[VoB2020] Tentang Dia


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Voice of Bayyinah (VoB) Hari Ke-117
Topik : Pearls from Ali Imran
Rabu,14 Oktober 2020

Materi VoB Hari Ke-117 Pagi | Tentang Dia

Oleh: Muchamad Musyafa
#WednesdayAliImranWeek17Part1

 

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۡهُ ءَايَٰتٞ مُّحۡكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٞۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِي ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ 

Huwal ladzi anzala ‘alaykal kitaba

Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.

Pembahasan kita pagi ini akan dimulai dengan kata kunci Huwal ladzi artinya ‘Dialah yang’. Frasa ini sering kali terlewat untuk kita perhatikan. Akan kita bahas terlebih dahulu mengapa frasa Huwal lladzi penting ada di sana.

Secara gramatikal ayat tersebut bisa saja disebutkan langsung menjadi anzala ‘alaykal kitaba. Kata anzala sudah memiliki informasi tersembunyi siapa fail-nya (pelakunya). Pelakunya adalah Huwa, dia. Jadi menyebutkan anzala ‘alaykal kitaba itu sebenarnya sudah cukup karena kalimatnya sudah sempurna, artinya ‘dia menurunkan kitab’.

Tidak perlu Huwal ladzi lagi disebutkan di sana. Itu secara gramatikalnya.

Namun, tentu pasti ada alasan mengapa Allah ﷻ menuliskan tambahan Huwal ladzi  di sana. Ada alasan mengapa perlu disebutkan dhamir _Huwa di sana.

Huwa di ayat ketujuh mengacu pada apa yang sudah pernah disebutkan di ayat sebelumnya. Sehingga secara tidak langsung akan terhubung bahwa tuhan yang mengetahui rahasia yang tersembunyi di langit dan di bumi, Tuhan yang membentuk kita di rahim, Tuhan yang mengenal kita lebih baik dari diri kita, Tuhan yang Maha Perkasa, Tuhan yang Maha Bijaksana. Semuanya adalah tuhan yang sama dengan tuhan menurunkan kitab Al-Qur’an. Dialah Allah ﷻ.

Lalu apa artinya itu?

Bahwa Dia yang tahu banyak tentang alam semesta. Dia yang tahu banyak kondisi kita di rahim. Dia lebih tahu tentang ruh. Dia lebih tahu tentang diri kita dari pada kita sendiri. Dengan pengetahuannya tersebut, dia menurunkan sebuah kitab kepada manusia, Al-Qur’an.

Maka ketika kita berhadapan dengan Al-Qur’an kita harus sadar bahwa kitab ini diturunkan oleh Dia yang maha tahu. Tidak bisa mendatangi Al-Qur’an dengan gaya bahwa kita sudah mengetahui banyak hal, lalu mengkritik bagian Al-Qur’an ini dan itu. Ingatlah Allah ﷻ lebih mengenali diri kita daripada diri kita sendiri. Dan dia mengetahu segala pengetahuan yang tersembunyi yang ada di langit dan di bumi.

Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana, sehingga ketika kita berhadapan dengan Al-Qur’an maka kita harus sadar bahwa kita tidak memiliki kuasa lebih tinggi dari Al-Qur’an. Allah ﷻ dengan Al-Qur’anNya memiliki kuasa untuk mengatur kita. Sudah layaknya kita tunduk kepada Al-Qur’an, tunduk terhadap aturan-aturan-Nya. Kita tidak dapat membuka kunci kebijaksanaan tanpa adanya kehendak Allah ﷻ. Kita tidak dapat memahami sebuah ilmu tanpa Allah ﷻ berikan ilmu kepada diri kita. Kita akan membutuhkan Allah ﷻ. Tidak akan bisa berlepas diri dari Allah ﷻ. Kita selalu terikat dan harus tunduk kepadaNya.


Materi VoB Hari Ke-117 Siang| Ayat Mutasyabihat

Oleh: Muchamad Musyafa
#WednesdayAliImranWeek17Part2

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Allah ﷻ sangat memahami diri kita. Dia menurunkan sebuah kitab. Dia menurunkan petunjuk. Ini adalah sebuah bukti kasih sayang-Nya kepada kita. Ini adalah bentuk cinta-Nya kepada kita. Kita harus mengubah cara pandang kita terhadap Al-Qur’an. Allah ﷻ menurunkan Al-Qur’an tidak untuk menghukum kita, tidak untuk memberikan peraturan hukum yang keras, tidak untuk menakut-nakuti kita. Allah ﷻ menurunkan Al-Qur’an karena cinta dan kasih sayangNya kepada kita.

Masih di ayat ketujuh, ada kata ‘alayka (kepadamu) di sana. ‘Kepadamu’ di sini adalah mengacu pada orang yang menerima Al-Qur’an ketika diturunkan, yaitu nabi Muhammad ﷺ. Dengan sengaja Allah ﷻ menyebutkan peran Rasulullah ﷺ di sana.

Nabi Muhammad ﷺ menyebut dirinya sendiri diutus sebagai seorang guru. Guru yang menerangkan ayat-ayat Al-Qur’an yang turun. Biasanya seorang murid jika belum memahami sebuah pelajaran, maka ia akan bertanya pada gurunya. Begitupun juga para sahabat nabi ketika tidak memahami Al-Qur’an, normalnya mereka akan bertanya kepada nabi Muhammad ﷺ karena beliau guru mereka.

Lalu ketika Nabi Muhammad ﷺ membacakan kepada mereka Alif lam miim, Qaf, Ha miim, Yaasiin, dan sebagainya, pasti akan terbesit pertanyaan apa maksud ayat-ayat ini.

Atau juga ketika nabi Muhammad ﷺ membacakan ayat tentang tujuh lapis langit, pasti akan terbesit beragam pertanyaan. Tapi nyatanya tidak ada riwayat seorang sahabat pun yang menanyakan detail tujuh lapis langit ini. Di mana langit pertama itu bermula? Di mana ujungnya? seberapa luas langit itu? Dari ketujuh langit itu, bisakah kita melihat salah satunya? Atau beragam pertanyaan lainnya.

Tidak ada riwayat para sahabat yang menanyakan pertanyaan di atas.

Kenapa?

Pertanyaan-pertanyaan di atas terkait dengan kelanjutan ayat ketujuh yang sedang kita bahas.

مِنۡهُ ءَايَٰتٞ مُّحۡكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٞ

Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, ayat-ayat yang sangat jelas. Ayat-ayat yang jelas inilah pokok-pokok dari kitab Al-Qur’an. Lalu ada juga ayat lain yang mutasyabihat, yang masih belum jelas maksudnya, masih multi interpretasi.

Mengenai potongan ayat di atas, ustaz Nouman memberi permisalan berikut:

Anggap saja Ustaz Nouman seorang pebisnis yang sukses, yang memiliki banyak toko-toko. Penjualan produknya sangat laris dimana-mana. Lalu Ustaz membuka sebuah kelas seminar untuk berbagi pengetahuan praktis tentang kewirausahaan.

Ustaz mula-mula menceritakan awal karirnya sebagai seorang pebisnis. Bagaimana awal mula ia membuka toko sepatu, bagaimana ia melakukan riset tentang penjualan sepatu. Bagaimana ia mencari tahu di mana lokasi yang baik untuk menjual sepatu. Berapa harga yang pantas untuk sepatu. Semuanya itu Ustaz sampaikan ke dalam sebuah cerita.

Lalu saat sesi diskusi ada peserta seminar yang bertanya,

“Ustaz, Ustaz belum menjelaskan sebaiknya saya pakai sepatu warna apa ketika saya sedang berjualan? Sebaiknya tembok tokonya diberi cat warna apa ya? Di depan toko lebih baik ditanam bunga jenis apa?”

Nah, bisa jadi pertanyaan-pertanyaan itu bagus, tapi sayangnya pertanyaan-pertanyaan itu seperti kehilangan fokus pembicaraan. Di luar kontek pembahasan. Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan berdampak langsung dengan pencapaian bisnis toko sepatu.💫💭

Ketika kita melewatkan poin penting pembahasan, ketika kita kehilangan fokus pembicaraan, maka kita akan menanyakan pertanyaan yang tidak sesuai, sebuah pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan.


Materi VoB Hari Ke-117 Sore| Masih Tentang Ayat Mutasyabihat dan Ayat Muhkamat

Oleh: Muchamad Musyafa
#WednesdayAliImranWeek17Part3

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Pokok isi dari Al-Qur’an ada di dalam ayat-ayat muhkamat yang sangat jelas. Itulah fokus pembahasannya. Sah-sah saja jika seorang muslim menanyakan terkait ayat muhkamat itu. Di antara banyaknya ayat-ayat muhkamat tersebut, Allah ﷻ menyelipkan beberapa ayat mutasyabihat. Jumlahnya jauh lebih sedikit.

Mungkin saja awalnya kita menganggap pertanyaan kita tentang ayat-ayat mutasyabihat itu nyambung dengan topik pembicaraan, padahal yang kita tanyakan itu lari dari fokus pembicaraan. Fokusnya ada di ayat muhkamat.

Masalah ini terjadi pada orang-orang yang memiliki kesalahan dalam mencerna suatu topik pembicaraan. Ada beberapa alasannya. Mungkin mereka tidak mengerti sama sekali topik pembicaraannya. Mereka bingung.

Alasan lainnya, bisa jadi mereka sedang mengolok-olok apa yang sedang dibicarakan. Ketika mereka menanyakan pertanyaan yang konyol dan aneh, tandanya saat itu mereka tidak menghargai apa yang sedang dibicarakan. Mereka justru terkesan ingin melecehkan gurunya bukan?

Jika seorang dosen berkata, “Silakan jika ada yang mau bertanya. Jangan malu bertanya apa saja”, tentu saja yang dimaksud si dosen tersebut adalah jangan malu bertanya pertanyaan apa pun selama itu masih relevan dengan topik kelas.

Mereka yang mempelajari Al-Qur’an dengan baik tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tapi juga belajar bagaimana cara berpikir yang lurus seperti aliran sungai. Ketika kita tahu bagaimana cara berpikir yang lurus, maka kita tidak akan mengeluarkan pertanyaan yang mengalir dari hilir sungai ke hulu sungai.

Kita harus paham bahwa tidak semua pertanyaan itu baik untuk ditanyakan. Kita cukup menanyakan pertanyaan yang bisa memperdalam pengetahuan kita terkait topik pembicaraan.

Kemudian mengenai istilah muhkamat dan mutasyabihat. Kita akan bahas satu persatu istilah ini.

Muhkamat berasal dari kata ahkama yang memiliki arti mengikat, mengekang. mencegah sesuatu terjadi.

Hakim disebut hakim karena ia mencegah sesuatu (yang buruk) terjadi.  Atau bisa juga diartikan sebagai bangunan yang dibangun kokoh yang bisa mencegah kerobohan. Hikmah atau kebijaksanaan juga diartikan sebagai sesuatu yang mencegah kita untuk melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Dari semua itu kita dapatkan arti umum yaitu sesuatu yang terikat, yang tersusun rapi, seperti batu bata yang disemen kuat menjadi tembok sehingga ia kokoh dan tidak mudah dirobohkan. Karena ia terkait satu sama lain, maka kita tidak bisa mengabaikan salah satu elemen penyusunnya.

Begitu juga semua ayat di Al-Qur’an itu saling terkait. Kita tidak bisa mempelajari beberapa ayat di Al-Qur’an lalu melupakan ayat-ayat lainnya.

Jadi arti dari ayat-ayat muhkamat di sini adalah ayat-ayat yang mencegah kita dari kesalahan interpretasi.

Untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. (QS. Al Qasas, 28:15)

Ayat di atas sudah jelas bahwa Musa alayhissalam meninjunya, tidak ada interpretasi lain dari tinjuan Musa alayhissalam itu. Kita tidak bisa mengartikan Musa alayhissalam telah memukul musuhnya secara verbal. Bukan, Musa alayhissalam benar-benar telah memukul dengan tinjuan fisik. Musuhnya mati.

Ini hanya contoh dari ayat yang muhkamat yang kita tidak perlu repot-repot mencari interpretasi lain.

Terkadang dalam suatu kajian, satu ayat saja kita bisa mendapatkan banyak poin yang bisa kita catat. Ini bukan berarti bahwa ayat tersebut memiliki beraneka ragam interpretasi. Ayat muhkamat itu tetap saja memiliki satu interpretasi karena ia sudah sangat jelas. Ayat muhkamat memiliki satu pohon interpretasi, tapi dari pohon tersebut menghasilkan banyak buah yang bisa kita rasakan. Darinya kita bisa mengekstrak manfaat ilmu yang beragam. Tapi pemahaman akan ayat itu tetap satu.

Masih banyak yang bisa kita pelajari dari ayat muhkamat ini, akan kita lanjut pembahasannya insyaAllah di pekan depan.

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Surah > 03. ‘Ali ‘Imran – Ayah 7-9 Ramadan 2018 (16.01 – 21.52)


Tanggapan dan Diskusi VoB Hari Ke-117 Sore| Masih Tentang Ayat Mutasyabihat dan Ayat Muhkamat

Siti Badriyah :

“Terimakasih sudah mengulas ayat Muhkamaat dan Mutasyabihat ..

Ternyata Allah menginginkan kita fokus ke ayat Muhkamaat atau yang sudah sangat jelas diterangkan ….

Mungkin ayat Mutasyabihat disajikan di dalam Quran sebagai teaser-teaser dari Allah Swt akan hal-hal  the unseen world


***

Semoga Allah terangkan, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲
Mohon do’akan kami agar bisa istiqomah untuk berbagi mutiara-mutiaraNya. 🙏

Jazakumullahu khairan 😊

Salam,

The Miracle Team
Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s