[VoB2020] Menanggapi Tafsir Al-Qur’an dengan Adab


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-152

Topik: Pearls from Al-Kahfi

Jum’at, 20 November 2020

Materi VoB Hari ke-152 Pagi | Menanggapi Tafsir Al-Qur’an dengan Adab

Ditulis oleh: Ayu S Larasaty

#FridayAlKahfWeek22Part1

Part 1

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Di bagian awal pembahasan tafsir surat Al-Kahfi ini, Ustaz tidak langsung memberikan tafsir dari ayat-ayat Al-Qur’an tersebut menurut para ulama. Namun, kita diajak untuk memahami beberapa metode tafsir seperti bagaimana mendekat kepada Al-Qur’an, kemudian metodologi belajar Al-Qur’an, linguistik Al-Qur’an, dasar-dasar ilmu tafsir, sumber dan prinsip dalam mengambil tafsir, dan memahami konteks wahyu.

Nah, beberapa di antaranya sudah selesai dibahas, sekarang saatnya masuk ke bagian “Sumber dan Prinsip dalam Mengambil Tafsir”.

Dalam pembahasan ini, Ustaz mengingatkan bahwa posisinya sebagai murid dalam mempelajari tafsir Al-Qur’an.

Ustaz mengatakan bahwa meskipun beliau memiliki beberapa kritik atau pendapat yang berbeda dengan beberapa tafsir Al-Qur’an, dalam konteks tertentu, beliau tetap bukanlah seorang yang memposisikan diri sebagai pengkritik tafsir Al-Qur’an.

Meskipun Ustaz mengatakan, terkadang memang pembahasan tafsir Al-Qur’an itu sangat luas hingga di dalam surat Al-Kahfi para ulama tafsir ada yang memperdebatkan masalah warna anjing di dalam surat Al-Kahfi. Saat membacanya, Ustaz kerap kali bingung “Kenapa beliau-beliau bahkan membahas ini, yha?”

Namun, Ustaz tidak mempermasalahkan hal itu karena Ustaz memposisikan dirinya dengan beradab, Ustaz memahami bagaimana para ulama tafsir telah mendedikasikan dirinya bertahun-tahun hingga beberapa dekade dalam mempelajari tafsir Al-Qur’an.

Misalnya, saat ustaz berada di Indonesia, media memberitakan pertemuan beliau dengan wakil presiden dan Gubernur DKI Jakarta.

Beliau disebut-sebut sebagai pakar tafsir Al-Qur’an tapi tidak sedikit yang memberi pujian kepada beliau karena saat beliau mengajarkan Al-Qur’an dan bahasa Arab, beliau berhasil memposisikan diri sebagai orang awam.

That’s Adab, menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Berikutnya akan dibahas mengenai tafsir Al-Qur’an lebih dalam.

InsyaaAllah

Wallahu’alam

Sumber:  

Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 05. Resources & Principles of Tafsir – Al-Kahf – A Deeper Look (Start – 02:00)


Diskusi dan Tanggapan VoB Hari Ke-152 Pagi | Menanggapi Tafsir Al-Qur’an dengan Adab
Suryani:

Terima kasih 🙏🏻 

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Ka afwan ana mau sumbang pendapat mohon maaf sebelumnya, menurut ana bagaimana jika bahasan atau share ilmu nya itu dengan rekaman suara ( voice note)?

Gustya Indriani:

Ustaz Nouman Ali Khan memulai Bayyinah TV dengan podcast. Sebuah hasrat untuk sama-sama atha’naa, melalui sami’naa.

Tim VoB menyadari bahwa para pembaca memiliki kesibukan masing-masing. Entah itu bekerja, mengurus anak, atau sedang perjalanan, kami tidak ingin Anda kehilangan kesempatan untuk menggali mutiara dari samudra Bayyinah TV.

Untuk itu, kami harap dengan podcast VoB ini mampu menjadi sarana membantu Anda memahami Al-Qur’an melalui perspektif Ustaz Nouman Ali Khan.

Harapan kami, teman-teman bisa berbagi mutiara tersebut dengan kerabat Anda. Karena mutiara ini tidak akan ada artinya jika hanya disimpan untuk diri kita sendiri.

Silakan follow akun spotify kami. Semoga bermanfaat.

Berikut link episode Pearls from Al-Baqarah.

Bagi yang ingin mendengarkan materi-materi VoB di Spotify, silakan klik tautan di atas ya


Materi VoB Hari ke-152 Siang | The Line Between Respect and Friendly

Ditulis oleh:  Ayu S Larasaty

#FridayAlKahfWeek22Part2

Part 2

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Dalam menuntut ilmu, kita memang harus memperhatikan adab terhadap guru. Namun, yang harus menjadi objektivitas kita dalam melihat benar atau tidaknya ilmu yang dibawakan oleh seorang guru, bukanlah seberapa banyak ilmu yang dimiliki oleh guru atau ulama tersebut.

Karena kita sama-sama mengetahui bahwa banyak sekali bukan orang-orang yang diberi gelar Ustaz atau Imam atau Syeikh, namun hal yang mereka lakukan adalah tidak lain memanfaatkan ambiguitas syariat agar bisa memenuhi hawa nafsu mereka.

Orang yang seperti itu, tidak lah sedikit.

Kita memang perlu bertanya dan memanfaatkan nalar kritis kita dalam belajar, namun di sisi lain tradisi menuntut ilmu dalam Islam amat berbeda jauh dengan yang dilakukan Barat hingga saat ini.

Barat berangkat pada sebuah titik dimana mereka meyakini bahwa apapun yang berasal dari manusia pasti tidak mutlak kebenarannya dan itu semua bisa digugat lalu direkonstruksi sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.

Hal yang jelas jauh berbeda bila dibandingkan dengan Islam, Islam memiliki metode tafsir Al-Qur’an tersendiri yang jauh berbeda dengan tafsir Barat (Hermeneutika) yang menggunakan perspektif sosio-historis.

Selain itu dalam Islam ilmu bersumber pada wahyu dan hadits. Kontras dengan Barat yang menjadikan rasionalisme (pikiran manusia) dan empirisme (pengalaman manusia) sebagai sumber ilmu.

Oleh karena itu, dalam menuntut ilmu, selain wajib mempertahankan tradisi menuntut ilmu dalam Islam. Kita perlu memperlakukan guru kita dengan adab.

Mungkin saja kita mengkritisi ide-ide yang cenderung bertentangan atau beresiko melenceng jauh dari nilai-nilai Islam. Namun hal tersebut tidak bisa seketika membenarkan sikap tidak beradab kita kepada guru/ulama tersebut.

Bukankah kita harus mempertimbangkan bahwa dia adalah seorang manusia, seorang berilmu, seorang muslim, bahkan kita wajib berasumsi bahwa siapa tahu dia jauh lebih baik dari kita?

Ustaz mengingatkan bahwa dalam berinteraksi di majelis ilmu kita perlu melakukannya dengan menjaga keseimbangan di dua sisi yakni RESPECT (rasa hormat/adab) dan FRIENDLY (keramahan/keluwesan/dinamis).

Sehingga akan terjadi interaksi intelektual yang optimal antara seorang murid dan guru, murid perlu bertanya saat belajar jika ada suatu hal yang mengganggu pikirannya. Namun hal ini tidak akan terjadi jika murid terlalu menghormati guru-gurunya. Bahkan, mungkin mereka akan merasa tersinggung jika ada murid lain yang sekadar bertanya pertanyaan biasa.

Sebaliknya, jika murid terlalu santai dan luwes kepada gurunya, maka mereka akan cenderung meremehkan guru dan ilmu yang diberikan oleh gurunya.

Maka, jagalah keseimbangan tersebut.

Tempatkanlah ia pada tempatnya, that’s adab

Wallahu’alam

Sumber:  

Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 05. Resources & Principles of Tafsir – Al-Kahf – A Deeper Look (02:01 – 07:21)


Diskusi dan Tanggapan VoB Hari Ke-152 Siang | The Line Between Respect and Friendly

Ajeng Izura:

Respect & Friendly 💙


Materi VoB Hari ke-152 Sore | Chapter Tidak Sama dengan Surah

Ditulis oleh: Ayu S Larasaty

#FridayAlKahfWeek22Part3

Part 3

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Kalimat yang paling sering kita dengar mengenai Al-Qur’an adalah “Al-Qur’an ini bukan seperti buku biasa.”

Dalam memahami sebuah buku, lazimnya kita membaca bab per bab buku tersebut. Kemudian judul bab tersebut sudah dapat menggambarkan isi atau konten dari bab buku tersebut.

Bab ini dalam bahasa Inggris disebut CHAPTER.

Namun, berbeda dengan SURAH dalam Al-Qur’an. Surat dalam Al-Qur’an tidak memiliki makna yang sama seperti Bab/Chapter di buku atau novel biasa.

Ketika kita membaca ayat dalam satu Surat Al-Qur’an, seringkali tidak sama isinya, pembahasannya, tafsirannya dengan nama Surat di Al-Qur’an.

Ustaz Nouman memberikan contoh.

“Apa yang Anda pikirkan ketika pertama kali mendengarkan nama Surat Al-Baqarah?”

Kita pasti secara otomatis langsung berpikir tentang sapi betina atau mungkin beef, mungkin juga sosis dan rendang.

hehe

Namun, tidak demikian dalam Al-Qur’an.

Keunikan inilah yang mengecoh Nabi Palsu setelah meninggalnya Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wassalam.

Nabi palsu itu bernama Musailamah al-Kadzdzab. Ia berpikir bahwa ayat Al-Qur’an adalah sekumpulan ayat ritmis yang tanpa makna, sehingga ia pernah mengaku sebagai nabi palsu dan mengklaim wahyu telah turun kepadanya.

Hingga saat ini tak ada seorang pun yang mampu meniru satu ayat Al-Qur’an pun, apalagi satu Surat. Ayat Al-Qur’an mengandung hikmah, sumber hukum hingga menciptakan ketenangan yang tidak bisa dideskripsikan kecuali oleh mereka yang membacanya.

Upaya-upaya membuat ayat Al-Qur’an pada akhirnya hanya menunjukkan kelemahan manusiawi, yakni kata-kata yang tuna-makna dan kosong dari hikmah atau bahkan membingungkan pembacanya.

Wallahu’alam

Sumber:  

Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 05. Resources & Principles of Tafsir – Al-Kahf – A Deeper Look (07:22 – 14:08)

***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s