[VoB2020] Pendekatan dan Orientasi Terbaik dalam Membaca Kalamullah


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-101

Topik: Pearls from Ali Imran

Rabu, 30 September 2020

Materi VoB Hari ke-101 Pagi | Pendekatan dan Orientasi Terbaik dalam Membaca Kalamullah

Oleh: Indri Djangko

#WednesdayAliImranWeek15Part1

Part 1

بسم الله الرحمن الرحيم

Kita masih membahas ayat ke-6 QS Ali ‘Imran.

Di awal ayat, Allah menyebut penciptaan manusia sejak kita berada dalam Rahim. 

Kita sebagai manusia tidak punya kehendak dan pilihan bahkan atas penciptaan kita sendiri. Semuanya adalah kehendak Allah. 

Dan penciptaan sejak dalam rahim ini penting untuk disebutkan agar kita semakin menyadari bahwa kita pengetahuan kita terbatas, dan Allah-lah yang Maha Segalanya.

Sejak awal ayat QS Ali ‘Imran ini, Allah ingin kita memperbaiki orientasi kita dalam menyelami ayat-ayat-Nya. 

Melalui bukti-bukti penciptaan dan kekuasaan Allah, termasuk yang ada di dalam ayat ini, penting bagi kita untuk menyadari kita ini tidak tahu apa-apa kecuali yang Allah kehendaki untuk kita ketahui.

Allah memberikan Taurat. Kemudian ada upaya penyesatan dan ada yang tersesat. 

Lalu para musaddiq datang membawa pemahaman yang lurus melalui Injil.

Lalu mereka tersesat lagi. Kemudian musaddiq yang lain datang dengan misi yang sama, lalu ada orang yang berkata, “Kenapa Allah dari awal tidak memberikan yang harus kita tahu saja, kenapa harus menurunkan kitab, lalu ‘mengambil’nya, lalu menurunkan kitab lain untuk meluruskannya”.

Semua itu kehendak dan kuasa Allah.

Allah yang memutuskan bagian mana yang tersembunyi dari Taurat. 

Sebenarnya, jika Allah berkehendak untuk menjaga Taurat, maka Allah pasti akan menjaganya seterusnya. 

Allah yang memutuskan, dengan kebijaksanaan-Nya bahwa ajaran Isa akan dirusak dan ada kekacauan yang akan terjadi di antara mereka pada zaman itu.

Jika Allah mau, kita tidak perlu Al-Qur’an untuk datang dan mengklarifikasi, karena kitab sebelumnya sudah jelas, bukan?

Seperti bahasan di pekan sebelumnya, kita harus menyadari, apa yang tersembunyi dari kita, tidak tersembunyi dari Allah. 

Ketika Allah memutuskan untuk menurunkan kitab, kita tidak berhak menentukan posisi untuk bertanya kenapa atau kenapa tidak. 

Kita ini tidak tahu apa-apa, bahkan tentang diri kita saja kita tidak punya pengetahuan yang menyeluruh. 

Kesadaran inilah yang perlu kita tanamkan betul-betul. Kita bahkan tidak tahu kita ini siapa, apa, dan bagaimana kita terbentuk, jika Allah tidak memberikan penjelasan tentang itu, melalui Wahyu-Nya, atau misalnya kehendak-Nya agar di usia tertentu kita belajar tentang penciptaan manusia, dsb.

Mari kita kembali ke permulaan QS Ali ‘Imran, Alif laam mim. Masih ingat pelajarannya? Yaps, melalui Alif laam miim, kita belajar sadar bahwa kita tidak tahu apa apa.

Kemudian ayat selanjutnya

 اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ, 

Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu. Mengetahui segala Sesuatu.

Sehingga di akhir ayat ke-6 ini, 

هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

Allah ingin menyampaikan bahwa manusia harus sadar, dengan penyebutan penciptaan dari alam rahim, sudah mengerti, kan, makna dari laa ilaaha illalaah?

Sudah mengerti, kan, mengapa tidak boleh mempertanyakan otoritas Allah? Ya, karena Dia adalah Al-Aziz.

Sudah mengerti juga, kan, Allah punya kebijaksanaan, memutuskan apa yang akan diturunkan, apa yang hilang, apa yang akan diluruskan oleh kitab setelahnya? Ya, karena Dia adalah Al-Hakim.

Selalu sadar bahwa pengetahuan manusia terbatas, dan Allah Maha Tahu Segalanya, adalah orientasi dan pendekatan terbaik yang harus kita lakukan untuk memahami kalamullah. 

———————————————–

Sumber: 

– Bayyinah TV – Surahs – Deeper Look – 02. Ali Imran – Ayah 3 – 6 Ramadan 2018 (47.10-49.04)

Bersambung insyaa Allah ba’da Zhuhur

📖📖📖


Materi VoB Hari ke-101 Siang | Laa Ilaaha Illa Huwa dan Pesan Cinta Allah di Dalamnya

Oleh: Indri Djangko

#WednesdayAliImranWeek15Part2

Part 2

بسم الله الرحمن الرحيم

Setiap bagian dari kitab suci, baik penempatan maupun waktunya, semuanya atas kuasa dan pengetahuan Allah.

Mungkin kita pernah bertanya-tanya. Allah menurunkan Wahyu untuk kita, huda linnaas, petunjuk untuk kaum sebelum kita dan untuk kita hari ini, 

Tapi mengapa harus ada semua masalah ini?

Mengapa kita harus menghadapi friksi-friksi ini, orang-orang kafir di satu sisi, dan orang munafik di sisi lain?

Mengapa harus ada semua konflik, tekanan, kesulitan ini?

💌💌💌

Sebelum mempertanyakan semua hal itu, sepertinya kita perlu mengingat kembali.

Allah adalah satu-satunya yang peduli kepada kita saat kita tidak peduli pada diri kita sendiri. 

Sejak kapan Allah mengurus kita? 

Sejak kita masih di dalam rahim ibu kita.

Saat kita sebenarnya punya masalah yang kita tidak tahu. 

Saat kita sebenarnya sedang mengalami komplikasi berat saat masa pertumbuhan di dalam rahim, tapi kita tidak tahu. Allah sudah menyelesaikannya.

Saat pembentukan fungsi otak kita dalam rahim ibu kita, we exactly have no idea. Allah yang menyelesaikan pembentukannya.

Kemudian tiba-tiba kita berpikir Allah tidak peduli kepada kita atau sengaja memberikan kita kesulitan?

Semua hal yang menurut kita sebuah kesulitan, sebenarnya adalah bentuk cinta dari Allah. 

Allah menurunkan kitab ini dan hadir sebagai bagian dari kasih sayang-Nya kepada kita. 

Laa ilaaha illa huwa pada awal QS Ali ‘Imran ini merangkum semuanya. Termasuk kekuasaan Allah sekaligus kasih sayang-Nya.

———————————-

Sumber: 

– Bayyinah TV – Surahs – Deeper Look – 02. Ali Imran – Ayah 3 – 6 Ramadan 2018 (49.04-50.12)

Bersambung insya Allah ba’da Ashar

💌💌💌


Materi VoB Hari ke-101 Sore | Laa Ilaaha Illa Huwa dan Pesan Cinta Allah di Dalamnya (Bagian Kedua)

Oleh: Indri Djangko

#WednesdayAliImranWeek15Part3

Part 3

بسم الله الرحمن الرحيم

Masih berbicara tentang لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ . 

Ada hikmah besar kenapa لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ini ada di permulaan surat, bahkan sejak ayat pertama.

Di bagian selanjutnya, Ustaz Nouman akan menjelaskan ayat-ayat selanjutnya tapi masih tetap berhubungan dengan laa illaaha illaa huwa.

Mungkin jika kita baca sekilas, kita tidak akan langsung menemukan korelasinya.

Tetapi Ustaz akan menjelaskan bahwa sebenarnya semuanya masih sangat berhubungan dengan uluhiyah dalam لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ.

Uluhiyah bukan sekadar beribadah menyembah Allah, tapi ada pesan cinta di dalamnya. 

Ada kepasrahan betapa kita membutuhkan Allah, dan merindukan Allah. 

Itu semua adalah implikasi dari kata ‘Ilaaha’.

Kata Arham di ayat ke-6 ini adalah rujukan halus kepada rahmah Allah.

Allah bisa saja hanya mengatakan

هُوَ ٱلَّذِى يُصَوِّرُكُمْ كَيْفَ يَشَآءُ 

Dia membentukmu sesuai kehendak-Nya. Tanpa menyebutkan Arham pun, implikasinya pasti termasuk pembentukan di rahim juga. 

Tapi Allah menyebutkan Arham secara khusus. 

Mari kita lihat bagaimana satu kata ini yang digunakan ini membawa perubahan besar pada Wahyu Allah. 

💌💌💌

Tadinya kita bukanlah apa-apa, لَمْ تَكُ شَيْـًٔا … (QS Maryam:9).

Bukanlah sesuatu yang dapat disebut, لَمۡ يَكُنۡ شَيۡـٴً۬ـا مَّذۡكُوۡرًا … (QS. Al-Insaan:1).

Kita dulunya hanya bagian dari sebuah tetesan mani, sebuah realita yang mungkin menurut sebagian orang tidak pantas untuk disebut-sebut. Tapi itulah kenyataannya.

Kondisi kita sebelumnya ya seperti itu. Kemudian Allah memandu perjalanan kita, ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُ (QS. ‘Abasa:20), menuju rahim ibu kita.

Kata Arham dalam ayat ini memberi gambaran detail bahwa dalam perjalanan kita (yang masih berupa droplet ini) menuju rahim pun, Allah memandu dan mengurus kita.

Dan perjalanan kita menuju rahim ibu kita, yang bahkan kita sendiri tidak tahu, menjadi bagian dari wahyu Allah dalam QS Ali ‘Imran ini.

Allah begitu detail memandu dan mengurus kita. Jadi, masih adakah ruang untuk berpikir bahwa Allah membiarkan semua proses ini berjalan tanpa bimbingannya?

Allah selalu punya kuasa atas diri kita. Kapan tepatnya kita harus lahir. Berapa lama kita harus menetap di dalam perut ibu kita.

Dan Allah bijaksana dalam memutuskan di era apa kita harus hidup, bahasa apa yang harus kita pelajari,

Dan Allah punya kuasa juga tentang wahyu apa yang harus kita ikuti.

Ayat ke-6 QS Ali Imran ini adalah re-orientasi dari ayat pertama. 

Kita kembali mendapat penegasan bahwa لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ adalah pijakan kita. 

Tidak ada Tuhan selain Allah, yang punya otoritas atas segala sesuatu, yang punya pengetahuan atas semua hal.

Sedangkan kita, pengetahuan kita terbatas dan kita tidak berhak mempertanyakan kenapa begini dan kenapa tidak begitu. 

لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

—–‐—————————-

Sumber: 

– Bayyinah TV – Surahs – Deeper Look – 02. Ali Imran – Ayah 3 – 6 Ramadan 2018 (50.12-52.10)

Bersambung insya Allah pekan depan.

💌💌💌

***


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s