Privilege of Knowledge


بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-157

Topik: Pearls from Ali Imran

Rabu, 25 November 2020 

Materi VoB Hari ke-157 Pagi | Privilege of Knowledge

Ditulis Oleh: Rendy Noor Chandra

#WednesdayAliImranWeek23Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Pekan lalu kita membahas tentang do’a dalam surah Ali-Imran yang sangat mendalam maknanya, yaitu:

Rabbana laa tuzigh qulubanaa ba’da idz hadaytana.

“Ya Allah, jangan biarkan hati kami menyimpang, setelah (momen) engkau menuntun kami.”

Kalau kita perhatikan, biasanya banyak ilmu membuat seseorang menjadi arogan. Semakin banyak ilmunya, biasanya orang akan semakin hormat.

Orang akan berkata,  “Masyaa Allah, ilmu bahasa Arabnya, ilmu tajwidnya, ilmu Qur’annya,  ilmu haditsnya… ilmu tentang dunia maupun ilmu akhirat. Keren banget orang kayak gitu.”

Kalau kita punya ilmu, baik ilmu dunia maupun akhirat, biasanya akan membuat kita lebih tinggi dibandingkan yang lain. Orang akan melihat dan memperlakukan kita tidak sama dengan orang lain. Kita akan dapat akses VIP.  Kita akan dapat banyak keuntungan atau bahasa kerennya privilege.

Ustaz Nouman akan menceritakan pengalaman beliau sewaktu di Bahrain. 

Jadi sewaktu di sana, Ustaz Nouman pergi sholat Jum’at. Tapi, beliau kesana bukan memberi khutbah tapi sebagai jamaah pada umumnya.

Kemudian beliau duduk, seperti orang normal. Kalau di sana, 15 menit sebelum adzan dimulai, masjidnya sudah penuh.

Orang-orang hanya duduk tanpa suara. Mungkin ada beberapa yang membaca Qur’an, tetapi 15 menit sebelum sholat Jum’at semua sudah hening.

Jadi Ustaz Nouman duduk di depan seseorang kakek. Biasanya kalau ada orang tua ke masjid kan suka duduk di kursi lipat, ya. Nah, Ustaz Nouman duduk di depan kakek ini karena sudah tidak ada tempat kosong lagi. 

“Saya nanti akan cari space kosong untuk sholat ketika saatnya tiba. Yang penting ini duduk dulu. “ kata Ustaz Nouman.

Kemudian, bapak-bapak di belakang beliau men-tap beliau dan berkata,

“Anda Noumaaaan?” dengan suara parau. 

“iy…iyaaaa?” Ustaz gugup menjawabnya. 😅

“Peluk saya!” kata bapak itu. Kemudian Ustaz Nouman berdiri dan memeluk sang kakek.

“Saya mendengarkan Anda setiap pagi!” 😁😁😁

Orang-orang di sekitar beliau melihat dan mendengar ini. Ustaz Nouman berjabat tangan dengan sang kakek, dan orang-orang pun menghampiri beliau, mengucapkan salam.

Alhamdulillah, sebelum Sholat Jum’at dimulai, orang-orang berhenti menghampiri beliau, dan seluruh jamaah duduk bersiap untuk sholat.

Setelah sholat Jum’at ternyata masih ada yang datang dan menjabat tangan Ustaz Nouman sambil mengucapkan salam.

Kemudian ada satu orang, favorit Ustaz Nouman. Orang ini duduk bersender di dinding masjid sambil mengalungkan tangannya ke kakinya yang tegak. Sebelah kakinya bersila, sebelah kakinya tegak, bergaya seperti bos, sambil memberi kode dengan menaikkan alisnya. 

Ustaz Nouman berusaha menuju ke tempat sepatu beliau, tapi orang-orang terus menerus menjabat tangan beliau, saling mendo’akan yang sebenarnya bagus. 

Kemudian orang yang duduk setengah bersila tadi menepuk beliau di bahu beliau dengan keras. 

“Assalamualaikum.” 🤨

“Wa’alaikumsalam”, jawab Ustaz Nouman.

“Anda itu ulama, bukan?” 

“Oh, bukan” jawab Ustaz Nouman

“Tokoh Islam?” 🤔

“Iya, kadang-kadang.”

“Oke, selfie dulu sama saya.” 😎

🤣🤣🤣

Ustaz tertawa menceritakan orang ini. Beliau bilang, “Dia terbaik.” Mungkin karena paling epik di antara orang-orang lain.

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 03. Ali Imran > 03. ‘Ali ‘Imran – Ayah 7-9 Ramadan 2018 (57:45 – 1:00:16)

*****


Materi VoB Hari ke-157 Siang | Privilege of Knowledge Part 2

Oleh: Rendy Noor Chandra

#WednesdayAliImranWeek23Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kita masih membahas Ali ‘Imran 7-9, tepatnya ayat 8, 

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ

(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”

-QS. Ali ‘Imran:8

Poinnya dari kisah Ustaz Nouman sebelumnya adalah semakin banyak ilmu yang kita dapatkan, semakin orang-orang akan menempatkan kita lebih tinggi alias lebih hormat. Tapi kita lupa, ilmu itu sebenarnya bukan milik kita. Ilmu tentang Al-Qur’an itu bukan sesuatu yang bisa kita miliki.

Walaupun kita memilikinya, atau punya seabreg ilmu tentang itu, tidak akan bermanfaat kecuali ia sampai ke hati. Petunjuk itu adanya di hati.

 وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ 

Barangsiapa yang beriman dengan Allah, maka Allah akan memberi petunjuk hatinya. Hatinya yang mendapat petunjuk.

Kita bisa punya semua ilmu Al-Qur’an tapi enggak ngaruh sama sekali ke hati kita.

Terus gimana, dong?

Makanya kita berdoa,

 وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ 

Berilah kami hadiah dari sisi-Mu, kasih sayang yang spesial.

Kasih sayang spesial apa yang kita minta di ayat ini?

Petunjuk untuk hati. Petunjuk ilmu, petunjuk untuk akal kita.

Tahu banyak informasi, bisa mengutip ayat, itu gampang, man. Easy.

Tapi hadiah petunjuk tadi? Allah memberi petunjuk ke hati kita, itulah rahmah. Dari sanalah kita bisa menghargai Ar-Rahmaan, yang mengajarkan Al-Qur’an.

Arrahmaan. ‘Allamal Qur’an.

Kalau kita belajar Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh, kita belajar dengan hati.

Linutsabbitabihi fuadaka

Allah Berfirman, “Aku menurunkan wahyu untuk mengokohkan hatimu.”

“Ayat-ayat ini hidup di dalam dada. (hati)” 

Fii suduriladziina uutul ‘ilm.

Intinya, kita memohon Allah untuk diberi rahmat.

Artinya apa? Pencarian ilmu kita pada dasarnya adalah pencarian rahmah Allah yaitu petunjuk.

Semua itu adalah hadiah. Bukan hak kita setelah melakukan kewajiban. 

Dan kita tidak akan pernah memiliki ilmu itu. Kita bisa punya titel sarjana, atau kita bisa lulus dari perguruan tinggi ini, atau kita dapat ijazah dalam bidang itu. Kita enggak bisa dapat ijazah dan petunjuk/hidayah berbarengan. Petunjuk itu bukan sekali dapat lalu kita punya selamanya.

Kita butuh hadiah ini (petunjuk) terus-menerus. Ibarat kita butuh minum air tiap hari. Tidak bisa minum segentong lalu selesai. 

Kalau dalam bahasa Arab ada istilahnya bentuk mubalagh melakukan sesuatu berulang kali, seperti:

Habbas, membuat roti terus-terusan

Qashshash, ia memotong terus-menerus.

Wahhab, adalah yang memberi hadiah lagi dan lagi.

Engkaulah yang terus-menerus memberi hadiah, tanpa henti, tak kenal lelah. Dan ketika engkau memberi hadiah, air mataku akan tumpah karena mendapat petunjuk.

Dan suatu saat aku akan lupa lagi, berbuat dosa lagi, menyimpang lagi. Dan hatiku akan kembali lagi dan memohon lagi. 

Tapi Engkau tidak mengatakan, “Ada apa? Bukannya kemarin kau sudah mengadu hingga menangis?”

Dan Engkau berikan lagi hadiah petunjuk itu. Lagi dan lagi. Tidak ada yang memberi hadiah seperti itu. 

Innaka antal wahhab.

Konteks dari ayat ini bisa menghasilkan persepsi yang berbeda-beda. Orang yang satu mungkin melihat sudut pandang yang tidak sama dengan yang lain.  GImana kita tahu kita pada jalur yang benar?

Yang benar adalah kita menyerahkan masalah kita pada  Allah. Tapi bukannya kita enggak ikhtiar dan meminta Allah menyelesaikan semua masalah, tapi lebih ke yakin bahwa Allah akan beri petunjuk. Dan Allah akan melindungi kita dari pertanyaan-pertanyaan yang kurang penting.

Misalnya seperti apa?

Bro, tapi kelompok yang itu sesat, yang itu aneh, mereka bilang begini pasti mereka itu sesat, kamu enggak ngasih tahu yang benar ke mereka?

Bukannya itu obsesi? Kalau kita terlalu memerhatikan hal seperti itu?

“Sekarang saya, akan sampaikan khutbah tentang kesesatan kelompok ini.”

“Saya akan bahas tentang kesesatan kelompok itu.”

Seringnya kita meng-undo masalah orang lain. 

Jadi ayat ini mengajarkan kita untuk fokus pada apa?

Insya Allah bersambung ba’da Ashar

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 03. Ali Imran > 03. ‘Ali ‘Imran – Ayah 7-9 Ramadan 2018 (1:00:16- 1:04:13)

*****


Materi VoB Hari ke-157 Siang | Allah Never Breaks His Promise

Oleh: Rendy Noor Chandra

#WednesdayAliImranWeek23Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Selanjutnya kita akan membahas ayat 9 dari Ali Imran:

رَبَّنَآ إِنَّكَ جَامِعُ ٱلنَّاسِ لِيَوۡمٖ لَّا رَيۡبَ فِيهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخۡلِفُ ٱلۡمِيعَادَ

”Ya Tuhan kami, Engkaulah yang mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya.” Sungguh, Allah tidak menyalahi janji.

-QS Ali Imran: 9

Ayat sebelumnya mengajarkan kita agar fokus pada diri kita sendiri bukan orang lain. 

Kalau kita mau melihat semua orang bersatu, maka kita harus memahami ayat selanjutnya, 

رَبَّنَآ إِنَّكَ جَامِعُ ٱلنَّاسِ

Engkaulah yang menyatukan manusia.

Ustaz Nouman tidak bisa mengumpulkan manusia dan semuanya mendapat petunjuk. Kita juga tidak bisa menyatukan semua orang karena perbedaan itu akan selalu ada. 

Nah, konteksnya ayat ini apa?

 لِيَوۡمٖ لَّا رَيۡبَ فِيهِۚ

Yaitu pada suatu hari, yang tidak ada keraguan padanya.

Ada dua arti sebenarnya dari   لَّا رَيۡبَ فِيهِۚ

Pertama, tidak ada keraguan tentang hari kiamat. Tidak ada keraguan akan fakta bahwa hari kiamat akan terjadi. Kedua, bahwa pada hari itu, tidak akan ada lagi keraguan lagi di dalamnya. Suatu hari semua keraguan akan sirna. Satu-satunya hari ketika semua keraguan lenyap adalah hari kiamat.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخۡلِفُ ٱلۡمِيعَادَ

Sesungguhnya Allah, Dia tidak pernah mengingkari janji. 

Ketika hari kiamat datang, apakah seseorang yang berkata, tafsirku benar tentang ayat itu? Apakah ada yang akan peduli dengan itu? Tidak.

Satu-satunya penting adalah bahwa Allah memenuhi janjinya untuk orang-orang yang punya kebaikan dalam hatinya. Cuma itu saja yang penting.

Tidak ada lagi yang lebih penting. Kita memenangkan adu intelektual sudah tidak penting.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخۡلِفُ ٱلۡمِيعَادَ

Ini adalah perjalanan menuju Allah untuk orang yang beriman. Dan di akhir surah Ali Imran akan ada perjalanan bagi orang yang tidak punya akses akan wahyu. Dan di akhir surah ini juga disebutkan bahwa Allah tidak akan mengingkari janji. Simetri yang menakjubkan dari surah Ali ‘Imran. Masyaa Allah

Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan  orang yang bisa membacakan do’a ini dengan hati yang tulus. Aamiin.

Insya Allah bersambung pekan depan

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 03. Ali Imran > 03. ‘Ali ‘Imran – Ayah 7-9 Ramadan 2018 (1:04:13-1:07:11)

*****


Semoga Allah terangkan, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s