[VoB2020] Black Campaign


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-184

Topik: Pearls of Al-Baqarah

Selasa, 22 Desember 2020 

Materi VoB Hari ke-184 Pagi | Black Campaign

Oleh: Wina Wellyanna

#TuesdayAlBaqarahWeek27Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Subhanallah, sungguh mereka tidak bisa mengakui ‘kami percaya kepada Allah, kami percaya kepada Nabi-Nya, dan kami percaya kepada hari akhir.’

Lidah mereka berat untuk mengucapkan itu.

Kebencian mereka terlalu dalam kepada Rasulullah ﷺ.

Tapi di depan kaum muslimin mereka menutupinya dengan tersenyum dan mengatakan: 

‘Kita sama kok, sama-sama beriman’

😊😊😏😏

Padahal hati mereka sangatlah benci terhadap Rasulullah ﷺ 

Bukan hanya kepada Rasulullah ﷺ, pada dasarnya mereka juga sangat marah kepada Allah subhanahu wata’ala karena tidak mengirim nabi terakhir dari kalangan mereka, dari kaum mereka.

Malah kepada suku Arab yang tidak pernah ‘tampil’ sebelumnya, suku yang mereka anggap rendah, nabi terakhir ini datang.

Kaum ‘kafir’, untuk mereka, semua yang di luar kaum mereka adalah kafir.

Mereka tidak terima nabi terakhir bukan dari keturunan Nabi Ishak.

Dalam penafsiran mereka, keturunan nabi Ismail mereka sebut keturunan terkutuk.

Tentu saja ini karangan yang mereka tambahkan sendiri dalam kitab (Taurat), yang dengan semakin bergulirnya waktu menjadi tahun dan abad, makin bertambah pula kebencian mereka terhadap keturunan Nabi Ismail, kebencian yang dipupuk.

Menurut mereka, nabi Ismail telah dikutuk oleh Tuhan, dan anak keturunannya adalah bangsa yang pasti juga dikutuk Tuhan, bangsa Arab adalah bangsa keturunan iblis.

Sekte Evangelis dalam khotbah mereka masih menebarkan hate speech ini. 

Ketika membahas pertikaian Israel vs Palestina bukan hanya tentang tanah, tapi juga kebencian terhadap keturunan nabi Ismail yang mereka ada-adakan.

Kebencian yang telah maksimal sejak berabad-abad terhadap bangsa Arab, ternyata ujung awalnya karena tafsiran Nabi Ismail dan keturunannya yang dikutuk Tuhan.  

Jadi ketika Rasulullah ﷺ hadir dari bangsa Arab dan di tengah penantian mereka sendiri akan kedatangan nabi terakhir yang telah dijanjikan dalam kitab mereka, lidah mereka kelu untuk mengakui kerasulan beliau.

Jadi, sekarang bertambah pengetahuan kita mengenai urutan keimanan manusia yaitu muslim kemudian non muslim dan lalu kaum munafik.

Beberapa ulama mengomentari mengenai kaum munafik. 

Bersambung in syaa Allah ba’da Zhuhur

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 04. Al-Baqarah (Ayah 8) – A Deeper Look (41:35 – 43:45)


Materi VoB Hari ke-184 Siang | Kategori B-1

Oleh: Wina Wellyanna

#TuesdayAlBaqarahWeek27Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kaum munafik masuk ke kategori lain sebetulnya, Allah mengatakan untuk kaum munafik sedikit lebih kompleks, tidak seperti non muslim yang terang benderang ketidakpercayaannya pada tauhid.

Bedanya adalah, kaum munafik akan Allah buka tabir ketidakberimanan mereka di hari akhir.

Pada hari akhir nanti, kaum munafik akan merasa mereka aman karena beranggapan ‘saya muslim’.

Kemudian mereka akan berjalan bersama rombongan yang beriman, tapi sebuah dinding tiba-tiba menghalangi mereka dan rombongan yang beriman, mereka bertanya-tanya:

“Kenapa ada dinding di antara kita?” 

“Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?”

a lam nakum ma’akum (QS Al-Hadid ayat 14)

Pertanyaan mereka kelak dijawab 

‘Tidak, kalian tidak pernah bersama kami’

Kaum munafik kelak akan terpisah dengan kaum beriman di hari akhir.  Sebuah kenyataan yang belum terjadi, tapi pasti terjadi.

Urutan keimanan ini juga bisa ditemukan dalam surat At-Tahrim ayat 9

Yā ayyuhan-nabiyyu jāhidil-kuffāra wal-munāfiqīna wagluẓ ‘alaihim,

‘Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka’.

Kaum munafik disebut setelah kaum kafir sama seperti runutan di ayat 8 surat Al-Baqarah.

Masih dalam tafsir Ibnu Asyur, beliau bertanya-tanya mengapa Allah membedakan ‘komunitas’ untuk kaum munafik sampai sedetail itu?

Jika Allah hanya menyebut kaum beriman dan kaum kafir, kaum munafik tentu akan masuk ke golongan kaum beriman, karena pilihannya hanya dua, padahal mereka tidak sepenuhnya beriman kepada apa yang Allah minta, pun mereka bukan termasuk kaum kafir.

Kaum beriman adalah kategori A.

Kaum kafir adalah kategori B.

Siapapun yang mengaku bahwa dirinya beriman, tentu akan masuk ke kategori A, dan siapapun yang dengan jelas tidak percaya ketauhidan Allah, masuk kategori B.

Kaum munafik mengaku dirinya beriman, tentu ke kategori A, tapi sebetulnya tidak percaya penuh, jadi masuk kategori kategori B-1, bukan sepenuhnya B.

Jadi Allah harus menegaskan dengan jelas, memagari yang beriman, kafir dan munafik, agar manusia tau dan tidak merasa aman hanya dengan mulut yang berucap ‘saya beriman’.

wa mā hum bimu`minīn

‘pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.’

Kalimat tersebut bisa menggunakan alternatif lain yang lebih mudah

Laysu mu’mini 

‘Mereka belum beriman’ 

atau

Lam yu’minu

‘Mereka tidak beriman’

Atau

Laysu mu’minin menggunakan noun (kata benda) yang tentunya jadi lebih powerful artinya tidak beriman.

Dan masih banyak alternatif lain untuk menerangkan tentang kaum munafik.

Mu’minin atau beriman, kata dasarnya adalah iman.

Kita semua paham, yang dimaksud iman adalah yang terucap di lidah dan yang dipercaya hati.

Apa yang terucap di lidah, semua orang bisa mengetahuinya, Rasulullah dan para sahabat bisa mendengar.

Tapi apa yang di hati, tidak bisa diketahui dan tidak bisa dinilai. 

Terkadang, apa yang keluar dari mulut tidak mesti datangnya dari hati.

Lain waktu, apa yang keluar dari mulut memang dari hati.

Ketika Allah menggunakan kata mu’min di dalam Al-Qur’an, Allah sedang menyebut iman yang di hati.

Bersambung in syaa Allah ba’da Ashar

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 04. Al-Baqarah (Ayah 8) – A Deeper Look (43:45 – 47:35)


Materi VoB Hari ke-184 Sore | Islam dan Iman, Muslim dan Mu’min

Oleh: Wina Wellyanna

#TuesdayAlBaqarahWeek27Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Allah menunjukkan mereka yang memiliki iman di hati dengan sebutan mu’min.

Allah memberitahu mereka yang imannya di bibir dengan sebutan muslim.

Ketika seorang non-muslim membaca dua kalimat syahadat, ia menjadi muslim. 

Kita bisa melihat seseorang itu muslim karena ia mengucap atau mempraktekan keislamannya.

Tapi mu’min, yang letaknya di hati, hanya Allah yang tau.

Islam, agama tauhid, bukan sesuatu yang bisa dipilih berada di tengah-tengah. 

Pilihannya hanyalah, islam atau kafir.  

‘Ya, saya bersyadahat’ atau 

‘Tidak, saya tidak syahadat.’

Iman tidak sejelas dan seterang benderang itu.

Iman ialah sesuatu yang mengisi hatimu.

Seperti air yang mengisi teko, kadang penuh, kadang kosong, kadang hanya berisi setengahnya.

Kadang-kadang juga airnya kotor sehingga harus dibersihkan.

Terlihat kan bedanya? 

Islam antara ‘ya, saya islam’ atau ‘tidak, saya kafir.;

Sedangkan iman bukan lagi ‘ya’ atau ‘tidak.’  

Tidak sesimple itu.

Iman ada kadarnya sendiri, ada ukurannya.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadist HR Bukhari dan Muslim

“…Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih,”

Hal semudah memindahkan duri dari jalan umum bisa menambah beberapa tetes iman kita.

Seseorang memberikan senyum kepada saudaranya, karena mengikuti Rasulullah ﷺ, iman mereka meningkat.

Jadi, iman bukan perkara ‘ya’ atau ‘tidak’.

Iman adalah perkara menunjukkan dengan perbuatan apa yang ada di dalam hati.

Semakin banyak amalan baik yang kita lakukan, Allah akan meningkatkan iman kita, juga berlaku sebaliknya, semakin sedikit amalan baik kita, Allah tidak akan menambah iman di hati kita.

Iman tidak bisa bersifat konstan, dia terus bergerak, entah bergerak naik atau turun.

Kita harus terus melakukan sesuatu, suatu hal yang baik tentunya, agar iman kita terus bertambah atau paling tidak stabil.  

Bukannya malah turun.

Seperti menaiki sepeda, kita harus terus mengayuh, agar tidak terjatuh.

Bersambung in syaa Allah minggu depan.

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 04. Al-Baqarah (Ayah 8) – A Deeper Look (47:35 – 49:45)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s