[VoB2020] Siapa Targetmu?


بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-182

Topik: Leadership

Minggu, 20 Desember 2020

Materi VoB Hari ke-182 Pagi | Siapa Targetmu?

Ditulis oleh: Indri Djangko

#SundayLeadershipWeek26Part1

Part 1

Bayyinah pernah bergerak di bawah naungan masjid. Ust. Nouman mengeluarkan ide-idenya, dan diterima oleh para ‘Big Player’

Namun, ternyata fokus dari penerimaan program adalah: ‘menguntungkan masjid secara finansial’. 

Begini penjelasannya.

Kelas Bahasa Arab yang dilaksanakan di masjid oleh Bayyinah pernah berhasil mengumpulkan dana-yang bukan dari donasi, tapi dari tuition fee-sekitar USD 20.000.

Dari dana ini berhasil dibangun misalnya lapangan basket di area lapangan parkir, dan lain-lain. 

Tapi ternyata begitu hal ini dilaporkan, dewan pengelola masjid masih belum merasa hal tersebut cukup dikatakan sebagai capaian.

Dewan seperti masih menunggu “what’s next”. Berapa dollar lagi yang akan bisa didulang.

Akhirnya, Ust. Nouman dengan Bayyinah-nya memutuskan untuk berjalan secara mandiri dengan caranya sendiri.

📝📝📝

Poin penting yang bisa diambil di sini adalah bahwa sebenarnya penggalangan dana melalui aktivitas kewirausahaan di masjid sangat mungkin dilakukan.

Ustaz mencatat beberapa hal yang bisa dipelajari dari pengalamannya bekerja dengan komunitas muslim Amerika dan masjid.

Pertama, organisasi butuh Big Player yang berpengaruh dalam penerimaan program organisasi ke dalam masjid.

Kedua, ide dari organisasi harus  dapat menghasilkan lebih dari pada yang dibutuhkan.

Ketiga, dan yang akan kita bahas lebih lanjut adalah mengetahui siapa target kita. 

Kita tidak bisa bilang bahwa target organisasi kita adalah ‘setiap orang’. 

Kita harus menentukan siapa yang akan mendapatkan layanan dari project kita.

Siapa yang akan tertarik dengan project kita. Apakah para wanita? Apakah wanita dari Indo Pasifik, Arab, Somalia, amerika, atau dari mana?

Atau pemuda? Dan pemuda yang seperti apa? Kisaran umurnya berapa? Apakah pemuda saja, atau pemudi saja? 

Pemuda dari mana? Apakah pemuda yang berbahasa Indonesia, Urdu, atau berbahasa apa?

🎯

Siapa target kita? 

Jangan jawab ‘’seluruh masyarakat atau seluruh komunitas”.

Kita harus menemukan fokus atau kekhususan dari project kita. 

Temukan kelompok tertentu yang akan kita layani. 

Karena setiap kelompok orang yang disebutkan di atas memiliki kebutuhan yang khusus dan unik. 

Apa yang dibutuhkan pemudi, berbeda dengan yang dibutuhkan oleh para pemuda, bukan?

Bukankah kelompok orang seperti mualaf yang baru masuk islam, pengantin baru, dan orangtua baru punya kebutuhan yang berbeda-beda dan khusus? 

Organisasi perlu menentukan target, dan ide-idenya harus fokus pada salah satu dari kelompok unik itu. 

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Courses – Leadership – 06. Leadership Workshop (00:00:00-00:02:49)


Materi VoB Hari ke-182 Siang | Girl Talk

Ditulis oleh:  Indri Djangko

#SundayLeadershipWeek26Part2

Part 2

Wait, kenapa judulnya tentang ‘Girl’ padahal kita tidak sedang dalam topik parenting seperti biasanya?

 Yap, di part kali ini, Ust. Nouman akan banyak berbicara tentang satu kelompok unik yaitu kelompok pemudi.

Kita lanjutkan sedikit dulu tentang poin 3, mengetahui siapa target project kita.

Dalam berorganisasi atau membuat sebuah project, kita tidak dituntut untuk menyelesaikan semua permasalahan yang ada di dunia ini.

Cukup beberapa saja. Bahkan satu saja tapi fokus, itu justru lebih baik. 

Kita ambil contoh, permasalahan pemudi atau para gadis. 

Jika kita mau fokus pada pemudi, kita cukup menggarap project untuk mengatasi satu masalah mereka.

Kita cukup memikirkan satu solusi yang benar-benar akan berhasil mengatasi masalah mereka.

Mari kita sambil bahas lebih lanjut dengan poin keempat, layanan/ project sebuah organisasi sudah harus menjadi salah satu minat dari target.

Misalnya, jika kita ingin memasarkan kaus. Pastikan kaus itu sudah menjadi sesuatu yang disukai kelompok target.

Kalau bisa sudah habis dipesan, bahkan sebelum kita menjualnya.

Jangan memulai project dan memohon kelompok target agar menyukai project kita.

Jangan sampai kita salah langkah, lalu protes mengapa target tidak menyukai layanan kita yang sudah ‘fii sabilillaah’ itu.

Niat ‘fii sabilillaah’ itu juga butuh diusahakan agar menarik hati target kita, bukan?.

Ust. Nouman memberikan contoh melalui ide yang sudah lama beliau pikirkan tetapi belum sempat terealisasi karena beliau memilih fokus dengan kelas Bahasa Arab Qur’an.

Ide beliau adalah tentang masalah para pemudi.

Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh para pemudi ini?

Ust. Nouman memberikan jawaban bukan berdasarkan pengalaman, tetapi berdasarkan observasi. 

Para pemudi butuh untuk berbicara atau ngobrol.

Di banyak tempat nongkrong, seperti Starbucks, para pemudi bisa betah berjam-jam, hanya untuk ngobrol dengan temannya. 

Coba saja buatkan program seperti Girl Talk. Kumpulkan para pemudi dan beri mereka ruang untuk bicara. 

Forum itu tidak butuh narasumber atau pemateri khusus. Tidak perlu. 

Biarkan saja mereka saling bicara sehingga mereka tidak perlu lagi berbicara dengan lawan jenis, atau berdebat yang tidak perlu dengan non-muslim, atau berbicara yang tidak berguna.

Jika ada program seperti ini untuk para pemudi agar mereka bisa berbicara, maka ini akan jadi layanan yang sangat bagus untuk menjawab satu permasalahan dari satu kelompok target.

Untuk menarik para pemudi ini agar mencintai masjid, di program Girl Talk ini juga bisa diadakan makanan ringan dan hiburan-hiburan ringan.

Ust. pernah melakukan hal ini di program Sunday School-nya, dan anak-anak perempuan dan para gadis sangat antusias menyambutnya.

Dana yang Ust. kelola untuk Sunday School digunakan untuk men-traktir mereka ke Dunkin Donuts atau Starbucks. Hanya agar mereka punya ruang untuk ngobrol.

Ust. Nouman juga menambahkan. Jangan pernah takut program semacam Girl Talk tidak akan berhasil diterapkan kepada para pemudi. Karena mereka pasti tidak malas berbicara.

Jangan khawatir. Mereka pasti punya topik pembicaraan. Tidak seperti para pemuda atau bapak-bapak di masjid yang bertegur sapa sebentar, lalu selesai.

Girl Talk ini sangat bisa dikembangkan ke ranah yang lebih spesifik. Apa saja?

Di part selanjutnya kita akan bahas satu contohnya dari Ust. Nouman.

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Courses – Leadership – 06. Leadership Workshop (00:02:49:-00:06:40)


Materi VoB Hari ke-182 Sore | Loyalitas Adalah Kuncinya

Ditulis oleh: Indri Djangko

#SundayLeadershipWeek26Part3

Part 3

Setelah berhasil mengidentifikasi permasalahan strategis dari sebuah kelompok yang menjadi target, project , masih banyak ide project yang bisa dikembangkan.

Berikan detail aktivitas yang menarik perhatian. Solutif sekaligus atraktif.  

Contohnya, Girl Talk yang sudah dibahas sebelumnya.

Ust. Nouman menyumbang ide lagi di sela penjelasannya. Bagaimana jika topiknya dibuat lebih spesifik, seperti Pemudi dan Olahraga?

Di masyarakat berkembang anggapan bahwa ‘sekali kamu serius dalam ibadah, maka kamu tidak akan bisa bersenang-senang’. Maka pendekatan seperti topik pemudi dan olahraga ini bisa menjadi jawaban untuk anggapan tersebut. Solutif dan atraktif.

Apabila organisasi berhasil menyediakan ruang bagi para pemudi ini untuk berkegiatan dan berolahraga beberapa kali dalam sepekan, maka organisasi sedang membangun momentum dalam waktu singkat.

Mengapa?

Karena dengan mendapatkan perhatian dari para pemudi, maka organisasi sekaligus akan mendapatkan perhatian dari seluruh keluarganya. 

Apabila ada anak yang tertarik dengan sebuah program, bisa ditebak, kan, siapa yang harus ikut pada program tersebut? Minimal di awal hadir untuk mengantarkan anaknya.

Lambat laun program ini akan membangun loyalitas seluruh anggota keluarga. Tidak hanya sang anak yang mengikuti program tersebut.

Bandingkan dengan program yang inisiatifnya tidak datang dari anak-anak tersebut. Ketika ada ajakan untuk mengikuti halaqoh anak, apakah semua anak sukarela mengikutinya?

Mereka hanya akan bermain di luar halaqoh atau sibuk dengan ponselnya. Tidak ada yang tertarik dengan program tersebut.

Organisasi harus mampu membaca minat kelompok anak-anak ini dan membuat sesuatu yang baru, yang lebih menarik. 

Organisasi perlu berpikir dengan cara anak-anak tersebut berpikir. 

Ini adalah salah satu contoh layanan yang bisa diberikan. Apabila layanan ini diminati dan mampu menghadirkan loyalitas kelompok target, maka selanjutnya terkait pembiayaan dan sejenisnya akan datang dengan sukarela.

Loyalitas adalah kuncinya. 

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Courses – Leadership – 06. Leadership Workshop (00:06:40-00:09:15)

***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s