[VoB2020] Agar Rapat Tidak Berujung Fitnah


بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-98

Topik: Leadership

Rabu, 27 September 2020

Materi VoB Hari ke-98 Pagi | Menyebar dan Bergegas Keluar

Oleh: Icha Farihah

#Sunday Leadership Week14 Part1

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu…” (QS. Al-Mujadilah, 58:11)

Saat itu, Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wa salam menggelar sebuah majelis dengan para sahabat.

Beliau shalallaahu ‘alayhi wa salam meminta para sahabat untuk duduk menyebar dan tidak bergerombol di satu tempat.

Hal ini dilakukan supaya ketika ada orang-orang yang datang terlambat, mereka tidak akan duduk di tempat yang sama secara bersama-sama. Mereka juga harus menyebar. 

Misalnya, dua orang munafik datang terlambat. Mereka suka mengaktifkan “mode ghibah” saat majelis berlangsung. 

Karena posisi duduk para sahabat menyebar, satu dari mereka terpaksa harus duduk di antara Umar dan Hamzah radhiyallaahu anhum, sedangkan satu orang lain duduk di tempat yang lain. 

Dengan strategi seperti ini, tidak ada celah untuk membuat forum di dalam forum. Tidak akan ada suara ghibah bisik-bisik ketika rapat berlangsung. Dan tidak ada geng-geng di setiap pojok ruang rapat yang akan membawa fitnah.

Alih-alih bisik-bisik atau membuat forum sendiri, bisa jadi orang ini malah ketakutan ketika duduk di samping Umar radhiyalallaahu anhu

***

Adapun lanjutan dari ayat di atas adalah…

 وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ

“…Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah, 58:11)

Ketika sebuah majelis selesai maka kita harus segera keluar dan meninggalkan tempat itu.

Jangan gunakan momen setelah rapat sebagai ajang bersosialisasi. 

“Assalamu’alaikum, apa kabar?”

“Gimana progres kerjaannya?”

“MasyaAllaah udah lama enggak ngobrol nih.”

Keluar dan jangan bicarakan tentang apapun.

Karena salah satu adab dari sebuah majelis, rapat, atau pertemuan adalah:

 المجالسُ بالأمانةِ

“Sebuah majelis didasarkan pada sebuah kepercayaan.”

Artinya, kita tidak boleh mengungkapkan apa yang dibicarakan kecuali jika tidak dilakukan menimbulkan sesuatu yang haram.

Jika kita merasa memiliki sesuatu yang pantas untuk dikatakan maka katakan itu di dalam forum. Meskipun reaksi orang akan berbeda dan bisa membuat kita sakit hati. Tidak apa-apa, itu lebih baik untuk kita.

Jangan membahasnya ketika forum berakhir. 

Karena dari situlah an najwaa (النَّجْوَى) bekerja dan menimbulkan sebuah fitnah.

***

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > 03. Leadership Workshop (14:38-16:21)


Materi VoB Hari ke-98 Siang | Repeated Reminder

Oleh: Icha Farihah

#Sunday Leadership Week14 Part2

Pendapat kita di sebuah rapat seharusnya menjadi salah satu bentuk ibadah. Artinya, kita hanya ingin menyenangkan Allah semata. Sekalipun pendapat kita tidak dianggap, diremehkan, ditentang, atau dipuji oleh manusia. Tidak ada efeknya bagi kita. 

Begitu juga dengan salat. Menjadi imam ataupun menjadi makmum. Seharusnya sama saja. Tidak ada rasa bangga atau kecewa. Kita tidak peduli apakah orang-orang menyukai bacaan salat kita atau tidak. Karena shalat kita ditujukan hanya untuk Allah. 

Membuat orang terkesan dengan betapa merdunya bacaan salat kita. Tidak akan membawa apa-apa. Semua tidak ada harganya bagi kehidupan yang abadi.

Ini adalah pelajaran dasar yang sangat penting dan dapat menyelamatkan umat. 

Kita harus mendapatkan pengingat ini secara berkala. Kita harus menyegarkan kembali ingatan kita terus-menerus.

Saat kita telah mendapat pengingat tentang perkara ini secara memadai. In syaa Allah, kita sebagai umat bisa menyelamatkan diri kita dari berbagai masalah di dalam masjid. 

***

Beberapa orang ketika ikut sebuah majelis, rapat, atau pertemuan, kemudian merasa pendapatnya diremehkan, dibantah, atau sekadar menemukan sesuatu yang menurut mereka bagus untuk menjadi topik pembicaraan langsung menyebarkan hal tersebut ke orang-orang di luar majelis.

Mereka membuat status di media sosial, mengirim email ke rekan-rekan yang tidak ikut rapat, atau bercerita ke keluarganya.

Hal itu sama sekali tidak sejalan dengan apa yang Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wa salam perintahkan.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ قَالَ قَرَأْتُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نَافِعٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ ابْنِ أَخِي جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَجَالِسُ بِالْأَمَانَةِ إِلَّا ثَلَاثَةَ مَجَالِسَ سَفْكُ دَمٍ حَرَامٍ أَوْ فَرْجٌ حَرَامٌ أَوْ اقْتِطَاعُ مَالٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Shalih] ia berkata; aku membacanya di hadapan [Abdullah bin Nafi’] ia berkata; telah mengabarkan kepadaku [Ibnu Abu Dzi`b] dari [Ibnu Akhi Jabir bin Abdullah] dari [Jabir bin Abdullah] ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah seseorang berlaku amanah dalam bermajlis, kecuali tiga majlis; membunuh darah yang diharamkan, kemaluan yang diharamkan (zina) dan mengambil harta dengan tanpa hak.” (HR Abu Daud No. 4226)

Menjaga rahasia sebuah majelis dari dunia luar merupakan bentuk hormat kita kepada ajaran Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wa salam.

In syaa Allah bersambung ba’da ashar

***

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > 03. Leadership Workshop (16:21-17:20)


Materi VoB Hari ke-98 Siang | Sebuah Majelis dan Rasa Percaya

Oleh: Icha Farihah

#Sunday Leadership Week14 Part3

المجالسُ بالأمانةِ

Sebuah majelis didasarkan pada sebuah kepercayaan.”.

Saat itu, ada seorang murid yang mendapat kesempatan berkunjung ke rumah Ustaz Nouman.

Murid itu dipersilakan duduk dan diajak menonton TV bersama.

Kebetulan tontonan yang sedang diputar adalah Tom & Jerry. Sang murid kaget dan bertanya-tanya kenapa seorang ustaz yang mengajar tafsir Al-Qur’an menonton seekor kucing dan tikus.

Murid itu berpikir akidah ustaz rusak. 

Ustaz percaya pada kucing dan tikus yang sering bertengkar dan bahkan ada episode kedua hewan itu berbicara.

La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim

Selepas berkunjung, sang murid bersegera menyebarkan hal-hal yang ia lihat dan dengar tentang ustaz ke orang lain.

***

Cerita di atas hanya permisalan yang ustaz jabarkan tentang sebuah rasa percaya (trust).

Ketika kita diundang oleh seseorang untuk mengunjungi rumahnya, orang itu memiliki rasa percaya kepada kita. 

Menyebarkan informasi tanpa izin pemilik rumah adalah bentuk pelanggaran terhadap sebuah rasa percaya.

Rasa saling percaya juga menjadi dasar dalam sebuah majelis, rapat, maupun pertemuan. Semua orang di dalam ruangan tersebut menaruh rasa percaya antara satu dengan yang lain.

Jangan pernah menyebarkan rahasia internal yang terjadi di dalam forum kepada orang luar, termasuk keluarga.

Ustaz menyampaikan candaan bahwa, “Tidak ada media sosial yang lebih cepat daripada seorang istri.”

Cerita ke orang lain, terutama istri dan para wanita, seperti menekan opsi broadcast pesan ke semua kontak yang ada di ponsel. Menyebar dengan cepat.

Meskipun sudah ada formula “Jangan bilang siapa-siapa”, informasi itu tetap saja akan diketahui oleh hampir semua orang dengan pola pembicaraan awal yang sama “jangan bilang siapa-siapa.”

***

Ustaz pernah mengajak Syaikh Yasir Qadhi datang ke rumahnya di Dalas. Ustaz dan Syaikh Yasir Qadhi menghabiskan akhir pekan bersama. Tidak untuk urusan pekerjaan, dakwah, atau hal-hal formal lainnya. Hanya “bermain” sambil bercerita kehidupan pribadi antara keduanya.

Kemudian, ustaz menanyakan, “Kira-kira apa yang kami bicarakan?”

Dan juga langsung menjawab beberapa detik kemudian, “Tidak. Tentu tidak akan saya beri tahu.”

المجالسُ بالأمانةِ

Karena “Sebuah majelis didasarkan pada sebuah kepercayaan.”

Cerita itu adalah amanah antara ustaz dan Syaikh Yasir Qadhi saja. Bukan untuk disampaikan kepada publik.

***

Sikap seperti ini harus kita tanamkan di dalam komunitas dan masjid kita.

Jangan menjadikan pembicaraan di dalam majelis, rapat, dan pertemuan yang bersifat pribadi dan rahasia menjadi omongan dan tontonan khalayak luas.

In syaa Allah bersambung pekan depan.

***

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > 03. Leadership Workshop (17:20-20:30)

👑🏡👨‍👧‍👧👑


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s