[VoB2020] Warisan Ayah Ustaz


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-146
Topik: Parenting
Sabtu, 14 November 2020

Materi VoB Hari ke-146 Pagi | Warisan Ayah Ustadz

Warisan Ayah Ustadz
Ditulis oleh: Heru Wibowo
#SaturdayParentingWeek21Part1
Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Bayangkan anak-anak kita tidak mendapatkan pendidikan Al-Qur’an yang cukup. Lalu Allah bertanya kepada kita kenapa bisa begitu.

Bukan di dunia ini tentunya. Allah bertanya begitu di akhirat nanti. Sudah siapkah kita menghadapi pertanyaan itu?

Kitalah yang harus mengajari mereka. Sebagai orang tua. Seharusnya begitu. Kita sendiri yang harus mengajari mereka terutama jika kita tidak bisa mendapatkan guru buat mereka.

“Anakku kan jauh di luar kota?”

Tidak ada alasan. Ada Skype. Ada Zoom, Google Meet, Microsoft Teams, WhatsApp Video Call, atau sarana komunikasi tatap muka lainnya.

Mendapatkan sarana belajar Al-Qur’an sekarang tidak susah. Ada orang di masjid yang pasti bisa mengajar. Program belajar Al-Qur’an online juga banyak.

Ada video pembelajaran Al-Qur’an di YouTube. Dan yang sudah pasti: ada Anda. Ya, Anda. Sebagai orang tua. Yang kelak akan ditanya di akhirat, tentang pendidikan Al-Qur’an buat putra putri Anda sendiri.

Kita tidak perlu mencari-cari alasan. Percuma, tidak mungkin akan ketemu. Sama sekali tidak ada alasan lagi untuk mengabaikan pendidikan Al-Qur’an buat putra putri kita.

Putra putri kita harus bisa membaca Al-Qur’an. Kita harus mengajari mereka.

Ustaz tidak menyarankan kita untuk menggunakan metode mendidik yang super kuno. Main tempeleng atau marah-marah atau menceramahi mereka.

Mungkin cara-cara seperti itu berhasil puluhan tahun yang lalu, tapi tidak cocok lagi diterapkan di zaman now. Anak-anak kita butuh seseorang yang mengajarkan Al-Qur’an dengan kasih sayang. Bukan dengan penuh amarah.

Membaca Al-Qur’an seharusnya menjadi sebuah kegiatan yang dilakukan dengan penuh sukacita. Kita sekeluarga menikmatinya. Kita sekeluarga merayakannya.

Ustaz pernah menyimak bacaan Al-Qur’an putrinya. Putri beliau kurang sempurna membacanya. Putri beliau melakukan kesalahan.

Maka ustaz mengoreksi bacaan putrinya.

Lalu putrinya bertanya, “Abah, apakah Abah paham ayat ini dengan hati?”

Ustaz menjawab, ‘Tidak.”

“Wow! Kereeeeen!” putrinya menimpali.

Ustaz akhirnya sadar bahwa putrinya sengaja melakukan kesalahan itu. Ingin supaya dikoreksi ayahandanya. Ingin juga bertanya apakah ayahandanya paham ayat itu dengan hati.

Dan ustaz justru happy putrinya berbuat seperti itu. Ustaz justru suka ketika putrinya mengomentari bahwa ayahnya ‘keren’ karena tidak paham ayat itu dengan hati.

Ustaz sungguh-sungguh happy dengan kesalahan yang dilakukan putrinya. Karena kita harus memuliakan Al-Qur’an. Melakukan kesalahan dan mendapatkan koreksi adalah hal yang manusiawi.

Putra putri ustaz tentu saja beda-beda. Ada yang rajin dan ada yang agak sedikit malas. Tidak ada masalah. Mereka adalah anak-anak, bukan malaikat.

Ada yang membaca berlembar-lembar Al-Qur’an setiap hari dan tampak biasa-biasa saja. Tapi ada yang baru baca satu halaman Al-Qur’an saja sudah menunjukkan kepuasan lahir batin.

“Abah, aku sudah selesai baca satu halaman hari ini,” begitu sang anak melaporkan dengan penuh kebanggaan. Maka ustaz pun memujinya dan menyatakan kebanggaannya.

Kita sebagai orang tua tidak bisa meremehkan pencapaian yang sedikit dan enggan memberikan penghargaan. Kita harus merayakannya. Sesedikit apa pun pencapaiannya.

Kita tidak boleh membanding-bandingkan pencapaian anak-anak kita. Mereka tidak sama. Yang penuh semangat meski pencapaiannya sedikit, maka kita harus ikut bersemangat bersamanya.

Khudzil kitaaba biquwwah (خُذِ الْكِتٰبَ بِقُوَّةٍ). Pelajari kitab itu dengan sungguh-sungguh.

Kita mungkin pernah memanjatkan doa tanpa henti supaya dikaruniai anak. Dan ketika Allah mengabulkan doa itu, kita tidak mengajarkan Al-Qur’an?

Bahkan mungkin anak kita tidak kenal dengan Al-Qur’an? Apalagi sampai memegang teguh ayat-ayatnya?

Apa poinnya?

Anak kita bisa membaca Al-Qur’an, ini seharusnya menjadi prioritas kita semua. Dan anak kita harus melihat kita suka dan gemar membaca Al-Qur’an.

Jika kita membaca Al-Qur’an hanya pada saat kita mengajari anak-anak kita membaca Al-Qur’an, seharusnya kita malu.

Malu pada diri sendiri. Malu pada orang tua yang lain. Malu sama Allah, terutama. Karena membaca Al-Qur’an sendirian, hanya kita dan Allah, seharusnya menjadi disiplin dari setiap diri kita.

Ustaz masih ingat betul saat beliau kecil. Sering kali, saat beliau bangun tidur, beliau mendengarkan Kausar Ali Khan, ayahanda beliau sedang membaca Al-Qur’an.

Demikian juga dengan anak-anak kita. Seharusnya mereka sering mendengarkan kita sedang membaca Al-Qur’an. Meski kita tidak membaca Al-Qur’an supaya didengar oleh anak-anak kita.

Kebiasaan ayahanda ustaz membaca Al-Qur’an itu tidak pernah bolong. Selalu begitu. Setiap hari, setiap pagi. Bahkan hingga hari ini.

Seakan-akan membaca Al-Qur’an setiap pagi sudah menjadi semacam aturan hidup ayahanda ustaz. Beliau harus melakukan itu. Beliau menikmati melakukan itu. Tidak pernah bolong.

Dan itu adalah warisan yang akan ustaz teruskan ke putra putri beliau. Saat putra putri ustaz bangun, mereka mendengar ustaz sedang membaca Al-Qur’an.

Jika Anda adalah putra Kausar Ali Khan, akankah Anda mewariskan hal yang sama kepada putra putri Anda? Adakah keinginan dalam diri Anda, supaya putra putri Anda mendengar Anda membaca Al-Qur’an ketika mereka bangun tidur?

Anda tidak perlu malu untuk meneteskan air mata karena penulis pun tidak bisa menahannya.

Insya Allah kita lanjutkan ba’da zhuhur saat pipi kita tak basah lagi.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 10. Concerned Parents Part 4 – Parenting (04:44 – 07:07)


Materi VoB Hari ke-146 Siang | Muda tapi Dewasa

Muda tapi Dewasa
Ditulis oleh: Heru Wibowo
#SaturdayParentingWeek21Part2
Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Warisan yang luar biasa. Warisan berupa kebiasaan. Setiap anak-anak bangun tidur di pagi hari, mereka sedang mendengarkan orang tuanya membaca Al-Qur’an.

Penulis sendiri tidak pernah lupa dengan momen itu. Saat-saat penulis masih belum pindah ke Jakarta.

Puluhan tahun yang lalu, saat penulis masih remaja, penulis selalu mendengar ibunda penulis membaca Al-Qur’an. Setiap hari, tanpa henti.

Sebuah warisan yang tak ternilai. Warisan berupa kebiasaan. Sampai terbayang ke anak cucu. Meski belum punya cucu.

Tapi terbayang, saat cucu-cucu kita bangun tidur, mereka mendengarkan orang tuanya sedang membaca Al-Qur’an.

Kita suka mendengarkan orang-orang berebut warisan. Warisan harta yang membuat mereka jauh dari Allah. Jauh dari Al-Qur’an. Mengejar itu pun, mereka sampai rela menumpahkan darah.

Padahal ini ada warisan yang luar biasa. Warisan yang tak ternilai harganya.

“Kita harus menjadi orang yang rakus dan suka mencuri,” begitu nasihat salah seorang guru penulis. Yang beliau maksud adalah: mencuri waktu tidur untuk rakus membaca.

Sekarang, penulis ingin menasihati diri sendiri, “Aku harus menjadi orang yang suka merebut warisan orang.” Iya, benar. Penulis ingin merebut warisan Kausar Ali Khan, ayahanda ustaz.

Warisan berupa kebiasaan. Suka membaca Al-Qur’an, sehingga bacaan Al-Qur’an itulah suara yang anak-anak dengar saat mereka bangun tidur di pagi hari.

Kita harus melanjutkan sebuah kebiasaan yang baik. Dan bergembira merayakannya. Serta menanamkan kebiasaan tersebut ke anak keturunan kita.

Dengan cara itu pula kita memahami serta mengimplementasikan pesan universal Allah di Al-Qur’an. Khudzil kitaaba biquwwah. Pelajarilah kitab itu dengan sungguh-sungguh.

یَـٰیَحۡیَىٰ خُذِ ٱلۡكِتَـٰبَ بِقُوَّةࣲۖ وَءَاتَیۡنَـٰهُ ٱلۡحُكۡمَ صَبِیࣰّا
(Qur’an Surah Maryam, 19:12)

Wa aataynaahul hukma shabiyyaa. Dan lihatlah hadiah yang telah Allah berikan. Hadiah berupa Al-Qur’an. Dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Jika anak-anak berpegang erat kepadanya, maka hikmah itu adalah anugerah yang luar biasa.

Meski masih muda belia, tapi sudah dewasa. Banyak orang yang sudah tua usianya tapi belum dewasa.

Kedewasaan atau kematangan (maturity) diraih melalui hikmah dari Al-Qur’an.

Pelajarilah kitab itu dengan sungguh-sungguh. Padahal ayat tadi adalah tentang Taurat.

Bukan tentang Kitab yang pungkasan. Bukan tentang Al-Qur’an yang paripurna. Bukan tentang bacaan yang ketika dibaca bisa langsung menyucikan jiwa.

Membaca Al-Qur’an, memahami hikmah yang terkandung di dalamnya, membuat pembacanya dewasa meski masih muda.

Ada dua hal yang tidak bisa dipisahkan, yang saling terikat satu sama lain: memegang Kitab erat-erat, dan kedewasaan. Aataynaahul hukma shabiyyaa.

وَحَنَانࣰا مِّن لَّدُنَّا وَزَكَوٰةࣰۖ وَكَانَ تَقِیࣰّا
(Qur’an Surah Maryam, 19:13)

Dan Allah menjadikan rasa kasih sayang kepada sesama kita. Rasa kasih sayang yang berasal dari-Nya. Dibersihkan dari dosa. Dijadikan Allah menjadi orang yang bertakwa. Menjadi orang tua yang bertakwa.

Anak-anak yang memahami Al-Qur’an, yang mencintai Al-Qur’an, yang membaca ayat

وَبِٱلۡوَ ٰ⁠لِدَیۡنِ إِحۡسَـٰنًاۚ إِمَّا یَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَاۤ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَاۤ أُفࣲّ
(Qur’an Surah Al-Isra’, 17:23)

tentang berbuat baik kepada ibu bapak, dan jika salah satu atau keduanya berusia lanjut dalam pemeliharaan kita, maka kita tidak akan mengatakan uffin.

Kita tidak akan mengeluh. Tidak akan menunjukkan perasaan kesal. Tidak akan berbisik apalagi mengucapkan kata-kata yang bisa menyakiti perasaan orang tua kita.

Ketika Al-Qur’an sudah masuk ke hati, maka Al-Qur’an mampu mencegah kita untuk melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak mengenakkan hati orang tua kita.

هَلۡ فِی ذَ ٰ⁠لِكَ قَسَمࣱ لِّذِی حِجۡرٍ
(Qur’an Surah Al-Fajr, 89:5)

Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?

Ya. Pemahaman kita akan hikmah Al-Qur’an membuat kita bersumpah bahwa kita tidak akan melakukan atau mengatakan hal-hal yang bodoh. Seperti ada dinding tebal yang memisahkan kita dengan perilaku dan ucapan yang tolol.

Begitulah Al-Qur’an seharusnya memengaruhi diri kita. Ustaz menghormati, menjunjung tinggi, dan mempelajari Al-Qur’an secara sungguh-sungguh.

Dan ustaz berdoa semoga kita pun bisa memperlakukan Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh.

Oke, kita masih berada di bagian Concerned Parents. Para orang tua yang prihatin. Apa sebenarnya keprihatinan kita yang paling mendasar?

Pertanyaan tadi dapat dijawab dengan sebuah pertanyaan: apakah kita bisa memastikan bahwa anak cucu keturunan kita semuanya akan menjadi people of laa ilaaha illallaah?

Kita lanjutkan insya Allah ba’da ‘ashar.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 10. Concerned Parents Part 4 – Parenting (07:07 – 09:15)


Materi VoB Hari ke-146 Sore | Mudah bagi Allah untuk Menghapus dan Menggantikan Kita

Mudah bagi Allah untuk Menghapus dan Menggantikan Kita
Ditulis oleh: Heru Wibowo
#SaturdayParentingWeek21Part3
Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Tidak ada jaminan. Tidak ada jaminan bahwa anak cucu keturunan kita semuanya adalah muslim. Belum tentu semuanya akan mengikrarkan laa ilaaha illallaah.

Yang terpenting adalah: kita melaksanakan bagian kita. Kita mengerjakan urusan kita. Sebagaimana Nuh ’alayhis salaam melakukannya.

Anak Nabi Nuh sendiri, ternyata menolak kebenaran. Apakah ini berarti Allah menghukum Nabi Nuh?

Bukan. Bukan begitu.

Putra Nabi Nuh sendiri yang mengambil keputusan.
إِنَّهُۥ عَمَلٌ غَیۡرُ صَـٰلِحࣲۖ)
(Qur’an Surah Hud, 11:46)

Innahuu ‘amalun ghayru shaalih. He is just a bad deed walking around. Perbuatan putra Nabi Nuh ’alayhis salaam sungguh bukan perbuatan yang baik.

Berarti, kalau ada orang tua yang anaknya seperti itu, lumrah ya? Nabi saja anaknya bisa seperti itu. Normal-normal saja berarti kan?

Ya. Dan tidak.
Bisa bermasalah, bisa juga tidak.

Kita sebagai orang tua, jika sudah melakukan fungsi sebagai orang tua, sudah menjalankan bagian kita, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Nuh ’alayhis salaam, insya Allah aman.

Tapi jika kita merasa aman, tidak melakukan apa-apa, tidak peduli dengan keislaman anak cucu keturunan kita, maka masa depan kita berpotensi bermasalah.

Saat kelak Allah bertanya: “Apa yang sudah kamu lakukan untuk mengamankan keislaman generasi penerusmu?” Apa jawaban kita?

Itu bukan sesederhana sesi tanya jawab. Kemampuan kita menjawab pertanyaan Allah tidak ada hubungannya dengan keterampilan public speaking. Amalan kita selama di dunia lah yang akan menjawabnya.

هَـٰۤأَنتُمۡ هَـٰۤؤُلَاۤءِ تُدۡعَوۡنَ لِتُنفِقُوا۟ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ فَمِنكُم مَّن یَبۡخَلُۖ وَمَن یَبۡخَلۡ فَإِنَّمَا یَبۡخَلُ عَن نَّفۡسِهِۦۚ وَٱللَّهُ ٱلۡغَنِیُّ وَأَنتُمُ ٱلۡفُقَرَاۤءُۚ وَإِن تَتَوَلَّوۡا۟ یَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَیۡرَكُمۡ ثُمَّ لَا یَكُونُوۤا۟ أَمۡثَـٰلَكُم
(Qur’an Surah Muhammad, 47:38)

Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara kamu ada orang yang kikir, dan barangsiapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu (ini).

Luar biasa sekali ayat ini. Berinfak di jalan Allah itu mengamankan posisi kita. Supaya tidak diganti oleh yang lain yang tidak durhaka seperti kita.

Berinfak di jalan Allah. Mengeluarkan shadaqah. Berinfak untuk mendakwahkan agama Allah. Menjaga kita supaya tidak digantikan.

Maukah kita menjadi kaum yang disingkirkan. Sehingga Allah menggantikan kita dengan kaum yang tidak seperti kita?

Allah tidak butuh apa-apa dari kita. Allah juga Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

وَرَبُّكَ ٱلۡغَنِیُّ ذُو ٱلرَّحۡمَةِۚ إِن یَشَأۡ یُذۡهِبۡكُمۡ وَیَسۡتَخۡلِفۡ مِنۢ بَعۡدِكُم مَّا یَشَاۤءُ كَمَاۤ أَنشَأَكُم مِّن ذُرِّیَّةِ قَوۡمٍ ءَاخَرِینَ
(Qur’an Surah Al-An’am, 6:133)

Dan Tuhanmu Mahakaya, penuh rahmat. Jika Dia menghendaki, Dia akan memusnahkan kamu dan setelah kamu (musnah) akan Dia ganti dengan yang Dia kehendaki, sebagaimana Dia menjadikan kamu dari keturunan golongan lain.

Jika Allah ingin memusnahkan kita semuanya, itu terlalu mudah bagi Allah. Dari ada menjadi tidak ada. Dari satu pribadi menjadi nol.

Siapa yang nanti akan membawa panji-panji Islam? Bukan anak keturunan kita. Tapi anak keturunan mereka, kaum yang menggantikan kita.

Allah benar-benar tidak membutuhkan Anda dan saya.

Allah mengajarkan sebuah doa yang dahsyat. Doa untuk melindungi anak keturunan kita dari fitnah di sekeliling kita.

Fitnah apa saja yang kita hadapi? Dan bagaimana doanya?

Insya Allah kita singkap minggu depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 10. Concerned Parents Part 4 – Parenting (09:15 – 11:33)

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲
Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,
The Miracle Team
Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s