[VoB2020] Tafsir Al-Isyaari


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-138

Topik: Pearls from Al-Kahfi

Jum’at, 06 November 2020

Materi VoB Hari ke-138 Pagi | Tafsir Al-Isyaari

Ditulis oleh: Rizka Nurbaiti

#FridayAlKahfiWeek20Part1

Part 1

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Tafsir Al-Isyaari adalah sebuah tafsir Al-Qur’an yang fokus kepada makna yang tersirat dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Tepatnya mutiara-mutiara indah yang terdapat di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Ulama-ulama yang membuat tafsir (mufasir) Al-Isyaari ini ketika sedang membaca Al-Qur’an, mereka akan memikirkan isyarat tersembunyi yang terdapat di dalam ayat tersebut. Mereka menggali sesuatu yang tersirat di dalam Al-Qur’an.

Bagaimana contohnya?

Ustaz Nouman memberikan contoh isyarah (hikmah / isyarat tersembunyi) dari kisah yang terdapat pada surat Yusuf.

Dalam QS Yusuf, 12:4, Allah ﷻ menjelaskan bahwa Nabi Yusuf Alaihis Salam menceritakan mimpi yang beliau alami kepada ayahnya.

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَـٰٓأَبَتِ إِنِّى رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًۭا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِى سَـٰجِدِينَ

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku”.

Makna tersurat dari ayat tersebut yang kita ketahui hanyalah ‘Nabi Yusuf Alaihis Salam menceritakan mimpinya kepada ayahnya’.

Tapi dalam tafsir Isyari, para mufasir rahimahullah akan menggali makna tersirat dari ayat tersebut.

Makna tersirat atau isyarah yang dapat kita petik dari  ayat tersebut adalah bahwa ‘kita harus menjadi ayah yang baik sehingga putra kita akan nyaman dengan kita’.

Sehingga walaupun mereka hanya bermimpi, mereka akan menceritakannya kepada kita.

Menceritakan mimpi bukanlah hal yang biasa dilakukan seorang kepada orang tuanya. Mengapa?

Karena mimpi adalah hal yang sepele / kecil. Sehingga kebanyakan anak merasa hal ini tidak perlu diceritakan ke ayahnya, dan mereka tidak nyaman untuk menceritakannya.

Jadi, jika seorang anak bersedia menceritakan hal yang kecil tersebut berarti ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ayahnya.

Dengan kata lain apa yang dilakukan Nabi Yusuf Alaihis Salam kepada ayahnya yaitu Nabi Yaqub Alaihis Salam, menunjukkan kedekatan yang sangat spesial di antara keduanya.

Dan ini adalah hal yang langka untuk kebanyakan pasangan anak dan ayah lain.

Tidak biasanya seorang anak mau mendatangi ayahnya dan menceritakan apa yang dia lihat di mimpinya.

Sehingga Tafsir Al-Isyari pada ayat ini memberitahu kita tentang ‘bagaimana seharusnya sosok seorang ayah’.  

Jadi ayat tersebut tidak hanya berisi sesuatu yang diungkapkan secara eksplisit saja.

Tidak hanya menjelaskan bahwa Nabi Yusuf Alaihis Salam menceritakan mimpinya kepada ayahnya.

Tapi ada isyarah di dalamnya. Ada isyarat tersembunyi yang menunjukkan alasan mengapa Allah ﷻ menceritakan kisah tersebut.

Itulah contoh keluasan pemahaman tafsir Al-Isyaari. Tafsir yang menggali isyarat tersembunyi di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Ustaz Nouman sangat menyukai tafsir Al-Isyari ini. Beliau menyukai tafsir ini, karena ulama-ulama yang menafsirkan secara isyari ini adalah orang-orang yang selalu merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan sangat mendalam.

Mereka rahimahullah terus berusaha untuk mendapatkan manfaat lain yang bisa diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an tersebut. Dan hikmah apa yang bisa dipetik dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Bersambung in syaa Allah ba’da zhuhur.

Sumber:

-Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 04. Basics of Tafsir – Al-Kahf – A Deeper Look (22:49 24:33)


Diskusi dan Tanggapan VoB Hari Ke-138 Pagi | Tafsir Al-Isyaari

~Ajeng Izura:

Subhanallah bagus banget tafsirnyaa✨


Materi VoB Hari ke-138 Siang | Tafsir Al-Isyaari

Ditulis oleh:  Rizka Nurbaiti

#FridayAlKahfiWeek20Part2

Part 2

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Ada yang mengatakan bahwa Tafsir Al-Isyaari ini merupakan tafsir yang sama dengan Tafsir Bil Atsar

Seperti penjelasan sebelumnya Tafsir Bil Atsar adalah tafsir yang mengutip dari penafsiran terdahulu yang dimulai dari hadits, pendapat para sahabat, dan thabi’in.

Jadi mengapa mereka mengatakan bahwa keduanya sama? Padahal dari pengertiannya saja sudah jelas berbeda.

Penjelasan mengenai perbedaan kedua tafsir ini dijelaskan ustaz lebih lanjut nanti.

Menurut Ustaz Nouman Tafsir Al-Isyaari ini memiliki karya-karya tafsir yang sangat keren.

Dan berdasarkan pandangan ustaz dari semua Tafsir Al-Isyaari tersebut yang paling menarik bagi beliau adalah tafsir yang menggunakan metode kotemporer.

Contoh mufasir kontemporer adalah Muhammad Al-Ghazali, imam Al-Shaaraawi,Imam Nabulsi, dan Maghaamisee.

Tafsir Al-Shaaraawi merupakan suatu kajian epic tentang bahasa Arab yang diubah menjadi ceramah untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an .

Selanjutnya, ada Tafsir Nabulsi. Penulis tafsir ini yaitu Imam Nabulsi rahimahullah memiliki banyak pemahaman yang menakjubkan dan sangat bermanfaat tentang ayat-ayat Al-Qur’an.

Mufasir selanjutnya yang ustaz sebutkan adalah Maghaamisii rahimahullah. Beliau adalah seorang sarjana bahasa Arab atau saat ini disebut sarjana Agama.

Beliau memiliki pandangan-pandangan yang indah mengenai ayat-ayat Al-Qur’an. Dan menurut ustaz karya beliau ini lebih kontemporer lagi dari tafsir-tafsir yang telah ustaz sebutkan sebelumnya.

Tafsir Al-Isyaari ini insyaAllah akan terus berlanjut karya-karyanya.

Sedangkan Tafsir Bil Atsar merupakan tafsir yang sudah selesai karyanya.

Sehingga Tafsir Bil Atsar sudah tidak bisa ada penambahan lagi. Yang mungkin dapat bertambah hanyalah hikmah dari ayat-ayat Al-Qur’an nya saja.

Tetapi untuk hal-hal mendasar dari tafsir ayat Al-Qur’an ini sudah selesai.

Mengenai penafsiran ayat ayat Al-Qur’an, Mungkin, Allah ﷻ akan membukakan Al-Qur’an kepada beberapa orang dan menuntupnya untuk beberapa orang yang lain.

Dan mungkin sebagian orang dapat melihat hikmah di balik suatu ayat, tetapi sebagian orang yang lain tidak dapat melihat hikmah tersebut padahal keduanya membaca ayat yang sama.

Contohnya baru-baru ini Ustaz Nouman melihat sesuatu yang menarik tentang kata ‘berjalan’ yang digunakan di dalam Al-Qur’an.

Di dalam karya seseorang (ustaz tidak menyebutkan nama dari orang tersebut), dia menuliskan pandangannya mengenai bagaimana cara Allah ﷻmenyebutkan kata ‘berjalan’ di dalam Al-Qur’an.

Beliau mengamati kata ‘berjalannya manusia’ (human beings walking) yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan سِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْض. Yang artinya ‘berjalanlah kamu di muka bumi’.

Kata saa’ir  (سَاءِرْ) berarti ‘berjalan tanpa tujuan’. Seperti berjalan-jalan santai dengan teman saat tidak ada tempat yang ingin di tuju.

Kata سَاءِرْ pada kalimat سِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْض berarti ‘Anda hanya bersantai-santai saja’.

Kalimat ini terdapat pada beberapa ayat di dalam Al-Qur’an, salah satunya adalah pada QS Al-An’am, 6:11

قُلْ سِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ ثُمَّ ٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ

Katakanlah: “Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu”.

Selanjutnya, kata المشي (al-masyii). Kata ini juga memiliki arti ‘berjalan’ tetapi ‘berjalan’ yang dimaksud pada kata ini berbeda dengan ‘berjalan’ pada kata سَاءِرْ .

Apakah perbedaan dari kata المشي (al-masyii) dengan kata سَاءِرْ (saa’ir) itu?

Bersambung in syaa Allah ba’da ashar.

Sumber:

-Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 04. Basics of Tafsir – Al-Kahf – A Deeper Look (24:33-27:03)


Materi VoB Hari ke-138 Sore | Mutiara Dibalik Tiga kata ‘Berjalan’ yang Terdapat Dalam Al-Qur’an

Ditulis oleh: Rizka Nurbaiti

#FridayAlKahfiWeek20Part3

Part 3

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

kata المشي (al-masyii) juga memiliki arti ‘berjalan’ sama seperti سَاءِرْ (saa’ir).

Tetapi ‘berjalan’ yang dimaksud pada kata المشي (al-masyii) berbeda dengan ‘berjalan’ pada kata سَاءِرْ (saa’ir).

Kata المشي memiliki arti ‘berjalan dengan tujuan’.

Seperti yang tertulis pada QS Al-Mulk, 67:15 dibawah ini:

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًۭ فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya (bumi) dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

Pada ayat di atas disebutkan ‘berjalanlah di segala penjurunya (bumi) dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya’.

Berdasarkan arti المشي yaitu ‘berjalan dengan tujuan’. Maka makna dari ‘berjalan’ dari ayat di atas adalah ketika kita berjalan untuk mencari uang (rezeki) maka kita pergi dengan suatu tujuan (فَٱمْشُوا۟).

Itulah makna dari المشي. Ia berbeda dengan سَاءِرْ.

Perbedaan kedua kata itu tidak dapat kita lihat jika hanya membaca terjemahannya saja.

Karena keduanya sama-sama diterjemahkan menjadi ‘berjalan’. Padahal, sebenarnya jika kita menggali maknanya lebih dalam maka kita akan mengetahui bahwa kedua kata tersebut memiliki makna yang jauh berbeda.

Selain perbedaan tersebut, kedua kata ini memiliki perbedaan lain lagi. Yakni المشي (al-masyii) adalah ‘berjalan dengan langkah maju dan lebih cepat dibandingkan سَاءِرْ.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa سَاءِرْ merupakan ‘berjalan dengan cara yang santai, sedangkan المشي berjalan dengan cara yang serius karena ada tujuan yang ingin dituju.

Kata المشي juga berarti ‘berjalan dengan langkah maju, dan lebih cepat’.

Selanjutnya, ada satu kata lagi yang masih berhubungan dengan kata ‘berjalan’. Kata ini digunakan untuk mengungkapkan ‘berlari dengan cara tercepat’.

Kata tersebut adalah فرر (farar). Kata فرر (farar) digunakan ketika Anda sedang melarikan diri dari sesuatu secara mati-matian.

Kata ini digunakan pada QS Adz-Dzariyat, 51:50, yaitu sebagai berikut:

فَفِرُّوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۖ إِنِّى لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌۭ مُّبِينٌۭ

Berlarilah secepat mungkin (فَفِرُّوٓا۟ ) menuju Allah. Jika diartikan berdasarkan kata ‘فرر (farar) yang telah dijelaskan sebelumnya, maka kata ‘berlari’ di sini merupakan berlari yang dengan penuh kesungguhan dan dengan sangat cepat.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa ketiga kata ‘berjalan’ yang telah disebutkan tersebut mengalami peningkatan intensitas.

Intensitas yang paling rendah yaitu سَاءِرْ, kemudian meningkat dengan kata المشي, kemudian terakhir فرر (farar).

Di mana pertama adalah سَاءِرْ .Yaitu ‘berjalan’ yang paling santai. Hanya berkeliling menikmati keindahan bumi secara santai.

Kemudian dilanjutkan dengan tipe ‘berjalan’ yang lebih serius المشي. Yakni berjalan dengan tujuan, seperti mencari uang (rezeki). Lalu ‘bersegera menuju jannah’ adalah berjalan dengan lebih serius lagi.

Dan yang terakhir adalah فرر (farar). Ini adalah tipe berjalan yang paling intens dan yang paling serius dibandingkan semuanya. Kata ini digunakan untuk mengungkapkan ‘berjalan menuju Allah’.

Dari penjelasan tersebut maka dapat diketahui bahwa semakin serius kata ‘berjalan’ yang digunakan maka semakin cepat pergerakan ‘berjalan’ yang dilakukan.

Dan kata ’berjalan’ yang paling cepat dan serius digunakan saat kita ‘berlari menuju Allah ﷻ’.

Yang paling intens dari semuanya adalah perjalanan kita menuju Allah ﷻ. Semoga Allah memudah perjalan kita untuk menuju-Nya. Aamiin Yaa rabbal ‘alaamiin

Begitulah sedikit gambaran keindahan dari tafsir kontemporer. Tafsir ini mengandung a fantastic insight, yang akan melihat mutiara-mutiara tersembunyi

Bersambung in syaa Allah minggu depan.

Sumber:

-Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 04. Basics of Tafsir – Al-Kahf – A Deeper Look (27:03-28:08)


Diskusi dan Tanggapan VoB Hari Ke-138 Sore | Mutiara Dibalik Tiga kata ‘Berjalan’ yang Terdapat Dalam Al-Qur’an

~hfm:

MasyaAllah..

Berjalan = mengembara menuntut ilmu = bertebaran di muka bumi mencari rezeki = go around the world.

Al Mulk 15 is one of my favorite Ayah. I freely translate for myself that this ayah + Al Jumuah 10 ( fantasyiru fi’l ardhi ) + At Taubah 112 ( assaa-ihuuna)  is really encouraging everyone to go around the word for any good purposes.

It works for me by His permission. Alhamdulillah.

😊🙏🏼

~Dewi Dawam:

Maa Syaa Allah super keren

Gak sabar nunggu sambungan nya,


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s