[VoB2020] Hati yang Keras vs Pengetahuan yang Mendalam


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-143

Topik: Pearls of Ali Imran

Rabu, 11 November 2020

Materi VoB Hari ke-143 Pagi | Hati yang Keras vs Pengetahuan yang Mendalam

Oleh: Wina Wellyanna

#WednesdayAliImranWeek21Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ada yang hanya mengejar ayat-ayat Tasyabuh sehingga tidak heran kesimpulan mereka bisa sangat jauh berbeda, aneh dan kontroversial dari ulama-ulama lain.

Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah.”

Rasakh

war-rāsikhụna fil-‘ilmi yaqụlụna

(”Dan orang-orang yang *mendalam* ilmunya berkata”)

Rasakha dalam bahasa Arab memiliki arti yang lebih dalam dari sekadar ‘mendalam’.

Ustaz mengibaratkan seperti… ugh sulit menulisnya 😅, tapi rasakha seperti kotoran sapi yang sudah sangat mengeras (kemudian kotoran ini di tempel di dinding, merupakan budaya di beberapa daerah di Pakistan dan India), ini yang disebut rusukh, sesuatu yang sudah sangat mengeras dan sudah melalui proses waktu yang lama.

Contoh lain, air hujan yang turun dan sepenuhnya meresap ke dalam tanah, melalui celah-celah di pori-pori tanah terus menuju ke tempat terdalam sehingga semua lapisan tanahnya telah tersentuh air, ini disebut rasakhal mathor

Yang pengetahuannya sudah sangat berakar, matang juga benar dan telah melalui berbagai proses sampai ilmunya sangat melekat, mereka ini yang disebut rasakh.

Sekarang kita masuk ke poin penting, di kalimat sebelumnya Allah mengatakan tentang orang-orang yang hatinya keras atau condong kepada kesesatan.

Sehingga versi kita, lawan dari hati yang keras dan jahat adalah hati yang lembut dan baik, tapi ternyata bukan itu yang Allah firmankan. 

Melainkan orang-orang yang menyerap ilmu-Nya dengan sangat dalam, rasakh.

Mereka yang telah matang dan sudah melalui tahapan sehingga ilmunya (air) meresap ke semua lapisan.

Ini cara Allah memberi tahu hamba-Nya, agar kita semua termasuk orang yang rasakh atau mendalam, pertama ilmu-Nya diserap oleh hati sebelum di telaah oleh akal, beriman sebelum berpikir.

Sejatinya ilmu pengetahuan atau isi Al-Qur’an bukan untuk akal kita, Allah menurunkan Al-Qur’an untuk hati.

Tadabur yang kita lakukan pada dasarnya adalah untuk ‘memberi makan’ hati kita yang ‘lapar’ akan hikmah.

Keseluruhan Al-Qur’an ditujukan untuk *hati* kita agar beriman.

(Bersambung in syaa Allahu ta’ala ba’da Zhuhur)

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 03. Ali Imran > 03. ‘Ali ‘Imran – Ayah 7-9 Ramadan 2018 (45:05 – 47:30)

******


Materi VoB Hari ke-143 Siang | Tazkiyatun Nafs

Oleh: Wina Wellyanna

#WednesdayAliImranWeek21Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ustaz kembali teringat dengan Nabi Ibrahim, a.s, yang pernah berdoa agar ketika bertemu dengan Allah dalam keadaan hati yang bersih (qalbun salim).

Kekayaan yang kita miliki dan meski rajin bersedekah, anak-anak yang soleh yang mendoakan kedua orang tuanya, tidak akan berguna apabila hati yang kita miliki tidak bersih.

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,”

(QS Asy-Syu’ara, 26:88-89)

Juga pada doa Nabi Ibrahim yang lain, doa tersebut Allah kabulkan 3.000 (tiga ribu) tahun kemudian dengan kedatangan Rasulullah ﷺ, beliau meminta kepada Allah kedatangan Rasul untuk menyucikan umat manusia (QS Al-Baqarah ayat 129).

Semuanya berkaitan dengan mensucikan hati, seperti itulah Al-Qur’an diturunkan, untuk hati, saat kedatangan kita kelak menghadap Allah semua amalan kita menjadi tak berarti jika hati tidak berniat untuk-Nya.

Innamal a’malu binniyat.

Al-Qur’an memang sepertiga lebih berkisah tentang nabi, rasul, dan umat terdahulu, dua pertiganya tentang hukum, tauhid dan lainnya.  

Semuanya bermuara untuk hati.  

Mencari hikmah dari kisah-kisah tersebut adalah salah satu makanan bagi hati kita.

💧💧💧

Jika hati tidak tersentuh ketika kita berinteraksi dengan Al-Qur’an, artinya 

ada sesuatu yang salah.

Kemudian ceritanya, kita mempelajari bahasa Arab di kelas dream ustaz NAK agar bisa mengerti Al-Qur’an, yang terjadi saat berinteraksi dengan Al-Qur’an kita menemukan ayat (atau mendengar dari orang lain) dan memiliki interpretasi yang ‘berbeda’ dan ‘kontroversial’ dari yang pernah kita pelajari, lalu apa yang harusnya kita lakukan? 

Mendatangi yang mendalam ilmunya, ahlinya atau guru yang berkapasitas, begitu bukan solusinya.

Tapi kemudian apakah orang yang mendalam ilmunya (war-rāsikhụna fil-‘ilmi) akan ngotot menjelaskan kekeliruan ini? 

Membersihkan fitnah atas interpretasi ayat tersebut?

Menerangkan panjang lebar ta’wil-nya?

Tidak.

Allah bilang dalam Ali-Imran ayat 7 ini, mereka yang mendalam ilmunya akan berkata:

āmannā bihī kullum min ‘indi rabbinā

“Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”

Tapi…tapi, jawaban seperti itu kan tidak menghilangkan kekeliruan atau fitnah dari interpretasi yang kontroversial.

Tentu tidak.

Lalu kenapa Allah mengatakan seperti itu adalah jawaban dari yang mendalam ilmunya? 

(Bersambung in syaa Allahu ta’ala ba’da Ashar)

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 03. Ali Imran > 03. ‘Ali ‘Imran – Ayah 7-9 Ramadan 2018 (47:31 – 49:35)

******


Materi VoB Hari ke-143 Sore | Berhenti Sebelum Melewati Batasi

Oleh: Wina Wellyanna

#WednesdayAliImranWeek21Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Jadi kalau Allah memberi contoh jawaban “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami” dalam rangka apa?

Karena pertanyaan-pertanyaan ini dianggap tidak penting.

Mungkin bagi kita jawaban ini terdengar tidak logis, bagaimana bisa suatu masalah yang sangat besar (besar untuk kita tentunya) dianggap tidak penting.

Apakah yang menjawab seperti ini benar-benar mendalam ilmunya?. 

Silakan kita meragukan, tapi Allah sendiri yang bilang jawaban itu adalah ciri orang yang mendalam ilmunya.

Kita kembali ke perumpamaan rasakh air hujan yang jatuh ke bumi dan meresap sampai ke lapisan tanah terdalam, meresap melalui celah-celah tanah, tak meninggalkan satu tempat yang kering, menyeluruh, holistik.

Ketika ilmunya sudah mendalam, tidak akan lagi tersisa keraguan.

Ketika ilmunya sudah berakar dengan kuat, tidak ada lagi yang bisa menggoyahkannya.

Ketika kita sudah paham bahwa Allah adalah Tuan, dan kita adalah budak-Nya, enggak akan ada keberanian sedikitpun dari kita untuk mempertanyakan kebenaran dari kata-kata Tuan kita.

Saat sudah mencapai titik pemahaman bahwa kita adalah budak-Nya, tidak lagi merasa lebih tau dari Tuan kita.

Di titik kesadaran bahwa kita adalah budak-Nya, ketika Sang Tuan bilang, ‘itu tidak perlu kau ketahui’, maka kita tidak lagi merasa tertarik untuk mengetahuinya.

Allah lebih tau dari kita, Allah tau mana kata-kata dalam kitab-Nya yang membuat budak-Nya bingung, atau merasa: 

‘ini ambigu sekali.’

Daripada bertanya-tanya, sesungguhnya akan lebih mudah jika kita menerima peran kita sebagai budak-Nya.   

Karena _sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit,_ saya sebagai budak-Nya akan menerima-Nya sebagai Zat Yang Maha Perkasa yang tidak bisa dikalahkan oleh sesuatupun.

Sebagai budak-Nya akan meyakini Zat Yang Maha Bijaksana, yang sangat tepat dalam mengukur dan tepat dalam mengatur.

Jadi, sepatutnya saya berhenti jika diri sudah bertanya melebihi batas.

Asal kita tau, berhenti bertanya saat sudah melewati batas bukan perkara mudah, apalagi untuk seseorang yang bergelar keilmuan tinggi.

Mengapa?

(Bersambung in syaa Allahu ta’ala minggu depan)

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 03. Ali Imran > 03. ‘Ali ‘Imran – Ayah 7-9 Ramadan 2018 (49:35 – 51:25)

******


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s