[VoB2020] Menyingkap Teka-Teki


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-110

Topik: Pearls from Al-Kahfi

Jum’at, 09 Oktober 2020

Materi VoB Hari ke-103 Pagi | Menyingkap Teka-Teki

Ditulis oleh: Heru Wibowo

#FridayAlKahfiWeek16Part1

Part 1

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Belajar Al-Qur’an itu lebih asyik kalau kita sudah memahami bahasa Arab Al-Qur’an.

Apalagi kalau kita sudah menguasai tata bahasa tingkat lanjut (grammar advances).

Percakapan-percakapan di dalam Al-Qur’an menjadi lebih terasa.

Kita bisa merasakan adanya ‘dugaan tanpa bukti’ yang dituduhkan di percakapannya.

Lalu pengetahuan kita tentang i’raab, balaghah, akan sangat membantu juga.

Pemahaman kita akan pesan Al-Qur’an menjadi lebih meyakinkan.

Buat orang Arab kuno, bahasa Arab Al-Qur’an bukanlah teka-teki. It’s not a riddle for them.

Tapi buat kita yang hidup di zaman modern, iya. Bahasa Arab adalah teka-teki. Makanya kita perlu belajar bahasa Arab untuk bisa menyingkap teka-teki itu.

Saat ustaz mempelajari satu ayat Al-Qur’an, ustaz lebih tertarik untuk memperhatikan sisi linguistiknya lebih dahulu sebelum hal-hal lainnya seputar ayat tersebut.

Sebelum meninjau tafsirnya. Sebelum mengkaji hal-hal lainnya. Aspek linguistiknya dulu yang dituju.

Aspek linguistik ini terbagi menjadi tiga hal.

1️. Pertama, tata bahasa.

2️. Kedua, balaghah atau retorika.

3️. Ketiga, analisis akar kata.

Jadi, pertama kali, kita pelajari dulu tata bahasa dari ayat tersebut.

Kadang-kadang bisa terjadi, ada beberapa cara untuk melihat ayat tersebut dari sudut pandang tata bahasanya.

Sehingga melahirkan berbagai penafsiran yang berbeda.

Jika ini terjadi, masing-masing pendekatan tata bahasa tadi bisa memunculkan interpretasi yang berbeda-beda. Sehingga artinya pun beda-beda juga. Perbedaan itu bisa terjadi sebagai hasil dari diskusi i’raab.

Maka kita lanjutkan dengan studi balaghah, yang memungkinkan kita memahami manfaat dari masing-masing sudut pandang tata bahasa tadi.

Jika ism yang digunakan di sini adalah dalam versi yang ‘ringan’, bukan versi yang ‘berat’, atau jika ism yang digunakan adalah versi tunggal, bukan versi sepasang atau versi ‘tiga plus’, apa poinnya?

Apakah salah satu versi tadi akan menimbulkan efek yang lebih dahsyat?

Itulah studi balaghah.

Balaghah bukan hanya bicara tentang efek kata-kata.

Tapi juga tentang bagaimana alternatif yang lainnya. Apakah alternatif yang lainnya lebih baik atau tidak.

Bagaimana cara lain untuk mengatakan kalimat itu? Pemahaman yang lebih tepat, mengarah ke alternatif yang mana?

Biar pemahaman kita lebih jelas, sebening kaca bening 😊, mari kita lihat contohnya.

Contohnya adalah ayat ini. Qur’an surah Qaf, 50:35.

لَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَا وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌ

Allah bilang, “Mereka akan punya apa pun yang mereka inginkan, di dalamnya, dan Kami punya yang lebih lagi.”

Cara lain memahaminya adalah seperti ini.

“Untuk mereka, apa pun yang mereka inginkan, di dalamnya, dan Kami punya yang lebih lagi.”

Kata ‘untuk’ adalah kata depan. Kata ‘di’ adalah kata depan.

Saat kita meletakkan kata depan seperti ini di awal, kita membuatnya eksklusif.

Lahum, untuk mereka.

Maa yasyaa-uuna, apa pun yang mereka inginkan.

Fiihaa, di dalamnya.

Waladaynaa maziid, dan Kami punya yang lebih lagi.

Saat kita meletakkan kata ‘untuk’ di depan, kita membuatnya eksklusif.

Apa artinya?

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 03. Quranic Linguistics – Al-Kahf – A Deeper Look (37:45-41:55)

(bersambung insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da zhuhur)


Materi VoB Hari ke-110 Siang | Sebuah Potongan yang Eksklusif

Ditulis oleh:  Heru Wibowo

#FridayAlKahfiWeek16Part2

Part 2

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Hanya untuk mereka.

Itulah artinya, dari sisi balaghah, ketika kata depan ditaruh di awal.

Memang tidak ada kata ‘hanya’.

Tapi kata ‘hanya’ itu muncul karena kata ‘untuk’ ditaruh di awal.

Sementara itu, kita bisa ‘berharap’ bahwa kalimatnya menjadi seperti ini:

Apa pun yang mereka inginkan adalah untuk mereka di dalamnya.

Masalahnya, Allah tidak bilang:

“Untuk mereka, di dalamnya, apa pun yang mereka inginkan, dan Kami punya yang lebih lagi.”

Jika kedua kata depan itu ditaruh di awal, apa yang terjadi?

‘Untuk mereka’ menjadi sesuatu yang eksklusif.

Lalu apalagi yang eksklusif?

‘Di dalamnya’.

Apa itu artinya?

Mereka hanya akan punya apa pun yang mereka inginkan di dalamnya.

Mereka hanya akan memilikinya di dalamnya, artinya di jannah.

Jadi:

1️. hanya mereka yang akan memilikinya, dan

2️. mereka hanya akan memilikinya di jannah.

Tapi Allah membuat salah satu potongannya saja yang eksklusif.

Dan potongan yang satunya lagi tidak eksklusif.

Potongan yang mana yang eksklusif?

‘Untuk’ mereka.

Dan potongan yang mana yang tidak eksklusif?

‘Di’ dalamnya.

Jadi, apa maksudnya?

💡 Hanya orang-orang beriman yang mendapatkan apa yang mereka inginkan.

💡 Tapi apa yang mereka inginkan itu tidak hanya didapatkan di jannah.

Jika kita taruh kata ‘di’ di awal, orang-orang beriman hanya akan mendapatkan apa yang mereka inginkan, di mana? Di jannah saja.

Allah telah memutuskan satu potongannya tidak eksklusif, sehingga kita bisa memahami bagian akhir dari ayat tersebut. Waladaynaa maziid. “Kami punya yang lebih lagi.”

Jika kata ‘di’ ditaruh di awal, apakah ayat ini akan masuk akal?

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 03. Quranic Linguistics – Al-Kahf – A Deeper Look (41:55-43:30)

(bersambung insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da ashar)


Diskusi dan Tanggapan VoB Hari Ke-110 Siang | Sebuah Potongan yang Eksklusif

~hfm:

MashaaAllah..

Quranic Arabic is the key to understand His Book and Miracles. ✍️👍🏾👍🏾👍🏾

Alhamdulillah we have started learning  the first step of Arabic Grammar with Ustadh NAK  in Dream program..

May Allah SWT help us to be closer and closer to Him and to His Book.

Aamiiin 🤲

Kharisma:

aamiin..


Materi VoB Hari ke-110 Sore | Juicy Root Cause Analysis

Ditulis oleh:  Heru Wibowo

#FridayAlKahfiWeek16Part3

Part 3

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Jika kata ‘di’ ditaruh di awal, berarti orang-orang beriman mendapatkan apa pun yang diinginkan hanya di jannah.

Maka bagian akhir dari ayat tadi, “Kami punya yang lebih lagi (untuk orang-orang beriman)”, menjadi tidak masuk akal.

Di ayat ini, kita jadi paham bahwa Allah memberikan penghargaan, barakah, pertolongan, tidak hanya di akhirat. Di dunia juga.

لَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَا وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌ

Jadi begitulah kita menggunakan ‘perangkat retorika’.

Kita belajar

1️. tata bahasa, lalu kita belajar

2️. balaghah atau retorika.

Berikutnya adalah

3️. analisis akar kata.

Ustaz sudah tidak banyak melakukan analisis akar kata sendiri saat ini.

Sudah ada yang melakukannya untuk ustaz.

Ini lumayan mengurangi pusing kepala ustaz. 😃😃👍🏻👍🏻

Referensi apa yang digunakan untuk melakukan analisis akar kata?

Bagaimana caranya mengambil inti sari dari referensi tersebut

Dan bagaimana juga merangkai itu semua untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang ayat yang sedang ditelaah?

Saat ustaz butuh analisis akar kata terhadap kata tertentu, beliau tinggal minta. Maka laporan hasil analisisnya akan datang dengan sendirinya.

Murid ustaz yang mempersembahkan laporan hasil analisis kata itu, sudah tahu persis prosesnya.

Yang dia lakukan, dan dia memang sudah piawai melakukannya:

💡 mendalami beberapa kamus yang berbeda.

💡 mencatat makna-makna kata yang menarik untuk dikumpulkan, untuk ditelaah lebih lanjut

💡 menghasilkan sebuah catatan kompilasi yang bagus (nice compiled notes).

Saat ustaz akan memberikan kuliah atau ceramah, atau sebuah kajian yang detail, ustaz ingin bisa memberikan kajian yang koheren.

Jika ustaz harus ‘terjebak’ mengurusi analisis akar kata yang njelimet dan terlalu detail, maka itu bisa mengganggu konsentrasi ustaz untuk mempersiapkan materi kajian yang koheren.

Studi analisis akar kata sudah ustaz delegasikan kepada murid beliau. Ustaz tinggal menerima laporannya. Tinggal menerima hasilnya.

Dan analisis akar kata itu masih terus dilakukan, hingga saat ini.

Pada saatnya nanti, hasil analisis ini rencananya juga akan dipublikasikan, bi idznillaahi ta’aalaa, inti sari dari hasil analisis akar kata. Juicy root cause analysis.

Untuk mempelajari ketiganya (tata bahasa, retorika, dan analisis akar kata), referensi yang kita gunakan berasal dari 12 atau 13 sumber yang berbeda.

Ini kita baru mempelajari bahasanya. Belum mulai mempelajari tafsirnya.

Secara klasiknya dibilang begitu. Mempelajari bahasanya dulu, baru mempelajari tafsirnya.

Kapan kita mempelajari aspek tafsirnya? Insya Allah akan kita bahas di materi berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 03. Quranic Linguistics – Al-Kahf – A Deeper Look (43:30-46:18)

(bersambung insyaa Allaahu ta’aalaa minggu depan)

***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s