[VoB2020] Makanan dan Ketaatan


بسم الله الرحمن الرحيم

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-188

Topik: Parenting

Sabtu, 26 Desember 2020

Materi VoB Hari ke-188 Pagi | Makanan dan Ketaatan

Oleh: Icha Farihah

#SaturdayParentingWeek27Part1

Part 1

🍛🍛🍛

إِذۡ تَبَرَّأَ ٱلَّذِينَ ٱتُّبِعُواْ مِنَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُواْ وَرَأَوُاْ ٱلۡعَذَابَ وَتَقَطَّعَتۡ بِهِمُ ٱلۡأَسۡبَابُ . وَقَالَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُواْ لَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ فَنَتَبَرَّأَ مِنۡهُمۡ كَمَا تَبَرَّءُواْ مِنَّاۗ كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ ٱللَّهُ أَعۡمَٰلَهُمۡ حَسَرَٰتٍ عَلَيۡهِمۡۖ وَمَا هُم بِخَٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus. Dan orang-orang yang mengikuti berkata, “Sekiranya kami mendapat kesempatan (kembali ke dunia), tentu kami akan berlepas tangan dari mereka, sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka yang menjadi penyesalan mereka. Dan mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS Al-Baqarah, 2: 166-167)

Semua orang pada saat itu, termasuk para orang tua dan anak-anaknya, akan melihat betapa mengerikannya gejolak api neraka.

Allah berkata bahwa Dia memperlihatkan kepada mereka tentang amal perbuatan yang selama ini mereka kerjakan selama di dunia. 

Mereka berharap bahwa semua akan berbeda dari apa yang mereka lihat. 

Tapi, harapan itu tidak berguna dan yang tersisa hanyalah penyesalan.

“Apa yang sudah aku lakukan?”

“Kenapa dulu aku tidak pernah serius dalam berislam?”

“Kenapa aku tidak mengubah gaya hidupku yang jauh dari Islam?”

Tidak ada jalan keluar dan mereka terjebak dalam api neraka yang menyala-nyala.

🍛🍛🍛

Pada ayat selanjutnya, Allah menyuruh manusia untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik (thayyib).

يَٰأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٌ

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah, 2:168)

Di sini ada syarat yang ditekankan: halal dan thayyib.

Kedua hal tersebut sangatlah berbeda. 

Sesuatu yang halal belum tentu thayyib. Dan sebaliknya, sesuatu yang thayyib belum tentu halal.

Allah ingin kita mendapatkan keduanya, makanan yang halal dan thayyib.

Thayyib di sini juga bukan tentang rasanya yang enak. Thayyib berarti makanan yang baik dan sehat. 

Makanan yang tidak thayyib akan menjadi masalah bagi jantung, pencernaan, pembuluh darah, dan bagian tubuh lainnya.

Dan perlu diingat bahwa mengonsumsi makanan yang halal berdampak secara langsung kepada anak-anak kita.

Jika kita menghasilkan uang yang haram dan membeli makanan halal dari uang tersebut, maka makanan yang seharusnya halal malah menjadi haram.

Tidak peduli seberapa sering kita memeriksa logo sertifikasi halal MUI di makanan itu atau memeriksa langsung ke pabrik untuk memastikan proses produksi termasuk yang halal atau tidak, selama kita mendapatkan uang untuk membeli makanan itu dengan uang yang haram, maka hukumnya tetap saja haram.

Haram bukan hanya tentang kondisi fisik dari makanan yang kita konsumsi. Kita juga harus memperhatikan aspek spiritualnya, memastikan bahwa uang yang kita dapatkan untuk membeli daging tersebut berasal dari rezeki yang halal.

Coba bayangkan jika makanan yang kita konsumsi terkontaminasi, baik secara fisik maupun spiritual, maka itu sama saja seperti mengonsumsi racun. 

Racun itu akan membuat kita jatuh sakit dan lebih parahnya lagi racun itu juga akan melemahkan iman kita dan anak-anak kita.

Makanan haram membuat orang yang mengonsumsinya melakukan perbuatan yang haram pula. Awalnya, hal-hal haram itu ada di luar tubuh, tapi saat dikonsumsi, semuanya masuk dan membaur di dalam. 

Setan bersemayam dengan tenang di dalam tubuh orang yang mengonsumsi makanan haram.

Jadi mari kita perhatikan, ketika kita melakukan perbuatan haram, kita harus mengamati apakah makanan yang masuk ke dalam tubuh kita sudah memenuhi syarat halal atau belum.

🍛🍛🍛

Adapun salah satu cara untuk memastikan kehalalan dari penghasilan kita adalah dengan membayar zakat. 

Uang yang kita sisihkan untuk membayar zakat membuat sisa uang lainnya menjadi halal.

Jika kita enggan membayar zakat maka penghasilan dan makanan yang kita beli dari uang itu statusnya menjadi haram.

Kita perlu memperhatikan tentang zakat ini secara serius. Kita harus menghitung pengeluaran dan persen zakat yang dikeluarkan dengan cermat dan tidak menunda atau bermalas-malasan.

InsyaaAllah bersambung

🍛🍛🍛

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 12. We and Our Children Part 1 – Parenting (00:18:10-00:21:20)


Materi VoB Hari ke-188 Siang | Loyalitas pada Kebenaran

Oleh: Icha Farihah

#SaturdayParentingWeek27Part2

Part 2

👨‍👦😈👨‍👦

إِنَّمَا يَأۡمُرُكُم بِٱلسُّوٓءِ وَٱلۡفَحۡشَآءِ وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ. وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡـٔٗا وَلَا يَهۡتَدُونَ

“Sesungguhnya (setan) itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat dan keji, dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah. Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).” Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.” (QS Al-Baqarah, 2: 169-170)

Ada satu ironi yang sering disebutkan di dalam Al-Qur’an dan ironi itu juga termaktub di dalam ayat ini. 

👨‍👦😈👨‍👦

Ibrahim ‘alayhis salam berusaha semaksimal mungkin untuk memastikan bahwa anak-anaknya mengikuti warisan Islam yang ia berikan. 

Tapi, tentunya, setan dan seluruh pasukannya tidak tinggal diam.

Mereka juga berusaha sekuat tenaga untuk mengalihkan warisan itu dari keturunan Ibrahim ‘alayhis salam.

قَالَ أَرَءَيۡتَكَ هَٰذَا ٱلَّذِي كَرَّمۡتَ عَلَيَّ لَئِنۡ أَخَّرۡتَنِ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَأَحۡتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُۥٓ إِلَّا قَلِيلٗا

“Ia (Iblis) berkata, “Terangkanlah kepadaku, inikah yang lebih Engkau muliakan daripada aku? Sekiranya Engkau memberi waktu kepadaku sampai hari Kiamat, pasti akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.”” (QS Al-Isra’, 17: 62)

👨‍👦😈👨‍👦

Ketika ada sebagian orang yang  melakukan perbuatan syirik, kufur, menghina, dan mengabaikan ajaran Islam, kemudian mereka ditanya mengapa mereka melakukan hal tersebut. Maka mereka akan menjawab bahwa itulah yang diajarkan oleh orang tua mereka.

… قَالُواْ حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ 

…“Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya)…” (QS Al-Ma’idah, 5: 104)

👨‍👦😈👨‍👦

Ketika ada orang tua yang mengikuti ajaran Islam dengan baik, setan akan datang dan memastikan bahwa anak-anak mereka tidak akan mewarisi dan mengikutinya. 

Dan sebaliknya, ketika ada orang tua yang berbuat syirik dan kufur, setan akan datang dan mendorong anak-anak mereka untuk mewarisi perbuatan buruk tersebut. 

Anak-anak yang berhasil masuk ke dalam perangkap setan akan sangat militan terhadap warisan syirik dan kufur itu. 

Sehingga ketika sebuah kebenaran datang menghampiri mereka, mereka akan menolak dengan tegas dan berkata bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa warisan orang tuanya itu.

Subhanallah. Begitulah yang setan lakukan demi mengalihkan warisan Islam.

Maka, dengan usaha setan yang cerdik ini, sebagai orang tua, kita harus menyadari bahwa kita membutuhkan usaha ekstra untuk mencari jalan agar warisan Islam sampai kepada anak-anak kita.

👨‍👦😈👨‍👦

Ada semacam loyalitas yang tumbuh dari orang tua kepada anak-anak mereka, loyalitas yang terkadang disukai dan terkadang dibenci oleh setan.

Ketika sampai pada pembahasan di bagian “pengajaran”, kita akan melihat perbedaan keduanya dan bagaimana cara kita menanamkan sesuatu yang baik kepada anak-anak.

👨‍👦😈👨‍👦

Lalu, sudahkah ada ajaran-ajaran buruk yang terwarisi kepada generasi-generasi selanjutnya?

Jawabannya ada dan jumlahnya banyak. Adapun warisan ajaran baik malah tertinggal di belakang. 

Itu semua fakta dan terjadi di kalangan keluarga muslim.

Setan merasa menang dan meneriakkan keberhasilan mereka. 

Mereka berhasil menghasut generasi muslim untuk menjalankan perbuatan yang tidak sesuai ajaran Islam.

Dan itu terjadi karena satu ironi, yaitu menanamkan loyalitas buta kepada anak-anak.

👨‍👦😈👨‍👦

Perlu kita ketahui bahwa loyalitas keluarga muslim seharusnya adalah loyalitas yang terus-menerus membawa warisan Ibrahim ‘alayhis salam.

وَٱتَّبَعۡتُ مِلَّةَ ءَابَآءِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَۚ…

“Dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishak dan Yakub…” (QS Yusuf, 12: 38)

Loyalitas keluarga muslim bersandar pada kebenaran. Bukan pada sosok orang tua.

Dan kita juga mempelajari hal itu dari ayah kita, Ibrahim ‘alayhis salam, ia membawa warisan kebenaran Islam dengan tidak mematuhi ayahnya sendiri. Ia menyandarkan diri pada kebenaran Ilahi, bukan sosok ayah yang ia segani.

Sehingga apabila sebuah kebenaran dan kesalahan datang, kita seharusnya hanya akan mengikuti kebenaran.

Jadi, jika kita ingin anak-anak kita membawa warisan Islam secara turun-temurun dari generasi ke generasi, kita harus mengajari mereka bahwa bukan orang tua lah yang harus dipatuhi, tapi kebenaran Islam dengan apapun risiko dan konsekuensinya.

Itulah bentuk nyata pengajaran kita kepada mereka.

InsyaAllah bersambung

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 12. We and Our Children Part 1 – Parenting (00:21:20-00:23:58)


Materi VoB Hari ke-188 Sore | Jangan Berharap dari Kesalehan Anak

Oleh: Icha Farihah

#SaturdayParentingWeek27Part3

Part 3

👨‍👦👨‍👦👨‍👦

Di dalam Surat Luqman ayat 33, Allah memberikan gambaran lainnya tentang bagaimana kondisi kita dan anak-anak kita di hari kiamat.

يَٰأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡ وَٱخۡشَوۡاْ يَوۡمٗا لَّا يَجۡزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِۦ وَلَا مَوۡلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِۦ شَيۡـًٔاۚ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu teperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah.” (QS Luqman, 31:34)

Pada bahasan sebelumnya, kita telah diingatkan bahwa terkadang para orang tua merasa aman karena sudah memiliki tiket masuk surga dari anak-anak mereka yang saleh.

Mereka berpangku tangan karena mereka berpikir bahwa anak-anaknya akan memberikan pertolongan di akhirat kelak. Sehingga selama di dunia, mereka memtuskan untuk tidak melakukan amalan yang serius. 

Ini adalah sebuah pemikiran yang sangat keliru. 

Ayat di atas telah menyebutkan bahwa tidak ada seorang bapak yang dapat menolong anaknya dan begitu pula sebaliknya.

Anak-anak memang dapat memberikan manfaat kepada kita di hari akhir, tapi itu terjadi setelah kita mendapatkan ampunan dan jaminan Allah untuk masuk ke dalam surga. 

Berpikir bahwa anak-anak kita adalah hamba yang bertakwa, religius, dan taat dan tidak melakukan apa-apa untuk diri kita sendiri adalah kesalahan dan tidak akan menolong kita di akhirat sama sekali.  

Nabi Ibrahim ‘alayhis salam menjadi dirinya sendiri, seorang hamba yang bertakwa. Tapi, apakah itu menolong ayahnya yang ingkar kepada Allah? Tidak. Azar tidak mendapatkan manfaat sedikitpun dari Ibrahim ‘alayhis salam.

Begitu juga dengan Nuh ‘alayhis salam. Anaknya yang durhaka tidak mendapatkan jaminan apapun dari seorang ayah yang bertakwa.

Itulah realitas yang sama-sama akan kita hadapi di akhirat nanti. 

Allah juga sempat menyebutkan hal yang sama di dalam Surat Ali Imran ayat 10,

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَن تُغۡنِيَ عَنۡهُمۡ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيۡـٔٗاۖ وَأُوْلَٰئِكَ هُمۡ وَقُودُ ٱلنَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, bagi mereka tidak akan berguna sedikit pun harta benda dan anak-anak mereka terhadap (azab) Allah. Dan mereka itu (menjadi) bahan bakar api neraka.” (QS Ali Imran, 3: 10)

Allah menyebutkan bahwa bagi orang-orang munafik (dalam ayat ini, orang munafik di samakan dengan kategori orang kafir) tidak akan mendapatkan manfaat apapun dari harta benda dan anak-anak mereka.

InsyaAllah bersambung pekan depan.

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 13. We and Our Children Part 2 – Parenting (00:00:00-00:03:15)


***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s