[VoB2020] Mampukah Orang Tua Membela Anaknya?


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-167

Topik: Parenting

Sabtu, 05 Desember 2020

Materi VoB Hari ke-167 Pagi | Mampukah Orang Tua Membela Anaknya?

Oleh: Nurfitri Anbarsanti

#SaturdayParentingWeek24Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

وَاتَّقُوْا يَوْمًا لَّا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْـًٔا وَّلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَّلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ

“Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) tidak seorang pun dapat menggantikan (membela) orang lain sedikit pun, tebusan tidak diterima, bantuan tidak berguna baginya, dan mereka tidak akan ditolong.” (Al-Baqarah 2:123)

رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ

وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ ۙ

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ ۙ

يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ

“Ya Rabbku, lapangkanlah dadaku,

dan mudahkanlah untukku urusanku,

dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,

agar mereka mengerti perkataanku,”

(QS 20:25-28)

Alhamdulillah, shalawat serta salam atas Rasulullah ﷺ, dan atas keluarganya, dan atas para shahabatnya, sampai ummatnya akhir zaman. 

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Di bagian ini, kita akan membahas tentang anak-anak kita dan bagaimana hubungan kita dengan anak-anak kita ketika kita ingin menolong anak-anak kita di akhirat setelah hidup di dunia ini berakhir.

Allah ﷻ berfirman bahwa, وَاتَّقُوْا يَوْمًا, takutlah kepada hari, lindungilah dirimu dari bahaya yang terjadi pada suatu hari,  لَّا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْـًٔا, ketika tidak ada seorang pun yang mampu menolong, atau menggantikan, atau membayar (untuk menolong) untuk orang lain.

Lalu, وَّلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ tidak diterima daripadanya, tebusan, atau pengecualian.  وَّلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ dan tidak ada yang dapat memberi manfaat syafa’at untuk orang lain, وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ dan mereka tidak akan ditolong. 

Biasanya, orang tua kita berperan sebagai syafi’ah (penolong, pembela) bagi kita, anaknya. Dengan kata lain, kita akan membela anak kita, “Eh anak aku enggak akan melakukan hal (buruk) itu lho”. 

Atau misalkan anak kita akan dikeluarkan oleh sekolah, apa yang biasanya kita sebagai orangtuanya lakukan? 

“Pak, kenapa dikeluarkan? Enggak Pak, anak saya anak yang baik kok Pak, please kasih kesempatan lagi untuk dia, mohon ditoleransi kesalahannya ya Pak..”. Iya kan? Biasanya kita sebagai orang tuanya, akan membela anak-anak kita.

Begitu juga seorang Ibu, yang menemani anak-anaknya bermain di taman bermain, biasanya akan membela anaknya jika anaknya bertengkar dengan yang lain.

Atau misal, di sistem keluarga bersama (joint family system), di banyak tempat di dunia ini, di mana dua orang bersaudara tinggal bersama, istri-istri mereka juga tinggal bersama, anak-anak mereka juga tinggal bersama. 

Nah biasanya, para istri akan bertengkar satu sama lain untuk membela anak-anak mereka. “Ah enggak, anakku enggak akan melakukan itu, anak aku enggak ada salahnya. Anakmu tuh yang punya perilaku setan.”

Dan apa yang mereka lakukan adalah satu bentuk syafa’at, yaitu ketika mereka membela anak-anak mereka apapun yang terjadi.

Allah ﷻ berfirman, bahwa di Hari Penghakiman, tidak ada yang bisa memberi syafa’at bagi orang lain. Kita tidak akan peduli pada orang lain dan orang lain juga tidak akan peduli pada kita. 

————————-

Bersambung insya Allah ba’da zhuhur

***

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 12. We and Our Children Part 1 – Parenting


Materi VoB Hari ke-167 Siang | Kita Akan Terpisah

Oleh: Nurfitri Anbarsanti

#SaturdayParentingWeek24Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

QS 3:30

وْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا

(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (QS Ali Imran 3:30)

Suatu malam, Ust. Nouman menyetir mobil bersama dua anak perempuannya yang sudah lebih besar. Lalu Ust. Nouman mengatakan kepada mereka, “Nak, kamu tahu enggak, di Hari Penghakiman, Abah enggak tahu apakah Abah akan dihisab sebagai orang yang baik atau tidak.”

“Apakah kalian akan bilang, mau bersama Abah (apapun yang terjadi)?”

“Tapi jika Abah dinilai sebagai orang yang baik di mata Allah, apakah kalian bisa mengatakan, ‘Aku mau ikut Abah’?”

“Enggak Nak, kalian enggak bisa.”

“Dan sebaliknya, jika kalian yang pergi ke Jannah- Nya, aku juga tidak bisa bilang, ‘Ya Allah, aku tahu mereka, aku ayah mereka, bisa kah aku bersama mereka?’ “

“Enggak, enggak bisa.”

“Kita akan terpisah.”

“Satu-satunya waktu kita bisa bertemu adalah setelah kita semua bersama-sama di Jannah Allah.”

“Tapi saat ‘berjalan’ menuju Jannah, kita harus terpisah. Kita akan jalan masing-masing.”

“Ngeri, kan?”

Lalu anak-anak Ust. Nouman menjawab, “Iya Bah, agak ngeri sih”

“Itulah mengapa kamu harus punya alasan sendiri mengapa kamu harus ke Jannah. Dan alasannya bukan karena Abah. Kalian juga tidak bisa jadi alasan mengapa Abah masuk surga.”

“Kita harus punya keimanan dan keyakinan kita sendiri, prinsip-prinsip kita sendiri, amal-amal baik kita sendiri, sehingga kita bisa menunjukkan kepada Allah, sehingga kita punya jalan sendiri menuju Jannah Allah”

Ust. Nouman menambahkan, “Jangan lupa ya”.

Mereka menjawab, “Oke Abah”.

Begitulah percakapan antara Ust. Nouman dan dua anak perempuannya. Kadang. 

Ust. Nouman tidak ingin anak-anaknya hanya duduk dan mendengarkan ceramah beliau. Ust. Nouman ingin benar-benar mengobrol dengan anak-anaknya. 

Sehingga pesan-pesan dapat disampaikan dengan natural dan spontan, walaupun tanpa persiapan. Jika terlalu banyak persiapan, yang disampaikan malah seperti ceramah dan kuliah. Berbeda dengan obrolan yang berjalan begitu nyata.

Mungkin di antara anak-anak kita ada yang menonton ceramah-ceramah Ust. Nouman, yang sebenarnya itu bagus. Tapi yang paling penting, kita sebagai orang tua harus mengobrol langsung dengan anak-anak kita. Itu lebih penting.

Jadi tidak apa-apa, setelah mendengarkan ceramah, cobalah mengobrol dengan anak-anak. Santai saja. Misalnya saat makan siang, saat makan malam, saat di perjalanan, cobalah sedikit mengobrol tentang akhirat. 

Dan, coba bangun diskusi, bagaimana agar kita, yang di dunia bersama-sama sebagai keluarga, bisa sampai juga ke Jannah Allah bersama-sama di akhirat.

————————-

Bersambung insya Allah ba’da Ashar

***

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 12. We and Our Children Part 1 – Parenting (00:02:00-00:04:12)


Materi VoB Hari ke-167 Sore | Kelompok Orang yang Berhasil Masuk Surga Bersama Keluarga

Oleh: Nurfitri Anbarsanti

#SaturdayParentingWeek24Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

تَوَدُّ لَوْ اَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗٓ اَمَدًاۢ بَعِيْدًا ۗوَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ

“Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan (hari) itu. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS Ali Imran 3:30)

Allah ﷻ berfirman, bahwa Allah ﷻ memperingatkan kita, bahwa kita akan melihat amal-amal kita di Hari Penghakiman, dan kita akan berharap bahwa ada jarak yang jauh antara kita dengan amal-amal kita.

Sehingga kita harus bertanggung jawab atas amal-amal kita pribadi.

وَكُلُّهُمْ اٰتِيْهِ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فَرْدًا

“Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari Kiamat.” (QS Maryam 19:95)

Setiap orang akan hanya bersama dengan dirinya sendiri. Allah ﷻ menjelaskan bahwa di Hari Pengadilan, ada sekelompok orang yang berhasil masuk ke dalam Jannah- Nya, dan mereka bersama keluarga mereka. 

الَّذِيْنَ يُوْفُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَلَا يَنْقُضُوْنَ الْمِيْثَاقَۙ

“(yaitu) orang yang memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian,” (QS Ar-Ra’du 13:20)

وَالَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُوْنَ سُوْۤءَ الْحِسَابِ

“dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS Ar-Ra’du 13:21)

Mereka menghubungkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah ﷻ agar dihubungkan. Mereka menjaga hubungan dalam keluarga, mereka tidak berperilaku jahat kepada (contohnya) sepupu mereka atau orang lainnya.

Mereka memastikan diri mereka tidak mengabaikan satupun anggota keluarga mereka, dan mereka terus menerus berusaha menumbuhkan rasa takut kepada Rabbnya, dan mereka takut mendapat penilaian terburuk bagi mereka di Hari Akhir.  

Bagaimana caranya kita bisa bilang bahwa kita takut pada azab, jika kita tidak pernah bicara tentang itu? 

Jadi, seharusnya topik ini menjadi bagian dari obrolan sehari-hari kita. Kalau tidak muncul di obrolan sehari-hari kita, maka topik tentang akhirat ini hanya akan muncul ketika kita sedang mendengar ceramah islami saja.

Dan ini adalah sebuah masalah.

Padahal akhirat itu nyata, benar adanya. Akhirat itu seharusnya se –real dan se-nyata ketika kita ngobrol tentang ‘mau makan apa malam ini’, atau tentang kartun favorit kita. 

Akhirat seharusnya jadi obrolan yang nyata dengan anak-anak kita. Akhirat harus dirasakan oleh anak-anak kita seperti benar-benar kenyataan.

وَالَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ

“Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Rabbnya” (QS Ar-Ra’du 13:22)

وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ

“Dan mereka menegakkan salat” (QS Ar-Ra’du 13:22)

ةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً 

“dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan” (QS Ar-Ra’du 13:22)

وَّيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ 

Serta jika mereka melakukan kesalahan, mereka langsung menggantinya dengan kebaikan. (QS Ar-Ra’du 13:22)

Allah ﷻ telah menggambarkan karakter orang yang akan masuk JannahNya. Allah ﷻ telah menyebutkan beberapa karakternya di ayat-ayat tadi sampai sejauh ini. Yuk mari review, apa saja ciri-cirinya:

1. Mereka menepati janji dan tidak melanggarnya

2. Mereka menjaga hubungan dan mereka tidak memutus hubungan dengan manusia

3. Mereka takut pada Allah ﷻ

4. Mereka benar-benar takut dapat penilaian buruk dari Allah ﷻ di Hari Penghakiman

5. Mereka shabar, karena Allah ﷻ, bukan karena orang lain. Mereka bisa menjaga kesabaran mereka, hampir tidak ada batasnya kesabaran mereka karena mereka sabar murni karena Allah ﷻ. 

6. Mereka melaksanakan sholat dengan baik. 

7. Mereka berinfak, apapun kondisinya apakah itu sedang lapang atau sempit, dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

8. Kadang mereka melakukan kesalahan, tapi apa yang mereka lakukan jika mereka salah dan berdosa? Mereka langsung mengikuti atau menggantinya dengan amal-amal yang ekstra baik. 

اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِۙ

“orang itulah yang mendapat tempat atau rumah yang terakhir.” (QS Ar-Ra’du 13:22)

Di mana rumah terakhir bagi mereka?

———————————————

Bersambung insya Allah minggu depan.

***

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 12. We and Our Children Part 1 – Parenting (00:04:17-00:07:15)

👑🏡👨‍👧‍👧👑


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s