[VoB2020] Meminta Tolong kepada Allah


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-190

Topik: First Ayahs of Fatihah

Hari, tanggal: Senin, 28 Desember 2020

Materi VoB Hari ke-190 Pagi | Meminta Tolong kepada Allah

Ditulis oleh: Rendy Noor Chandra 

#MondayAlFatihahWeek28Part1

Part 1

———————————

بسم الله الرحمن الرحيم

Kita masih membahas tentang kata nasta’in dalam surah Al-Fatihah.

Ustaz Nouman akan memberikan contoh sederhana tentang konsep ‘aun.

Ustaz Nouman akan memberikan contoh perbedaan katau ‘aun yang menjadi akar kata nasta’i dalam Al-Fatihah dengan kata-kata lain yang sejenis dalam bahasa Arab.

Kita sedang mengemudikan mobil di jalan dan ban mobil kita kempes. Kemudian kita menepi ke pinggir jalan. Kita masih duduk di bangku kemudi, lalu ada seseorang yang menepikan mobilnya juga dan kita bertanya kepadanya, “Pak, boleh minta tolong? Ban mobil saya kempes.”

“Oh, iya. Tentu.” Jawabnya.

Kita masih menunggu di kursi kemudi. Orang itu melepas ban kita, menggantinya dengan yang baru, dan kita melihatnya dari kaca spion dan berkata.

“Wah, hebat. Terimakasih banyak, Pak.”

Apa yang bisa kita dapatkan?

Dari kisah ini, kita memang meminta bantuan, tapi ada yang janggal. Anehnya dimana?

Di kasus lain, ban mobil kita kempes. Kita menepikan mobil. Orang lain datang dan kita berkata, “Apakah saya bisa minta tolong?”  

Tapi kondisinya kita sudah mencoba untuk mengendurkan baut ban, mengeluarkan ban cadangan dan mendongkrak mobil sebisa mungkin. Tapi kita akhirnya sampai pada titik kita tidak sanggup untuk mendongkrak lagi. Kemudian kita berkata kepada orang yang menepi tadi, “Apakah saya boleh minta tolong untuk bantu saya mendongkrak mobil?” 

Kemudian, orang tersebut datang dan membantu kita.

Apakah dua kasus ini sama?

Tidak.

Kasus pertama, kita meminta pertolongan tapi tidak ada usaha apapun. Sedangkan kasus yang lain, kita berusaha semampu kita, kemudian minta tolong. 

Isti’ana artinya sebenarnya adalah meminta pertolongan ketika kita sudah merasa payah. Kita melakukan sebisa yang kita lakukan, dan kita tahu kita tidak sanggup lagi, kemudian kita berkata, “Aku tidak bisa menyelesaikan ini sendiri, aku butuh bantuanmu.”

Tapi siapa yang memulai usaha?

Kita.

Kalau kita tidak memulai usaha, kita tidak berhak untuk meminta isti’ana. Bukan itu artinya.

Arti yang sebenarnya adalah kita harus mengusahakan sendiri terlebih dahulu. 

Inilah konsep Islam dalam meminta tolong kepada Allah.

Di dalam kata nasta’in ini, tergambar konsep yang sederhana dan dahsyat tentang siapa yang akan mendapat pertolongan Allah dan darimana pertolongan itu datang.

Ada dua ekstrem terkait usaha dan meminta tolong ini. Apa saja ekstrem tersebut?

————————-

Bersambung insya Allah ba’da Zhuhur

Sumber: Bayyinah TV – Surahs – Deeper Look – Al-Fatihah – 05. Al-Fatihah A Deeper Look (00:12:00-00:13:50)


Materi VoB Hari ke-190 Siang | Dua Ekstrem

Ditulis oleh: Rendy Noor Chandra

#MondayAlFatihahWeek28Part2

Part 2

———————————

بسم الله الرحمن الرحيم

Ada dua ekstrem. Yang satu berpendapat Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, aku tidak bisa apa-apa. Kita pernah dengar yang seperti ini, kan? Pertolongan Allah belum datang nih kok aku belum dapat pekerjaan? Pertolongan Allah belum datang nih kok bisnis saya enggak lancar? Pertolongan Allah belum datang nih kok anak saya belum menikah? Dan lain sebagainya.

Menyalahkan semuanya karena apa? Pertolongan Allah belum datang.

Ekstrem yang lain seperti apa?

Ekstrem yang lain adalah segala sesuatu terjadi karena akulah yang mengerjakannya. Hasil itu kudapat karena usahaku sendiri. Aku lah yang berkualifikasi. Aku lah yang punya pendidikan yang tinggi. Karena akulah yang melamar pekerjaan itu. Karena aku menjawab pertanyaan interview dengan baik. Sama sekali tidak ada peran Allah disana. Itu semua karena aku, Allah tidak monolong apapun. 

Na’udzu billahi min dzalik. Semoga kita tidak termasuk orang yang seperti itu, sadar atau tidak.

Ekstrem yang satu semua terjadi karena Allah tanpa bisa berbuat apa-apa, sedangkan ekstrem yang lain berpendapat semua terjadi karena usaha mereka sendiri. Semuanya berlebihan dan keduanya salah. Di dalam Al-Qur’an, jelas bahwa mereka salah.

Jadi, formula utamanya adalah 2 bagian ini. Ada usaha dan ada hasil.

Allah meminta kita untuk memberikan usaha terbaik kita. Hasil akan selalu berada di tangan Allah. Artinya kuasa Allah lah hasilnya akan seperti apa. Allah tidak pernah memberikan pertolongan kepada orang yang tidak memberikan usaha apapun kepada Allah. Karena kita berusaha, hasil atau pertolongan itu datang dari Allah.

Sedangkan bagi salah satu ekstrem, karena usaha saya sendiri saya bisa mendapatkan ini dan itu. Sedangkan ekstrem yang lain, sebesar apapun usaha saya pertolongan hanya dari Allah, jadi saya tidak mengusahakannya. 

Sedangkan dalam Al-Qur’an, konsep yang benar adalah kita memberikan usaha terbaik yang bisa kita lakukan, kemudian Allah yang menentukan hasilnya. Jangan meminta hasil kalau tidak memberikan usaha terbaik. Jangan putus asa kalau kita sendiri tidak berusaha. Kita mengharap Allah setelah mengerjakan segala sesuatu sebaik mungkin. Di satu sisi ada usaha kita sendiri, di sisi yang lain ada bantuan Ilahi.  

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

————————-

Bersambung insya Allah ba’da Ashar

Sumber: Bayyinah TV – Surahs – Deeper Look – Al-Fatihah – 05. Al-Fatihah A Deeper Look (00:13:50-00:15:30)


Materi VoB Hari ke-190 Sore | Dua Implikasi

Ditulis oleh: Rendy Noor Chandra

#MondayAlFatihahWeek28Part3

Part 3

———————————

بسم الله الرحمن الرحيم

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

Inilah komitmen kita kepada Allah ﷻ.

Ustaz Nouman kemudian melanjutkan pembahasan iyyaka nasta’in. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa nasta’in artinya kita minta tolong kepada Allah ﷻ setelah berusaha sebaik mungkin. Tapi kita bukan hanya meminta tolong ternyata. 

Kalau kita berkata, “Hei, Musa. Bisa bantu saya?”

Musa bingung, dan berkata, “Kau mau apa?”

“Bantu sajalah”

“Oh, OK.”

Masalahnya ketika kita meminta tolong kepada orang lain kita harus merinci kita mau meminta tolong apa. Kita tidak bisa hanya bilang “Tolong aku”, akan tetapi perlu didetailkan “Tolong ambilkan saya air minum” atau “Tolong lakukan ini atau itu” Kita harus spesifik. 

Tapi di dalam surah Al-Fatihah, kita hanya mengucapkan kami memohon pertolongan. Kami butuh bantuan-Mu. OK, tapi bantuan apa?

Kita butuh bantuan-Nya dalam hal petunjuk, agama, ketakwaan, keamanan, kesehatan. Kita tidak mendetailkan karena listnya begitu banyak sampai-sampai, sehingga kita cukup mengatakan kami butuh bantuan-Mu, Ya Allah. Dalam segala sesuatu. 

Itu implikasi yang pertama. Implikasi yang kedua apa?

Bayangkan kita sedang jatuh di tebing, kemudian berpegangan dengan satu tangan. Apa yang kita ucapkan?

“Toloooong….!!” Mungkin seperti itu, berteriak sekencang-kencangnya. 

Kita tidak mungkin berkata, “Permisi, saya sedang bergantungan di pinggir jurang yang sangat tinggi dengan satu tangan dan jika saya jatuh akan banyak cedera internal yang beresiko kematian, jadi bisakah kau membantuku dan mengangkat tanganku?”

Tentu tidak seperti itu, kan?

Kita hanya mengucapkan “Tolong!” Orang yang mendengarnya akan tahu.

Ketika kita putus asa, kita akan mempersingkat kata-kata. Iyyaka nasta’in sebenarnya adalah ucapan putus asa manusia yang artinya kita butuh ditolong. Kami hanya butuh bantuan-Mu dan hanya dari-Mu. Ada keputusasaan dalam kalimat ini. Yang sangat dahsyat. 

By the way, jadi ini ceritanya seseorang menyatakan keberserahdirian atau keislamannya. Hanya kepadamu kami menjadi seorang hamba dan hanya kepada Engkau, kami memohon pertolongan setelah usaha terbaik yang bisa kami berikan. Setelah itu seseorang ini berharap kepada Allah ﷻ, dan ketika ia menemukan Allah ﷻ dan meminta bantuan-Nya, ia tahu bahwa hal terpenting yang perlu dimintakan tolong diantara banyak hal sebenarnya adalah jalan yang benar. 

Di antara semua hal umum yang kita mintakan kepada Allah ﷻ, satu-satunya yang disebut secara spesifik dalam Al-Fatihah adalah memohon ditunjukkan ke jalan yang lurus.  Karena memohon diberi petunjuk ke suatu jalan juga permintaan tolong, bukan? Jadi diantara semua yang kita mintakan kepada Allah, yang terpenting adalah petunjuk. Al-Fatihah menunjukkan bahwa kebutuhan kita yang paling mendesak adalah petunjuk.

Semoga kita termasuk diantara orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah ﷻ

————————-

Bersambung insya Allah pekan depan

Sumber: Bayyinah TV – Surahs – Deeper Look – Al-Fatihah – 05. Al-Fatihah A Deeper Look (00:16:00-00:19:30)


Penutup

Semoga Allah terangkan, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.  

Mohon do’akan kami agar bisa istiqomah untuk berbagi mutiara-mutiaraNya. 🙏

Jazakumullahu khairan 😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s