[VoB2020] Kesempurnaan Menjalani Ujian


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-97

Topik : Parenting

Sabtu, 26 September 2020

Materi VoB Hari Ke-97 Pagi | Kesempurnaan Menjalani Ujian

Oleh: Rizka Nurbaiti

#SaturdayParentingWeek14Part1

Part 1

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Nabi Ibrahim alaihissalam telah berhasil melalui ujian-ujian berat di hidupnya dengan begitu sempurna.

Keberhasilan Nabi Ibrahim alaihissalam dalam menjalani ujian-ujian berat tersebut Allah ﷻ nyatakan di dalam Al-Qur’an, yaitu sebagai berikut:

وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِـۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَـٰتٍۢ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى ٱلظَّـٰلِمِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia’. Ibrahim berkata: ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku’. Allah berfirman: ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim’.”

(QS Al-Baqarah, 2:124)

Allah ﷻ menyebutkan فَأَتَمَّهُنَّ (fa ’atamahunna) yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “maka dia menyelesaikan semuanya”.

Namun dalam bahasa Arab untuk mengatakan “maka dia menyelesaikan semuanya” bukan dengan فَأَتَمَّهُنَّ  (fa ’atamahunna) melainkan فَأَتَمَّها (fa ’atamahaa).

Jadi mengapa Allah menggunakan “fa ’atamahunna”?

Allah menggunakan fa ‘atamahunna untuk menggambarkan bahwa ujian yang telah beliau (Nabi Ibrahim alaihissalam) selesaikan adalah ujian yang sangat berat. 

Sehingga kata gantinya menggunakan هُنَّ (hunna)” bukan ها (haa). 

Jadi, فَأَتَمَّهُنَّ  (fa ’atamahunna) dapat diartikan bahwa ujian yang dibebankan kepada Nabi Ibrahim alaihissalam  itu tidak mudah sama sekali. 

Itu adalah ujian yang berat. Dan Beliau alaihissalam berhasil menyelesaikan semuanya.

💯💯💯

Kata أَتَمَّ (atamma) berarti menyelesaikan sesuatu secara sempurna. 

Dalam bahasa Arab ada dua kata yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi ‘menyelesaikan’ yaitu اتمام (itmaam) dan  اكمال (ikmaal).

Namun, dalam bahasa Arab kedua kata ini memiliki perbedaan. اكمال (ikmaal) atau كمل (kamala) berarti menyelesaikan sesuatu sesuai dengan timeline.

Contohnya kita menyelesaikan kursus selama 3 bulan, maka dalam bahasa Arab disebut اكملته (akmaltahu). 

Jadi اكمال (ikmaal) adalah menyelesaikan sesuatu dalam jangka waktu tertentu.⏳🕘

Sedangkan, kata أَتَمَّ (atamma) berarti ‘menyempurnakan sesuatu’.

Sehingga, atamma dalam ayat ini berarti Nabi Ibrahim alaihissalam menyelesaikan ujian yang diberikan kepadanya dengan sempurna. 

Beliau alaihissalam tidak hanya melalui ujian tersebut hingga akhir saja melainkan ia memenuhi semua ujian tersebut dengan sempurna. Karena Allah mengggunakan أَتَمَّ (atamma) bukan َكَمَل  (kamala)

Selanjutnya, Allah mengatakan:

قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًۭا

“Sesungguhnya Aku (Allah) akan menjadikanmu (Nabi Ibrahim alaihissalam)  imam bagi seluruh manusia.”

Pada awal ayat ini Allah mengatakan bahwa Ia menguji Nabi Ibrahim alaihissalam. Allah mengatakan ٱبْتَلَىٰٓ (ibtalaa). Allah mengujinya. 

Kemudian Allah mengatakan bahwa Nabi Ibrahim alaihissalam lulus dengan sempurna. 

So, selayaknya ujian maka setelahnya akan ada apresiasi atas pencapaian dalam melalui ujian.

Contohnya saat kita lulus sidang skripsi, kita akan mendapatkan ijazah dan mendapatkan gelar sarjana. 

Begitu juga dengan kisah Nabi Ibrahim alaihissalam, ketika beliau telah menyelesaikan ujiannya dengan nilai yang sempurna Allah pun memberikan reward untuknya.

Allah mengatakan: إِنِّى  “tidak ada keraguan sama sekali”,   جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًۭا  “Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”.

Dengan kata lain Allah mengatakan bahwa Ia akan menjadikan Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai panutan. Pemimpin bagi seluruh umat manusia.

Pengorbanan yang telah beliau alaihissalam lakukan. Iman yang telah ia tunjukkan di hadapan Allah. 

Seperti saat ia rela dilemparkan ke dalam api. Keikhlasannya dalam menjalani perintah Allah untuk menyembelih anaknya sendiri. Keikhlasannya ketika meninggalkan anak dan istrinya di tengah gurun pasir.

Semua hal tersebut menunjukkan bahwa beliau patut menjadi teladan. Pemimpin bagi seluruh umat manusia. Imam bagi semua umat.

Kata إِنِّى (inni) pada ayat ini menunjukkan bahwa apa yang Allah katakan adalah hal yang pasti akan terjadi tidak ada keraguan di dalamnya.

Allah telah memberi jaminan bahwa ia akan melakukannya.

Sehingga hal ini adalah suatu kehormatan besar yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim alaihissalam.

Ketika Anda  mendapatkan sebuah kehormatan. Seperti saat Anda mendapatkan medali atau sertifikat. Maka apa yang akan Anda rasakan?

Anda akan merasa bersyukur dan merasa terhormat.🙏🤓

Ketika Anda mendapatkan penghargaan seseorang Anda akan mengucapkan “terimakasih”.🙏

Contohnya saat Anda wisuda, ketika Dekan fakultas menyerahkan ijazah kepada Anda, maka apa yang Anda ucapkan kepada beliau?

Anda mengucapkan ‘terima kasih’, kan?

Ucapan terimakasih tersebut keluar begitu saja dari mulut kita. Tanpa harus kita pikirkan terlebih dahulu, atau bahkan tanpa kita bermaksud untuk mengatakannya.

Ustaz Nouman menyampaikan hal ini untuk menunjukkan keistimewaan respons yang ditunjukkan Nabi Ibrahim alaihissalam ketika mendapatkan penghargaan. 

Di mana respons dari Nabi Ibrahim alaihissalam berbeda dari respons yang umumnya kita lakukan. Respons ini sangat istimewa.

Bagaimanakah respons dari Nabi Ibrahim alaihissalam  tersebut?

(Bersambung in syaa Allah ba’da zhuhur)

————————-

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Parenting > 07. Concerned Parents (Part 1) (06:09-08:03).

🤴🤴🤴🤴🤴


Materi VoB Hari Ke-97 Siang | Arti Imam yang Sesungguhnya

Oleh: Rizka Nurbaiti

#SaturdayParentingWeek14Part2

Part 2

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Nabi Ibrahim alaihissalam adalah salah satu hamba Allah yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an, bahwa ia memiliki rasa syukur yang luar biasa kepada Allah. 

شَاكِرًا لِّاَنۡعُمِهِ‌ؕ اِجۡتَبٰٮهُ وَهَدٰٮهُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسۡتَقِيۡمٍ

“Dia (Nabi Ibrahim alaihissalam) mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.”

(QS An-Nahl, 16:121)

Nabi Ibrahim alaihissalam selalu mensyukuri (شَاكِرًا) nikmat-nikmat Allah. Selalu bersyukur bahkan di saat-saat yang sulit. Di saat beliau sedang diuji.

Tapi khusus pada kasus ini, yaitu saat beliau alaihissalam mendapat anugerah dari Allah. Salah satu anugerah terbesar yang bisa didapatkan manusia bahkan sampai saat ini. 

Yakni saat beliau alaihissalam diangkat menjadi imam atas seluruh umat manusia. Saat mendapatkan kehormatan tersebut, respons pertama yang ia tunjukkan bukanlah bersyukur kepada Allah. 

Ini adalah hal yang menarik, sebab Nabi Ibrahim alaihissalam adalah seseorang yang selalu bersyukur kepada Allah atas segala yang ia terima.

Mungkin kebanyakan dari kita berfikir bahwa beliau alaihissalam akan paling menunjukkan rasa syukurnya ketika ia menyelesaikan ujiannya dan mendapat jaminan dari Allah bahwa ia lulus dari semua ujiannya. 

Tapi hal tersebut tidak terjadi pada Nabi Ibrahim alaihissalam.

Saat ia mendapat penghargaan dari Allah, respon pertamanya adalah:

قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى

Dia (Nabi Ibrahim alaihissalam) berkata: “Bagaimana dengan anak-anak saya dan anak-anak dari anak saya, kemudian anak-anaknya dari anaknya mereka…? Bagaimana dengan generasi-generasi selanjutnya?”

Itu adalah respon pertama dari Nabi Ibrahim alaihissalam. Mengapa respons pertamanya seperti itu?

Hal itu karena beliau alaihissalam mengerti makna ‘imam’ yang sebenarnya.

Dia memahami bahwa ‘imam’ berarti ‘pemimpin’.

Kata ‘imam’ dapat berasal dari أَمَام (amam) yang berarti ‘di depan’. 

Jadi, imam dapat diartikan juga sebagai ‘seseorang yang berada di depan’. 

Nabi Ibrahim alaihissalam memahami betul bahwa ‘imam’ adalah orang yang berdiri di depan. Yang memimpin. 

Selain itu imam berasal dari kata َأَمّ (amma) dan يَأُمُّ (ya’ummu) yang berarti ‘mendapatkan arahan’. To have direction.

‘Untuk mendapatkan arahan’ maka perlu ada ‘seseorang yang memimpin’. Sehingga semua orang lainnya dapat mengikuti arahan tersebut.

Jadi, saat Allah mengatakan kepada Nabi Ibrahim alaihissalam bahwa dia akan menjadi ‘imam’. 

Dia menyadari bahwa itu berarti dia yang ‘memegang kendali’. Yang ‘mengarahkan’. Karena beliau adalah ‘imam’.

Bukankah saat Anda memegang kendali, maka berarti Anda lebih bertanggung jawab atas apa yang terjadi?

Menjadi ‘pemimpin’ adalah suatu kehormatan. Adalah hal yang luar biasa. 

Seperti jika Anda adalah CEO, atau manajer, atau eksekutif di suatu perusahaan. Itu adalah suatu hal yang hebat.

Tapi dibalik jabatan yang hebat tersebut, ada hal besar yang setia mengikutinya.

Hal itu adalah ‘tanggung jawab’. 💪

Semakin tinggi jabatan seseorang maka semakin besar pula tanggung jawab yang ia harus pikul.

Ketika Anda adalah seorang ‘pemimpin’, maka Anda ‘bertanggung jawab’ atas semua orang yang Anda pimpin. 

Setiap keputusan yang Anda buat akan mempengaruhi mereka semua. 

Dengan kata lain, keputusan yang Anda buat tidak hanya untuk Anda saja tapi untuk banyak orang juga.

Begitu pula yang terjadi pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kehormatan yang Beliau ﷺ dapatkan diiringi dengan tanggung jawab yang besar. 

Segala sesuatu yang beliau ﷺ katakan akan diikuti oleh jutaan orang. Terbayang tidak sebesar apa tekanan yang Beliau ﷺ rasakan?

Di mana semua yang beliau ﷺ lakukan akan dijadikan contoh tentang hal yang benar dan akan dilakukan oleh milyaran orang hingga hari penghakiman nanti (The Day of Judgment). Begitulah besarnya tanggung jawab Rasulullah ﷺ.

Kemudian bagaimana dengan Nabi ibrahim alaihissalam?

Tanggung jawab seperti apa yang diberikan Allah kepada beliau?

(Bersambung in syaa Allah ba’da ashar)

————————-

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Parenting > 07. Concerned Parents (Part 1) (08:03-10:38)


Materi VoB Hari Ke-97 Sore | Keadaan Antara Ayah dan Anak Di ‘Judgement Day’

Oleh: Rizka Nurbaiti

#SaturdayParentingWeek14Part3

Part 3

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Nabi Ibrahim alaihissalam mendapatkan penghargaan sebagai imam bagi seluruh umat manusia.

قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.”

Allah tidak mengatakan bahwa Ia menjadikan Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai imam atas keluarganya. 

Allah juga tidak mengatakan bahwa Ia menjadikan Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai imam di lingkungannya saja.

Melainkan, Allah mengatakan bahwa Ia menjadikan Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai imam atas ‘seluruh umat manusia’.

Jadi dengan kata lain, Nabi Ibrahim alaihissalam memikul tanggung jawab atas seluruh umat manusia. 

Maka dari itu beliau alaihissalam berkata, “Oke saya tidak bisa memikul tanggung jawab ini sendirian.”

“Tanggung jawab ini tidak mungkin saya lakukan sendirian.”

Nabi Ibrahim alaihissalam mengatakan bahwa beliau membutuhkan orang lain untuk membantunya. Mengapa ia membutuhkan bantuan?

Karena yang beliau pikirkan adalah untuk seluruh umat manusia. 

Tidak hanya keluarganya saja. 

Tidak hanya orang-orang yg hidup pada masa beliau saja. 

Tapi untuk seluruh umat manusia. 

Sehingga walaupun beliau alaihissalam berhasil membesarkan keluarganya sendiri dengan baik, tanggung jawab beliau belum selesai. 

Beliau masih bertanggung jawab untuk generasi-generasi selanjutnya.

Oleh karena itu, beliau juga memikirkan akan nasib anak-cucunya kelak dan keadaan keluarga orang-orang lainnya.

Namun, sebelum menjadi ‘imam untuk seluruh umat manusia’ yang pertama bagi beliau adalah ‘imam untuk anak-anaknya’.

Oleh sebab itulah respons pertama setelah mendapatkan gelar kehormatan ‘imam untuk seluruh umat manusia’ beliau mengatakan, “Bagaimana dengan anak saya?”

Respon pertama tersebut menunjukkan bahwa status imam yang pertama adalah ‘imam untuk anak-anaknya sendiri’. 

Dengan hal ini, Nabi Ibrahim alaihissalam mengajarkan kepada para ayah bahwa ‘jabatan’ terpenting untuk seorang ‘ayah’ adalah imam bagi anak-anak mereka sendiri. 

Di dalam suatu komunitas ada ‘ketua’. Dia adalah imam di komunitas tersebut. 

Begitu juga dengan keluarga. Keluarga juga memiliki seorang imam yaitu ‘Ayah’.

Seorang ayah adalah imam di keluarga. Yang memimpin dan berada di depan agar anak-anaknya mendapatkan petunjuk.

Selanjutnya, Ustaz Nouman memberikan gambaran tentang hubungan ayah dan anak di hari penghakiman (Judgement Day) kelak.

Gambaran pertama adalah the nice picture (kisah yang indah) antara ayah dan anak. Di mana seorang ayah memiliki anak yang membawa keberkahan untuknya. 

Anak-anak mereka datang kepadanya dan membantunya untuk naik ke tingkatan jannah (syurga) yang lebih tinggi.

Semoga kita sebagai anak dapat menjadi berkah bagi ayah kita. Dan semoga Allah memampukan setiap ayah untuk dapat qualified dalam menaiki tingkatan jannah yang lebih tinggi. Aamiin. 🤲

Tapi di lain pihak hubungan ayah dan anak selanjutnya menyedihkan. Di mana ketika seorang ‘ayah’ tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik, sehingga membuat sang anak berada pada jalan yang salah.

Maka selain anak-anaknya sendiri yang menanggung kesalahan yang mereka lakukan. Seorang ayah juga menanggung kesalahan atas anak-anaknya tersebut.

Kesalahan yang anaknya lakukan tidak hanya dihitung di buku catatan amal anaknya saja, melainkan juga terhitung di buku catatan amal seorang ayah. Mengapa hal tersebut terjadi?

Hal itu karena sang ayah tidak melakukan tugasnya dengan baik. Beliau tidak melaksanakan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Beda halnya jika sang ayah sudah melakukan tugasnya sebagai imam dengan baik. Sudah mengarahkan sang anak ke jalan yang benar. 

Sehingga kesalahan anaknya bukanlah kesalahan didikan dari sang ayah. Maka ini adalah kasus yang berbeda.

Kemudian Ustaz Nouman menyimpulkan skenario hubungan ayah dan anak, yaitu sebagai berikut:

Skenario pertama ketika sang ayah melakukan yang terbaik dan anak-anaknya juga melakukan yang terbaik. Maka itu adalah nụrun ‘alā nụr.

Skenario yang kedua adalah jika sang ayah tidak melakukan apa-apa, tidak menjadi ayah yang baik, tetapi memiliki anak-anak yang baik. Maka anaknya tidak bermanfaat baginya. 

Karena sang ayah tidak melakukan apapun, ia tidak terkualifikasi untuk mendapatkan manfaat dari anak-anaknya tersebut. 

Ketika sang ayah tidak berusaha untuk menjadi baik, atau menjadi ayah yang baik, maka anak-anak mereka tidak akan berarti apa-apa untuknya. 

Skenario yang lain adalah, jika sang ayah melakukan tugasnya dengan baik, tetapi ia memiliki anak-anak yang tidak baik.

Maka kesalahan anak-anaknya tidak akan menghancurkannya. Kesalahan anak mereka tidak lagi menjadi tanggung jawab sang ayah. Karena ayahnya telah melakukan sebisa yang beliau bisa lakukan.

Kemudian skenario yang terakhir adalah sang ayah tidak melakukan tugasnya dengan baik dan anak-anak mereka berada dalam jalan yang salah. 

Maka sang anak akan membayar kesalahan-kesalahannya sendiri. Dan sang ayah membayar kesalahannya sendiri beserta dengan kesalahan anak-anaknya. Jadi, sang ayah menanggung kesalahan karenanya dan karena anak-anaknya. Itu adalah skenario terakhir.

Begitulah skenario-skenario yang terjadi di antara seorang ayah dan anak-anaknya di Judgement Day  nanti.

Skenario terakhir ini adalah skenario yang dikhawatirkan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam. Di mana jika dia tidak melakukan pekerjaannya dengan baik dan anaknya juga berbuat hal yang buruk. 

Maka di Judgement Day kelak, dosa anaknya akan ditambahkan ke buku catatannya. Seperti yang dikatakan Allah pada QS Al-Ankabut, 29:13:

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًۭا مَّعَ أَثْقَالِهِمْ ۖ وَلَيُسْـَٔلُنَّ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ عَمَّا كَانُوا۟ يَفْتَرُونَ

“Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.”

Jadi bagaimanakah cara Nabi Ibrahim alaihissalam agar terhindar dari skenario tersebut?

(Bersambung in syaa Allah minggu depan)

———————–

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > Parenting > 07. Concerned Parents (Part 1) (10:38-13:36).


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s