[VoB2020] Satu Frasa, Begitu Dalam Maknanya


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-102

Topik: Divine Speech

Kamis, 1 Oktober 2020 

Materi VoB Hari ke-102 Pagi | Satu Frasa, Begitu Dalam Maknanya

Ditulis oleh: Nurfitri Anbarsanti

#ThursdayDivineSpeechWeek15Part1

Part 1

بسم الله الرحمن الرحيم

***

فَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَٰهَا وَهِىَ ظَالِمَةٌ فَهِىَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَّشِيدٍ

“Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan-bangunannya dan (betapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi (tidak ada penghuninya).” (QS 22:45)

Ketika kita mengunjungi tempat yang disebut dalam Al-Qur’an ini, yang sudah lama tertinggal, kita hanya akan melihat dinding-dinding yang hancur. Dinding yang berdiri begitu saja. Dan, yang menahan dinding-dinding itu agar tetap berdiri, seharusnya adalah tekanan dari atap bangunan itu. Tapi, atapnya sudah tidak ada. Sehingga, dinding ini sudah dipenuhi lumut, jamur, karat, serangga, dan lain-lain. Dan ketika angin datang, apa yang akan terjadi pada dindingnya? Dinding itu akan jatuh di atas reruntuhan atap.

Apakah ini terjadi hanya dalam semalam, atau butuh berabad-abad? Ya, sebenarnya proses ini membutuhkan beberapa dekade, atau bahkan beberapa abad untuk menghancurkannya.

Sehingga, di ayat ini, Allah tidak hanya berfirman bahwa kotanya sudah runtuh, atapnya sudah terbalik. Tetapi, Allah juga berfirman bahwa Allah ﷻ menghancurkan kota ini sehingga setelah beberapa generasi berlalu, jika masih ada dinding pun, maka atapnya sudah runtuh. 

Satu frasa ini,  خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَ, tidak hanya menjelaskan tentang kehancuran saja, tetapi Allah juga menjelaskan tentang berapa lama waktu berlalu sampai semua ini terjadi. Sampai akhirnya, tidak ada yang bisa hidup di tempat seperti ini.

Ini baru eksplorasi pertama kita. Eksplorasi bahwa bagaimana Allah menggunakan satu frasa kecil yang digunakan kaum Arab pada zaman itu, tetapi menggambarkan hal yang luar biasa di dalam Al-Qur’an.

Literally, ada ribuan frasa-frasa seperti ini dan insya Allah ust. Nouman akan memberikan contoh lainnya lagi.

Insya Allah bersambung ba’da Zhuhur

***

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Courses – Divine Speech – The Quran is Beyond Expectation (29:55-36:52)


Materi VoB Hari ke-102 Siang | Sebuah Perjalanan dari Keraguan Menuju Keyakinan

Ditulis oleh: Nurfitri Anbarsanti 

#ThursdayDivineSpeechWeek15Part2

Part 2

***

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebelum ust. Nouman menceritakan kisah yang lainnya, Ust. Nouman menceritakan tentang sosok seseorang yang menurut beliau, epic. Seseorang inilah yang telah menginspirasi ust. Nouman. 

Ust. Nouman berdoa agar bisa bertemu dengan Dr. Fadhil Shalih as-Samarrai, seseorang ulama Al-Qur’an dari Iraq. Beliau sudah sangat tua, minimal berusia 80an. Dan ternyata, Dr. Fadhil ini dulunya sempat menjadi non-muslim.

Saat Dr. Fadhil di Iraq, beliau sempat mengikuti partai komunis. Dan pada saat itu, beliau sangat mencintai bahasa. Beliau mempelajari ilmu linguistik bahasa Arab. Tapi, bahasa Arab yang dipelajari adalah bahasa Arab yang dipakai secara lokal. Beliau mempelajari bahasa Arab karena negara tempat tinggal beliau berbahasa Arab, bukan karena bahasa Arab itu adalah bahasa Islam.

Pada awalnya, beliau tidak tertarik mempelajari Al-Qur’an. Dia hanya ingin belajar bahasa Arab saja. Bahkan dia sempat menolak mempelajari Al-Qur’an. Beliau sempat bertanggung jawab untuk menyusun kurikulum bahasa Arab untuk anak-anak SMA di Baghdad. Bahkan, beliau juga akhirnya memimpin program PhD di bidang literatur bahasa Arab di Universitas Baghdad.

Satu dari seorang mahasiswa PhDnya menantang beliau dan berkata, kenapa beliau tidak menulis sesuatu untuk mengkritisi Al-Qur’an? Bukankah beliau adalah ahli dibidang linguistik? Akhirnya, beliau memutuskan untuk menulis satu buku untuk mengkritisi Al-Qur’an.

Buku yang terbit itu akhirnya berjudul “Prophet Muhammad ﷺ, the Journey from Doubt to Conviction.” (Nabi Muhammad ﷺ, sebuah Perjalanan dari Keraguan Menuju Keyakinan). Dalam perjalanan beliau mengkritisi Al-Qur’an, beliau akhirnya menjadi seorang muslim. Alhamdulillah.

Ust. Nouman mendapatkan beberapa buku karya Dr. Fadhil. Ust. Nouman menyebut buku karya Dr. Fadhil sebagai ‘a must read’. Ust. Nouman berharap salah satu murid beliau berkenan menerjemahkan buku karya Dr. Fadhil. Bukunya keren banget, menurut ust. Nouman. 

Dan ngomong-ngomong, akhirnya Dr. Fadhil akhirnya menjadi seorang pengagum Al-Qur’an. Beliau telah mempelajari bahasa dan menjadi master di bidang bahasa Arab selama puluhan tahun. Namun sebelum menjadi muslim, Dr. Fadhil tidak pernah menerapkan ilmunya kepada Al-Qur’an.

Dan dari perjalanan hidup beliau, ust. Nouman menyimpulkan bahwa ketika seseorang mempelajari bahasa Arab, maka sebenarnya dia juga sedang mempelajari Al-Qur’an. Karena mereka, yaitu bahasa Arab dan Al-Qur’an selalu berjalan beriringan (hand in hand). Siapapun yang mempelajari bahasa Arab secara mendalam, insya Allah akan mampu juga mempelajari Al-Qur’an secara mendalam.

اِنَّا جَعَلْنٰهُ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَۚ

“Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab agar kamu mengerti.” (QS 43:3)

Tapi pada awalnya, Dr. Fadhil mempelajari bahasa Arab dengan sangat mendalam, tapi tidak mengakses AL-Qur’an. Dan ketika beliau mulai menerapkan ilmu bahasa Arabnya terhadap Al-Qur’an, beliau kayak melihat Al-Qur’an dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang lain. Beliau punya perspektif yang berbeda.

Dan sejak itulah, beliau mulai menulis buku demi buku, tentang apa yang membuat Al-Qur’an begitu unik dan spesial. Beliau menulis beberapa buku, kurang lebih enam belas buku.

Insya Allah bersambung ba’da Ashar

***

Sumber: 

– Bayyinah TV – Quran – Courses – Divine Speech – The Quran is Beyond Expectation (29:55-36:52)

https://id.wikipedia.org/wiki/Fadhil_Shalih_as-Samarrai


Materi VoB Hari ke-102 Sore | Isi Dua Istilah Berbeda untuk Kota yang Sama

Ditulis oleh: Nurfitri Anbarsanti

#ThursdayDivineSpeechWeek15Part3

Part 3

***

بسم الله الرحمن الرحيم

Ketika Ustaz Nouman membaca buku yang pertama karya Dr. Fadhil, Ustaz Nouman begitu terpesona (blown away). Setelah membaca buku yang kedua, Ustaz Nouman semakin terpesona. Dan setelah membaca buku yang ketiga, Ustaz Nouman menggambarkan bukunya dengan ungkapan “It’s crazy!” (hebat banget maksudnya).

Dr. Fadhil punya acara TV sendiri di daerah tempat tinggalnya. Beliau juga punya YouTube channel, semuanya dalam bahasa Arab. Amazing. Dan ketika Ustaz Nouman mengundang Dr. Fadhil untuk datang ke U.S., Dr. Fadhil menjawab, “Saya pengajar, dan saya sibuk”. Sehingga Ustaz Nouman mengundang Dr. Fadhil untuk datang ke sebuah kota (yang mungkin dekat dengan Baghdad), dan Ustaz Nouman akan ke sana untuk bertemu dengan beliau.

Berikut ini adalah kutipan dari buku karya Dr. Fadhil.

Apa istilah yang digunakan untuk menyebut Kota Nabi? Madinah? Madinatunnabi? Ya, betul, ‘Madinah’.

Nah, apa nama lain dari Madinah? Ya, betul, ‘Yatsrib.’

Dalam Al-Qur’an, Allah menggunakan ‘Madinah’ sebanyak enam kali, dan menggunakan ‘Yatsrib’ sebanyak hanya satu kali saja. 

Nah, kenapa Allah ﷻ menggunakan istilah ‘Madinah’ tapi juga menggunakan ‘Yatsrib’? Padahal kedua istilah itu mengacu ke kota dan daerah yang sama? Jika menggunakan satu istilah saja, tidak masalah kan?

Mengapa Al-Qur’an menggunakan satu istilah yang agak bertentangan dengan istilah yang lain. Inilah pertanyaannya. Satu hal penting, ‘Madinah’ bukanlah nama asli dari kota tersebut. ‘Madinah’ adalah nama yang diberikan untuk kota itu. Kota itu disebut ‘Madinah’, karena itu merupakan kependekan dari ‘Madinatunnabi’, atau Kota Nabi.

Itu berarti, kota Yatsrib disebut sebagai ‘Madinah’ setelah Nabi Muhammad ﷺ pindah ke sana. Dan faktanya, setelah Nabi Muhammad pindah ke Yatsrib, kota tersebut menjadi ‘Pemerintahan Madinah’, yang disebut Madinatunnabi.

Sebelum Nabi Muhammad berhijrah, nama kota itu adalah Yatsrib. Yang menarik adalah, setiap kali kita berbicara tentang ‘Madinah’, maka seperti selalu mengacu pada kota ‘Madinah’ yang disebut di dalam Al-Qur’an. Sehingga, Allah seperti ingin memberi tahu kepada kita umat Islam bahwa kota Nabi itu, sudah bukan bernama ‘Yatsrib’ lagi. Namanya berganti menjadi ‘Madinah’, Kota Nabi.

Insya Allah bersambung minggu depan.

***


Sumber: 

– Bayyinah TV – Quran – Courses – Divine Speech – The Quran is Beyond Expectation (29:55-36:52)

https://id.wikipedia.org/wiki/Fadhil_Shalih_as-Samarrai

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s