[VoB2020] Ketika Kita Berhak Untuk Marah


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-119

Topik: Leadership

Ahad, 18 Oktober 2020 

Materi VoB Hari ke-119 Pagi | Ketika Kita Berhak Untuk Marah

Oleh: Wina Wellyanna

#SundayLeadershipWeek17Part1

Perang Uhud adalah salah satu musibah terbesar dalam sejarah Islam, dan beberapa sahabat bertanggung jawab karena tidak menuruti perintah pemimpin, Rasulullah ﷺ.

Allah menegur kaum muslimin di perang Uhud pada Ali-Imran ayat 152 :

ḥattā iżā fasyiltum – pada saat kamu lemah

wa tanāza’tum fil-amri – dan berselisih dalam urusan itu

wa ‘aṣaitum mim ba’di – dan mendurhakai perintah (Rasul)

Tiga teguran keras: fasyiltum (lemah), tanāza’tum (berselisih), ‘aṣaitum (tidak menuruti perintah).

DEG.

🥺🥺🥺

Bayangkan, kalau kita disana saat itu sebagai penonton, pasti bisa melihat perasaan para sahabat yang memiliki perasaan yā laitanī kuntu turābā (alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah).

Saking desperatenya.

“Kalian terpecah belah, 

Kalian saling berselisih,

Kalian tidak menaati perintah”

Allah sangat marah.  Jelas sangat marah.

Kemudian siapa lagi yang berhak untuk marah? 

Rasulullah ﷺ.

Rasulullah pernah bersabda: 

“Barangsiapa yang taat kepada amirku (yang muslim) maka ia taat kepadaku”

Apa inti dari hadist tersebut? Rantai perintah.

Para sahabat berada dalam kegalauan, ketakutan dan kesedihan.  Siapa yang tidak ? 

“Bagaimana kita menghadap Rasulullah ﷺ ?”

“Kita sudah tidak punya muka lagi menghadap Rasulullah ﷺ”

Kemudian Allah menurunkan ayat selanjutnya, Q.S Ali-Imran, ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ

Fa bimā raḥmatim minallāhi linta lahum

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.”

لِنتَ

Berasal dari kata: lām yā nūn (ل ي ن), kata ini sangat terkait dengan lin (لِن) yang berarti kurma yang dagingnya lembut dan manis.

Allah ingin menyampaikan kepada Rasulullah ﷺ untuk lembut dan bersikap penuh kasih kepada mereka.  

Kemudian kalam Allah selanjutnya di ayat yang sama: 

Walau kunta faẓẓan galīẓal-qalbi lanfaḍḍụ min ḥaulika

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”

Eh tapi sebentar, kita flash back sedikit sebelum sampai ke ayat 159 ini, saat itu Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan menemui kaum muslimin yang tidak menaati perintah, dengan membawa kemarahan, karena kehilangan banyak sekali sahabat termasuk pamannya.

Allah jelas sudah marah, dan Rasulullah ﷺ pun merasa beliau berhak untuk marah.

Kemudian apa yang terjadi? 

(bersambung insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da Zhuhur)

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Leadership > 03. Leadership Workshop (Part 1) (34.00 – 37.00).


Materi VoB Hari ke-119 Siang | Mengapa Tidak Memaafkan Saja?

Oleh: Wina Wellyanna

#SundayLeadershipWeek17Part2

Allah menunjukkan pada Rasulullah ﷺ ‘begini seharusnya yang pemimpin lakukan ketika marah dan kecewa’

“…berlaku lemah lembutlah terhadap mereka, jika engkau bersikap keras juga berhati kasar, apa yang akan terjadi ?”

لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ

“Tentu mereka akan menjauhkan diri darimu.”

نفَضُّو  – Infidho dalam bahasa Arab merupakan kata yang memiliki arti: ‘ketika sesuatu jatuh lalu pecah berkeping-keping dan menyebar kemana-mana’ dan apakah sesuatu yang sudah jatuh pecah dan telah menyebar kemana-mana ini bisa disatukan kembali? Tidak.

Kalau sebagai pemimpin engkau berlaku kasar, tidak akan ada yang mau menjadi pengikutmu.

Engkau tetap memiliki Al-Qur’an, dan masih tetap menjadi Nabinya Allah, malaikat Jibril masih akan tetap turun dan memberikanmu wahyu, engkau masih ada di sisi yang benar, hanya saja engkau tidak akan lagi memiliki pengikut karena kekasaranmu dan tiadanya perasaan kasih.

Seorang pemimpin ketika ia berada pada posisi yang benar memiliki kebenaran tidak cukup.

Seorang pemimpin yang dimaksud pada ayat 159 ini adalah yang lembut dan bersikap penuh kasih kepada mereka yang telah mengecewakan dan tidak patuh padanya.

Pemimpin yang memiliki karakteristik seperti ini akan menyentuh hati para pengikutnya.

Ustaz menambahkan, ayat ini sungguh telah blows my mind mengejutkan beliau dan membuat beliau terkesan. 

Ada pepatah arab yang mengatakan

People are slaves to goodness  atau ‘manusia takluk pada kebaikan’.

💘💘💘

Apalagi yang kurang dari menunjukkan kelembutan dan kasih sayang pada yang telah mengecewakan dan hampir membuat kita terbunuh?.

Ayat ini belum selesai, masih ada lanjutannya.

Sekarang dari sisi para kaum muslimin, 

“Ah, masa sih Rasulullah ﷺ memaafkan kita?”

“Oh, mungkin pun kalau memaafkan kita, pasti masih ada sesuatu di hatinya”

“Rasulullah ﷺ pasti enggak pernah sama lagi sikapnya kepada kita”

Disini Allah menambahkan kepada Rasul ﷺ

فَٱعْفُ عَنْهُمْ – “karena itu maafkanlah mereka dengan kasih sayangmu”

Kenapa penekanan memaafkan dengan kasih sayang ini penting? 

Agar para sahabat kembali merasa

“Oh, Rasulullah ﷺ ternyata masih menyayangiku, sikap beliau tidak berubah sama sekali”

Apa hal terburuk yang mungkin terjadi ketika ada ganjalan dalam hati salah satu di antara Rasulullah ﷺ atau para sahabat?.

Bayangkan, seorang murid yang masuk kelas terlambat, pasti merasa bersalah pada gurunya, sebisa mungkin si murid akan menghindari kontak mata.

Atau seorang karyawan yang habis ditegur dengan keras oleh atasannya, pasti setiap bertemu si karyawan akan menunduk dan tidak berani menyapa atau menatap mata atasannya.

Ini akan membuat komunikasi menjadi tidak smooth dan pesan tidak tersampaikan dengan baik dan benar.

Inilah alasan mengapa Ustaz NAK menganggap ayat ini sungguh mind blowing.

(bersambung insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da Ashar)

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Leadership > 03. Leadership Workshop (Part 2) (37.01 – 39.30).


Materi VoB Hari ke-119 Sore | Karena Kesalahan Tidak Mengurangi Arti Dirinya

Oleh: Wina Wellyanna

#SundayLeadershipWeek17Part3

Ketika anak kita melakukan kesalahan sehingga membuat kita kecewa dan mereka menyadari ini, sebuah pelukan adalah hal yang mungkin tidak terpikir sama sekali oleh mereka.

“Aku menyayangimu, meski kamu melakukan hal yang sangat buruk, tapi aku memaafkan dan tetap menyayangimu”.

Sebagai orang tua pun kita belum sanggup melakukan itu ya, apalagi kepada orang lain.

وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ

wastaghfir lahum

“Mohonkanlah ampun bagi mereka”

Allah menambahkan agar seorang pemimpin memohonkan ampun kepada Allah sama tulusnya ketika ia berdoa untuk dirinya sendiri, untuk kedua orang tuanya, untuk anak-anaknya, untuk rezekinya, memohonkan ampun untuk mereka yang telah mengecewakan dan melakukan kesalahan.

Ini salah satu karakteristik pemimpin yang dicontohkan Rasulullah ﷺ dan di wahyukan Allah di dalam Al-Qur’an, mampu mendoakan dengan tulus.

Jadi, coba kita tinjau kembali 

Yang pertama, memaafkan dengan kasih sayang.

Yang kedua, mendoakan ampunan dengan tulus.

Yang ketiga, ini sungguh menakjubkan kata Ustaz NAK.

Rasulullah ﷺ jelas punya tempat untuk meminta saran dan nasehat: Allah subhanahuwata’ala, kalau pun wahyu belum turun, Rasulullah ﷺ memiliki kapasitas memutuskan sesuatu dan keputusan beliau pasti yang terbaik diantara yang terbaik.

Bukan hanya kecerdasan yang melebihi manusia pada umumnya, tapi juga kebijaksanaan.

وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ

dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu

Oke, jadi setelah memaafkan, mendoakan, kemudian meminta pendapat dari mereka atas suatu hal yang besar?

Ini seriusan kah?

Bukan pendapat Abu Bakar, r.a, atau Umar, r.a? Tapi pendapat dan masukan para sahabat yang meninggalkan pos dan tidak menaati perintah sehingga hampir membunuh Rasulullah ﷺ?

Allah yang meminta Rasulullah ﷺ untuk melakukan itu.  

Agar para sahabat merasa bahwa mereka masih punya ‘nilai’ di hadapan Allah dan RasulNya, masih berarti pendapatnya meski telah melakukan kesalahan.

:’) 

Islam itu sungguh…indah ya.

💟☪️💟

(bersambung insyaa Allaahu minggu depan)

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Leadership > 03. Leadership Workshop (Part 3) (39.31 – 43.10).


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s