kapal dengan bebas.

🌬️💨

Angin-angin bertiup teratur.

Pelan-pelan sang kapal pun meluncur.

Rasa senang membuncah tak terukur.

Berharap tiba di negeri yang masyhur.

🌅🌅

Pemandangan itu begitu indah.

Tak ada rasa sedih maupun gundah.

🌪️⚡

Lalu, sebuah badai menghempas kapal tanpa aba-aba.

Gelombang ombak menghantam mereka tanpa iba.

Kanan, kiri, depan, belakang, semua menimpa.

Hati takut melihat bahaya datang menyapa.

🌌✨

Dari kekacauan hingga keheningan.

Tak ada lagi di hati mereka beragam keinginan.

Hanya satu doa mereka panjatkan.

Menjadi kaum yang bersyukur mereka pastikan.

🎥🎞️🎞️🎞️🎞️

Mari kita perhatikan ayat ini pelan-pelan. Di awal ayat ini digunakan kata يُسَيِّرُكُمۡ, kata ini menggunakan “kalian” sebagai objeknya.

Kata “kalian” memilik makna dekat, sedangkan kata “mereka” memiliki makna jauh.

Ketika “kalian” ini masuk ke dalam kapal, maka penyebutannya pun berubah menjadi “mereka”. Kapal itu pun berjalan dengan mereka di dalamnya, bukan kalian. Kenapa? karena “kalian” menjauh dari daratan, menjauh, tidak lagi dekat.

🎞️🎞️

Lalu datanglah angin kencang ke kapal itu, dan gelombang ombak menghantam mereka dari berbagai arah. Gelombang itu tidak menghantam kapal, tapi ayat ini menggambarkan bahwa gelombang itu menghantam mereka. Mereka yang tadi sedang berada di dalam kapal.

Lalu mereka menyangka bahwa mereka dalam kondisi darurat. Satu hantaman gelombang tsunami, satu hempasan angin badai, cukup membuat kapal mereka terbalik. 

Dengan kondisi yang terpojok itu, akhirnya mereka kembali menghadap kepada Allah ﷻ . Mereka berdoa dengan hati yang bersih. Mereka tidak lagi memikirkan hiburan, makanan, harta benda atau tentang berhala-berhala mereka. Pikiran mereka bersih untuk berdoa kepada Allah ﷻ.  

Kali ini doa mereka murni kepada Allah ﷻ.

Semuanya menjadi hening. 

🎞️🎞️

Kekacauan yang terjadi sebelumnya kini berubah menjadi kekhusyukan. Mereka tak lagi terganggu dengan badai ataupun ombak laut yang ganas itu. Pikiran mereka telah hanyut dalam doa.

Lalu seseorang di antara berkata dalam hatinya, “Jika Engkau menyelamatkan kami dari semua kekacauan ini, kami berjanji, kami sungguh berjanji, kami sungguh amat berjanji bahwa kami akan menjadi golongan orang sangat bersyukur”

Ia tidak membatin bawa mereka akan bersyukur, tapi ia membatin bahwa mereka akan menjadi golongan yang sangat bersyukur.

🎞️🎞️

Apa bedanya?

Bedanya bahwa mereka tahu bahwa dulunya ketika di darat mereka bukanlah orang yang bersyukur, namun karena kejadian ini, mereka ingin menjadi masuk ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur yang pernah mereka temui.

Jadi, sesungguhnya mereka memiliki sosok teladan, sudah ada orang-orang baik yang bisa mereka jadikan contoh dalam mensyukuri nikmat Allah ﷻ. Tetapi mereka tidak mengindahkannya sampai datangnya hari itu.

🎥🎞️🎞️🎞️🎞️

Dari ayat ini bisa kita rasakan bagaimana kamera berpindah dari satu adegan, ke adegan lain.

Semuanya diawali dengan kamera yang menyoroti pemandangan lautan luas dari pinggir pelabuhan. Lalu kamera bergerak mengikuti orang-orang yang akan berangkat menaiki kapal. Lalu kapal itu berangkat.

Kemudian kamera itu merekam bagaimana orang-orang tersebut pergi menjauh perlahan bersama  dengan jalannya kapal itu. Dari pinggir pantai kamera itu bisa melihat bagaimana orang-orang bergembira di atas kapal itu.

🎞️🎞️

Lalu adegan berubah, kini kapal itu di tengah laut. Kamera berpindah dari pantai ke tengah laut. Namun posisinya masih agak jauh dari posisi kapal itu. Kamera itu bisa melihat kondisi sekitar kapal itu. Ia merekam ke arah atas, melihat bagaimana langit berubah menjadi gelap, awan-awan tebal bergumul di atas kapal itu. Lalu hujan dan angin badai turun dengan galaknya, menghempas-hempas kapal itu di tengah samudera.

Lalu kamera mengarah ke bawah, merekan bagaimana laut yang tadinya tenang kini menjadi ganas. Lalu kamera itu berputar merekam kondisi kapal itu dari berbagai arah, sudah berkali-kali kapal itu hampir terbalik karena ganasnya ombak dan angin.

Lalu sorotan kamera itu mencoba mendekati orang-orang yang ada di dalam kapal itu, ia merekan mimik ketakutan di wajah mereka. Namun tidak lama setelah itu ekspresi mereka berubah menjadi tenang, mereka terlihat fokus dengan pikiran mereka.

Kemudian kamera itu mencoba memasuki pikiran mereka, ia merekam bagaimana orang-orang tersebut berdoa kepada tuhannya.

🎞️🎞️

Demikianlah bagaimana Allah ﷻ menggambarkan peristiwa ini dengan baik bagaikan adegan sebuah film.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari Surat Yunus ayat ke-22 ini.

🎥🎞️🎞️🎞️🎞️

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Course > 06. Transitions in the Quran (39:13-46:20)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s