[VoB2021] Orang-orang yang Menolak Ayat-ayat Allah Seperti Kaum Fir’aun


بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-192

Topik: Pearls of Ali Imran

Rabu, 30 Desember 2020 

Materi VoB Hari ke-192 Pagi | Orang-orang yang Menolak Ayat-Ayat Allah Adalah Seperti Kaum Fir’aun

#WednesdayAliImranWeek28Part1 

Part 1

———————————————–

بسم الله الرحمن الرحيم 

Allah ﷻ sangat berat siksa-Nya kepada kejahatan yang seperti itu. Kejahatan yang seperti apa? Yaitu menolak ayat dan wahyu-wahyu Allah ﷻ. Ditambah lagi menyebut ayat Allah itu bohong dan tipuan. 

Dan tentu saja, Fir’aun adalah kasus dan contoh klasik dari penolakan ayat-ayat Allah, karena sudah banyak sekali ayat yang sampai kepada Fir’aun, ayat-ayat yang jelas dan menjelaskan, satu demi satu. 

Bahkan ketika tanda-tandanya sudah sangat jelas bahwa kalimat-kalimat yang digunakan dalam wahyu itu hanya mungkin datang dari Allah ﷻ , tapi Fir’aun tetap menolaknya. Padahal faktanya, jenderal-jenderal Firaun sudah siap menerima ayat-ayat Allah. 

Di sisi lain, kaum Bani Israil datang kepada Musa tanpa memberi tahu Fir’aun, dan mengatakan kepada Musa, “Silakan kamu berdoa saja kepada Rabbmu, jangan menyampaikan ayat-ayat kepada kami, sudah cukup. Kami merasa tidak butuh.” 

“Walaupun ayat-ayat sudah datang kepadamu, dan kamu bilang akan ada bencana besar yang akan datang kepada kami – jika kamu cuma ingin berdoa kepada Rabbmu, kami akan membiarkan kamu pergi, kamu bisa pergi sekarang. Kami tidak butuh kamu lagi.” 

Begitulah kondisi saat Bani Israil didakwahi oleh Nabi Musa a.s. 

Padahal seperti yang Allah telah firmankan dalam Al-Qur’an, bahwa salah satu tujuan ayat-ayat Al-Qur’an disampaikan adalah “agar mereka merendahkan hati”. 

Kaum Quraisy telah disampaikan ayat-ayat Allah, bahkan diancam dengan bencana ‘dukhan’ (red smoke) yang akan menutup seluruh kota Mekah. Kita akan menganggap bahwa itu azab yang menakutkan. Oleh karena itu dalam ayat 11, kondisi kaum Quraisy sama seperti kondisi Bani Israil.

كَدَأْبِ اٰلِ فِرْعَوْنَۙ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاَخَذَهُمُ اللّٰهُ بِذُنُوْبِهِمْ ۗ وَاللّٰهُ شَدِيْدُ الْعِقَابِ 

“(Keadaan mereka) seperti keadaan pengikut Fir’aun dan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Allah sangat berat hukuman-Nya.” (QS Ali Imran 3:11)

Nah, ayat yang sejenis dengan ayat ini sebenarnya juga disampaikan kepada Bani Israil oleh Nabi Musa a.s. Ayat-ayat ini sudah sampai kepada mereka, tapi tidak mampu dan tidak cukup membuat mereka merendahkan hati mereka.  

Maka Allah ﷻ selanjutnya berfirman dalam Al-Qur’an, 

قُلْ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَتُغْلَبُوْنَ وَتُحْشَرُوْنَ اِلٰى جَهَنَّمَ ۗ وَبِئْسَ الْمِهَاد 

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir, “Kamu (pasti) akan dikalahkan dan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS Ali Imran 3:12) 

Jadi ada dua janji Allah ﷻ di sini, pertama, kamu (orang-orang kafir) akan kalah di sini (di dunia ini), dan kamu juga akan kalah di sana (di akhirat). 

Nah, ingatkah, siapa yang berkonspirasi dengan Kaum Quraisy di Madinah? 

Orang-orang Yahudi. 

Waktu itu, Nabi Muhammad ﷺ sudah tidak berada di Mekah. 

———————————————–

Bersambung insya Allah di Part 2. 😊 

Sumber: 

Bayyinah TV – Surahs – Deeper Look – Ali Imran – 04. Ali Imran – Ayah 10-13 Ramadan 2018 (0:36:21-38:18) 

****


Materi VoB Hari ke-192 Siang | Perbedaan Karakter Nabi Muhammad ﷺ dengan Karakter Firman Allah ﷻ

Oleh: Nurfitri Anbarsanti

#WednesdayAliImranWeek28Part2

Part 2

———————————————–

بسم الله الرحمن الرحيم

Nah, ingatkah, siapa yang berkonspirasi dengan Kaum Quraisy di Madinah? 

Orang-orang Yahudi.

Saat itu, Nabi Muhammad ﷺ sudah tidak berada di Mekah. Dan saat itu juga, Allah ﷻ menurunkan wahyu yang tercantum dalam Al-Qur’an di Ali Imran ayat 12, pada saat itu

قُلْ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا

Katakanlah kepada orang-orang yang tidak percaya”

Ini bukan berarti Nabi Muhammad ﷺ harus pergi dari Madinah ke Mekah untuk menyampaikan ayat tersebut kepada kaum kafir Quraisy. Lalu ayat ini ditujukan kepada siapa?

Tentu saja orang-orang Anshar di Madinah akan heran, mengapa mereka disebut orang-orang kafir, padahal mereka sudah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya? 

Ternyata, ayat ini mengabarkan kepada Nabi Muhammad ﷺ bahwa ada yang melakukan konspirasi dan pengkhianatan di antara orang-orang komunitas ‘dalam’ Madinah. 

Dengan perkataan, قُلْ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَتُغْلَبُوْنَ وَتُحْشَرُوْنَ اِلٰى جَهَنَّم , bisa kita perhatikan bahwa sebenarnya Allah ﷻ bisa saja mengatakan langsung kepada mereka (orang-orang kafir) dengan bahasa seperti ini, “Wahai orang-orang kafir, Kamu (pasti) akan dikalahkan dan digiring ke dalam neraka Jahanam”.

Allah bisa saja kan berfirman ini dengan bahasa yang langsung kepada orang-orang yang dituju. 

Namun, siapakah yang Allah ﷻ tunjuk sebagai juru bicara? Nabi Muhammad ﷺ. Kenapa? 

Karena di Ali Imran ayat 3, terdapat:

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتٰب

Juga di Ali Imran ayat 7, terdapat:

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰب

Kitab ini diturunkan kepadamu”.

“Dialah yang menurunkan kepadamu Kitab”

‘Mu‘ di sini adalah Nabi Muhammad ﷺ (dan yang mengikutinya dengan baik). Maka kamu (Nabi Muhammad ﷺ dan yang mengikutinya dengan baik) kamu harus mengatakan kepada mereka. Kamu harus maju dan bicara pada mereka.

Inilah masalah mereka. Mereka tidak mempermasalahkan Allah ﷻ, tapi mereka mempermasalahkan kenapa Nabi ﷺ itu berasal dari orang Arab? Kenapa harus ada orang yang ‘spesial’ bergelar Nabi? Ya, masalah mereka adalah dalam mempercayai bahwa Muhammad – yang juga adalah seorang manusia – adalah Rasulullah ﷻ. 

Oleh karena itulah Allah ﷻ berfirman mengenai hal ini di ayat-ayat pertama Ali Imran, dan juga di ayat 12, 

قُلْ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَتُغْلَبُوْنَ وَتُحْشَرُوْنَ اِلٰى جَهَنَّمَ ۗ وَبِئْسَ الْمِهَاد

Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang kafir, “Kamu (pasti) akan dikalahkan dan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.”

Dari sini, kita juga jadi memahami kontras antara kepribadian Nabi Muhammad ﷺ dan firman-firman Allah ﷻ. 

Nabi Muhammad ﷺ adalah sosok pribadi manusia yang paling lemah lembut, memperlakukan semua orang dengan penuh kebaikan. Pernah ada rombongan jenazah seorang Yahudi yang meninggal dan sedang lewat untuk dimakamkan lalu bahkan Nabi Muhammad ﷺ berdiri.

Nabi Muhammad ﷺ juga adalah sosok yang tidak pernah bicara ngasal pada orang lain. 

Namun, karakter dan kepribadian Nabi Muhammad ﷺ adalah satu hal, dan ayat-ayat Allah adalah hal yang lain lagi. 

Firman Allah ﷻ adalah perkataan yang penuh wibawa dan otoritas. Firman Allah ﷻ adalah perkataan yang agresif, dan tidak mungkin mengandung permintaan maaf.

Karena Allah ﷻ berbicara bukan kepada sosok yang setara dengan-Nya, tapi Allah ﷻ berbicara kepada ‘budak’ dan ‘abdi-abdi’-Nya. Dan tentu Sang Penguasa akan berbicara layaknya sosok Penguasa.  

Jadi ketika Allah ﷻ berbicara kepada ‘bawahan’-Nya, tentunya akan berbicara layaknya kepada bawahan. Jika ‘bawahan’-Nya berperilaku buruk, maka tentu Allah akan ‘memecat’nya. 

———————————————–

Bersambung insya Allah di Part 3. 😊

Sumber: 

Bayyinah TV – Surahs – Deeper Look – Ali Imran – 04. Ali Imran – Ayah 10-13 Ramadan 2018 (0:38:18-40:35)

*****


Materi VoB Hari ke-192 Sore | Berani Dalam Da’wah

Oleh: Nurfitri Anbarsanti

#WednesdayAliImranWeek28Part3

Part 3

———————————————–

بسم الله الرحمن الرحيم

Karena Allah ﷻ berbicara bukan kepada sosok yang setara dengan-Nya, tapi Allah ﷻ berbicara kepada ‘budak’ dan ‘abdi-abdi’-Nya. Dan tentu Sang Penguasa akan berbicara layaknya sosok Penguasa.  

Jadi ketika Allah ﷻ berbicara kepada ‘bawahan’-Nya, tentunya akan berbicara layaknya kepada bawahan. Jika ‘bawahan’-Nya berperilaku buruk, maka tentu Allah akan ‘memecat’nya. 

Namun, Nabi Muhammad ﷺ tidak memiliki karakter dan otoritas setinggi Allah ﷻ. Bahkan Nabi Muhammad ﷺ sendiri adalah seorang abdi, seorang hamba Allah. 

Jadi, jika kita perhatikan kata قُلْ (Qul) di awal ayat, kita tidak bisa berbicara atas nama kita sendiri, ayat tersebutlah yang memerintahkan kita untuk mengatakan sesuatu.

قُلْ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَتُغْلَبُوْنَ وَتُحْشَرُوْنَ اِلٰى جَهَنَّمَ ۗ وَبِئْسَ الْمِهَاد

“Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang kafir, “Kamu (pasti) akan dikalahkan dan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS Ali Imran 3:12)

Ini adalah ayat yang mengajarkan kita bahwa kita tidak perlu meminta maaf atau merasa bersalah atas firman-firman Allah ﷻ. Jangan sampai kita menjelaskan firman-firman Allah ﷻ, lalu mengatakan, “Oh ayatnya terlalu keras, seharusnya begini”, atau “Jangan tersinggung karena ayat ini ya..”

Bukankah ini Allah ﷻ yang berbicara? Kenapa kita merasa bersalah atas perkataan yang bukan perkataan kita, tapi perkataan dan firman Allah ﷻ? 

Dan Rasulullah ﷺ punya tugas untuk menyampaikan ayat yang paling ‘menyinggung’ kepada orang-orang Quraisy, tanpa perlindungan tentara di belakang beliau ﷺ. Bahkan Rasulullah ﷺ langsung menyampaikan ayat ini kepada pimpinan kaum Quraisy. 

Dan tentu saja, Rasulullah ﷺ mendapat berbagai cercaan dalam da’wah seperti arogan, tukang sihir, pemecah belah, dan lain-lain. 

Rasulullah ﷺ berhadapan dengan orang-orang yang ingin diperlakukan dengan perlakuan VIP, padahal Al-Quran menempatkan mereka ‘sesuai tempatnya’. 

اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ

Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraisy),” (QS Abasa 80:5)

فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ

maka engkau (Muhammad) memberi perhatian kepadanya,” (QS Abasa 80:6)

وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ

padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).” (QS Abasa 80:7)

فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ

maka barangsiapa menghendaki, tentulah dia akan memperhatikannya, (QS Abasa 80:12)

Jadi, seakan-akan Allah ﷻ berfirman, ya sudah kalau mereka tidak percaya, tinggalkan saja. Allah tidak berfirman kepada para pejabat-pejabat Quraisy, “Terima kasih atas waktunya, sungguh kehormatan bisa berbicara dengan kalian.” Tidak, Allah ﷻ tidak berbicara seperti merendah begitu kepada mereka. 

سَتُغْلَبُوْنَ وَتُحْشَرُوْنَ اِلٰى جَهَنَّمَ

Kamu (pasti) akan dikalahkan dan digiring ke dalam neraka Jahanam.” (QS Ali Imran 3:12)

Ini sebenarnya adalah janji kedua dari Allah ﷻ. Sedangkan janji pertama Allah kepada orang-orang yang tidak mau percaya ada di ayat 10nya, yaitu:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا

Sesungguhnya orang-orang yang kafir, bagi mereka tidak akan berguna sedikit pun harta benda dan anak-anak mereka terhadap (azab) Allah.” (QS Ali Imran 3:10)

Nah ayat-ayat Ali Imran ini mengacu pada dua kaum. Kaum pertama adalah kaum Nabi Musa a.s, Fir’aun dan para pemimpin di sekitar Fir’aun. Yang sebenarnya kisah Nabi Musa a.s dan kaumnya bisa menjadi kisah sendiri yang menarik untuk dikaji. 

Ini adalah isyarat dalam Al-Qur’an bahwa kita jangan hanya mengkaji apa yang terjadi pada kaum Fir’aun, namun kita juga perlu untuk mengkaji apa yang terjadi ‘di sekitar’ Fir’aun. Berbagai kondisi itu memberi kita banyak hikmah. 

Hikmah yang terjadi di berbagai kondisi yang terjadi pada Fir’aun, kaum Fir’aun dan pemimpin-pemimpin di sekitar Fir’aun membuat kita bisa mengerti bagaimana ‘cara berpikir’ kaum Quraisy.

———————————————–

Bersambung insya Allah minggu depan. 😊

Sumber: 

Bayyinah TV – Surahs – Deeper Look – Ali Imran – 04. Ali Imran – Ayah 10-13 Ramadan 2018 (0:40:35-42:31)

*****


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s