[VoB2020] Qalbun Salim


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-165

Topik: Divine Speech

Kamis, 3 November 2020 

Materi VoB Hari ke-165 Pagi | Qalbun Salim

Oleh: Rendy Noor Chandra

#ThursdayDivineSpeechWeek24Part1

Part 1

Banyak diantara kita yang masih susah melupakan masa lalu. Sesuatu pernah terjadi dan kita tidak bisa melepaskan atau merelakannya. Enggak bisa let it go. Kalau diingat lagi, malah bikin tambah sakit hati. Ingat lagi kejadian itu, padahal sebelumnya tidak. Dan dengan begitu makin tambah stres.

Sepasang suami istri bertengkar 6 bulan yang lalu, lalu sekarang sudah baikan. Tiba-tiba, salah satu diantara mereka bilang,

 “Ingat enggak dulu waktu kita berantem?”

“Oh, itu…. itu cuma becanda aja , kan?”

“Enggak. Aku serius! Aku masih ingat waktu itu kamu bilang apa…”

Dan semuanya kembali lagi dari awal. 

“Itu kan 6 bulan yang lalu.. kenapa di-replay lagi?”

Jadinya seperti mereka baru saja bertengkar seperti 6 bulan yang lalu. Ia belum bisa melepaskan apa yang sudah pernah terjadi. Walaupun semua saat ini baik-baik saja, mereka sudah pernah saling memaafkan, tetapi ia masih belum bisa melepaskannya. 

Terkadang, pasangannya yang masih mengungkit-ungkit kejadian pertengkaran itu lagi. Jadi bisa saja  terjadi di keduanya.

Inilah Rabthul Qalb

Allah akan memberikan kekuatan pada hati kita jika kita memang memohon kepada-Nya.

🙂🙂🙂

Ketika kita berbicara tentang hati, seringnya kita mengaitkan hati kita dengan iman, takwa, dan takut kepada Allah. Bagaimana hubungan kita dengan Allah. 

Padahal, dalam Al-Qur’an, diskusi tentang hati tidak hanya berkaitan dengan Allah saja, tapi berhubungan juga dengan hubungan dengan manusia lain.

Allah akan berkata pada hari kiamat,

إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ

-QS. Asy-Syu’ara:89

Orang yang aman pada hari kiamat adalah yang datang dengan hati yang bersih.

Tapi hati kita tidak hanya isinya tentang cinta, yakin, takut, dan harap pada Allah saja. Hati kita isinya juga ada bagian cinta kepada ibu, cinta kepada istri, cinta kepada anak, dan kepada semua orang dalam kehidupan kita. Dan ketika ada rasa benci, iri, dan lainnya, itu terjadi dimana? Dalam hati juga, kan?

Makanya, ketika kita berjumpa Allah, kita harus datang dengan hati yang bersih. Bukan hanya hati yang bersih ketika berhubungan dengan Allah, tapi juga hati yang bersih yang menyangkut hubungan dengan sesama manusia. 

Artinya, hubungan kita dengan orang lain haruslah baik. Kita harus menjaga hubungan kita dengan orang tua, pasangan, anak, teman, tetangga, dan lain-lain. 

 لَوۡلَآ أَن رَّبَطۡنَا عَلَىٰ قَلۡبِهَا لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

-QS. Al-Qashash:10

Itulah konsistensi Al-Qur’an tentang fuad dan qalb dalam Al-Qur’an. Berikutnya, Ustaz Nouman akan memberi contoh lain. Contoh apakah itu?

 (bersambung insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da Zhuhur )

Sumber: Home / Quran / Courses / Divine Speech / 05. Consistency in the Quran (06.58 – 09.00)

*****


Materi VoB Hari ke-165 Siang | Misran dan Misra

Oleh: Rendy Noor Chandra

#ThursdayDivineSpeechWeek24Part2

Part 2

Ustaz Nouman akan memberikan contoh lain terkait konsistensi dalam Al-Qur’an.

Salah satunya adalah,

ٱهۡبِطُواْ مِصۡرٗا فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلۡتُمۡۗ

Jadi misran dan misra itu berbeda.

Kalau misran itu artinya pedesaan atau tanah pertanian, sedangkan misra artinya Mesir. Bedanya hanya di tanwin saja.

Secara teknis yang dibahas disini adalah mamnu minash sharf versus mu’rab, yang intinya ya tadi, misran itu pedesaan sedangkan misra itu Mesir.

Sementara itu di ayat lain Fir’aun berkata,

أَلَيۡسَ لِي مُلۡكُ مِصۡرَ

Apakah ini pedesaan atau Mesir? Pastinya Mesir karena ujungnya tidak ada tanwin.

Bukankah kerajaan Mesir ini hanya milikku seorang?

Siapa yang bertanya? Tentu Fir’aun.

وَهَٰذِهِ ٱلۡأَنۡهَٰرُ تَجۡرِي مِن تَحۡتِيٓۚ

Dan sungai (Nil) ini (mengalir) di bawah kakiku?

Ini kerajaanku. Mesir milikku, begitu katanya.

Sekarang ayat yang sebelumnya,

ٱهۡبِطُواْ مِصۡرٗا فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلۡتُمۡۗ

Nah, kalau ini artinya pedesaan, bukan Mesir. Tapi, kenapa Nabi Musa mengucapkan kata yang mirip dengan Mesir ini ya? 🤔

Jadi ceritanya Nabi Musa Alayhissalam berhasil menyeberangkan Bani Israil melewati Laut Merah dengan mu’jizat laut terbelah dari Allah.

Mereka berhasil lolos dari kejaran Fir’aun dan pasukannya. Sekarang, mereka berada di tengah gurun pasir dan hampir mati karena tidak ada makanan dan air.

Kemudian Allah menurunkan kepada mereka awan yang menaungi mereka seperti payung agar mereka tidak kepanasan. Tidak hanya itu, mereka juga butuh air.

Mereka dapat air darimana?

Nabi Musa kemudian memukulkan tongkatnya ke batu lalu muncullah 12 buah mata air. 

Tapi air saja tidak cukup untuk bertahan hidup, mereka butuh makan.

Bagaimana Bani Israil bisa makan sesuatu di tengah gurun?

Alllah menurunkan Manna dan Salwa.

وَأَنزَلۡنَا عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَنَّ وَٱلسَّلۡوَىٰۖ

Manna itu seperti biji atau gandum yang bisa mereka pakai untuk membuat roti. Sedangkan salwa semacam burung yang menurut sebagian orang tidak akan terbang kalau ditangkap. Mudah mendapatkannya. Dimasak, lalu dimakan. Jadi mereka punya roti dan daging. Karbo dan protein. 

Enggak 4 sehat lima sempurna sih, tapi cukup untuk bertahan di tengah gurun.

Lalu bagaimana kelanjutan kisahnya?

 (bersambung insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da Ashar )

Sumber: Home / Quran / Courses / Divine Speech / 05. Consistency in the Quran (09.00-12.21)

*****


Diskusi dan Tanggapan VoB Hari ke-165 Siang | Misran dan Misra

Kartika: 

Bagaimana caranya ya kak agar hati kita tuh benar” bersih?

Tidak ada lagi rasa sakit hati kak?

Ajeng Izura:

Bantu sharing ya kak.. kalo aku lebih ngerasa di serahin ke Alloh aja kak rasa sakitnya, lebih ke pasrah, tapi nangis dulu dan curhat dulu sama Alloh dan orang yg paling kita percayai..

Kartika:

Iya kak..rasa plong ya kak.jazakillah kak💐

Hain:

terimakasih atas pertanyaannya, kak. 

InsyaaAllah sdh diterima juga sama teman2 tim VoB ya, kak

waaahhh makasih sharing nya, kak…

*****


Materi VoB Hari ke-165 Sore | Bosan dengan yang Itu Lagi

Oleh: Rendy Noor Chandra

#ThursdayDivineSpeechWeek24Part3

Part 3

Kemudian, suatu hari seorang pemuda berkata kepada temannya, 

“Hey bro! Nanti malam kamu mau makan apa?”

“Kayaknya bakal manna dan salwa malam ini.”

“Oh…. Sarapan besok makan apa?”

“ Aha! Aku punya ide! Gimana kalau Salwa dan Manna?”

Teman-teman, mungkin kita hampir tidak pernah makan makanan yang sama untuk sarapan, makan siang dan makan malam.

Ada yang cepat bosan. Tiap kali makan dalam sehari enggak boleh ada yang sama. 

Kalau ditawarin makanan yang sama, enggak mau.

Yauda, aku makan di luar aja.” Eh, tapi sekarang lagi COVID yak?

Kalau sekarang mungkin,  “Yauda, aku pesen ** food aja. ”

Biasanya kita akan cepat bosan pada menu yang itu-itu saja.

Bani Israil menyantap makanan yang sama tiga kali sehari selama berbulan-bulan. 

Kemudian, salah seorang pemuda Bani Israil, duduk bersama temannya dan berkata,

Hey man… ingat enggak waktu kita dulu di Mesir, kita suka makan bawang putih, kacang-kacang, bawang merah, tomat, timun…. Wah… enak ya…” ujarnya sambil mengunyah manna dan salwa. 

Ia membayangkan salad yang biasa ia makan waktu dulu di Mesir.

“Oh iya, ya… nyam-nyam… Eh, coba tanyain Musa. Dia kan bisa do’a ke Allah. Aku udah bosan dengan ayam dan roti ini. Mintain snack apa gitu… salad kek… atau rempah apa gitu….”

“Yuk!”

Kemudian mereka mendatangi Nabi Musa ‘Alayhissalam dan berkata,

فَٱدۡعُ لَنَا رَبَّكَ يُخۡرِجۡ لَنَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلۡأَرۡضُ مِنۢ بَقۡلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَاۖ

Bisa enggak kamu minta ke Tuhanmu bawang, kacang, timun dan lainnya? 

Pertanyaaannya, mereka belajar nama tumbuhan ini dari mana?

Pastinya bukan dari gurun karena di gurun tidak ada tanaman. Mereka belajar tanaman ini sewaktu di Mesir.

Jadi mereka meminta makanan yang sebelumnya pernah mereka makan sewaktu di Mesir. 

Berdasarkan penelitian, bahwa dalam mitologi Mesir ada makanan-makanan khusus untuk para elit politik. Dan yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah sesuai dengan urutan prioritas dan kuantitas yang biasa mereka makan. Masya Allah…

Lalu, apa yang dikatakan Nabi Musa kepada mereka?

(bersambung insyaa Allaahu ta’aalaa pekan depan)

Sumber: Home / Quran / Courses / Divine Speech / 05. Consistency in the Quran (12.21-15.37)


Semoga Allah terangkan, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s