SSS Doa Nabi Ayyub AS – Nouman Ali Khan


🌿🌿 *SSS NAK Indonesia* 🌿🌿

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah sudah bulan Desember.

In syaa Allah pekan ini ada yang spesial.

Kalau 3 pekan kemarin materi SSS ambil dari video dengan subtitle indonesia.

Khusus pekan pertama, tiap bulan materi SSS diambil dari video tanpa subtitle.

Tujuannya biar makin banyak materi yang bisa dibahas. Sembari latihan bahasa inggris juga ^^

Karena videonya tanpa subtitle, kita siapin dan simak dari sekarang yuk. Sabtu nanti tinggal share catatan/tanggapan dan pertanyaan terkait materi.

Cara ikutan SSS NAKIndonesia:

1⃣ Tonton video ini ⬇️

*Kurang dari 20 menit

Bisa juga baca transkrip bahasa inggrisnya di :

https://docs.google.com/document/d/19LEbtxQdcY95IHNLEb4D7ejMo7hYwpGApmrV3Z0Fl7k/edit?usp=sharing

2⃣ Catat poin-poin menarik, insight, share ke sosial media/blog/podcast.

3⃣ Kirim tanggapan/pertanyaan terkait video di grup wa/telegram NAKIndonesia saat sesi SSS.

🗓 SSS in syaa Allah dilaksanakan tiap Sabtu di grup whatsapp dan telegram NAK Indonesia.

Yuk ramaikan ^^

💌 Oh ya, yang mau usul video untuk dibahas di SSS selanjutnya, bisa isi https://forms.gle/qsJb4omCGQYuVk4Q9

👤 Mas Agung

Video ini adalah salah satu video dari series pembahasan doa para Nabi yang dibahas ustad Nouman Ali Khan di bulan Ramadan 2018 lalu. 

Ada doa Nabi Musa yang meminta supaya bisa mengontrol emosinya ketika menghadapi Firaun dan Bani Israil.

ada doa Nabi Muhammad shalalllahu alaihi wassalam ketika meminta kebaikan di Dunia dan Akhirat.

ada juga doa Nabi Yusuf yang lebih memilih penjara dari pada harus terus berada di lingkungan yang buruk, dan lain-lain.

Tapi uniknya di pembahasan doa Nabi Ayyub di surat Al-Anbiya ayat 83 ini, Nabi Ayyub ketika menyeru kepada Allah ini sebenarnya gak minta apa-apa.

Yang saya pahami dari pembahasan ustad NAK di video ini, beliau lebih menekankan tentang bagaimana adab Nabi Ayyub ketika bermunajat pada Allah ketimbang isi permintaan dari doa itu sendiri.

Apalagi di akhir ayat 84 surat Al-Anbiya Allah mengatakan bahwa apa yang diucapkan oleh Nabi Ayyub ini

_” untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami “_ (QS 21:84)

Kita harusnya udah otomatis tau bahwa semua ayat-ayat yang ada di Al-Quran itu adalah peringatan untuk semua orang beriman.

tapi kalau sampai Allah sendiri yang bilang dan ngingetin lagi bahwa ayat 83-84 ini adalah peringatan, berarti ini penting banget untuk kita pelajari. 

adab nabi Ayyub ketika berdoa ini gak boleh lepas,  kita harus tahu dan harus kita terapkan juga saat kita berdoa kepada Allah.

Nabi Ayyub saat itu kondisinya sakit parah, beberapa kisah bahkan menyebutkan bahwa beliau lumpuh total dan hanya tinggal lidahnya saja yang masih berfungsi

ada juga kisah yang menyebutkan bahwa beliau terkena penyakit kusta yang sangat menular, sehingga ia harus diasingkan dari kaumnya sendiri, dan beliau pun diberikan ujian anak-anaknya wafat.

Kalau kita yang ada di dalam posisi itu, mungkin doa kita seperti ini

_” Ya Allah, Engkau Yang Maha Kuasa, mudah bagi-Mu ya Allah mengangkat semua penyakit dan semua kesulitanku ini”_

Tidak salah apabila kita berdoa seperti ini, tapi coba kita lihat apa yang diucapkan oleh Nabi Ayyub.

Dengan kondisi yang sudah parah seperti itu, Nabi Ayyub hanya mengatakan kalimat ini ketika bermunajat kepada Allah

_” anni massaniyad-durr “_ (QS 21:83)

Ustad NAK mengartikan kalimat diatas sebagai

_” Harm has touched me “_

(kesulitan telah menyentuhku)

Sudah separah itu, tapi Nabi Ayyub hanya mengatakan bahwa ini hanyalah kesulitan yang amat sangat sedikit menyentuhnya.

Loh kok sedikit sih? Sedikit apanya? Udah parah gitu kok sedikit?

Ujian hidup manusia itu berbeda-beda, ada orang yang diuji urusan jodohnya, ada yang diuji urusan keturunannya, ada yang diuji masalah finansialnya.

Ada juga orang yang ujian dunianya itu sampai berpengaruh pada keimanannya kepada Allah, sampai menggoncangkan keimanannya dan bahkan berpaling dari Allah. Naudzubillah Min Dzalik.

Jika dibandingkan dengan hilangnya keimanan yang kemudian mengakibatkan kesengsaraan panjang di akhirat nanti, maka ujian sakit ini hanyalah sedikit kesulitan yang ada di dunia saja.

Setelah mengadu seperti itu Nabi Ayyub kemudian mengatakan

_” waanta arhamu alrrahimiin “_ (QS 21:83)

(Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang)

Ada kata _rahm_ disini. _Rahm_ itu berarti rahim seorang Ibu. Kita tahu bahwa bayi yang ada di dalam rahim seorang ibu itu selalu diliputi kasih sayang. Segala keperluannya diurusi dan dijaga dengan baik.

Seperti itulah Allah. Allah ( Ar-Rahman) itu yang menyayangi dan mengurusi segala keperluan kita di dunia ini, segalanya dipenuhi, seperti bayi dalam rahim seorang Ibu.

Maka, Nabi Ayyub itu kira kira mengadukan ujian hidupnya dengan cara seperti ini

_” Ya Allah, aku cuma sedikit saja tersentuh kesulitan “_

_” Aku sedang tidak menyalahkan keputusan-Mu ya Allah “_

 _” aku tahu bahwa Engkau itu sayang banget kepadaku, pasti ada kebaikan di balik ini, tidak ada yang lebih menyayangiku selain diri-Mu”_

Analogi dari ucapan Nabi Ayyub itu mungkin seperti ucapan seorang anak pada Ibunya seperti ini

_” Ibu, perutku agak keroncongan, aku selalu sayang ibu “_

Kalau denger anaknya ngomong

kaya gini, kira-kira apa yang akan dilakukan seorang Ibu? Ia pasti langsung sigap masak membuat makanan untuk anaknya.

Padahal anaknya gak secara gamblang meminta makan, tapi ibunya paham kebutuhan anaknya. Bahkan seorang Ibu bisa tau anaknya sedang lapar itu dari raut wajahnya saja, karena ada ikatan cinta antara keduanya.

Begitu juga dengan Allah, Allah tau apa permintaan Nabi Ayyub meski ia tidak menjabarkan apa saja kebutuhannya. Maka di ayat 84 nya Allah mengatakan

_” Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) “_(QS 21:84)

Begitulah cara Nabi Ayyub berdoa, kita bisa menirunya. Jangan berburuk sangka pada Allah. Selalu sertakan dalam pikiran kita saat berdoa bahwa Allah sayang dengan kita, tidak ada yang lebih mengerti dan lebih menyayangi kita dibandingkan Allah.

_“….. Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.”_ (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah sudah pasti sayang dengan kita, sekarang tinggal giliran kita, sudahkah kita berusaha membangun ikatan cinta kepada-Nya?

👤 Mas Ario

As a result of that, a person can start feeling that they’re useless, right? That they used to be capable of so many things. And now they’re capable of nothing. So they’re basically a purposeless existence, you know, for, for a man and a woman, Allah put inside of human beings, this difference than animals, for human beings we don’t feel fulfilled, even if there’s food on the table, even if everything else is okay, if we’re not able to fulfill a purpose or be feel like we’re productive and something is inside of us, that’s missing.

Saya bisa merasakan orang sakit yang merasa dirinya tak berguna.

Dengan ABD sekalipun saya sering tak pede bertemu orang-orang, mendengar terasa sulit. Saya pernah salah menerjemahkan orang bicara, hasilnya saya ditertawakan.

Sewaktu ABD rusak, praktis saya di rumah aja… Seperti saya tak melakukan apa-apa karena semua terasa butuh kemampuan untuk mendengar

📑 Tulisan Mba Amalia Kartika

Dibahas setelah kisah nabi Sulaiman – KONTRAS. Sulaiman dikasih kontrol angin, kerajaan, jin, kekuasaan dll, sementara Nabi Ayub kebalikannya.. yang nggak bisa melakukan hal-hal basic yang dilakukan manusia sehat.

Capable of lots of things (Sulaiman) – Not being able of doing even basic things.

Kalau orang sakit keras, salah satu perasaan yang mendera adalah: perasaan tidak berguna. Bisa menjadi pesimis.. Orang-orang meninggalkannya, ngga bisa berkontribusi pada dunia, merasa worthless to Allah also, bisa jadi malah merasa nggak disayang Allah, pesimis.

Tapi lihatlah bagaimana Allah memilih nabi yang keadaannya berbeda ini. Nabi adalah “most noble rank” yang diberikan Allah pada manusia. Dan salah satu nabi itu adalah Ayub, yang sakit, nggak bisa berdakwah, bahkan ada yang menyatakan bahwa he is nearly paralyzed yang hanya bisa digunakannya adalah lidahnya.

Tapi perhatikanlah, dalam keadaannya itu bagaimana Ayub berdoa pada Allah:

(إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ)

(مَسَّ)

Ada beberapa level “kontak/bersentuhan” dalam bahasa Arab. Ini adalah yang “barely been touched” by harm.

Padahal kalau dilihat dari penyakitnya, mungkin deskripsinya akan “harm has destroyed me, flooded me, destroyed me, ruined me,” tapi apa yang Nabi Ayub alaihissalam bilang? “Harm barely touched me.”

Kenapa ya bisa gitu?

Kita lihat kesadaran Nabi Ayub alaihissalam: bahwa seberat apapun penyakit yang menimpanya, sesulit apapun hidupnya, sesungguhnya Allah telah melindunginya dari HARM (bahaya) yang jauh lebih besar. Dibandingkan bahaya yang telah Allah cegah untuk terjadi pada Nabi Ayub alaihissalam, ini hanyalah “a touch” of harm.

Bayangkan, padahal dia adalah seorang yang paralyzed, istrinya hanya melayaninya – bukan living a fulfilled life.

Kok bisa nabi Ayub alaihissalam bilang HARM BARELY TOUCHED ME.

Karena kesadarannya bahwa: kesehatan, kemapanan ekonomi, sosial adalah satu hal.

Dan “spiritual well being” adalah satu hal yang beda lagi. Kalau keadaan (sakit) ini membuat ia juga “terputus” dari Allah, that is THE ULTIMATE HARM. Itu baru bahaya yang sebenarnya.

Kenapa ini penting? Karena ketika orang sakit, kadang yang terjadi adalah depresi. Kita juga mesti hati-hati dan sensitif ketika berbicara dengan orang-orang yang mengalami ujian. Jadilah orang yang benar-benar bisa mensupport, bukan sekedar bilang, “Ini ujian harap sabar.” Karena ketika cobaan itu begitu berat,

(الضُّرُّ)

Loosening something – no longer able to provide a function – ngga berguna lagi… – my incapability starting to effect on me – starting to effecting my heart.

Sebelum menjadi lebih buruk, Nabi Ayub alaihisalam menyatakannya pada Allah.

(وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ)

Itulah yang dinyatakannya pada Allah, sebenernya di doa ini, nabi Ayub tidak “meminta apa-apa”. Nggak minta kesembuhan, nggak minta perbaikan dalam kehidupannya… bukannya nggak boleh ya, bahkan kita harus minta terus sama Allah, bahkan sebiji kurma pun, mintalah pada Allah.

Tapi lihatlah bagaimana luar biasa hubungan nabi Ayyub dengan Allah. Bagaimana cintanya dan kedekatannya dengan Allah.

Ketika bahaya itu hampir menyentuhnya, bagaimana nabi Ayub berkomunikasi dengan Allah?

“Bahaya hampir menyentuhku (bukan sekedar fisik – tapi juga hati – spiritual) dan Engkau adalah yang Maha Penyayang dari yang penyayang, yang paling peduli, yang meliputi segalanya dengan kasih sayang-Nya.”

“Rahma” – “rahm” – womb: completely surrounded by rahim of the mother – tempat di mana bayi nggak pernah khawatir karena semuanya udah “diurus”.. makanan tempat tinggal, all taken care of.

Rahiim – Rahman – seperti penjelasan tadi sebenernya kita “completely drown in His love and mercy” kita diliputi dengan kasih sayang-Nya. Penjagaan-Nya.

Tapi kalau lihat doa Nabi Ibrahim, “Jika aku sakit, Dia yang menyembuhkanku.” Sebenernya bisa aja kan doanya, “Engkau Yang Maha Menyembuhkan, sembuhkanlah aku.” Coba bayangkan permisalan ini…

Seorang anak yang penuh cinta datang kepada ibunya, “Ma, aku sayang banget sama mama, perutku kayanya sedikit lapar.”

Kira-kira apa yang akan ibunya lakukan karena say

ang sama anaknya, apakah ia akan nanya, “Tapi kamu nggak minta makan?” Gimana reaksi bu ibu?

Tanpa menjelaskan, “Ma, bikinin makanan dong aku mau makan.” Kita sebagai ibu-ibu kita akan menyediakan kebutuhannya ya.

In loving relationship, tanpa menjelaskan permintaan kita, ketika kita menjelaskan apa yang kita alami, orang yang mencintaimu akan menyediakan apa yang kamu butuhkan.

Kadang dengan melihat wajah anak aja kita bisa nebak kan, trus kita nanya kamu laper.

Tapi dengan penuh cinta, nabi Ayub alaihissalam bilang… (وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ)

Jangan pikir aku komplain tentangMu Ya Allah, aku ngga bilang, “You make me sick why you dont heal me.” “You’re in control kenapa aku dibiarkan begini?” – BUKAN.

Yang ia bilang adalah aku tahu Engkau yang paling peduli padaku – walau istrinya yang selalu mengurusnya, ia tahu tetap Allah Yang paling peduli padanya.

Resume dari mbak Amalia Kartika

👤 Mas Radit

Māsyā-الله tabāraka-الله

Nice reminder mas

Mengubah persepsi metode berdoa kpd الله; antara tekniknya seorang Nabi (Ayyub _’alayhissalām_) dan teknik “standar” kita2

Jazākallāhu khayran

👤 Mas Agung

Iya mas Radit, jadi pelajaran paling penting dari doa Nabi Ayyub ini yang saya pahami adalah

Berusaha mengedepankan segala pikiran positif saat berdoa kepada Allah ketika kita berbicara dengan-Nya dalam doa

Sementara seringnya ~kita~ saya ketika berdoa adalah mengedepankan perasaan

_” Ya Allah, kok belum juga sih ….”_

_” Kok gak dikasih-kasih sih “_

_” Kok ora-ora rampung-rampung ya Rabb, piye iki “_

dan masalahnya berpikir positif ketika dihadapkan dengan ujian hidup ini tidak mudah dilakukan, butuh perjuangan, sebagaimana Nabi Musa yang diuji kesabarannya ketika masih bersama dengan Nabi Khidir

Mungkin itu sebabnya kita disuruh memperbanyak membaca tasbih dan tahmid, sebagai latihan dan dipaksa terus berpikir positif terhadap Allah.

👤 Mas Radit

Ini memang umumnya kita yg awam demikian

Saya terharu baca ayat ttg bagaimana seorang Nabi Ayyub _’alayhissalām_ yg sudah bertubi2 menderita ujian dlm hampir semua aspek penting hidup manusia, ternyata bentuk doa nya justru makin merendah di hadapan الله.

Jadi teringat doa Nabi Musa _’alayhissalām_ ketika sudah menolong 2 gadis memberi minum ternaknya. Sama esensinya; merendah di hadapan الله.

_Wallāhu’alam_

👤 Kang Irfan

Kalau di seri doa ini ada tentang doa nabi sulaiman yang minta kerajaan?

👤 Mas Agung

Seinget saya ga ada, ada doa Nabi sulaiman tapi bahas doa yang lain

👤 Mas Ario

So the top of that rank is prophets. And one of those prophets is *Ayyub ‘alaihi salam, who for much of his life is not able to do any kind of da’wah*, any kind of work. You would think, what services is he providing? He’s bedridden. He’s basically sick, nearly paralyzed. Some, some even describe him as almost completely paralyzed. The only thing functioning is his tongue. That’s all that’s left.

Bagian ini menarik, saya baru menyadari tugas nabi berdakwah kan… Nah nabi Ayyub sakit lama sekali sehingga tidak bisa berdakwah kepada kaumnya…

Jadi teringat dengan kisah nabi Yunus yang justru sempat marah dengan kaumnya lalu meninggalkan tugas berdakwah kepada kaumnya.

Jadi ini bisa jadi contoh situasi berdakwah.

👤 Mas Ario

Ada situasi yang mana kita tidak bisa berdakwah karena ada uzur, seperti sakit, tidak bisa kemana-mana

Ada situasi yang kita marah dengan “kaum kita” sehingga ngambek ga mau berdakwah ke mereka lagi

Allah mencontohkan nabi-nabi mengalami banyak situasi dakwah

Dan kita seharusnya belajar bagaimana cara berdakwah dari hal itu.

👤 Mas Agung

Saya jadi keinget video ustad NAK yang ini, di menit 10:20, beliau menceritakan kisah Nabi Yusuf.

Terkadang kalau kita sedang mendapat ujian hidup yang berat, akan timbul pertanyaan seperti ini dalam hati kita

_” Kok saya diginiin ya Allah? Emangnya salah saya apa sampe diuji kaya gini? “_

_” Kenapa saya yang ditimpa kesulitan seperti ini? “_

Lalu ustad NAK menjawab dengan memberi contoh kisah Nabi Yusuf.

Sebagaimana yang kita tahu, Nabi Yusuf sudah dapat ujian berat sejak beliau kecil.

Padahal kita pun juga tahu bahwa anak kecil itu rekening dosanya belum dibuka, iya kan?

Lantas apa salah anak kecil yang belum punya dosa ini sampai dimasukin ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya?

Apa salah anak kecil ini sampe dijadikan budak dan dijual ?

Gak ada…..

Gak salah apa-apa ….

Kemudian ustad NAK mengatakan bahwa dibalik setiap kesulitan kita itu pasti ada kebaikan

Namun kebaikan itu bisa jadi langsung di rasakan di dunia, bisa juga di rasakan di akhirat nanti

Kebaikan itu bisa langsung untuk diri kita, atau justru kebaikan itu dirasakan oleh orang lain

( yang pada akhirnya nanti akan bermanfaat untuk akhirat kita juga )

dengan penderitaan satu orang anak (Nabi Yusuf), ia kemudian bisa menyelamatkan ribuan anak lainnya dari kematian karena bencana kelaparan disebabkan panceklik berkepanjangan, di Mesir

Begitu juga dengan Nabi Ayyub, mungkin di saat sakit, beliau tidak bisa berdakwah. Tapi kisah sakitnya itu kemudian menjadi bahan dakwah para ustad kita dan kita pun mengambil manfaatnya hingga saat ini. Keran pahala yang gak akan ditutup hingga akhir jaman

Persis seperti kisah Robert Davilla yang dikisahkan ustad NAK di video terlampir, yang lumpuh total, gak bisa apa-apa, tapi berkat kisahnya itu justru bisa mengislamkan banyak orang

Wallahualam bissawab

👤 Mas Agung

Saya juga jadi keinget video ini dari YQ, tentang mengapa Allah menguji kita?

Di menit 1:50 beliau bilang, bahwa alasan nomor 1 seseorang itu jadi atheist adalah karena gak terima dengan segala kesulitan atau musibah yang menimpanya atau menimpa orang lain

_” Tuhan kok gitu? “_

Gak bisa terima kalau pasti ada hikmah dibalik musibah dari Allah.

Saya jadi keingat hadis ini

_“ Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim”_

 (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung).

 (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)

Ada kalimat tasbih dan tahmid di dalamnya, dan kalau saya coba ikuti kajian NAK yang bahas tentang kalimat Subhanallah dan Alhamdulillah, keduanya pun intinya adalah berusaha menyingkirkan pikiran negatif terhadap Allah. 

Pasti ada kebaikan, pasti ada kebaikan, pasti.

Hal-hal seperti ini mudah untuk diucapkan atau di bahas tapi butuh perjuangan berat untuk dijalankan. Yang ngetik belum tentu lebih baik dari yang baca

Mungkin karena butuh perjuangan berat untuk berpikir positif atas semua ketentuan Allah itulah mengapa 2 kalimat ringan untuk diucapkan ini akan berat nilainya ditimbangan amal kelak

Wallahualam bissawab. Tolong dikoreksi kalau ada kesalahan

Sumber teks hadis :

👤 Mba Vivin

Sy ingat video ini, tentang ibunya ust Omar. Ia seorang mualaf. Setelah masuk islam, ia diuji dengan penyakit bertubi-tubi. Mulai ga bisa jalan, gangguan darah, bahkan kata dokter tdk akan pnya anak lg. 

Ust Omar tak pernah mendapati beliau kecuali dalam kondisi berdzikir, mengaji, belajar tafsir. 

Penyakit pun belum kunjung usai. Stroke, kanker, osteoporosis. Kesempatan hidupnya kata dokter tinggal sekian persen. Keluarganya berkata ‘ini adalah hukuman dari Tuhan untukmu krn masuk islam’.

Dan kata beliau, ‘Allah is purifying me. Allah is purifying my past’ 

T.T

👤 Mas Ario

Ustaz Omar Suleiman mendirikan Muhsen karena teringat ibunya

👤 Kang Irfan

Nanya dong bagaimana l kira2 caranya keluar/sembuh dari perasaan ga berguna buat orang lain?

👤 Bella

Kalau buat saya sendiri. Dulu dengan banyak deketin diri ke quran, dengerin kajian ttg quran, sama banyak baca buku. Detox sosmed juga.

Dulu pernah ngerasa gitu juga. Trus karena proses belajar dan ngedeketin diri ke quran, jadi paham bagaimana Allah memuliakan bani Adam. Artinya, ga ada manusia yang terlahir yang sia-sia/useless.

Trus detox sosmed itu ngaruh juga. Biar ga fokus ke sosial pressure, atau pandangan orang lain ke kita. Jadi fokusnya lebih mengenal diri lagi.

Baca buku juga jadi motivasi banget sih. Bahwa ada banyak orang dengan keterbatasannya tapi masih bisa berkarya. Memperluas sudut pandang kita.

Sama satu lagi, harus ketemu banyak orang sih. Silaturahim, ngobrol. Soalnya biasanya was-was atau perasaan ga berguna itu dari setan, plus ditambah overthinking. Dulu kerasa banget sih, gimana kata-kata sederhana dari orang lain, bisa bantu biar ga tenggelam dalam pikiran/perasaan useless.

👤 Bella

Oh ya, kalau highlight saya dari video SSS pekan ini.

*

There’s another powerful realization and that is *physical wellbeing, financial wellbeing, social wellbeing are all one thing.*

*But* spiritual well being, my relationship with Allah, *if this sickness got to a point where I started getting cut off from Allah Himself, that will be the worst thing that could ever happen.* That’s the ultimate harm. And compared to that harm, this is nothing.

*

Karena ujian/harm terhadap dunia itu.. kehilangan kita, rasa sakitnya, dan perasaan negatif lainnya yang dialami, itu cuma di dunia.

Tapi kalau ujiannya, udah sampai nyentuh ke agama. Maka efeknya bakal ngaruh ke akhirat kita.

***

Keinget juga doa di belakang mushaf.

Walaa taj’al mushiibatanaa fii diininaa.

Dan janganlah Engkau jadikan musibah kami ada dalam urusan agama kami.

Allahua’lam.

👤 Bu Atik

Setuju mba Bella, 👍

Sama kalau boleh saya menambahkan, perasaan gak berguna itu biasanya muncul ketika kita kurang menghargai diri sendiri, kurang mengapresiasi atau diapresiasi kebaikan-kebaikan ataupun pencapaian pencapaian sederhana yang kita lakukan. Ketika kita menghargai diri sendiri, serta mensyukuri semua itu sebagai anugerah Allah yang tak pernah menciptakan produk gagal, insyaAllah perasaan gak berguna itu akan menipis dan bahkan perlahan menghilang.

Kita akan lebih memaknai manfaat kehadiran kita, minimal bagi orang-orang terdekat, misalnya keluarga atau sahabat. Tidak musti prestasi besar, bahkan ketika kita bisa menyingkirkan duri di jalan saja dan kita menyadari bahwa itu bisa menyelamatkan orang lain dari terkena bahaya, insyaAllah kita sudah berguna bagi orang lain. Wallahu Ta’ala A’lam, cmiiw 🙏

👤 Mba Mira

Kayaknya emang nature nya manusia pengen berguna buat orang lain ya. 😅 Ga banyak2 jg gpp kang, 1 orang juga cukup kalau kita belum mampu. 💪🏼

👤 Mba Melina

Bismillah 

Banyak orang yang berdoa merasa bahwa Allah tidak mengabulkan doanya. Sh. YQ menyatakan bahwa ini adalah hal yang tidak boleh dilakukan ketika berdoa’. Boleh jadi penyebab tidak dikabulkannya doanya adalah asumsinya ini sendiri. Mengharapkan yang terbaik dari Allah serta yakin bahwa Allah yang Maha Pengasih dan Maha Perkasa akan menjawab doa-doa kita adalah bagian dari Iman. 

Seorang Muslim harus berdoa dalam segala kondisi, termasuk dalam kondisi yang sepertinya sudah tidak ada harapan lagi. Bahkan mestinya ini adalah satu-satunya alasan untuk memohon kepada Allah penuh harap dan keikhlasan. Dialah yang telah menetapkan kondisi tersebut dan hanya Dia yang bisa mengubah ketetapan itu. Jadi sangat penting untuk menghadapkan diri dan berdoa kepadaNya.

Renungkanlah pernyataan dari Sufyan bin Uyaynah berikut ini:

“Jangan sampai ada diantara kalian mengira bahwa doa’nya tidak akan dijawab karena dosa yang telah ia perbuat. Sungguh Allah menjawab doa’ dari ciptaannya yang terburuk, yakni Iblis (laknatullah), ketika ia berdoa:

قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴿٣٦﴾ قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ ﴿٣٧﴾

Dia (Iblis) berkata, “Ya Rabb! Berilah aku tangguh hingga datangnya Hari Penilaian!” Dia (Allah) menjawab, “Kalau begitu maka kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh.” (QS. Al-Hijr: 36-37).””

Jadi, bahkan doa Iblis dikabulkan, tentunya doa seorang pendosa punya hak yang lebih dari pada ini.

Kutipan dari PDF Sh. YQ yang dishare Pak Heru.

Jazaakumullahu khayraa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s