[VoB2020] Bukti Tidak Ada Kitab Baru Setelah Al-Qur’an


Voice of Bayyinah (VoB) Hari Ke-109

Topik : Pearls from Baqarah

Selasa, 6 Oktober 2020

Materi VoB Hari Ke-109 Pagi | Bukti Tidak Ada Kitab Baru Setelah Al-Qur’an

Oleh: Muchamad Musyafa’

#TuesdayAlBaqarahWeek16Part1

Dalam catatan sejarah, akan bisa kita temukan nama-nama orang yang mengaku dirinya seorang nabi. Mereka mengaku diutus dengan membawa kitab suci baru. Dari situlah akhirnya mereka mengharap pemujaan orang lain terhadap diri mereka.

Tradisi Kristen dan Yahudi pernah mengalami nabi palsu dan saat ini pun masih mengalaminya. Sebut saja salah satu contohnya kelompok Gereja Mormon dengan kitab suci Mormonnya. Pendiri kelompok ini melakukan klaim bahwa dirinya telah mendapatkan wahyu setelah kepergian Yesus. Ia juga mengatakan bahwa kitab Mormon adalah pelengkap Al-Kitab.

Di Islam juga, dalam sejarah dikenal nama Musailamah al-Kazzab sebagai seorang nabi palsu. Lalu masih banyak nabi-nabi palsu lainnya yang mengaku seorang nabi lalu membuat syair-syair yang mereka yakini sebagai Al-Qur’an versi mereka.

Tapi sudahlah, kita tidak ingin membahas detail siapa saja nabi palsu, dan seperti apa ajaran mereka. Kita tidak ingin membahas kreativitas mereka dalam menciptakan ajaran-ajaran baru itu.

Yang akan kita akan bahas di sini adalah bagaimana Al-Qur’an dijaga sejak  generasi awal sampai hari akhir. Bagaimana Al-Qur’an mengatakan bahwa tidak akan ada ruang bagi nabi-nabi baru atau wahyu-wahyu baru.

Bagaimana Al-Qur’an melakukannya?

Sejak awal Allah ﷻ mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah sebuah petunjuk, bagi orang-orang yang bertakwa. 

ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ  

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah, 2:2)

Dan salah satu karakteristik orang yang bertakwa adalah mereka percaya apa yang diturunkan pada mereka – Al-Qur’an, dan apa yang diturunkan sebelum mereka – Taurat dan Injil.

وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ  

“Dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.” (QS. Al-Baqarah, 2:4)

Orang yang bertakwa tentunya akan mempercayai isi Al-Qur’an termasuk isi dari ayat ke-4 di atas.

Orang yang bertakwa akan mengimani :

📕 Yang diturunkan kepada nabi Muhammad (Al-Qur’an)

📕📗 Dan yang diturunkan sebelumnya (Al-Kitab dan Taurat)

Jadi, jika ada ruang untuk mempercayai nabi-nabi baru, jika ada ruang untuk meyakini akan ada wahyu-wahyu baru, maka di ayat ke-4 akan ada anak kalimat yang berbunyi :

وَمَآ أُنزِلَ مِن بَعْدِكَ

“Dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan setelah engkau.”

Namun kenyataannya tidak ada tambahan anak kalimat tersebut di ayat 4 ini. Justru Allah menutup ayat ini dengan keyakinan akan adanya akhirat.

📕📗📘 Hari akhirat وَبِٱلۡأٓخِرَةِ .

📖✨📚📚📚

Bisa kita lihat? Allah ﷻ sudah menguncinya di sini. 

Allah ﷻ telah menutup segala kemungkinan bahwa akan ada wahyu baru yang turun setelah Al-Qur’an. Tidak ada ruang yang tersisa.

Al-Qur’an adalah wahyu terakhir dan selanjutnya kita harus meyakini akan adanya hari akhirat. 

📖✨📚📚📚

Jadi jika ada orang yang bertanya, 

“Bagaimana kamu bisa membuktikan bahwa tidak ada nabi baru setelah nabi Muhammad ﷺ ?”

“Bagaimana kamu bisa membuktikan bahwa Al-Qur’an sudah final, tidak ada kitab baru setelahnya?”

Tentunya kini kita bisa menjawabnya dengan mantap.

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Surah >  03. Al-Baqarah (Ayah 4-7) – A Deeper Look (12:18 – 14.43)


Materi VoB Hari Ke-109 Pagi | Grand Guidance

Oleh: Muchamad Musyafa’

#TuesdayAlBaqarahWeek16Part2

“(Jarak) antara aku diutus dengan hari Kiamat adalah seperti ini. Anas radhiallahuanhu berkata : Rasulullah ﷺ menggabungkan antara jari telunjuk dengan jari tengah.” (HR. Bukhari no. 6504, Muslim no. 2951)

Itulah perumpamaan dari hubungan mengimani Rasulullah ﷺ dengan mengimani hari akhir. Jika kita sudah mengimani Rasulullah ﷺ sebagai nabi terakhir, maka selanjutnya adalah mengimani hari akhir. Jaraknya sangat dekat, tidak ada sesuatu lain di antaranya. Seperti jari telunjuk dan jari tengah yang digabungkan itu.

Dua peristiwa ini akan datang berurutan dalam waktu singkat, relatif terhadap umur sejarah manusia di muka bumi.

أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمۡ 

“Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, (QS. Al-Baqarah, 2:5)”

Oke, tentu saja kita akan membahas bagian menarik dari ayat selanjutnya ini.

Jika kita lihat, di sana ada kata هُدًى (petunjuk) yang merupakan kata dengan tipe umum / indefinite / nakirah.

Kenapa tidak digunakan الهُدًى yang merupakan kata dengan tipe spesifik/ definite/ marifat ?

➖➖➖➖➖➖➖

Note : Apa itu tipe umum-spesifik? Apa ciri-cirinya? bagaimana penggunaannya? Semua itu akan kita pelajari terpisah di program Dream Live 10 Days Intensive Nahwu, 2-11 Oktober 2020 di kanal Youtube atau Facebook milik ustaz Nouman. Gratis. 

➖➖➖➖➖➖➖

Dalam penulisan kata umum, هُدًى (petunjuk) memiliki harakat fathah ganda pada huruf dal (د) nya. Bentuk seperti ini disebut juga sebagai tafkhim (tebal). Tafkhim ini berguna untuk membuat sesuatu kata menjadi bermakna besar (grand

Sehingga penggunaan kata umum  هُدًى (petunjuk) di sini untuk menunjukkan bahwa petunjuk yang dimaksud benar-benar sebuah petunjuk. Petunjuk yang besar, grand guidance, really really guidance. Tidak ada petunjuk seperti petunjuk yang ada di ayat ini.

Mereka yang mendapatkan petunjuk yang besar adalah mereka yang mengimani Al-Qur’an, kitab suci sebelumnya dan juga mengimani kehidupan setelah kematian.

وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  

“Dan mereka itulah orang-orang yang sukses”. (QS. Al-Baqarah, 2:5)

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Surah >  03. Al-Baqarah (Ayah 4-7) – A Deeper Look (14:44 – 16:33)


Materi VoB Hari Ke-109 Sore | Kesuksesan Petani

Oleh: Muchamad Musyafa’

#TuesdayAlBaqarahWeek16Part3

“Dan mereka itulah orang-orang yang sukses”. (QS. Al-Baqarah, 2:5)

وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  

Kata muflihun (مُفۡلِحُونَ) berasal dari akar kata aflaha (اَفۡلَحَ) . Kata aflaha ini juga menarik. Dari kata ini, kita bisa memerasnya dan mendapatkan kata yang juicy yaitu  فَلَحَ yang berarti menanami, membajak. Dari kata فَلَحَ  kita bisa juga membentuknya menjadi kata lain yaitu  فَلَّاحٌ yang berarti petani. 

Kata aflaha (اَفۡلَحَ) juga memiliki arti الفوز والنجاة والبقاء في النعيم والخير (Menang, bertahan hidup, dan tinggal dalam kebahagiaan dan kebaikan).

Kata البقاء berarti remain, menetap, tinggal. Jadi aflaha juga memiliki arti kondisi seseorang yang terus menetap dan hidup selamanya dalam kesuksesan dan keberkahan.

Jika kita ingin menyebut murni kesuksesan saja, kita cukup menyebut faizun فَائِزٌ . Di beberapa ayat Al-Qur’an juga digunakan kata faizun ini. Tapi ketika kita menggunakan muflihun kita mengacu kepada orang yang sukses selamanya, kesuksesan yang abadi di akhirat.

Kata فَلَّاحٌ memiliki arti seorang petani. Seorang petani menanami tanah ( falahtul ardl فَلَحْتُ الأَرْض ) dan menggali tanah ( sakaktul ardl سَكَكْتُ الأَرْض ). Mereka menggali tanah, mencabut hasil panennya ketika hasil panennya sudah siap.

Para petani telah bekerja setahun penuh, mereka bekerja keras di atas tanah mereka. Mereka menaruh benih, mengairinya secara rutin, memastikan tanamannya sehat tidak terserang hama. Selama setahun itu mereka tidak tahu akan menjadi seperti apa hasil panen mereka nanti.

Hingga akhirnya tibalah musim panen, mereka akhirnya bisa melihat hasil usaha keras mereka. Hampir di seluruh belahan dunia, ketika musim panen tiba biasanya para petani akan mengadakan festival untuk merayakan kebahagiaan mereka, mereka berpesta-pesta.

Yang bisa kita soroti dari para petani tersebut adalah mereka telah mengerahkan usaha yang amat besar hingga akhirnya mereka bisa menuai apa yang mereka tanam.  Begitupun dalam Islam, kita harus bekerja keras untuk mendapatkan belas kasih dari Allah ﷻ , untuk mendapatkan surga. 

Ketika Allah ﷻ mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, Allah ﷻ menyebut dua kelompok manusia. 

🌽 Pertama, mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

🌽🍅 Kedua, mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.

Mengapa dua kelompok ini dipisahkan dalam dua ayat yang berbeda?

Alasannya akan kita ketahui insyaAllah minggu depan.

🥬🌽🍅🥕🍍

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Surah >  03. Al-Baqarah (Ayah 4-7) – A Deeper Look (16:34 – 19:40)


Diskusi dan Tanggapan VoB Hari Ke-109 Sore | Kesuksesan Petani

Siti Badriyah: 

“MashaAllah … Ayat ini so deep and so smart… it implicitly stated that Rasulullaah is the Final Messenger …✨📗📃 SubhanAllah …

وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ 

dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat. 

(QS. Al-Baqarah, 2:4)

📖✨📚📚📚

Bisa kita lihat? Allah ﷻ sudah menguncinya di sini. 

Allah ﷻ telah menutup segala kemungkinan bahwa akan ada wahyu baru yang turun setelah Al-Qur’an. Tidak ada ruang yang tersisa.

Al-Qur’an adalah wahyu terakhir dan selanjutnya kita harus meyakini akan adanya hari akhirat. 

📖✨📚📚📚

SubhanAllaah …✨💫🔖”


Semoga Allah terangkan, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon do’akan kami agar bisa istiqomah untuk berbagi mutiara-mutiaraNya. 🙏

Jazakumullahu khairan 😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s