[VoB2020] Kata yang Kaya Makna


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-96

Topik: Pearls from Al-Kahfi

Jum’at, 25 September 2020

Materi VoB Hari ke-89 Pagi | Kata yang Kaya Makna

Oleh: Heru Wibowo

#FridayAlKahfiWeek14Part1

Part 1

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Bahasa Arab itu kaya makna. Punya richness of word meaning.

Wow!

Jadi kekayaan bahasa Arab itu tidak terbatas pada kalimat.

Tidak terbatas pada tata bahasa maupun gaya bahasa. Tapi bahkan juga pada ‘kata’ itu sendiri.

Yang dimaksud ‘kata’ yang kaya makna ini, dalam konteks ini, adalah the roots. Alias akar kata. Yang tidak kita jumpai lagi di bahasa Arab yang modern.

Jadi kalau ada seseorang yang bilang qalb (قَلب) atau fu-aad (فُؤَاد), keduanya artinya sama: hati. Padahal harusnya beda.

Misalnya orang itu menggunakan qalb (قَلب) atau fu-aad (فُؤَاد) untuk curhat. Bahwa harinya gelap gulita. Karena ada seseorang yang telah menghancurkan hatinya.

Maka, apakah orang itu pakai qalb atau fu-aad, ga masalah. Tidak ada masalah, di bahasa Arab modern. Tapi akan bermasalah di bahasa Arab klasik. Karena maknanya beda.

Ini juga berarti bahwa bahasa Arab modern itu jauh lebih mudah. Tidak memperhatikan detail perbedaan makna seperti itu. Seperti perbedaan antara kata qalb dan fu-aad.

Kecenderungan manusia memang begitu. Kita memang ingin supaya bahasa itu makin mudah dari waktu ke waktu. Supaya lebih mudah dan lebih cepat berkomunikasi dengan orang asing.

Bahasa Inggris adalah sebuah contoh bahasa yang penggunaannya meluas. Ada di mana-mana. Di semua belahan dunia.

Itulah sebabnya, umumnya, kita mendengarkan percakapan di sana dan di sini, yang membuat kita menangkap kesan bahwa bahasa Inggris makin turun mutunya. Karena ada komunikasi yang terus-menerus dengan orang asing.

Setelah Islam berjaya dan mendunia, mayoritas orang Arab berhubungan dan berkomunikasi dengan orang asing. Sehingga bahasa Arab yang asli menjadi luntur.

Naik daunnya Islam berbanding terbalik dengan keutuhan dan keaslian bahasa Arab. Membuat bahasa Arab perlu dilestarikan seperti benda-benda yang ada di museum.

Maka tak heran kalau kita mendengar ada ulama yang meninggalkan kota. Memilih tinggal di desa. Di gurun. Hanya untuk mempelajari makna kata-kata. Sebagai bagian dari perjalanan spiritualnya.

Itulah riset yang sebenarnya. Karena Anda hanya bisa mendapatkan makna asli kata-kata di suatu tempat yang belum terkontaminasi oleh globalisasi. Oleh pengaruh dari luar.

Jadi di gurun itu kita bisa belajar bagaimana orang Arab Badui bicara. Kita bisa menangkap makna asli kata-kata secara live.

Kamus dan kosakata bahasa Arab penuh dengan makna yang klasik. Yang berasal dari perjalanan para ulama ke gurun tadi. Dan juga kebaikan hati mereka untuk mencatat lalu menyimpan catatan itu.

Yang mungkin jarang diketahui adalah: banyak sekali puisi Arab jadul yang jorok. Dan kata-kata seperti itu ada di buku-buku tafsir. Ya, di buku-buku Islam.

Benarkah kata-kata tak senonoh itu ada di buku-buku tafsir? Apakah karena sang ulama sangat terkesan dengan keindahan puisinya?

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Surahs > Deeper Look > Al-Kahf > Al-Kahf 1 > 03. Quranic Linguistics – Al-Kahf – A Deeper Look > (25:49 – 27:54)

(bersambung insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da zhuhur)


Materi VoB Hari ke-96 Siang | Definisi Kecerdasan Sejati

Oleh: Heru Wibowo

#FridayAlKahfiWeek14Part2

Part 2

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Sama sekali tidak. Alasannya bukan karena sang ulama terpesona dengan keindahan sebuah puisi jadul yang jorok.

Tapi karena puisi-puisi itu adalah bagian dari arsip bahasa yang perlu dilestarikan. Supaya kita tahu bahwa ribuan tahun yang lalu, orang Arab menggunakan kata ini dan itu. Digunakan dalam konteks seperti ini dan seperti itu.

Puisi yang tak senonoh itu misalnya bicara tentang wanita yang meninggalkan lelakinya. Atau yang seperti itu.

Tapi sang ulama sama sekali tak tertarik pada kisah dan puisinya. Fokusnya adalah pada kata yang digunakan. Kata yang kaya makna.

Kekayaan kata adalah bagian dari tradisi bahasa Arab klasik. Orang-orang zaman now tidak peduli dan tidak lagi membawa kekayaan itu dalam tutur kata mereka sehari-hari.

Contohnya adalah ’aql. Artinya, kecerdasan. Atau akal budi. Tapi dalam bahasa Arab klasik, ’aqala artinya adalah mengikat simpul. To tie a knot. Dan ’iqal adalah kain seperti untaian tali yang diikat melingkar di kepala.

Mengapa orang-orang Arab jadul itu kemana-mana pakai ’iqal? Karena mereka menggunakannya untuk mengikat unta. Untuk mereka jadikan rem anti terkunci (antilock brake).

Orang Arab menyebutnya ’aql. Kita menyebutnya akal. Karena penggunaannya memang dibatasi di kepala.

Seperti ikat kepala. Tapi aslinya, yang ingin diikat bukan kepala. Tujuan sejati dari ’iqal adalah untuk mengikat unta sehingga unta itu tidak berkeliaran semaunya.

Hmmm.

“Supaya unta tidak berkeliaran semaunya.”

Kalimat ini menyembunyikan makna yang dalam. Bukan tentang unta, sebenarnya. Unta hanyalah sebuah metafora

Jadi, apa tujuan dari kecerdasan? Untuk menahan diri, supaya tidak asal ngomong. Tidak asbun. Tidak asal ngoceh.

Punya kecerdasan berarti kita punya tali kekang. Pikiran kita tidak mengembara yang tak tentu rimbanya. Tidak berkeliaran semaunya seperti unta. Itulah intelektualitas yang sejati.

Intelektualitas yang sejati berarti pikirannya tidak mudah terbagi. Pikirannya selalu fokus. Mampu menahan diri. Mampu mengontrol emosi. Itulah ’aql.

Keseluruhan gambaran itu: bagaimana menahan diri, mengontrol emosi, ‘pakai otak’, semuanya jadi satu. Menyatu di kata ’aql.

Tapi sekarang, makna ’aql hanya terbatas pada ‘pemahaman’ saja. Itu sudah dianggap bagus. Sudah cukup. Itu saja.

Keseluruhan cerita tentang unta yang melatarbelakanginya, dan untaian tali pengikatnya, terkubur dalam-dalam.

Barulah kalau kita melakukan riset, menggali kedalaman makna kata, kita akan menemukan kembali makna dan gambaran yang utuh tadi. Yang mengungkapkan cerita tentang unta dan tali pengikat, yang tersembunyi.

Tapi orang-orang zaman sekarang, yang Arab apalagi yang bukan Arab seperti kita, umumnya tidak paham tentang cerita yang utuh tadi.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Surahs > Deeper Look > Al-Kahf > Al-Kahf 1 > 03. Quranic Linguistics – Al-Kahf – A Deeper Look > (27:54 – 29:48)

(bersambung insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da ‘ashar)


Materi VoB Hari ke-96 Sore | Pidato Abraham Lincoln

Oleh: Heru Wibowo

#FridayAlKahfiWeek14Part3

Part 3

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Itulah kenapa kita sama-sama berada di sini. Belajar bersama. Mencoba memahami makna kata-kata.

Dan tidak menutup kemungkinan, buat yang sedang menyongsong kelahiran seorang anak, mungkin jadi tertarik untuk memberi nama dengan kata turunan dari ’aql. Setelah memahami maknanya yang ternyata sangat kaya.

Itulah kekayaan makna kata. Richness in word meaning.

Sekarang kita move on ke bahasan berikutnya. Yaitu struktur. Tepatnya, perbedaan struktur. Atau perbedaan gaya bahasa. Dalam pola bicara.

Cara orang bicara, sekarang dan dulu, beda. Gaya bahasanya beda. Cara mereka menyusun kata-kata. Cara mereka merangkum apa yang bergejolak di alam pikirkan mereka.

Pernahkah Anda memperhatikan naskah pidato presiden di abad ke-17 atau ke-18? Mudah bacanya?

Atau, pernahkah Anda membaca tulisan-tulisan Shakespeare?

Mungkin 95% kata yang digunakan dulu dan sekarang sama saja. Tapi cara menggunakan kata-kata itu, beda. Gaya penulisannya, beda. Bukan sekadar perbedaan tata bahasa. Cara mereka berpikir tentang kata-kata, mungkin juga beda.

Di kelas-kelas bahasa, kita belajar bagaimana menulis yang ringkas dan padat. Yang enak dibaca dan perlu. Kita, saat ini, tidak suka dengan kalimat yang terlalu panjang.

Tapi simaklah pidato Abraham Lincoln. Satu kalimat pidato Lincoln, panjangnya bisa dua paragraf sendiri. Berikut adalah contoh sebuah kalimat saja. Yang diambil dari pidato Lincoln di tahun 1838:

I hope I am over wary; but if I am not, there is, even now, something of ill-omen, amongst us. I mean the increasing disregard for law which pervades the country; the growing disposition to substitute the wild and furious passions, in lieu of the sober judgment of Courts; and the worse than savage mobs, for the executive ministers of justice.

Anda tidak perlu paham apa maksudnya. Yang Anda perlu paham adalah: itu tadi hanya satu kalimat. Satu kalimat Lincoln. Dari salah satu pidato yang paling fasih yang mungkin pernah Lincoln ucapkan.

Apa yang dianggap sebagai pidato yang hebat di masa lalu, berubah menjadi aneh dan tak menarik di masa kini. Karena kita melihatnya dengan standar yang berbeda. Kita tidak melihatnya dengan menggunakan standar saat itu.

Pembahasan ini menggiring kita ke sebuah diskusi filosofis. Yakni bahwa di Al-Qur’an, gaya bahasa yang digunakan berasal dari masa lalu. Sehingga seorang mahasiswa yang belajar literatur modern bisa menganggap bahwa Al-Qur’an tidak menarik. Mengapa sang mahasiswa bisa melakukan penilaian seperti itu?

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Surahs > Deeper Look > Al-Kahf > Al-Kahf 1 > 03. Quranic Linguistics – Al-Kahf – A Deeper Look > (29:48-31:50)

(bersambung insyaa Allaahu ta’aalaa minggu depan)


Diskusi dan Tanggapan VoB Hari Ke-96 Sore | Pidato Abraham Lincoln

Ajeng Izura:

Kak.. kita bisa belajar dari mana tentang cerita utuh dari sebuah kata?

Gustya Indriani:

Untuk kata-kata di dalam ayat Qur’an, saya biasanya cek tafsir, Kak.

Mungkin yang lain punya pengalaman dan saran yang berbeda? Insya Allah bisa disampaikan dan didiskusikan besok ya saat grup dibuka kembali 😊

***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s