[VoB2020] Kalaulah dari Hati, akan Menyentuh ke Hati


بسم الله الرحمن الرحيم

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-126

Topik: Leadership

Minggu, 25 Oktober 2020 

Materi VoB Hari ke-126 Pagi | Kalaulah dari Hati, akan Menyentuh ke Hati

Ditulis oleh: Wina Wellyanna

#SundayLeadershipWeek18Part1

***

Kenapa Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ meminta pendapat pada para sahabat yang pernah mengecewakan beliau? 

Karena menghargai orang lain dan pendapat orang lain adalah bagian dari kriteria seorang pemimpin yang seharusnya, yang ideal.

Adab Rasul dalam meminta pendapat tentu berbeda dengan sebagian dari kita.

Jika masih ada ganjalan di hati, kebanyakan dari kita ketika berdiskusi tapi masih menyimpan ‘sesuatu’ di hati.

Seperti ini misalnya:

Alkisah A seorang pemimpin dalam forum diskusi pernah merasa kecewa oleh B:

A: “Jadi bagaimana pendapatmu?” 

B: “Menurut saya….”

A: “Oh, enggak seperti itu, sih, tapi terima kasih, oke, bagaimana dengan pendapat anda wahai yang di ujung sana?”

Reaksi yang seolah menerima padahal sedang menolak mentah-mentah.

🗑️🗑️🗑️

Syura’ kita seperti itu pada umumnya bukan? Pendapat yang disampaikan masuk kuping kiri, kita mengucapkan terima kasih, kemudian syura’ selesai.

Rasulullah ﷺ tentu menganggap perintah Allah jauh lebih serius dibanding kita semua.  

Jadi ketika beliau meminta pendapat para sahabat yang pernah mengecewakan Allah dan RasulNya, beliau melakukannya dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh ketika bertanya.

Sehingga siapapun para sahabat yang berada disana dan kemudian tersentuh hatinya oleh gaya kepemimpinan beliau akan memiliki kekuatan untuk melakukan apapun yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ.

“Sungguh, aku akan rela mati demi dirinya.” 

Seseorang yang hampir kami celakai dan kehilangan nyawanya.

Seseorang yang memaafkan kami sepenuh hati.

Seseorang yang mendoakan agar Allah mengampuni kami.

Dan sekarang meminta pendapat kami semua di depan banyak orang agar kami tidak dipandang rendah.

“Sungguh, aku akan rela mati demi dirinya.”

Seperti inilah Rasulullah ﷺ dulu memimpin para sahabat.  Dari hati menyentuh ke hati.

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.

Pada akhirnya keputusan ada di tangan Rasuullah ﷺ, Allah menyuruh Rasul agar bertakwa kepada Allah setelah membuat keputusan.

Apa yang bisa kita tarik hikmahnya dari ayat ini?

Kita memang bukan Nabi, tapi paling tidak kita semua adalah pemimpin untuk diri kita sendiri.  Dan dari siapa lagi kita mengambil contoh bagaimana cara memimpin selain dari Rasulullah ﷺ?.

(bersambung insyaa Allaahu ta’ala ba’da Zhuhur)

***

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Leadership > 03. Leadership Workshop (Part 3) (43.10 – 45.45).


Diskusi dan Tanggapan VoB Hari ke-126 Pagi | Kalaulah dari Hati, akan Menyentuh ke Hati

Nama: Wina Wellyanna

#SundayLeadershipWeek18Part1

Quote :

“Kita memang bukan Nabi, tapi paling tidak kita semua adalah pemimpin untuk diri kita sendiri.” 

——

Unquote:

Yup. Everyone of us is a leader as well as a manager.

1. To lead and to manage yourself

2. To lead and to manage your family

3. To lead and to manage others.

#1. 

1.1.To lead and to manage the way you think

1.2. To lead and to manage the way you feel

1.3. To lead and to manage the way you act/behave

#2. To lead and to manage your spouse, children, siblings, etc 

#3. 

3.1. To lead and to manage your works, office, business, etc

3.2. To lead and to manage your social environments

Nama: Bunda Hafni

The question to me and to you: 

Which part of leadership and management have you done properly?

Can I or You answer it? 

Every leader and manager is responsible for everyone and everything under his scope of leadership & managenent

It’s scary, isn’t it? 

✍️😊

Let’s pray to Allah SWT that everyone of us is provided by His _hudan. Aamiiin 🤲


Materi VoB Hari ke-126 Siang | Setelah Membuat Keputusan, Bertakwalah

Ditulis oleh: Wina Wellyanna 

#SundayLeadershipWeek18Part2

***

Pasti terjadi dalam hidup, kita pasti akan merasa kecewa karena perbuatan orang lain, seperti ini kurang lebih hikmahnya dari sunnah Rasulullah ﷺ yang bisa kita terapkan

1. Berlemah lembutlah kepada orang-orang yang telah mengecewakan dan menyakiti kita.

2. Memaafkan mereka, buat mereka merasa kalau kita tulus dan yakinkan kalau kita sudah move on dan tidak ingin membahas masalah mereka telah mengecewakan kita.

3. Berdoa diam-diam, berdoa agar Allah mengampuni kesalahan mereka.

4. Meminta pendapat mereka di forum, dengan harapan mereka merasa dihargai di forum, hal ini akan membuat seseorang meningkatkan rasa percaya dirinya.  Inilah leadership yang Rasulullah ﷺ contohkan.

5. Terakhir, ketika pada akhirnya kita harus membuat keputusan, memutuskan karena telah mendengarkan semua pendapat, bukan sekedar ‘basa-basi’. 

Yang paling penting dari semua upaya kita dan mereka yang kita pimpin adalah, mempercayakan semuanya kepada Allah.

Pemimpin yang dicontohkan Rasulullah ﷺ bukan yang mempercayai pendapatnya sendiri.

Atau ketika telah memutuskan di syura’ bukan mempercayai hasil keputusannya, tapi yang sepenuhnya menaruh kepercayaan pada Allah setelah mengambil keputusan.

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.

☑️☑️☑️

Hey tapi, ini bukan hanya untuk pemimpin saja, semua jama’ah pun harus bertawakal pada Allah ketika pemimpin telah memutuskan.

🧍🏻‍♂️🧍🏻‍♂️🧍🏻‍♂️

Yang pasti, tidak mungkin hasil keputusan akan membuat semua orang senang, pasti ada yang merasa tidak sreg, tapi pemimpin kita telah berjuang dengan pilihannya dan best effortnya.

Sungguhlah, Ali-Imran ayat 159 ini seperti jantungnya dari sejumlah ayat tentang leadership.

Membahas satu ayat ini sudah cukup untuk mengupas tentang leadership.

Oleh karena itu setelah pemimpin dan jamaahnya bersama-sama bertawakal kepada Allah, Allah memberikan kabar gembira.

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

(bersambung insyaa Allaahu ta’ala ba’da Ashar)

***

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Leadership > 03. Leadership Workshop (Part 3) (45.45 – 48.55).


Materi VoB Hari ke-126 Sore | Adab Sebagai Jamaah

Ditulis oleh: Wina Wellyanna

#SundayLeadershipWeek18Part3

***

Ada lagi ayat yang Ustaz NAK sebutkan tentang leadership.  

Al-Qur’an, Surat An-Nur ayat 62

“Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Al-Qur’an, Surat At-Taubah ayat 43

“Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?”

Al-Qur’an, Surat At-Taubah ayat 44

“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu…”

Kedua surat ini terlihat bertentangan ya?

Di surat pertama Allah berfirman, orang beriman adalah mereka yang meminta izin kepada Rasulullah ﷺ, sedangkan di surat kedua Allah berfirman orang yang beriman adalah mereka yang tidak akan meminta izin kepada Rasulullah ﷺ. 

Bagaimana ya kita memahaminya?

Pertama-tama, dalam hierarki organisasi, seseorang yang meminta izin pastinya seorang yang dipimpin/jama’ah, dan ia meminta izin dari pemimpinnya.

Keadaan yang memerlukan musyawarah pada surat An-Nur ayat 62.  

Secara umum, protokol dalam kehidupan muslim, seorang sukarelawan bukan yang melakukan semua pekerjaan, tapi mengerjakan satu pekerjaan.

Ceritanya, sebuah komunitas muslim akan mengadakan acara barbeque di taman, banyak kebutuhan untuk menyelenggarakan event tersebut.

Tendanya, air minumnya, dan banyak lagi, dan ketika kita bersedia menjadi sukarelawan untuk satu posisi, kemudian terjadi suatu hal dan kita tidak bisa memenuhi tugas kita, seperti yang terjadi dalam dunia kerja, kita pasti akan meminta bantuan dan saran atasan kita. 

“Sir, sepertinya saya tidak bisa melakukan tugas ini, anak saya sakit, saya harus membawanya ke dokter”

Meminta izin untuk tidak bisa memenuhi tugas yang diberikan karena keadaan force majeure atau keadaan mendesak di luar kuasa kita adalah bukti kita termasuk orang-orang yang beriman, karena peduli dengan tanggung jawab yang telah kita sanggupi.

Padahal orang yang kita minta izinnya bukan atasan kita, karena ini ya tugas sukarelawan, bukan dunia kerja, tapi ini yang dinamakan proper islamic discipline atau adab dan disiplin dalam Islam, bagian dari sunnah leadership.

Mengomunikasikan jika kita tidak sanggup melakukan suatu pekerjaan sudah diatur dan dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat, pun ini penting karena ada di dalam Al-Qur’an.

(bersambung insyaa Allaahu ta’ala minggu depan)

***

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Leadership > 03. Leadership Workshop (Part 3) (48.55 – 52.40)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s