[VoB2020] Perbedaan Pendapat dalam Berorganisasi


بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ 

Voice of Bayyinah (VoB) Hari Ke-91

Topik : Leadership

Minggu, 20 September 2020

Materi VoB Hari Ke-91 Pagi | Perbedaan Pendapat dalam Berorganisasi

Oleh: Muchamad Musyafa’

#SundayLeadershipWeek13Part1

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِهِۦ صَفّٗا كَأَنَّهُم بُنۡيَٰنٞ مَّرۡصُوصٞ  

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaff, 61:4)

Jika kita perhatikan, bangunan terdiri dari apa saja ya?

Ya, semen, pasir, batu-bata.

Masing-masing batu bata tersebut disusun sedemikian rupa di tempatnya. Masing-masing batu bata tersebut terhubung dengan batu bata yang lain dengan semen. Masing-masing batu bata tersebut tahu tempatnya sendiri. Jika umpamanya salah satu batu-bata pergi dari tempatnya. Pasti akan berdampak pada batu-bata lainnya yang berdekatan. Ini akan membuat tembok berlubang, lebih mudah dirobohkan.

Ada dua hal yang bisa kita ambil manfaatnya dari sini:

Pertama, masing-masing batu bata tahu di mana tempat mereka.

Kedua, masing-masing batu bata terhubung dengan yang lainnya melalui semen. Jika semennya kuat maka temboknya akan lebih kokoh, jika sebaliknya maka tembok tersebut akan mudah roboh. 

Batu bata itu adalah masing-masing dari kita di dalam suatu komunitas Islam. Sedangkan semennya adalah iman kita terhadap Islam.

Masing-masing orang memiliki perannya masing-masing di dalam suatu komunitas. Perbedaan pendapat adalah suatu hal yang sangat wajar di dalam semua komunitas, tidak terkecuali di dalam komunitas Islam.

Perbedaan pendapat tidak selalu antara seorang Muslim dengan non-Muslim. Tidak selalu tentang kebaikan melawan kejahatan. 

Tapi bisa juga antara kita dengan teman kita, saudara Muslim kita. Cuma perbedaan pendapat saja, Cuma perbedaan suka atau tidak suka saja. Wajar-wajar saja.

Tidak masalah jika apa yang kita sukai tidak terjadi. Dan kita tidak perlu menjelek-jelekkan pilihan orang lain.

Mari kita kembali ke pertanyaan yang sangat mendasar, apa alasan kita mengikuti sebuah organisasi?

Untuk Allah ﷻ bukan? Jadi apa yang kita lakukan di organisasi tersebut untuk Allah ﷻ. 

Lalu, siapa yang paling kita harapkan untuk mengapresiasi kontribusi kita di organisasi tersebut? Allah ﷻ bukan? Seharusnya kita tidak peduli jika tidak ada orang lain yang mengapresiasi usaha kita di sana,  cukup berharap Allah ﷻ lah yang mengapresiasi kita.

“Menurutku akan lebih baik jika kita tidak menyelenggarakan pengajian akbar. Lebih baik bulan depan saja. Akan banyak orang yang bisa datang di waktu itu. Kita juga bisa mempersiapkan acaranya lebih matang.”

Lalu ada orang lain yang bilang ke kita, “Gak, gak. Itu bukan ide bagus. Pokoknya kita sudah harus menyelenggarakan acara pengajian akbar mulai minggu depan.”

Lalu akhirnya semua orang melakukan pemungutan suara sehingga diputuskan pengajian akbar akan tetap dilakukan minggu depan.

Mendengar keputusan itu, bisa jadi kita akan menggerutu. Berbisik bahwa pendapat kita lebih baik. Kita sudah bersusah payah mengumpulkan data-data, melakukan riset, membuat presentasi. Semuanya untuk meyakinkan orang untuk menerima ide kita. Lalu pada akhirnya pendapat yang kita ajukan ditolak.

“Aku gak percaya dengan orang-orang di sini lagi.”

Padahal seharusnya kita sadar, karena sejak awal mula kita melakukannya untuk Allah ﷻ. Kita mengumpulkan data, melalukan riset yang mendalam karena Allah ﷻ. Kita mempersiapkan presentasi yang bagus karena Allah ﷻ.

Amal dan niat baik kita sebenarnya sudah dicatat oleh malaikat Allah ﷻ. Tidak peduli pendapat kita akhirnya diterima atau tidak, kita sudah melakukan usaha terbaik kita. Tidak peduli pendapat kita akhirnya diterima atau tidak, hal itu tidak menambah/mengurangi nilai usaha kita di hadapan Allah ﷻ. 

(bersambung, insyaAllah ba’da Zhuhur)


Materi VoB Hari Ke-91 Siang | Intention Check

Oleh: Muchamad Musyafa’

#SundayLeadershipWeek13Part2

Tidak peduli usaha kita akhirnya diapresiasi atau tidak, itu tidak akan menambah atau mengurangi nilai usaha kita di hadapan Allah ﷻ.

Yang bernilai di hadapan Allah ﷻ adalah usaha yang telah kita lakukan dengan tulus, ikhlas, profesional, bertanggung jawab. Allah menilai semua yang telah kita lalui itu.

Jika kita merasa pendapat kita sangat penting untuk diterima orang lain. Jika kita merasa usaha kita penting untuk dihargai orang lain. Jika kita ingin pendapat kita menang di atas pendapat-pendapat lain.

Maka kita harus bercermin. Apakah niat kita sudah lurus? Apakah kita melakukan itu semua untuk dilihat orang lain, untuk diakui orang lain? Atau semata-mata untuk Allah ﷻ ?

Jika pendapat kita menang di atas pendapat-pendapat yang lain, seharusnya kita takut. 

Kenapa?

Karena orang-orang lain akan bergerak untuk Islam berdasarkan pendapat yang mereka ambil dari kita.

Seharusnya kita berdoa, “Ya Allah, jadikanlah pendapatku ini benar. Jika pendapatku salah, maka orang-orang lain akan melakukan kesalahan karena diriku.”

Jika kita sadar akan tanggung jawab ini, seharusnya kita tidak akan berselisih dengan saudara-saudara kita di organisasi atau komunitas Islam. 

Kita cukup berusaha terbaik saja, berkontribusi sekuat yang kita mampu. Hasilnya serahkan pada Allah yang menilai.

Kita harus bisa mengenali niat kita. 

Intention Check.

(bersambung, insyaAllah ba’da Ashar )


Materi VoB Hari Ke-91 Sore | Bisikan antara Dua Orang

Oleh: Muchamad Musyafa’

#SundayLeadershipWeek13Part3

“Aku merasa orang-orang di sini tidak bisa memahami maksudku. Padahal ini masalah yang simpel. Dan aku sudah memberikan ide brilianku. Kini mereka menyingkirkan pendapatku begitu saja?”

“Bagaimana bisa mereka memilih pendapat si Fulan?”

Aku menggerutu dibuat kesal oleh orang-orang yang ada di ruang rapat ini.

Lalu kawanku si Polan mendekatiku sambil berbisik, “Hei, aku setuju dengan pendapatmu. Aku tak habis pikir kenapa mereka memilih pendapat Fulan.”

Ucapan Polan itu seakan-akan meneduhkan hatiku, Tapi anehnya rasa panas di hati ini makin berkobar. 

“Iya lah, pendapat Fulan itu sangat lemah. Yuk kita keluar di sini. Aku muak dengan orang-orang yang berpikiran sempit. Kita ngobrol-ngobrol di luar saja.”

Lalu aku dan Polan berjalan keluar. Kami menuju kantin. Di sana kami melanjutkan obrolan kami sambil menyeruput kopi. Hatiku masih panas sepanas kopi di hadapanku ini.

“Aku gak menyangka mereka begitu bodoh. Apa mereka tidak sadar bahwa jika mereka melakukannya mereka akan kehilangan banyak uang, kehilangan banyak kesempatan. Para jamaah akan pergi. Kegiatan masjid akan sepi. Usaha dakwah kita selama ini akan sia-sia.”

Semua ilustrasi di atas adalah apa yang disebut النَّجْوَى , najwaa, pembicaraan rahasia, bisikan antara dua orang.

Tidak seharusnya ketika sesuatu sudah diputuskan di dalam majelis, kita melakukan bisikan-bisikan di luar majelis itu. Jangan ada majelis lain di luar majelis.

Dan jangan juga kita menjadi si Polan yang kehadirannya justru membuat situasi semakin panas. Jangan sampai kehadiran kita malah berkontribusi membuat organisasi terpecah.

Kembali lagi, kita harus bisa meluruskan niat ketika ada di dalam situasi seperti di atas.

Intention Check.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, ‘Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.”

(QS. Al-Mujadilah, 58:11)

Saat itu, Rasulullah ﷺ sedang menggelar sebuah pertemuan. Sebuah pertemuan rutin dengan para sahabat. Pertemuan ini dilakukan di sebuah tempat yang sempit. 

Dan seperti organisasi lainnya, ketika ada sebuah pertemuan sering ditemukan orang yang datang terlambat. Orang yang datang terlambat ini ingin bergabung ke dalam majelis itu. Tapi dilihatnya orang-orang berkerumun di depan Rasulullah ﷺ. Tidak ada tempat baginya untuk duduk mendengarkan.

Lalu apa reaksi Rasulullah ﷺ melihat ini?

Apa kaitannya dengan potongan ayat Al-Mujadilah di atas?

(bersambung, insyaAllah minggu depan)

———————–

Sumber: Bayyinah TV > Quran > Courses > 03. Leadership Workshop

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.

Jazakumullahu khairan

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s