[VoB2021] Tidak Ada Social Distancing di Jahannam


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-195

Topik : Parenting

Sabtu, 02 Januari 2021

Materi VoB Hari ke-195 Pagi | Tidak Ada Social Distancing di Jahannam

Ditulis oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek28Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Allah tahu anak-anak yang seperti apa yang kita miliki. Iya, Allah memang Maha Mengetahui, tapi adakah ayat-Nya yang secara spesifik menyatakan hal itu?

Ada. Beberapa ayat berikut berasal dari surah Luqman dan kita akan segera bertemu dengan ayat itu.

Innallaaha ‘indahuu ‘ilmussaa’ah. Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat. 

Wayunazzilul ghaytsa. Dan sesungguhnya Allah yang menurunkan hujan. Waya’lamu maa fil arhaam. Dan sesungguhnya Allah tahu apa yang ada di dalam rahim.

Allah tahu apa yang ada di dalam perut seorang ibu. Apa saja. Fisiknya maupun jiwanya. Termasuk, jenis kepribadiannya seperti apa.

Wamaa tadrii nafsun maa dzaa taksibu ghadan. Tidak ada seorang pun yang mengetahui dengan pasti apa yang akan didapatkannya besok. 

Wamaa tadrii nafsun bi-ayyi ardhin tamuutu. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana, di tempat mana, dia akan mati.

Innallaaha ‘aliimun khabiir. Tidak ada keraguan lagi, Allah adalah ’Aliim, Maha Mengetahui, dan Dia Maha Mengenal (QS Luqman, 31:34).

Dengan kata lain, siapa yang lahir di mana, siapa yang mati di mana, itu terserah Allah. Tidak ada yang dapat mengetahuinya secara pasti.

Di Hari Penghakiman, akan ada pemandangan Jahannam. Jahannam akan penuh sesak. Tidak ada social distancing di Jahannam. 

Sementara itu, Jannah dilukiskan sebagai sesuatu yang waasi’. Luas dan tak berujung (vast and endless). 

Jannah yang sangat luas dan Jahannam yang penuh sesak. Tidak ada ruang yang tersisa (no space) di Jahannam.

Haadzaa fawjun muqtahimun ma’akum. Mereka berdesak-desakan di Jahannam. Laa marhaban bihim. Tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka. Tidak ada penyambutan buat mereka. They’re not welcomed

Innahum shaalunnaar. Sesungguhnya mereka akan masuk neraka (QS Shad, 38:59)

Qaaluu bal antum laa marhaban bikum. Para pengikut mereka menjawab, “Sebenarnya kamulah yang lebih pantas untuk tidak menerima ucapan selamat datang.” (QS Shad, 38:60)

Ini adalah sebuah cerita menarik. Semoga hanya berhenti sebagai sebuah cerita dan kita tidak mengalaminya. Semoga Allah menjauhkan kita dari neraka sejauh-jauhnya.

Cerita tentang penghuni neraka dari dua generasi yang berbeda. Generasi pendahulu sudah mendekam di neraka. Generasi berikutnya dilempar ke neraka di atas generasi pendahulu. 

Generasi yang lebih tua bilang, ”Laa marhaban bihim”. Tidak ada ucapan selamat datang untuk generasi yang baru, generasi yang tidak diinginkan. Tidak ada ruang yang tersisa lagi di neraka.

Generasi yang baru menyangkal dengan mengatakan bahwa generasi pendahululah yang lebih pantas untuk tidak menerima ucapan selamat datang.

Antum qaddamtumuuhu lanaa. Fabi’sal qaraar. Generasi yang baru bilang bahwa generasi pendahulu, yang sudah lebih dulu mendekam di neraka, adalah alasan mengapa generasi yang baru juga ikut dijebloskan masuk neraka.

Sudah panasnya nggak kira-kira, saling berhimpitan dan berdesakan, masih ditambah lagi generasi baru yang bikin makin sesak. Benar-benar tempat yang tidak enak dan mengerikan. 

Qaaluu rabbanaa man qaddama lanaa haadzaa fazidhu ‘adzaaban dhi’fan finnaar (QS Shad, 38:61). 

Mereka bilang, “Ya Allah, siapa pun yang datang sebelum kami ke tempat ini, siapa pun yang menjadi alasan kenapa kami ada di sini, mereka tidak membesarkan kami dengan baik, sehingga kami juga menjadi generasi yang amburadul, siapa pun mereka, tolong perberat hukuman mereka. Hukumlah mereka dengan hukuman yang lebih berat dua kali lipat.”

Allahumma laa taj’alnaa min ash-haabinnaar. 🙇🙇

Allah menegaskan, ”Lan tanfa’akum arhaamukum walaa awlaadukum yawmal qiyaamati.” Kaum kerabatmu dan anak-anakmu tidak akan bermanfaat bagimu pada hari Kiamat (QS Al-Mumtahanah, 60:3)

Yafsilu baynakum. Allah akan memisahkan antara kerabat dan anak-anak dan kita. Wallaahu bimaa ta’maluuna bashiir. Allah Maha Melihat (Allah is in full view) apa yang kamu kerjakan, apa yang kita kerjakan.

Ada sebuah kutipan dari sebuah ayat yang sangat terkenal, ”Yawma yafirrul mar’u min akhiih.” Pada hari itu manusia lari dari saudaranya (QS ‘Abasa, 80:34).

Wa ummihii wa abiihi. Tidak cukup sampai di situ. Manusia juga lari dari ibu dan bapaknya. Human is also running away from his mom and his dad

Washaahibatihii wabaniihi. Lagi-lagi tidak cukup sampai di situ. Manusia juga lari dari istri dan anak-anaknya. 

Allah tidak mengatakan zawjihii atau imro-atihii. Zawjihi artinya istri. Imro-atihi artinya istri. Shaahibatihii artinya istri yang dia cintai. Istri yang suaminya ingin berlama-lama dengannya. Istri yang suaminya tidak ingin meninggalkannya sendirian.

Shaahibatihii adalah istri yang sangat-sangat dicintai oleh suaminya. Sulit sekali bagi sang suami untuk meninggalkannya. Tapi di hari itu, sang suami lari darinya.

Apakah masih ada lagi gambaran yang sungguh berat tentang Hari Penghakiman?

Insya Allah deskripsinya akan disampaikan ba’da zhuhur.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 13. We and Our Children Part 2 – Parenting (03:15 – 06:50)

💎💎💎💎💎


Materi VoB Hari ke-195 Siang | Dari Awal yang Sama, Kembali Sama

Ditulis oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek28Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Deskripsi yang teramat berat tentang Hari Penghakiman ada di suratul Hajj. Teramat berat buat orang tua.

Yawma tarawnahaa. Hari ketika kamu melihatnya. Melihat guncangan itu. Tadz-halu kullu murdhi’zatin ‘ammaa ardha’at. Semua ibu yang menyusui anaknya. Anaknya yang masih bayi. Bukan anaknya yang sudah berusia 20 tahun.

Bukan anaknya yang sudah mandiri. Tapi anaknya yang masih sangat membutuhkan nutrisi dari air susu ibu. Dan ibu itu sedang menyusui bayinya. 

Tadz-halu kullu murdhi’atin ‘ammaa ardha’at. Setiap ibu yang sedang menyusui harus menjatuhkan apa pun yang harus dia jatuhkan. 

Every feeding mother has to drop whatever she has to drop. Menjatuhkan apa pun yang dia pegang. Termasuk bayi yang sedang menikmati air susunya. 

Sebuah gambaran tentang hari Kiamat yang teramat berat. 

Tadz-halu artinya seakan-akan menjatuhkan bayi itu sesuatu yang refleks. Tidak direncanakan. Terjadi secara otomatis begitu saja. Seakan-akan yang dijatuhkannya bukan bayi. Atau bahkan, seakan-akan bayi itu tidak pernah ada.

’Ammaa ardha’at artinya she doesn’t even know what she’s holding in her hands. Dia bahkan tidak tahu apa yang sedang dia pegang di tangannya.

Hari Penghakiman datang dan mendadak sontak dia menjatuhkan bayinya seakan-akan she doesn’t even know it. Seakan-akan sang ibu bahkan tidak tahu bahwa yang dijatuhkan adalah bayinya.

Pernahkah Anda melihat seorang ibu, atau bahkan mengalaminya sendiri, menjatuhkan bayi tanpa sengaja? Meski bayi itu jatuhnya masih di kasur atau di bantal, apa reaksi Anda?

Seorang ibu atau seorang baby sitter yang amat sayang akan bayinya, pasti akan terkejut dan sedikit panik. Khawatir akan apa yang terjadi pada si bayi.

Perasaannya menjadi tidak keruan. Apakah bayinya masih sehat seratus persen. Tidak akan ada gejala atau gangguan yang akan mengganggu kesehatannya akibat jatuhnya bayi tadi? Itulah kira-kira yang akan dirasakan sang ibu.

Kadang-kadang ada seorang ayah yang mengayun-ayunkan bayinya. Ke kiri dan ke kanan. Ke atas dan ke bawah. Kadang ada yang agak sensasional: diayun ke atas, dilepas sebentar, lalu ditangkap lagi.

Sang ibu yang melihat itu kadang berteriak, ”Stop, stop, stop!” Sang ibu harus segera menghentikan aksi akrobatik seperti itu. Takut bayinya kenapa-napa.

Takut punggung bayinya kenapa-napa. Takut leher bayinya kenapa-napa. Takut otak bayinya kenapa-napa. Atau jangan-jangan ada kelainan yang tak disangka.

Sang ibu buru-buru merengkuh bayinya dari sang ayah yang dianggap sembrono. Bayinya mungkin ketawa-ketawa tapi hati sang ibu berdegup kencang.

Tapi di Hari Penghakiman, seorang ibu yang sedang menyusui anaknya yang masih bayi, tiba-tiba menjatuhkannya. 

Al-Qur’an tidak membatasi ilustrasi ini pada manusia saja. Tapi juga pada hewan. Hewan apa pun yang sedang menyusui anaknya.

Anything that feeds. Apa pun yang sedang menyusui atau sedang ngasih makan anak bayinya. Seketika akan dijatuhkan anak bayinya itu.

’Ammaa ardha’at watadha’u kullu dzaati hamlin hamlahaa. And every pregnant creature will have an early delivery. Dan setiap makhluk yang hamil akan melahirkan lebih awal. Kelahiran prematur karena ‘tekanan’ di hari itu. Atau ada yang mengartikan mengalami keguguran kandungan.

Watarannaasa sukaaraa. Dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk. Orang-orang nampak berjalan dan terlihat mabuk. 

Wamaa hum bisukaaraa. Padahal sebenarnya mereka tidak sedang mabuk sama sekali. 

Walaakinna ‘adzaaballaahi syadiid. The punishment of Allah is really intense. Hukuman Allah sangat berat (QS Al-Hajj, 22:2).

Hari Penghakiman adalah hari di mana semua hubungan relasi, hubungan kekerabatan, hubungan keluarga, hubungan kasih sayang antara manusia, semuanya sirna.

Hari Penghakiman adalah hari di mana kita semua, manusia dan bahkan hewan, berada di titik yang paling sederhana: makhluk ciptaan Allah.

Hari Penghakiman adalah hari yang membuat ingatan kita melayang ke momen di mana makhluk-makhluk mulai diciptakan.

Saat kita semua ‘dimulai’, Allah menciptakan arwaah. Dari tulang sulbi Nabi Adam ’alayhis salaam yang dilukiskan di suratul A’raaf. 

Kita semua sebenarnya diciptakan pada saat yang sama. Arwaah kita semua diciptakan pada saat yang sama. Hanya tubuh kita saja yang usianya berbeda.

Dan kita dilahirkan dari pasangan ayah dan ibu yang berbeda. Kecuali, tentu saja, jika di antara kita ada yang saudara sekandung.

Tapi secara spiritual, kita semua adalah sama. Secara spiritual, arwaah kita semua diciptakan pada saat yang sama.

Dan di Hari Penghakiman, kita semua menjadi sama kembali. Semua hubungan kekerabatan itu akan hilang. Semuanya menjadi sama kembali. Dan kemudian insya Allah kita akan masuk surga.

Subhaanallaah. What an amazing reality! Sungguh suatu kenyataan yang menakjubkan! Sangat menakjubkan untuk manusia seperti kita. Kenyataan tentang apa yang akan terjadi di Hari Penghakiman.

Segala penggambaran tentang Hari Penghakiman ini, apa sebenarnya intinya?

Insya Allah kita bahas ba’da ‘ashar.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 13. We and Our Children Part 2 – Parenting (06:50 – 09:56)

💎💎💎💎💎


Materi VoB Hari ke-195 Sore | Perjalanan dalam Kesendirian: Sebuah Keniscayaan di Masa Depan

Ditulis oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek28Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Sebenarnya inti dari semua penggambaran tentang Hari Penghakiman di part sebelumnya adalah ini: Hari Kiamat adalah hari di mana tidak ada seorang pun yang berada bersama dengan keluarganya.

Hal ini penting untuk kita ketahui. Mengapa?

Pernah anak Anda mengikuti suatu perjalanan? Ustaz sendiri, pernah. Maksudnya, anak beliau pernah mengikuti sebuah perjalanan.

Sulit untuk melakukannya. Sulit untuk berpisah dengan anak kita. Sulit untuk membiarkan anak kita harus melakukan perjalanan dengan teman-temannya, tanpa kita, sebagai orang tua, ikut serta.

Ada banyak hal yang harus dilakukan. Ini dan itu. Orang tua kadang ikut survei juga. Memastikan panitia dari sekolah sudah memikirkan segala sesuatunya. 

Keamanan, kesehatan, makanan, jadwal salat, orang tua cek ‘n ricek semuanya. Orang tua juga harus menandatangani sebuah formulir yang intinya mengizinkan anaknya mengikuti perjalanan itu. 

Kadang kalau perjalanannya terlalu jauh, orang tua bisa mengeluarkan ‘hak veto’. ”Nope! You’re not going!” Orang tua langsung menjatuhkan putusan: tidak mengizinkan anaknya ikut serta.

“Kamu nanti sendirian malam harinya? Nggak bisa! Ayah tidak izinin kamu. Ayah tidak akan izinin kamu menginap di sana tanpa ibu bersamamu! Tidak ada cara lain kecuali ayah dan ibu ikut menginap di sana juga!”

Itu adalah contoh perjalanan di dunia. Yang dialami oleh sebuah keluarga. Perjalanan yang sering dilakukan bersama-sama oleh sebuah keluarga.

Tapi ada sebuah perjalanan, di mana masing-masing dari kita, entah kita sebagai orang tua, sebagai suami atau istri, maupun sebagai anak, akan melaluinya sendirian. Tanpa anggota keluarga satu pun juga.

Menurut pendapat Anda, pentingkah kita menyiapkan diri kita sendiri, dan juga setiap anggota keluarga kita, untuk menghadapi perjalanan seorang diri.

Hari Kiamat adalah hari di mana setiap orang mengalami a lonely trip. Masing-masing dari kita akan mengalami sebuah perjalanan yang ‘sepi’. Tanpa siapa pun di sisi.

Anak-anak kita harus tahu bahwa mereka akan mengalami perjalanan itu. Pada perjalanan itu, mereka harus mengandalkan diri mereka sendiri.

Kalau ada apa-apa, kalau kenapa-kenapa, tidak akan ada bantuan dari orang tua maupun anggota keluarga. Satu-satunya bantuan yang bisa dia andalkan adalah dari Allah ’azza wajalla. 

I will not be able to help you at all!” Ustaz menasihati putra-putrinya. Sebagai seorang ayah, ustaz tidak akan mampu menolong putra-putrinya di Hari Kiamat. Mereka akan ‘berjuang’ sendirian.

And I hope you make it. If you make it we can be reunited again”. Jika putra-putri ustaz berhasil dalam perjuangan mereka, dalam perjalanan kesendirian mereka, insya Allah mereka bisa bertemu keluarga kembali di surga.

Tapi saat mereka melakukan perjalanan yang sepi sendiri itu, ustaz tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa buat mereka. Dan mereka pun tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa untuk ustaz.

Itu adalah realitas Hari Kiamat. Itu adalah realitas yang harus kita tanamkan (instill) dan ingatkan (remind) kepada anak-anak kita, lagi dan lagi.

Mengapa ini begitu penting?

Karena ada satu hal yang luar biasa yang akan terjadi di Hari Penghakiman. Ada fakta yang luar biasa yang akan terjadi di hari itu.

Yaitu bahwa Hari Penghakiman itu mudah kita yakini. Tidak sulit buat kita, orang yang beriman, untuk meyakini adanya Hari Penghakiman.

Tapi sangat sulit buat kita untuk mengingatnya. Untuk senantiasa mengingatnya. Di setiap saat jantung kita berdetak. Lebih mudah kita teralihkan oleh hal yang lain. Sehingga kita pun mudah melupakannya.

Hari Penghakiman. Mudah meyakininya. Mudah melupakannya.

Dan orang-orang yang meyakini Hari Penghakiman, perilaku mereka dalam kehidupan tidak mencerminkan bahwa mereka selalu mengingat Hari Kiamat.

Jika orang-orang itu sungguh-sungguh selalu mengingat Hari Penghakiman, di setiap detik kehidupan mereka, perilaku mereka pasti berubah. 

Tapi orang-orang yang ‘hanya’ meyakini Hari Penghakiman, perilaku mereka masih dipertanyakan. Mereka sekadar ‘pernah’ meyakini, dan itu membuat mereka mudah melupakan.

“Apakah Anda yakin dengan Hari Penghakiman?”

“Ya, pasti. Tidak perlu ditanyakan lagi. Saya sangat yakin dengan Hari Penghakiman.”

Orang bisa menjawab seperti itu. Seratus persen yakin. Bahkan seribu persen yakin. Tapi nyatanya, perilakunya tidak berubah. Perilakunya justru mencerminkan bahwa dia melupakan keyakinannya itu.

Jika perilaku Anda ingin berubah, jika perilaku anak-anak Anda ingin berubah, Anda dan anak-anak Anda harus secara aktif diingatkan terus-menerus akan Hari Penghakiman. 

Meyakini saja, atau pernah meyakini, itu tidak cukup. Kita harus aktif mengingatkan diri kita. Kita harus aktif mengingatkan keluarga kita.

Ada pembuktian terbesar mengapa kita harus aktif mengingatkan diri kita akan Hari Penghakiman. Pembuktian terbesar itu ada di Al-Qur’an.

Quran is the most eloquent speech of Allah. Quran adalah firman Allah yang paling ‘fasih’, paling mengesankan, paling penuh perasaan.

Tidak ada kata-kata yang lebih baik dari firman Allah di Al-Qur’an. 

Topik yang sangat sering diulang-ulang di Al-Qur’an adalah Hari Penghakiman. Mungkin hampir tidak ada satu halaman pun di Al-Qur’an yang terlewat tanpa menyinggung Hari Penghakiman.

Al-Qur’an penuh sesak dengan pernyataan yang merujuk pada suatu hari yang pasti akan datang, tentang suatu hari yang akan berubah menjadi fakta saat kita berada di dalamnya.

Al-Qur’an berisi halaman-halaman yang tidak melewatkan referensi akan suatu hari di mana semua amal kita diperhitungkan dengan adil. It’s almost impossible, hampir tidak mungkin, halaman-halaman Al-Qur’an melewatkan pembahasan tentang Hari Penghakiman.

Mengapa Allah mengulanginya, mengulanginya lagi, mengulangi begitu banyak, menyebutkan atau menyinggung Hari Penghakiman secara berulang-ulang?

Karena manusia melupakannya, melupakannya lagi, melupakannya begitu sering, melupakan Hari Penghakiman begitu sering dan berulang-ulang.

Setiap kali Allah mengingatkan kita tentang takwa, ketakwaan itu tidak lepas dari ketakwaan akan Hari Kiamat. Kita berusaha, dengan pertolongan Allah, menghindarkan diri dari dosa, sekarang, sehingga kita tidak perlu kewalahan memberikan jawaban di masa nanti.

Setiap kali Allah membahas soal good deeds and bad deeds, perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk, tautannya adalah dengan Hari Penghakiman.

Inilah dia pembuktian terbesar itu: wakulluhum aatiihi yawmal qiyaamati fardan. Dan setiap orang akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada Hari Kiamat (QS Maryam, 19:95).

Lalu ada wa in minkum illaa waariduhaa. Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak melewati Jahannam (QS Maryam, 19:71).

Ya Allah, luar biasa ayat ini!

Tidak saja kita harus mempersiapkan diri kita dan anak-anak kita untuk menghadapi Hari Penghakiman. Di mana masing-masing kita dan anak-anak kita akan sendirian menghadapinya. 

Tapi kita juga harus mempersiapkan diri kita dan anak-anak kita, karena seperti yang Allah tegaskan, tidak ada seorang pun dari kita dan anak-anak kita yang tidak melewati Jahannam. 

Setiap orang harus melewati Jahannam. Tidak ada perkecualian. Surat Maryam menegaskannya. In minkum illaa wariduhaa. Anda pun harus melewatinya.

That’s it. Itu saja. Itulah masalah utamanya. Itulah fakta yang akan kita hadapi nanti. Itulah kesulitan yang akan kita alami.

Kita harus menyeberanginya sebelum insya Allah kita masuk ke Jannah. 

Tapi mengapa Allah harus membuat skenario seperti itu? Mengapa Allah tidak mengambil jalan yang sederhana saja? Mengapa Allah tidak membuat kita langsung ke surga saja? Tanpa harus menyeberangi neraka segala?

Allah merencanakan ini supaya kita paham kita terhindar dari apa. Allah mendidik kita supaya kita paham betul bagaimana rasanya terlepas dari siksa api neraka.

Jannah itu sendiri rasanya tiada tara. 

Bayangkan sebuah hari yang panas. Suhu udara 40 hingga 50 derajat. Tapi Anda tetap merasa adem. Karena Anda berada di ruang dengan pendingin udara.

Tapi ketika listrik mati, sehingga AC mati, keadaan berubah. Anda mulai merasakan panas. Keringat Anda mulai bermunculan. Bahkan tak lama kemudian, bercucuran.

Anda berjalan ke arah pintu. Berharap ada angin sepoi-sepoi di luar sehingga Anda tidak lagi kepanasan. Tapi ternyata suhu udara luar malah jauh lebih panas lagi.

Anda kembali masuk ke ruangan. Masih lebih enak di dalam ruangan Anda daripada di luar. Anda kini berhenti mengeluh. Alhamdulillah listriknya nyala kembali. Alhamdulillah AC ruangan hidup lagi.

Jannah itu amazing. Luar biasa nikmatnya. 

Tapi bahkan yang lebih luar biasa lagi adalah ketika kita menyadari kita telah terhindar dari apa. Tidak masuk neraka, dan berhasil melewatinya, adalah lebih luar biasa.

Setiap manusia harus mengalaminya. Melewati neraka adalah pengalaman masa depan kita. Tidak ada satu pun dari kita yang tidak mengalami itu.

Luar biasa cara Allah mendidik kita, mengajar kita untuk mengapresiasi, kita telah selamat dari apa. Tanpa pengalaman melewati Jahannam, kita tidak pernah memberikan apresiasi yang pantas kepada Allah.

Betapa celakanya jika kita jatuh ke jurang neraka.

Betapa celakanya jika Allah tidak menyelamatkan kita.

Semoga Allah menyelamatkan kita saat melewati Jahannam. 

Dan setiap kita, setiap anak-anak kita, saat mereka mencapai usia dewasa dan sebelum mereka meninggal, mereka harus paham bahwa mereka akan berjalan di atas titian menyeberangi Jahannam.

Kita akan menyeberanginya. Anak-anak kita akan menyeberanginya. Itu pasti akan terjadi. Itu adalah fakta masa depan kita. Yang penting adalah bersiap untuk menghadapinya.

Bersiap dengan amal-amal kita. Tentu saja, yang kita persiapkan bukan hanya diri kita, tapi juga keluarga kita. Termasuk anak-anak kita.

Itulah kenapa ustaz menyampaikan hal ini. Saking pentingnya urusan ini. Setiap orang tua harus terlibat dalam percakapan yang aktif dengan anak-anaknya. 

Untuk memastikan keyakinan akan Hari Penghakiman yang tak pernah luntur. Untuk tak pernah bosan atau berhenti mengingatkan secara berulang. Sebagaimana Al-Qur’an melakukannya.

Alhamdulillah topik ini sudah selesai dan minggu depan kita masuk ke topik psikologi parenting insya Allah.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 13. We and Our Children Part 2 – Parenting (09:56 – 14:42)[End]


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s