[VoB2021] Unconditional Love from The Anshar


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-205

Topik: Pearls from Al Baqarah

Selasa, 12 Januari 2021 

Materi VoB Hari ke-205 Pagi | Unconditional Love from The Anshar 

Ditulis oleh: Rizka Nurbaiti

#TuesdayAlBaqarahWeek30Part1

Part 1 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Pada pembahasan pekan lalu kita telah mengetahui tiga reaksi yang ditunjukkan orang-orang Mekah, ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan ajarannya. 

Pertama, adalah kelompok yang sangat mencintai Islam.🤎 

Kedua, adalah kelompok yang sangat membenci Islam.💔 

Ketiga, adalah kelompok yang menginginkan adanya kompromi di antara kedua kelompok sebelumnya.🎭 

🕌

Di kota Madinah juga terdapat 3 reaksi ketika Rasulullah ﷺ datang dan menyampaikan ajarannya. 

Apa sajakah ketiga reaksi itu? 

Reaksi yang pertama terdapat di dalam QS Al-Hasyr, 59:9 

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan… 

Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang Madinah yang berada di kelompok ini, mereka menyambut orang-orang Muhajirin dengan sangat hangat. 

Reaksi yang mereka tunjukkan ini merupakan hal yang tidak biasa. Karena umumnya orang-orang imigran tidak diterima baik oleh penduduk asli setempat. 

Namun berbeda dengan yang lain, orang-orang di dalam kelompok ini menyambut dengan sangat baik para imigran. 

Dan tidak hanya menyambut dengan baik saja, mereka juga memberikan rumah mereka kepada imigran tersebut. 

Mereka memberikan makanannya, bahkan di saat mereka kelaparan sekalipun. 

Mereka mendahulukan kebutuhan kaum Muhajirin dibandingkan dirinya sendiri. وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ (meskipun mereka juga kesusahan). 

Pada bagian awal QS Al-Hasyr ayat 9 Allah ﷻ  mengatakan: 

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَـٰنَ 

Ini adalah salah satu ungkapan indah yang terdapat di Al-Qur’an. Apa makna dari ungkapan ini? 

Allah ﷻ  says, “they made the perfect place for the muhajirun in their homes, just like they made a place for Allah in their hearts”. 

Allah ﷻ mengatakan bahwa, “mereka (orang-orang Anshar) memberikan tempat yang sempurna untuk orang-orang Muhajirin di rumah mereka, sama seperti mereka menempatkan Allah di hati mereka”. 

Allah ﷻ menyebutkan kelompok orang-orang Madinah tersebut dengan kata ‘anshar’ yang berarti ‘penolong’. What a beautiful name it is. 🤩 

Jadi, itu adalah reaksi yang ditunjukkan oleh kelompok pertama dari orang-orang Madinah yakni kaum Anshar. Mereka menunjukkan ‘Cinta tanpa syarat (Unconditional love)’. 

Cinta tanpa syarat ini dapat kita lihat juga dari perjuangan mereka pada perang Badar. Karena faktanya, Rasulullah ﷺ tidak meminta secara langsung kepada kaum Anshar untuk ikut perang Badar. 

Rasulullah ﷺ tidak memerintahkan orang-orang Anshar tersebut untuk ikut berperang bersamanya. Melainkan, beliau ﷺ hanya memerintahkan orang-orang Mekah yang memang telah mengorbankan segala yang mereka miliki, untuk ikut berperang bersamanya di perang Badar. 

Meski tidak ada perintah yang ditujukan langsung kepada mereka, namun saat beliau ﷺ menyampaikan tentang bahaya yang akan membayangi dan datang di waktu perang. Salah satu orang Anshar tersebut langsung bangkit dan mengajukan diri untuk ikut bersama beliau ﷺ. 

Dia  berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Janganlah engkau berfikir kita akan seperti pengikut Musa yang berkata, 

فَٱذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَـٰتِلَآ إِنَّا هَـٰهُنَا قَـٰعِدُونَ 

‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja’. (QS Al-Ma’idah, 5:24).” 

Jadi, salah seorang dari kaum Anshar tersebut mengatakan bahwa ia dan kelompoknya tidak akan melakukan pembangkangan seperti yang dilakukan para pengikut nabi Musa alaihissalam tersebut. 

“We are with you”. 

“Kami bersamamu”. 

Begitulah tanda cinta yang ditunjukkan oleh kaum Anshar kepada Rasulullah ﷺ dan kaum Muhajirin. 

Mereka dengan sukarela mengajukan dirinya sebagai volunteer yang berjuang di medan perang. Masyaa Allah. 

Lain halnya dengan para pemimpin komunitas Yahudi, mereka menunjukkan reaksi yang berlawanan dengan reaksi kaum Anshar. 

Bagaimanakah reaksi mereka? 

Bersambung in syaa Allaahu ta’aalaa ba’da zhuhur.

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Deeper Look > 2. Al-Baqarah > 05. Al-Baqarah (Ayah 9-12) – A Deeper Look (10:00-11:31)


Materi VoB Hari ke-205 Siang | Reaksi Kedua

Ditulis oleh: Rizka Nurbaiti

#TuesdayAlBaqarahWeek30Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Para pemimpin kaum Yahudi menunjukkan reaksi yang berlawanan dengan reaksi kaum Anshar. 

Reaksi mereka ini adalah reaksi kedua yang ditunjukkan orang-orang Madinah atas kedatangan Rasulullah ﷺ.

Para pemimpin orang-orang Yahudi tersebut memberikan khotbah yang berisi ajakan untuk melawan nabi Muhammad ﷺ. Dan mereka menentang nabi Muhammad ﷺ.

Selain itu, mereka juga berkonspirasi untuk melawan Rasulullah ﷺ bahkan dengan orang-orang Mekah sekalipun. 

Mereka melakukannya meski di saat itu telah ada perjanjian damai di Madinah.

Dengan kata lain, walaupun ada perjanjian damai bukan berarti ‘konflik ideologis’ di antara keduanya tidak ada. 

Sama halnya seperti yang terjadi di Amerika Serikat, atau di Indonesia saat ini. 

Kita dapat melihat bahwa ada pengurus gereja yang memiliki hubungan baik dengan anggota pengurus masjid.

Para pengurus gereja dapat menemui salah seorang pengurus masjid. Dan begitupun sebaliknya, para pengurus masjid dapat menemui pengurus gereja.

Sebagian pemimpin mereka berteman baik dengan pemimpin kita. 

Imam kita dengan pendeta mereka atau dengan rabi mereka dapat makan malam bersama. Itu tidak menjadi masalah.

Namun, hal tersebut bukan berarti tidak ada konflik antara kita dan mereka. Karena kita dan mereka memiliki ‘ideologis’ yang berbeda maka ‘konflik ideologis’ ini dapat muncul.

Misalnya, ada pendeta yang di setiap khotbahnya dia menyampaikan bahwa ‘islam adalah agama yang berasal dari syaitan’. Naudzubillahimindzalik

Kejadian tersebut bukanlah terjadi saat kita sedang berperang dengan mereka. Jadi konflik yang terjadi ini tidak terjadi secara fisik melalui peperangan, melainkan suatu ‘konflik ideologis’. 

‘Konflik ideologis’ ini jika terus berlanjut bisa berubah menjadi ‘pertempuran yang besar’, Jadi ‘pertempuran besar’ tidak dimulai dari sebuah ‘sebuah perang’ tapi dari ‘konflik ideologis’.

Hal yang sama terjadi di Mekah, bukan ?

Pertempuran hebat yang terjadi di Mekah tidak dimulai dari ‘sebuah perang’. Dan juga tidak dimulai dari ‘kekerasan fisik’. Melainkan dimulai dari ‘konflik ideologis’.

‘Konflik ideologis’ tersebut jika dibiarkan tumbuh, maka semakin lama akan semakin membesar. Dan kemudian ia akan berubah menjadi konflik fisik yang hebat yakni ‘perang atau pertempuran’.

Selanjutnya, kita membahas tentang ‘konflik ideologis’ di Madinah. 

Awalnya konflik di antara kelompok ini dengan Rasulullah ﷺ belum terjadi secara fisik (tidak ada peperangan). Namun secara ideologis. 

Para pemimpin komunitas Yahudi merupakan sebagian dari para  penentang Islam. Mereka menentang Islam karena mereka merasa Islam dapat mengancam otoritas mereka. 

Mereka juga melihat semakin berkurangnya jamaah mereka di hari Sabat (hari yang dikhususkan untuk beribadah oleh kaum Yahudi). Dan mereka melihat beberapa pengikutnya telah masuk Islam (menjadi muslim).

Oleh karena itu, mereka sangat menentang Islam. Menentang Rasulullah ﷺ dan ajaran yang beliau ﷺ sampaikan.

Kemudian kelompok yang ketiga, yaitu orang-orang yang masuk kategori menengah (middle category). 

Apa maksud dari middle category?

Bersambung in syaa Allaahu ta’aalaa ba’da ashar.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Deeper Look > 2. Al-Baqarah > 05. Al-Baqarah (Ayah 9-12) – A Deeper Look (11:31-13:13)


Materi VoB Hari ke-205 Sore | Reaksi Ketiga – The Middle Category 

Ditulis oleh: Rizka Nurbaiti

#TuesdayAlBaqarahWeek30Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Reaksi ketiga yang ditunjukkan penduduk Madinah atas kedatangan Rasulullah ﷺ  berasal dari orang-orang yang masuk kategori menengah (The middle category). 

Kategori menengah adalah kelompok yang termasuk ke dalam kedua kelompok sebelumnya. Mereka berada di tengah-tengah kedua kelompok sebelumnya tersebut.

Sebagian dari kategori menengah itu berasal dari Muslim, orang-orang yang sudah menerima Islam. Dan sebagiannya lagi merupakan bagian dari kaum Yahudi. 

Pada pembahasan kali ini Ustaz Nouman menjelaskan kategori ini dari golongan Muslim. Orang-orang muslim yang masuk dalam kelompok ini, merupakan Muslim (yang telah menerima Islam), namun mereka berbeda dengan kelompok yang pertama.

Muslim yang berada pada kelompok ini tidak sepenuhnya sadar akan konsekuensi menjadi Muslim. 

Mereka tidak mengetahui latar belakang terjadinya konflik antara kaum muslim dengan orang-orang Mekah seperti apa. 

Dan bahkan mereka tidak mengetahui alasan mereka menjadi muslim atau untuk apa mereka masuk islam yang sesungguhnya. Mereka tidak memahami hal tersebut.

Selain itu mereka juga tidak siap untuk memutus hubungan dengan keluarga mereka, dan teman-teman mereka yang menentang Islam.

Mereka tidak ingin hubungan bisnis yang mereka jalani dengan orang-orang di Mekah menjadi terhambat. 

Jadi, mereka enggan berpihak ke Islam, jika hal tersebut dapat merusak hubungan baik antara mereka dengan kerabatnya tersebut.

Mereka tidak bersedia mengorbankan hubungan mereka tersebut demi Islam. 

Apalagi jika mereka harus berperang. Itu adalah masalah besar buat mereka. Mereka jelas tidak bersedia melakukan hal itu.

Oleh karena itu, mereka merencanakan sesuatu untuk dapat menghindari hal-hal yang tidak mereka inginkan tersebut.

Mereka menyembunyikan penolakannya tersebut dengan kata-kata ‘perdamaian’. Mereka menyerukan perdamaian di antara kedua kelompok yang sebelumnya. Mereka berkata:

“Menurut saya Islam adalah agama yang damai, jadi kita harus melaksanakan ‘perdamaian’.”

“Kita seharusnya menemui dan berunding dengan mereka (para penentang Rasulullah ﷺ).

Mereka berkata demikian, padahal mereka tidak mengetahui kesalahan apa yang telah dilakukan para musuh Rasulullah ﷺ kepada beliau ﷺ  dan pengikutnya. Hingga akhirnya beliau ﷺ memberikan perintah untuk berperang.

Seakan mereka menganggap bahwa ‘peperangan’ adalah keinginan dari Rasulullah ﷺ. Mereka mengira bahwa Rasulullah ﷺ  yang menginginkan perang. Naudzubillahimindzalik.

Terlebih lagi saat persiapan perang Badar tersebut sedang berlangsung, tidak ada surat atau ayat Al-Qur’an yang turun.

Jadi, saat Rasulullah ﷺ  memerintahkan umat Islam untuk melakukan persiapan perang Badar, tidak ada satu ayat pun yang turun yang menjelaskan perintah tersebut.

Sehingga, mereka menggunakan hal ini sebagai alasan bahwa ‘perang’ adalah keinginan dari Rasulullah ﷺ , bukan berdasarkan perintah dari Allah ﷻ.

وَيَقُولُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَوْلَا نُزِّلَتْ سُورَةٌۭ ۖ فَإِذَآ أُنزِلَتْ سُورَةٌۭ مُّحْكَمَةٌۭ وَذُكِرَ فِيهَا ٱلْقِتَالُ ۙ رَأَيْتَ ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌۭ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ نَظَرَ ٱلْمَغْشِىِّ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْمَوْتِ ۖ فَأَوْلَىٰ لَهُمْ

Dan orang-orang yang beriman berkata: “Mengapa tiada diturunkan suatu surat?” Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan celakalah bagi mereka. 

(QS Muhammad, 47:20).

Pada ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai orang-orang yang beriman mereka menanyakan mengapa tidak ada surat yang turun sebagai perintah untuk berperang. 

Dan mereka berkata bahwa jika ada ayat Al-Qur’an yang turun dan memerintahkan untuk berperang, maka mereka akan ikut berperang.

Tapi karena tidak ada surat yang turun, maka mereka menganggap bahwa ‘perang’ hanyalah keinginan dari nabi Muhammad ﷺ saja.

Jadi mereka berkata, “Mengapa kita harus berperang tanpa adanya alasan yang jelas?”

Pernyataan mereka tersebut dijawab:

“Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan celakalah bagi mereka. (QS Muhammad, 47:20)

**

يُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟

Artinya: Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman…. (QS Al-Baqarah, 2:9)

Jika kita memperhatikan potongan ayat di atas, ada hal yang sepertinya hilang. Hal apakah itu?

insyaAllah berlanjut di pekan depan.

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Deeper Look > 2. Al-Baqarah > 05. Al-Baqarah (Ayah 9-12) – A Deeper Look (13:13-15:29)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s