[VoB2020] Rabbi Najjinii Wa Ahlii Mimmaa Ya’maluun


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-153

Topik: Parenting

Sabtu, 21 November 2020

Materi VoB Hari ke-153 Pagi | Rabbi Najjinii Wa Ahlii Mimmaa Ya’maluun

Oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek22Part1

Part 1

بسم الله الرحمن الرحيم

Fitnah ada di seputar anak-anak kita. Fitnah yang seperti apa?

Adakah doa yang bisa kita panjatkan supaya anak-anak kita terhindar dari fitnah itu?

Amati percakapan anak-anak kita. Anak keturunan kita sendiri maupun anak-anak Indonesia, generasi penerus negeri ini.

Percakapan lewat telepon maupun ‘percakapan’ mereka di medsos.

Adakah mereka punya rasa malu terhadap hal-hal yang asusila? 

Apakah mereka ngomong secara vulgar? 

Bagaimana percakapan mereka di seputar homoseksualitas?

Tidakkah mereka terpapar berita tentang pernikahan sesama jenis? 

Apakah kita sebagai orang tua paham betul bagaimana pendapat anak-anak kita terkait masalah itu?

⏸️⏸️⏸️⏸️⏸️

Siapakah nabi yang harus menghadapi fitnah semacam ini? 

Luth ’alayhis salaam

Dan kita tahu bahwa saat itu Nabi Luth juga membesarkan putri-putri beliau.

Karena Nabi Luth memiliki anak-anak yang tumbuh di komunitas yang ‘seperti itu’, beliau begitu mengkhawatirkan segala hal yang terjadi di luar sana.

Anda dan saya bukan Nabi Luth. Tapi kalau kita hidup di zaman itu dan menjadi Nabi Luth, kita pasti memiliki kekhawatiran yang sama terhadap anak-anak kita.

Maka Nabi Luth memanjatkan doa ini.

Doa ini ada di Al-Qur’an. 

By the way, tidak biasanya ustaz menyebutkan nama surah dan nomor ayatnya. Jika dalam tulisan-tulisan VoB disebutkan nama surah dan nomor ayat, di luar surah dan ayat yang sedang dibahas, maka itu biasanya adalah tambahan dari penulis-penulis VoB untuk memudahkan pembacanya.

Tapi khusus doa ini, ustaz menyebutkannya. Nama surah dan nomor ayatnya. Surah Asy-Syu’ara’, surah ke-26, ayat 169 dan 170.

رَبِّ نَجِّنِی وَأَهۡلِی مِمَّا یَعۡمَلُونَ

(Qur’an Surah Asy-Syu’ara, 26:169)

”Master, rescue me and my family, from the things that they do.”

“Rabb-ku, selamatkan aku dan keluargaku, dari hal-hal yang mereka lakukan.”

Kita berdoa sama Allah supaya diselamatkan dari hal-hal yang mereka lakukan.

Najjinii wa ahlii mimmaa ya’maluun.

Apa arti doa ini sebenarnya?

“Selamatkan aku dari kejahatan mereka, jangan jadikan kami korban dari kejahatan mereka.”

Itu salah satu artinya.

Arti lainnya: jagalah kami supaya tidak melakukan seperti yang mereka lakukan. Jagalah kami supaya tidak ikut-ikutan amal mereka, mimmaa ya’maluun.

Arti ketiga: jagalah kami dari segala mara bahaya, akibat perbuatan mereka.

Karena saat ada orang-orang yang melakukan kejahatan, mulailah terjadi ‘pencemaran’ di kehidupan masyarakat. “Ya Allah, jangan biarkan kami ‘tercemar’ dari apa yang mereka lakukan.”

Rabbi najjinii wa ahlii. Selamatkan kami dan keluarga kami dari hal-hal yang mereka lakukan. 

فَنَجَّیۡنَـٰهُ وَأَهۡلَهُۥۤ أَجۡمَعِینَ

(Qur’an Surah Asy-Syu’ara, 26:170)

Allah lalu menyelamatkannya dan keluarganya semuanya.

Ketika kita mengucapkan doa ini dengan penuh ketulusan kepada Allah, untuk melindungi anak-anak kita dari kejahatan yang ada di sekeliling kita, Allah akan melindungi.

Allah akan melindungi kita semuanya. 

Concern kita kepada anak-anak kita bukan hanya terhadap kejahatan dan fitnah yang seakan mengepung mereka.

Concern kita kepada anak-anak kita juga menyangkut penyelamatan generasi yang berkelanjutan. Tentang yang mereka sembah setelah kita wafat.

Seperti halnya Nabi Ya’qub dan Nabi Ibrahim. Yang sangat concern dengan apa yang anak keturunan mereka lakukan setelah mereka wafat.

Allah memberi skenario kepada kita di Al-Qur’an. 

أَیَوَدُّ أَحَدُكُمۡ أَن تَكُونَ لَهُۥ جَنَّةࣱ مِّن نَّخِیلࣲ وَأَعۡنَابࣲ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ لَهُۥ فِیهَا مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِ وَأَصَابَهُ ٱلۡكِبَرُ وَلَهُۥ ذُرِّیَّةࣱ ضُعَفَاۤءُ فَأَصَابَهَاۤ إِعۡصَارࣱ فِیهِ نَارࣱ فَٱحۡتَرَقَتۡۗ كَذَ ٰ⁠لِكَ یُبَیِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَتَفَكَّرُونَ

(Qur’an Surah Al-Baqarah, 2:266)

Ayawaddu ahadukum. “Apakah ada di antara kalian yang suka.”

An takuuna lahuu jannatun min nakhiilin wa a’naab. “Bahwa kalian memiliki surga dengan kebun kurma di dalamnya, dan juga anggur di dalamnya.”

Tajrii min tahtihal anhaar. “Yang mengalir di bawahnya, sungai-sungai.” (Jadi ada air terjun di dalam kebun itu)

Lahuu fiihaa min kullitstsamaraat. “Segala jenis buah-buahan dia punya, ada di dalamnya.”

Wa ashaabahul kibar. “Lalu tiba-tiba dia menjadi tua.” Old age hits him. Usia tua menghantamnya. Old age shoots him down. Dia tiba-tiba kalah dan lemah oleh usia tua.

Walahuu dzurriyyatun dhu’afaa’. “Sedangkan dia punya keturunan yang masih kecil-kecil.

Sampai di sini, sudah terbayangkah skenarionya seperti apa?

Insya Allah kita lanjutkan ba’da zhuhur.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home  / Quran  / Courses  / Parenting  / 10. Concerned Parents Part 4 – Parenting (11:33 – 14:15)


Materi VoB Hari ke-153 Siang | I Don’t Think That This Will Perish – Ever!

Oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek22Part2

Part 2

بسم الله الرحمن الرحيم

Begini cara ustaz membuat analogi tentang skenarionya.

Seseorang yang hidup berkelimpahan. Kaya raya. Lingkungan dan tetangganya juga baik. Di Texas. Uangnya susah ngabisinnya. Keluarga terpandang. Segala sesuatunya lancar jaya. 

Lalu tiba-tiba dia menjadi begitu tua. Dan anak-anaknya sangat sangat lemah. Dzurriyyatun dhu’afaa’. Anak-anak yang masih kecil dan lemah.

Fa ashaabahaa i’shaarun fiihi naarun fahtaraqat. Dan kekayaannya yang melimpah ruah itu, semuanya hilang lenyap. Datang angin yang mengandung api. Semua kebunnya ludes.

Dia terlalu tua untuk memulihkan itu semua. Dan anak-anaknya masih kecil-kecil dan tak berdaya.

Allah menyatakan, “Apakah kita ingin punya kebun yang luas? Yang sedap dipandang mata? Bagaimana jika kejadian seperti itu terjadi di kebun kita?”

“Bagaimana jika kejadian seperti itu menimpa kekayaan kita? Dan semua aset kita? Semua aset orang tua dan keluarga kita? Apa yang akan kita lakukan?”

Lalu di akhir ayat Allah menutupnya dengan kadzaalika yubayyinullaahu lakumul aayat, la’allakum tatafakkaruun.

Itulah cara Allah menyampaikan kepada kita, ayat-ayat-Nya. Supaya kita bisa merenungkannya. Supaya kita bisa memikirkannya secara mendalam.

Apa yang Allah ingin kita pikirkan di ayat ini?

Allah ingin kita berpikir tentang volatilitas dari apa saja yang kita miliki. 

Tentang fakta yang pasti akan datang: bahwa kita akan menjadi tua. 

Tentang uang yang kita miliki yang kita pikir akan aman buat kelanjutan sekolah anak-anak kita. Dan juga buat pernikahan mereka nanti. Dan seterusnya. 

Tapi itu semua mendadak hilang dalam hitungan sepersekian detik. Dengan sejumlah alasan. Apa pun alasan itu. Yang membuat kita tak berdaya. 

Allah ingin kita sadar, apa pun yang kita pikirkan, apakah kita baik-baik saja atau tidak, sebenarnya kita ‘tidak melakukan apa-apa’. Allah, sekali lagi, Allah, Dia lah satu-satunya yang mengizinkan itu semua terjadi.

Saat kita berpikir, “Yes! Sekarang aku yang pegang kendali!”, Allah bisa membalikkan keadaan seketika.

Allah dengan mudah bisa memberi kita pelajaran: mencabut semua yang ada dalam kendali kita!

Khususnya buat kita yang sudah merasa aman dan nyaman. Punya pekerjaan, punya penghasilan. Lalu berpikir bahwa kita sudah ‘mapan’. 

Dan kita lupa bahwa posisi ‘mapan’ itu bukan semata-mata usaha kita; tidak akan terjadi tanpa Allah mengizinkannya.

Bahaya sekali. Kalau kita jadi lupa diri dan tidak lagi ‘menganggap’ Allah. 

Padahal kita seharusnya bersikap yang sebaliknya: Allah adalah tempat kita bergantung sepanjang waktu.

Saat kita menganggap bahwa kita bisa ‘mapan’ semata-mata karena usaha kita sendiri, di saat itulah kita telah lupa. Di saat itulah kita telah durhaka. Kita tidak lagi membutuhkan Allah. Kita tidak butuh Allah sama sekali.

“Aku tidak perlu diurusi Allah.”

“Aku bisa mengurus diriku sendiri.”

Seperti dilukiskan di ayat tadi, di saat seperti inilah Allah bisa menghilangkan apa saja yang kita miliki. Apa saja yang kita banggakan.

Jangan sampai kita punya cara berpikir seperti itu. Berpikir bahwa kita mapan, aman, stabil, dan tidak butuh Allah lagi. Bahaya itu. Sangat bahaya.

Jangan sampai kita bahkan mengeluarkan kata-kata yang mendurhakai Allah. Apalagi sampai terucap. Harusnya: terpikir pun jangan. 

وَدَخَلَ جَنَّتَهُۥ وَهُوَ ظَالِمࣱ لِّنَفۡسِهِۦ قَالَ مَاۤ أَظُنُّ أَن تَبِیدَ هَـٰذِهِۦۤ أَبَدࣰا

(Qur’an Surah Al-Kahf, 18:35)

Ayat ini mengisahkan tentang seseorang yang memasuki kebunnya dengan sikap angkuh, berpikir bahwa kebunnya tidak akan binasa selama-lamanya.

”I don’t think that this will perish – ever!”

“Saya tidak berpikir bahwa ini akan binasa – selamanya!”

Sebuah contoh sikap dari seseorang yang gagal memposisikan dirinya.

Dia mengatakan hal itu pada dirinya sendiri. 

Ya, pada dirinya sendiri. Karena, di ayat Al-Kahfi 35 ini tidak terjadi dialog. Yang ada adalah monolog. Orang itu berbicara kepada dirinya sendiri.

Jangan berpikir bahwa kita bukan orang seperti itu. Jangan berpikir bahwa kita tidak beda dengan orang itu. 

Maksudnya, bukan ingin menuduh diri sendiri, tapi mengajak untuk berintrospeksi. Menengok ke dalam. Memasang kaca cermin. 

Mungkin kita tidak seratus persen seperti itu. Mungkin hanya sepuluh persen. Atau bahkan satu persen.

Qarun termasuk yang persentasenya parah. Mungkin lebih dari seratus persen. 

قَالَ إِنَّمَاۤ أُوتِیتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمٍ عِندِیۤۚ أَوَلَمۡ یَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَهۡلَكَ مِن قَبۡلِهِۦ مِنَ ٱلۡقُرُونِ مَنۡ هُوَ أَشَدُّ مِنۡهُ قُوَّةࣰ وَأَكۡثَرُ جَمۡعࣰاۚ وَلَا یُسۡـَٔلُ عَن ذُنُوبِهِمُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ

(Qur’an Surah Al-Qasas, 28:78)

Qarun bilang bahwa hartanya itu semata-mata karena ilmu yang dia miliki. 

Jika kita memiliki sikap seperti itu, maka kita dan keluarga kita berada dalam keadaan bahaya. Allah bisa menempatkan kita dan keluarga kita dalam sebuah fitnah yang dahsyat. 

Semoga kita terhindar dari sikap sedemikian. Dijauhkan dari pemikiran seperti itu. Mengagumi dan terkesan oleh kehebatan diri sendiri. Na’uudzu billaahi min dzaalik.

Kita tidak boleh lupa bahwa setan tidak akan pernah meninggalkan kita. 

Kita tidak boleh lupa bahwa setan tidak akan pernah meninggalkan anak-anak kita.

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِیَنَّهُمۡ أَجۡمَعِینَ

(Qur’an Surah Shad, 38:82)

“Aku bersumpah demi kemuliaan-Mu, Ya Allah, aku pasti akan menyesatkan mereka semuanya.” Begitulah setan bersumpah. “Saya tidak akan membiarkan satu pun tersisa.”

Mengapa ustaz perlu menyampaikan surah Shad 82 di titik ini?

Kita bahas apa pertimbangan ustaz, insya Allah ba’da ‘ashar.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home  / Quran  / Courses  / Parenting  / 10. Concerned Parents Part 4 – Parenting (14:15 – 17:08)


Materi VoB Hari ke-153 Sore | He Is After Us and After Our Kids

Oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek22Part3

Part 3

بسم الله الرحمن الرحيم

Ustaz perlu menyampaikan surah Shad 82 supaya kita sadar bahwa waswasa setan bukan hanya mendatangi kita. 

Waswasa setan juga akan mendatangi anak-anak kita.

Anak-anak kita makin tumbuh dewasa. Mereka tidak mungkin bebas kesalahan. Karena setan senantiasa mengintai mereka. Menyerang titik lemah mereka.

⏸️⏸️⏸️⏸️⏸️

By the way, wajar jika setiap orang tua berpikir bahwa anaknya adalah spesial. 

Wajar juga jika kita mengamati adanya dua kutub yang berbeda. 

1️⃣

Di satu sisi, ada orang tua yang berpikir bahwa anaknya terbebas dari semua kesalahan, dari semua dosa. 

Jenis orang tua yang ini, sangat mengelu-elukan anak-anak mereka. Bahkan mereka berpikir bahwa para malaikat selayaknya antri untuk mendapatkan tanda tangan dari anak-anak mereka.

2️⃣

Di sisi yang lain, ada orang tua yang berpikir bahwa anaknya tidak seharusnya lahir di dunia. Tak ada gunanya. Percuma. 

Bahwa anaknya adalah semacam produk gagal yang seharusnya tidak pernah ada di muka bumi.

⏸️⏸️⏸️⏸️⏸️

Dua contoh itu, dua-duanya keliru.

Mengapa?

Karena anak-anak kita adalah manusia. Anak-anak kita melakukan hal-hal yang dahsyat. Anak-anak kita juga melakukan kesalahan.

Mereka tidak luput dari godaan setan. 

Setan tidak pernah rela sama kita, dan anak-anak kita. Setan tidak pernah rela sama manusia. 

قَالَ أَرَءَیۡتَكَ هَـٰذَا ٱلَّذِی كَرَّمۡتَ عَلَیَّ لَىِٕنۡ أَخَّرۡتَنِ إِلَىٰ یَوۡمِ ٱلۡقِیَـٰمَةِ لَأَحۡتَنِكَنَّ ذُرِّیَّتَهُۥۤ إِلَّا قَلِیلࣰا

(Surah Al-Isra’, 17:62)

Di ayat ini setan berkata penuh kemarahan. Penuh kebencian. Penuh kedengkian. “Inikah yang lebih Engkau muliakan daripada aku!!??”

“Yang seperti ini? Hahhh? Yang seperti ini lebih Engkau muliakan!!??”

Yang setan bicarakan adalah ayahanda kita, Adam ’alayhis salaam.

“Yang seperti ini lebih mulia dari aku!!??”

“Beri aku tambahan waktu sampai hari pembalasan. Aku akan sesatkan keturunannya. Kecuali sebagian kecil.”

“Aku akan bikin banjir fitnah.”

“Aku tidak akan mengirimkan satu setan, tapi satu batalyon tentara setan untuk menyerang mereka.”

“Aku akan bombardir mereka dengan waswasa, waswasa, dan waswasa. Cukup beri aku waktu.”

“Saksikan apa yang akan aku lakukan.” 

Setan benar-benar bersumpah. Setan benar-benar bersungguh-sungguh.

Kecuali sangat sedikit. 

Semoga kita dan anak keturunan kita masuk ke yang sangat sedikit ini.

Tapi, ngeri betul memang komitmen setan untuk menyesatkan anak keturunan Adam ‘alayhis salaam.

Na’uudzu billaahi minasysyaithaanirrajiim. Sekali lagi, semoga kita dan anak keturunan kita termasuk ke dalam kategori yang sangat sedikit itu. Yang waspada terhadap jebakan iblis la’natullaahu ‘alayh

قَالَ ٱذۡهَبۡ فَمَن تَبِعَكَ مِنۡهُمۡ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاۤؤُكُمۡ جَزَاۤءࣰ مَّوۡفُورࣰا

(Qur’an Surah Al-Isra’, 17:63)

Allah memang memberikan kelonggaran kepada iblis. Siapa di antara manusia itu yang mengikuti iblis, maka sungguh neraka Jahanam lah balasannya. 

Balasan untuk siapa? All of you alias kalian semua. Yang dimaksud ‘kalian semua’ di sini adalah iblis dan manusia yang mengikutinya. Menjadi satu dalam kata kum.

Jazaa-ukum. Bukan jazaa-uhum

Kalau jazaa-uhum, berarti yang masuk neraka hanya manusia yang mengikutinya. 

Tapi ini jazaa-ukum. Kalian semua: iblis plus manusia yang mengikutinya.

(وَٱسۡتَفۡزِزۡ مَنِ ٱسۡتَطَعۡتَ مِنۡهُم بِصَوۡتِكَ وَأَجۡلِبۡ عَلَیۡهِم بِخَیۡلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكۡهُمۡ فِی ٱلۡأَمۡوَ ٰ⁠لِ وَٱلۡأَوۡلَـٰدِ وَعِدۡهُمۡۚ وَمَا یَعِدُهُمُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ إِلَّا غُرُورًا)

(Qur’an Surah Al-Isra’, 17:64)

Allah memberi kelonggaran kepada iblis untuk memperdayakan manusia, siapa saja di antara mereka yang sanggup iblis perdayakan. 

Allah memberikan kelonggaran kepada iblis untuk menipu siapa saja yang sanggup iblis tipu.

Allah memberi kelonggaran kepada iblis untuk membikin bodoh siapa saja di antara manusia yang sanggup iblis bikin bodoh.

Allah menantang iblis untuk menjerumuskan manusia sebanyak yang iblis sanggup jerumuskan. Allah sudah memberikan ‘lisensi’ itu kepada iblis.

So he is after us and he is after our kids. 

Iblis mengejar kita dan anak-anak kita.

Iblis tahu jika mereka dapat menjerat kita, maka mereka dapat menjerat anak-anak kita. Mereka juga dapat menjerat kita melalui anak-anak kita.

Jadi kita harus sangat-sangat teliti dan berhati-hati terhadap waswasa setan. 

Kita tidak boleh berkhayal bahwa anak keturunan kita pasti terbebas dari fitnah ini. Bahwa anak keturunan kita pasti terbebas dari bisikan dan godaan setan. Faktanya tidak akan seperti itu.

Sebagai orang tua yang menaruh perhatian terhadap keislaman generasi keturunannya, kita juga akan dihadapkan pada realitas yang sulit yang kita harus siap mental menghadapinya.

Apa yang dimaksud dengan ‘realitas yang sulit’ itu? 

Kita akan membahasnya insya Allah minggu depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home  / Quran  / Courses  / Parenting  / 10. Concerned Parents Part 4 – Parenting (17:08 – 20:04)[End]


Diskusi & Tanggapan VoB Hari ke-153 Sore| He Is After Us and After Our Kids

Ajeng Izura:

Subhanalloh begitu seriusnya setan ingin menjerumuskan manusia.. aku pribadi merasakan memang besar sekali pengaruh bisikan setan itu.. terutama dalam mengendalikan emosi.. aku ingin bertanya kak gimana caranya supaya tidak mengikuti bisikan itu selain dengan ta’awudz? Apalagi kalo lagi mau marah2 dengan suami atau anak? Jazakumulloh

Hain:

Terimakasih atas pertanyaan menariknya kak Ajeng. Kalau saya personal biasanya mikir dampaknya pasti akan nyesel kalau mengikuti hawa nafsu teh. Terus suka inget kalau lagi dilihat Allah gitu…

Tapi kalau bagian tahan diri marah sama suami atau anak, ini maaf saya blm ada pengalaman apalagi gambaran. Mungkin teman2 di sini bisa share pengalamannya…

Gustya Indriani:

Dari salah satu tim VoB:

Ada beberapa opsi imho.

> Wudhu

> Shalat dua rakaat

> Snooze 24 jam (setelah tidur di malam hari, qiyamul layl, dll. Biasanya jauh mereda)

> Ingat janji Allah akan memberikan pahala tanpa batas untuk orang yang sabar

> Ingat contoh Rasulullah SAW yang dimaki-maki tapi tetap sabar dan lembut menyuapi 

> Baca doa wa laa takilnaa ilaa anfusinaa tharfata’ayn plus Al-Falaq plus An-Naas

Gustya Indriani:

Pengalaman saya pribadi, langkah-langkah yang saya ambil biasanya ini: https://konsultasisyariah.com/18243-cara-mengendalikan-emosi-dalam-islam.html 

Menurut banyak pakar pengasuhan anak (termasuk yang non-muslim) memang mengambil jeda/ take a break terbukti efektif untuk memberi waktu bagi kita agar dapat mengenali emosi yang kita rasakan, apa penyebabnya, dan mengelola emosi tsb agar reaksi dan tindakan yang kita lakukan tetap efektif serta do no harm


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s