[VoB2021] Memohon Hidayah-Nya dan Berjuang untuk Mendapatkannya


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-204

Topik: First Ayahs of Fatihah

Hari, tanggal: Senin, 11 Januari 2021

Materi VoB Hari ke-204 Pagi | Memohon Hidayah-Nya dan Berjuang untuk Mendapatkannya

Ditulis oleh: Heru Wibowo

#MondayAlFatihahWeek30Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Rabb dan huda adalah dua hal yang bersanding di banyak tempat di Qur’an. 

Sangat masuk akal, karena seorang hamba sepantasnya membutuhkan petunjuk. 

Juga, untuk memastikan hubungan antara Rabb dengan hamba-Nya.

Huda ada hubungannya dengan hadiya. Dalam bahasa Inggris, hadiya berarti gift. Dalam bahasa Indonesia hadiya berarti ‘hadiah’. Lebih mudah diingat karena sangat mirip.

Mari kita bayangkan dua hal yang kontras ini: seseorang yang tersesat, dan seseorang yang mendapat bimbingan. 

Di Arab, jika seseorang tersesat, dia tersesat di mana? Di gurun.

Jika kita tersesat di gurun, hadiah terbaik apa yang bisa kita dapatkan? Air? 

Bukan. Bukan itu. Yang kita butuhkan adalah lebih dari sekadar air. Yang kita butuhkan adalah petunjuk.

Mungkin ada yang menjatuhkan satu galon air buat kita. Tapi kita belum tentu sedang kehausan. Air tidak ada gunanya jika kita masih muter-muter aja di gurun tanpa tahu jalan keluarnya lewat mana.

Tapi jika ada yang memberi kita petunjuk, dia telah menyelamatkan hidup kita. Karena kita bisa segera pulang ke rumah. Bisa segera ketemu dengan keluarga kita. Juga, bisa minum air sepuasnya di rumah.

Garis penyelamat hidup kita (lifeline) saat kita tersesat adalah petunjuk (guidance). 

Ihdinash shiraathal mustaqiim. Kita meminta kepada Allah di setiap salat kita. Yang kita minta, petunjuk, adalah hadiah terbesar dalam hidup kita.

Pernahkah kita memperhatikan shalat kita sendiri? Pernahkah kita melakukan audit terhadap shalat kita? Terutama saat kita mengucapkan ihdinash shiraathal mustaqiim, apakah itu kita lakukan sambil lalu? 

Sikap seperti apa yang kita miliki saat kita mengucapkan ihdinash shiraathal mustaqiim di hadapan-Nya? 

“Hidupku baik-baik saja sih ya Allah. Serba berkecukupan. Aku dapat hidayah atau tidak, sepertinya hidupku tidak akan banyak berubah.”

Tidak mudah, atau, tidak selalu mudah, untuk menyikapi hidayah sebagai hadiah terbesar dari-Nya. 

Buat kita yang pernah merasakan berada dalam kesesatan, yang pernah menapaki jalan yang jauh melenceng dari jalan-Nya yang lurus, kita pernah berjanji pada diri sendiri bahwa kita tidak ingin berada dalam kesesatan itu lagi.

Hidayah itu begitu berharga. Hidayah itu begitu tak ternilai.

Dan hidayah itu beda dengan pengetahuan. Memiliki pengetahuan (having knowledge) itu beda dengan memiliki hidayah (having guidance).

Dan ada satu hal lagi yang perlu kita sadari perbedaannya: menjadi seorang muslim (being a muslim) dan memiliki hidayah (having guidance).

Saya seharusnya memahami dan mengingat kedua perbedaan ini. Anda juga seharusnya memahami dan mengingat kedua perbedaan ini.

Having Knowledge vs. Having Guidance

Kita bisa punya pengetahuan yang banyak tentang Al-Qur’an, tapi kita masih belum memiliki hidayah. Kita bisa menjadi seorang muslim, tapi kita masih belum memiliki hidayah.

Sekali mendapatkan petunjuk, maka petunjuk telah permanen bersemayam di dalam diri kita. Apakah seperti itu?

Tidak sama sekali.

Sebenarnya, ketika kita pernah mendapatkan petunjuk, petunjuk itu tidak datang sekali, lalu menetap selamanya bersama kita.

Ketika seseorang untuk pertama kalinya mengucapkan dua kalimat syahadat, dia telah mengambil langkah pertama dalam naungan bimbingan-Nya.

Setelah syahadat itu, di setiap momen kehidupannya, dia harus membuat serangkaian keputusan. Dia bisa membuat keputusan yang tepat, dia juga bisa membuat keputusan yang salah.

Di setiap saat dia mengambil keputusan itu, dia butuh nasihat. Dari Al-Fatihah kita belajar bahwa Allah siap untuk memberi nasihat kepada kita tanpa henti, setiap saat ada keputusan yang akan kita ambil. Ini adalah gagasan tentang mencari petunjuk Allah.

Setiap hari, setiap jam, setiap menit, ada pilihan-pilihan yang harus kita buat. Pilihan yang kita buat, bisa berada dalam tuntunan Allah (within Allah’s guidance), bisa juga di luar petunjuk Allah (beyond Allah’s guidance). 

Tuntunan dari Allah itulah panduan yang sebenarnya (actual guidance). 

Kita bisa tampak religius, mengenakan hijab yang syar’i, memelihara jenggot, membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang sempurna, punya ilmu yang luas di bidang fiqh atau syari’ah atau yang lain. 

Anda bisa jadi penceramah yang hebat di hadapan ribuan orang, mereka merekam apa yang Anda katakan, mereka berharap mendapatkan hidayah dari apa yang Anda katakan, tapi itu tidak berarti bahwa Anda mendapatkan petunjuk. 

Hanya Allah yang punya petunjuk, dan kita harus aktif meminta petunjuk kepada-Nya setiap hari, lagi dan lagi.

Tidak pernah ada satu titik, tidak ada satu saat dalam kehidupan kita, di mana kita begitu yakin, “Akhirnya aku telah mendapatkan petunjuk.” 

Islam, oke, kita telah memilikinya. 

Saat kita bangun tidur, dan tiba-tiba ada yang bertanya, “Apakah kamu Islam?” Kita boleh menjawab, “Alhamdulillah, saya Islam.”

Islam telah menjadi milik kita.

Pengetahuan, oke, kita bisa menyimpannya. 

Kita belajar sesuatu kemarin, kita masih bisa menyimpannya hari ini. Tidak ada masalah. Pengetahuan bahkan bisa kita tingkatkan. 

Tapi hidayah?

Hanya Allah yang bisa meningkatkannya untuk kita. Hanya Allah yang bisa menjaganya. Allah bisa memberikannya, juga bisa mencabutnya.

Saat kita tidak lagi menghargai pentingnya hidayah Allah, di saat itu pula Allah bisa mencabutnya dari diri kita.

Anda bisa menceritakan proses saat Anda pernah menerima hidayah. Anda bisa merasakan pengalaman saat Anda menerima hidayah-Nya. Salah satunya adalah dengan terkoneksinya Anda secara emosional dengan Allah di saat shalat.

Secara praktis, cara mengukurnya bagaimana?

Kita lanjutkan in syaa Allaahu ta’aalaa ba’da zhuhur.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV  / Quran / Deeper Look / 1. Al-Fatihah / 05. Al-Fatihah – A Deeper Look (26:32 – 30:00)


Materi VoB Hari ke-204 Siang | Permintaan yang Unik dan Dahsyat

Ditulis oleh: Heru Wibowo

#MondayAlFatihahWeek30Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Hidayah bisa ‘diukur’ dari seberapa bergetar hati kita dalam shalat kita, seberapa hanyut hati kita dalam do’a-do’a yang kita panjatkan, seberapa mesra percakapan yang terjalin saat Anda berduaan dengan-Nya.

Itulah ihdinaa

Sekarang kita lanjutkan dengan shiraathalmustaqiim.

Ihdinashshiraathal mustaqiim biasanya diterjemahkan menjadi guide us to the right path. Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Bahasa Arab memiliki banyak kata untuk ‘jalan’. Ada shirath, thariiq, fajj, sabiil, dan lain-lain. 

Secara khusus, shiraath berarti jalan yang lurus. Bukan jalan yang melengkung. Bukan jalan yang berbentuk kurva.

Shiraath juga memiliki arti jalan yang luas, atau jalan yang lebar. Banyak orang yang bisa masuk ke jalan itu.

Makna berikutnya: shiraath adalah sebuah jalan yang panjang. Bukan sebuah perjalanan yang singkat. Di atas shiraath, kita mengalami perjalanan yang panjang.

Itu adalah beberapa kualitas dari kata shiraath

Saat kita meminta Allah supaya diberi petunjuk, kita meminta Allah untuk berada di atas sebuah perjalanan, dan kita tahu bahwa perjalanan itu tidak berkelok-kelok.

Di shiraath, kita bisa melihat apa yang ada di depan kita. Kita bisa melihat etape kita selanjutnya apa. Tidak ada kebingungan. 

Dan akan ada orang-orang yang lain yang berada di atas jalan yang sama. Bersama kita.

Itulah jalan yang selalu kita minta kepada Allah. Kita ingin berada di atas jalan itu. Ada orang-orang yang posisinya di depan kita. Ada juga orang-orang yang posisinya di belakang kita. Di jalan itu.

Ada orang-orang yang awalnya berada di belakang kita. Kemudian mereka sudah berada di depan kita.

Sebaliknya, ada orang-orang yang awalnya berada di depan kita. Kemudian mereka selanjutnya berada di belakang kita.

Tapi itu semua oke. Yang penting kita masih berada di atas jalan itu. Kita terus maju. Kecepatan berjalan kita di jalan itu bukan sesuatu yang penting.

Ada yang sungguh luar biasa dalam bahasa Al-Qur’an di ayat ini. Kenapa bisa begitu?

Karena, normalnya, dalam hidup ini, kita tidak biasa meminta petunjuk untuk menuju ke sebuah ‘jalan’. Biasanya kita meminta petunjuk untuk menuju ke suatu ‘tempat’. 

Kita biasanya meminta petunjuk untuk menuju ke sebuah hotel, ke sekolah, ke pasar, ke universitas, ke rumah, ke tempat ibadah, ke bandara, atau ke tempat lain mana pun. Intinya, ke suatu titik di peta.

Tidak biasa kita mendengar orang yang meminta petunjuk untuk menuju ke jalan raya, atau ke jalan tol, atau ke suatu jalan apa pun.

Karena ‘jalan’ bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Kita tahu bahwa ‘jalan’ adalah cara atau jalur yang kita tempuh untuk menuju ke suatu tempat yang dituju.

Jadi terdengar sangat aneh ketika Allah mengajarkan kepada kita untuk meminta petunjuk-Nya: kita tidak meminta petunjuk-Nya untuk menuju ke sebuah titik tujuan.

Bukan guide us to jannah. Bukan ‘tunjukilah kami surga’. Bukan begitu. Kita tidak meminta petunjuk ke suatu tempat akhir kehidupan yang kita impikan.

Tapi kita minta kepada Allah untuk ditunjukkan arah ke ‘jalan’. Ya, ke ‘jalan’ itu sendiri. Sebuah permintaan yang sangat berbeda dan sangat unik. Sekaligus juga sangat dahsyat.

Mari kita pahami bahwa dalam hidup kita di dunia ini, tujuan akhir kita adalah ‘jalan’ itu. 

Artinya, dalam hidup ini, kita harus secara terus-menerus membuat kemajuan. Selama kita melangkah maju, berapa pun kecepatannya, kita telah membuat kemajuan. 

Jika tujuan kita dalam hidup ini adalah suatu tempat, atau suatu titik tertentu, yang bisa dicapai, maka setelah kita mencapai titik itu, kita bisa berhenti. Kita tidak perlu terus berusaha, karena kita telah mencapai titik itu.

Tapi karena kita meminta petunjuk ke sebuah ‘jalan’, maka kita tidak bisa berhenti di jalan itu. Kita terus melangkah maju.

Jadi hidup kita sebagai seorang muslim bukanlah menjadi manusia yang sempurna. Hidup kita bukanlah tentang mencapai sebuah tingkatan tertentu lalu kita menepuk dada, “Alhamdulillah saya sudah mencapai titik ini.”

Sebenarnya hidup kita adalah tentang proses yang terus-menerus, terus-menerus, terus-menerus, dan tentang melakukan perbaikan tanpa henti.

Ada orang yang berpikir negatif dan berkata dalam hati, “Aku sangat menyesali hidupku. Aku tidak pernah mendapatkan kesempurnaan.”

Apakah orang ini harus terus melangkah maju? Berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk menggapai kesempurnaan?

Kita lanjutkan in syaa Allaahu ta’ala ba’da Ashar.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV  / Quran / Deeper Look / 1. Al-Fatihah / 05. Al-Fatihah – A Deeper Look (30:00 – 33:35)


Materi VoB Hari ke-204 Sore | Pengetahuan Bukan Tujuan

Ditulis oleh: Heru Wibowo

#MondayAlFatihahWeek30Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Tidak perlu. Orang itu tidak perlu mengejar kesempurnaan. Orang itu hanya perlu melangkah maju. Dengan kecepatan alamiahnya.

Di titik ini, kita menyadari betapa Allah memberi kita hadiah yang luar biasa. Bayangkan jika kita harus mengejar titik tertentu. Akan ada orang-orang yang frustrasi dan merasa tak sanggup untuk mencapai titik itu.

“Lupakan! Lupakan saja! Lihatlah orang-orang yang hebat itu. Mana mungkin aku bisa mencapai apa yang mereka capai? Jauh sekali di depan sana. Terlalu jauh. Agama ini sepertinya bukan untukku.”

“Dia telah mencapai tujuan akhirnya. Luar biasa sekali!”

Bukan seperti itu seharusnya cara berpikir kita.

Setiap orang ada di atas jalan itu. Ada orang-orang yang berada di belakang kita, jauh di belakang kita. Ada orang-orang yang berada di depan kita, jauh di depan kita.

Ada beberapa orang yang melakukan pergerakan yang cepat. Ada beberapa lainnya yang pergerakannya lambat. Tapi itu tidak masalah selama mereka berada di atas ‘jalan’ itu.

Selama kita membuat kemajuan, kita baik-baik saja.

Pernahkah Anda berada di sebuah kelas, ada siswa yang duduk di sebelah Anda, mencatat ceramah ustaz, tapi siswa tadi menuliskan catatannya dalam bahasa Arab?

Apa perasaan Anda? 

Jika Anda adalah seorang pemula, yang belum memahami bahasa Arab, bahkan belum bisa membaca huruf Arab apalagi menuliskannya, mungkin Anda tiba-tiba merasa menjadi siswa yang bodoh. 😃😃

Anda sedang mendengarkan khotbah. Atau Anda sedang mendengarkan sebuah kajian. Dan setiap kali penceramah menyebutkan suatu ayat, orang yang di sebelah Anda fasih melanjutkan ayat itu. Persis dengan ayat lanjutan yang disampaikan sang penceramah pada saat yang sama.

Mulut Anda ternganga. “Wow!” Anda merasa bahwa diri Anda sebagai seorang muslim membutuhkan banyak perbaikan. 😃😃 Anda merasa tidak tahu apa-apa.

Anda mengikuti halaqah dan orang di sebelah Anda membaca Al-Qur’an begitu indahnya. Dan saat Anda giliran membaca, Anda bahkan seperti susah menarik napas. Anda membaca ayat-ayat-Nya dengan terbata-bata. 

Dengan bacaan Qur’an yang tersendat-sendat itu, Anda berpikir, “Mana mungkin aku bisa masuk surga?” Sementara itu Anda berpikir bahwa orang di samping Anda yang bacaan Qur’annya begitu indah, sudah pasti dia mendapatkan golden ticket ke surga. 😃😃

Itulah yang sering kita lakukan. Kita suka membandingkan diri kita dengan orang lain. 

Dan kita juga suka berpikir bahwa kalau ada orang yang punya pengetahuan agama yang lebih luas dari kita berarti dia pasti mendapatkan hidayah yang lebih banyak dari kita.

Itu namanya confusion. Itu namanya kita bingung sendiri karena tidak bisa membedakan antara pengetahuan dan hidayah. Dua hal yang berbeda.

Jadi, mari kita berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain. Yang perlu Anda bandingkan adalah: diri Anda saat ini dibandingkan diri Anda kemarin.

Yang perlu Anda tanyakan adalah: apakah Anda membuat kemajuan di atas ‘jalan’ itu atau tidak? 

Dan jangan pula kita membandingkan kecepatan langkah kita dengan kecepatan langkah orang lain. 

Fokuslah pada kecepatan Anda. Fokuslah pada apa yang Anda lakukan. Fokuslah pada perbaikan diri tanpa henti.

Allah tidak menciptakan semua manusia sama. Allah tidak menciptakan saya supaya saya bisa seperti Anda. Allah tidak menciptakan Anda supaya Anda bisa seperti saya.

Oke, kita mungkin bisa saling menginspirasi. Anda bisa memberi semangat kepada orang lain. Orang lain bisa memberi semangat kepada Anda. Tapi kita tidak bisa menjadi orang lain. Orang lain tidak bisa menjadi diri kita.

Dan jangan biarkan hal yang terburuk terjadi pada diri kita. Apa hal yang terburuk yang bisa terjadi itu?

Yaitu ketika kita awalnya ingin mencari hidayah. Dalam perjalanannya, kita ‘berubah’ dan mengejar pengetahuan. Kita ingin menguasai segalanya. Segalanya tentang Islam. Tidak ada masalah dengan pengetahuan yang bertambah, tapi sangat bermasalah jika kita berhenti mengejar hidayah. Itulah hal terburuk yang bisa kita alami.

Kejarlah pengetahuan. Tapi jangan pernah lupakan mengapa Anda mengejar pengetahuan. 

Pengetahuan bukanlah tujuannya. Hidayah adalah tujuannya.

Belajarlah lebih banyak. Tapi selalulah kembali kepada Allah, “Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah memampukan aku untuk mempelajari hal yang baru. Melalui pengetahuan itu, bimbinglah aku, berilah tambahan petunjuk kepadaku.”

Apa yang akan terjadi jika kita melupakan pengejaran hidayah sebagai tujuannya?

Kita lanjutkan pembahasannya in syaa Allaahu ta’aala minggu depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV  / Quran / Deeper Look / 1. Al-Fatihah / 05. Al-Fatihah – A Deeper Look (33:35 – 36:22)


Penutup

Semoga Allah terangkan, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.

Mohon do’akan kami agar bisa istiqomah untuk berbagi mutiara-mutiaraNya. 🙏

Jazakumullahu khairan 😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s