[VoB2020] Diutusnya Seorang Nabi dan Turunnya Al-Furqan


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-80

Topik: Pearls from Ali Imran

Rabu, 9 September 2020

Materi VoB Hari ke-80 Pagi | Diutusnya Seorang Nabi dan Turunnya Al-Furqan

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek12Part1

Musa ’alayhis salam diberi Al-Furqaan, setelah itu terjadi perselisihan (friction).

Isa ’alayhis salam diberi Al-Furqaan, setelah itu terjadi perselisihan.

Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam diberi Al-Furqaan, tidak ada yang mengejutkan jika setelah itu, terjadi perselisihan juga.

Itu adalah ringkasan dari akhir cerita minggu lalu.

Mengapa ustaz merujuk kepada Musa, Isa, dan Rasulullah SAW?

Karena ayat ini.

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَاَنْزَلَ التَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۙ

Dia menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan menurunkan Taurat dan Injil. (QS Ali ‘Imran, 3:3)

Lalu setelah itu ada:

وَاَنْزَلَ الْفُرْقَانَ

Dan Dia menurunkan Al-Furqan. (QS Ali ‘Imran, 3:3)

Sekarang kita fokus ke anzalal furqaan

Ada perdebatan yang besar di kalangan ulama dan ahli tafsir tentang makna Al-Furqaan. Yang bisa membuat kita bingung.

Karena satu grup bilang bahwa Al-Furqaan merujuk kepada Al-Qur’an. 

Sebentar, sebentar, sebentar. Al-Furqaan adalah Al-Qur’an? Berarti di ayat 3 tadi Al-Qur’an jadi double dong. Dia menurunkan Al-Qur’an, terus Taurat dan Injil, terus Dia menurunkan Al-Qur’an lagi. Ini membingungkan.

Sementara itu grup yang lain bilang Al-Furqaan merujuk kepada Taurat dan Injil. Kalau begitu, yang Al-Furqaan adalah Taurat dan Injil, dan Al-Qur’an bukan Al-Furqaan?

Masa sih Al-Qur’an itu bukan Al-Furqaan?

Al-Furqaan adalah uraian yang komprehensif terhadap semuanya yang sudah disebutkan sebelumnya, di ayat ini. 

Allah telah menyebutkan dua jenis wahyu. Allah telah menyebutkan diturunkannya Al-Qur’an dan kitab suci sebelum itu, dan betapa masing-masing kitab suci itu saling mengonfirmasikan turunnya kitab suci yang lainnya, lalu Allah bilang bahwa Dia telah selalu menurunkan ’sang pembeda’. Atau ’sang pemisah’. Yang memisahkan kebenaran dan kebatilan. 

Karena ada anzalal furqaan, maka kita harus balik ke muka, memikirkan lagi, seperti apa Al-Furqaan untuk Nabi Musa? Atau bagaimana Taurat menjadi Al-Furqaan bagi Nabi Musa? Dan bagaimana Injil menjadi Al-Furqaan bagi Nabi Isa? Lalu bagaimana Al-Qur’an menjadi Al-Furqaan bagi Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam

Dan bagaimana fungsi Al-Furqaan buat para nabi itu, secara umum?

Pemisah atau pembeda itu tidak semata-mata urusan intelektualitas. Memang benar bahwa mukjizat Al-Qur’an membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah kata-kata Allah. Tidak mungkin Al-Qur’an adalah kata-kata manusia. 

Taurat juga begitu. Apa yang telah diturunkan kepada Musa memisahkannya dari sulap dan sihir. Bukan buatan atau reka-rekaan manusia. 

Al-Furqaan yang diberikan kepada Nabi Isa mencakup semua mukjizatnya. Termasuk Injil. Termasuk bahwa beliau paham betul tentang Taurat. Beliau mengutip Taurat secara lebih baik daripada seorang Rabi. Beliau justru menjelaskan di mana saja mereka melakukan perubahan isi kitab. 

Bayangkan jika anak Anda melakukan kesalahan hafalan ayat Al-Qur’an. Dan gurunya yang hafal Qur’an 30 juz melakukan koreksi terhadap kesalahan anak Anda.

Isa ’alayhis salam mengoreksi perubahan (alteration) Taurat, menjelaskan kepada Rabi. Perubahan yang telah dibuat berabad-abad yang lalu. Nabi Isa mengoreksi perubahan itu seperti seorang guru yang hafal Al-Qur’an. Sedangkan Rabi yang menerima penjelasan seperti anak Anda yang sedang dikoreksi hafalannya.

Jadi Isa ’alayhis salam adalah hafizh Taurat sebelum para Rabi itu menghafalkannya. Dan Nabi Isa tidak pernah sekolah untuk menguasai hal itu. Allah yang mengajarkannya. Yu’allimuhumul kitaaba wal hikmata wattawraata wal injiil. Nabi Isa paham betul perubahan wahyu itu, memisahkan yang benar dan yang batil. 

Tapi mari kita sekarang mengambil satu langkah ke belakang. Apa maksudnya itu semua?

Kita punya dua jenis musuh. Ada musuh eksternal seperti Fir’aun. Ada musuh internal yaitu mereka yang mengaku beriman kepada kitab yang sama. Padahal mereka punya standar yang berbeda. Al-Furqaan memampukan kita untuk mengenali musuh-musuh kita. Baik musuh eksternal maupun musuh internal. 

Benarkah musuh Nabi Musa adalah Bani Israil? 

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ لِمَ تُؤْذُوْنَنِيْ وَقَدْ تَّعْلَمُوْنَ اَنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْۗ فَلَمَّا زَاغُوْٓا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu sungguh mengetahui bahwa sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu?” Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (QS Ash-Shaf, 61:5)

Bahkan di Old Testament dikatakan bahwa mereka mencoba membunuh Musa ’alayhis salam meski Al-Qur’an tidak menyatakan begitu. 

Maksudnya, tidak secara eksplisit menyatakan bahwa mereka mencoba membunuh Nabi Musa. Tapi Al-Qur’an menyebutkan bahwa mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar.

وَاِذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نَّصْبِرَ عَلٰى طَعَامٍ وَّاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ مِنْۢ بَقْلِهَا وَقِثَّاۤىِٕهَا وَفُوْمِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۗ قَالَ اَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِيْ هُوَ اَدْنٰى بِالَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ ۗ اِهْبِطُوْا مِصْرًا فَاِنَّ لَكُمْ مَّا سَاَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti: sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah.” Dia (Musa) menjawab, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” Kemudian mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas. (QS Al-Baqarah, 2:61)

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اٰمِنُوْا بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا نُؤْمِنُ بِمَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُوْنَ بِمَا وَرَاۤءَهٗ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَهُمْ ۗ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُوْنَ اَنْۢبِيَاۤءَ اللّٰهِ مِنْ قَبْلُ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an),” mereka menjawab, “Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” Dan mereka ingkar kepada apa yang setelahnya, padahal (Al-Qur’an) itu adalah yang hak yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah (Muhammad), “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika kamu orang-orang beriman?” (QS Al-Baqarah, 2:91)

Mereka memang tidak bilang bahwa mereka akan membunuh Musa ’alayhis salam. Kita tidak harus mengatakannya, tapi itu ada di testament mereka. Mereka yang mengatakannya. 

Tentu saja mereka mencoba untuk membunuh Isa ’alayhis salam. Mereka bukan musuh. Mereka adalah orang-orang yang tak beriman. Mereka adalah orang-orang politeis. Mereka percaya dengan dewa-dewa mitos. 

Sama juga ceritanya dengan Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam. Ada skema dari orang-orang munafik untuk menyingkirkan Rasulullah SAW.

Ceritanya tak pernah berubah. 

Ayat wa anzalal furqaan ini melukiskan bahwa Anda tidak cukup menyampaikan ayat dan membenarkan ayat tersebut. 

Adanya friksi yang eksis di masyarakat adalah konsekuensi yang diperlukan atas datangnya wahyu. 

Adanya friksi yang eksis di masyarakat adalah konsekuensi dari berimannya kita kepada wahyu dan nabi-nabi.

Apakah setiap kali diutus seorang nabi, pasti ada perselisihan di masyarakat?

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > Ali Imran > 02. Ali ‘Imran Ayah 3-6 Ramadan 2018 (27:00 – 31:00)

(bersambung insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da zhuhur)


Diskusi dan Tanggapan VoB Hari Ke-80 Pagi | Diutusnya Seorang Nabi dan Turunnya Al-Furqan

Dessy Harnita:

Alhamdulillah 😇

Materi VoB Hari ke-80 Siang | You Will Find Yourself on the Weak End of Things But Know One Thing

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek12Part2

Apakah setiap kali diutus seorang nabi, pasti ada perselisihan di masyarakat?

Every time a prophet came, that kind of crack had to happen in society and it has happened again.

Setiap kali seorang nabi diutus ke muka bumi, keretakan semacam itu harus terjadi di masyarakat dan itu terjadi lagi saat Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam di utus dan lahir di tanah Arab.

Di periode kenabian sebelumnya, masalah keretakan itu juga mengemuka dan dialami oleh umat Yahudi dan umat Kristen. 

Kenapa sih harus terjadi pemisahan di masyarakat? Kenapa sih kita tidak bisa ‘rukun’ lagi? Kenapa iman kita harus berbeda?

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اٰمِنُوْا بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا نُؤْمِنُ بِمَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُوْنَ بِمَا وَرَاۤءَهٗ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَهُمْ ۗ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُوْنَ اَنْۢبِيَاۤءَ اللّٰهِ مِنْ قَبْلُ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur’an),” mereka menjawab, “Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” Dan mereka ingkar kepada apa yang setelahnya, padahal (Al-Qur’an) itu adalah yang hak yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah (Muhammad), “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika kamu orang-orang beriman?” (QS Al-Baqarah, 2:91)

Al-Furqaan harus terjadi. Pemisahan harus terjadi. Pemisahan yang tegas, secara spiritual. 

Bagian belakang dari Ali ‘Imran ayat 4, jika kita amati secara cermat, tampak seperti tak ada hubungannya. 

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۗوَاللّٰهُ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَامٍۗ

Sungguh, orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh azab yang berat. Allah Maha Perkasa lagi mempunyai hukuman. (QS Ali ‘Imran, 3:4)

Padahal sebenarnya hubungannya justru sangat erat. Dan sangat ‘langsung’. 

Kata intiqaam (انْتِقَامٍۗ) adalah sebuah ism yang berarti ganjaran. Atau hukuman yang setimpal. Allah sangat marah sehingga taking vengeance, ‘menuntut balas’ atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat-Nya.

Ayat ini, apa hubungannya dengan turunnya wahyu? Hubungannya adalah, ketika diutus seorang nabi, ketika Nabi Musa diutus, ketika Nabi Isa diutus, ketika Nabi Muhammad diutus, shallallaahu ‘alayhi wasallam, ketika semua nabi ini diutus, ketika Taurat, Injil, dan Al-Qur’an diturunkan, maka ada orang-orang yang stood by the words of Allah, dan ada orang-orang yang berada on the other side of it, across the street

Ada orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat-Nya, dan ada orang-orang yang ‘berada di seberang jalan’ atau mengingkari ayat-ayat-Nya. 

Mereka yang ‘berada di seberang jalan’, menjadi orang-orang yang bukan saja tidak beriman, tapi juga menjadi musuh-musuh para nabi. Sehingga mereka menjadi enemies of revelation. Musuh dari wahyu yang Allah turunkan. Sehingga mereka menjadi musuh Allah. Meski mereka berada di position of power. Mereka memegang kekuasaan di dunia.

Ini menarik untuk kita cermati. Mari kita pikirkan. Siapa yang punya kekuasaan militer, otoritas keuangan dan sosial, serta pengaruh: Fir’aun atau Musa? Jawabannya jelas: Fir’aun. 

Siapa yang memegang kekuasaan politik, ekonomi, sosial, dan pengaruh saat nabi Isa diutus? The Romans and the rabbis. Bangsa Romawi dan para rabi. Bukan Isa ’alayhis salam. Nabi Isa secara fisik, secara materi, secara ekonomi, powerless. Beliau tidak punya kekuasaan.

Siapa yang punya kekuasaan dan pengaruh saat Rasulullah SAW diutus? 

Sekali lagi, saat al-furqaan terjadi, bisa kita pelajari, secara fisik, the people of revelation atau orang-orang di balik wahyu kenabian, berada di posisi yang lemah. Dan orang-orang yang ada ‘di seberang jalan’ berada di posisi kekuasaan. 

Dan ayat ini bilang, “Oh iya, memang. Akan ada pemisahan. Dan Anda akan berada di ujung yang lemah. Tapi ketahuilah satu hal. Anda punya ‘Siapa’ di belakang Anda? Allah. Mereka sesungguhnya bukan musuhmu. Mereka sesungguhnya adalah musuh Allah.”

Mereka sesungguhnya tidak bilang bahwa Anda adalah pembohong. Mereka sesungguhnya menyerang ayat-ayat Allah. 

Jadi, sekali lagi, Anda sebenarnya bukan musuh mereka. Mereka sesungguhnya adalah musuh Allah. Dan Allah akan ‘mengurusi’ mereka. 

Ini adalah cara Allah untuk bilang kepada orang-orang yang hidup bersama al-furqaan, ”I’ve got your back.” “Aku mendukungmu.”

“Aku tahu al-furqaan tidak mudah untuk dijalani. Aku tahu pemisahan ini tidak mudah untuk dilakukan. Kadang-kadang Anda harus merasa seperti keluarga Anda pecah berantakan. Seperti yang pernah dirasakan Nabi Ibrahim dengan ayahnya. Seperti Nabi Musa juga.”

Benarkah Nabi Musa pernah merasakan keretakan dalam keluarga?

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > Ali Imran > 02. Ali ‘Imran Ayah 3-6 Ramadan 2018 (31:00 – 34:00)

(bersambung insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da ‘ashar)


Materi LBP Hari ke-80 Sore | Hukuman yang Sudah Dijatuhkan dan yang Ditunda

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek12Part3

Benarkah Nabi Musa pernah merasakan keretakan dalam keluarga? Benar.

Apa buktinya?

قَالَ اَلَمْ نُرَبِّكَ فِيْنَا وَلِيْدًا وَّلَبِثْتَ فِيْنَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِيْنَ

Dia (Fir‘aun) menjawab, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu engkau masih kanak-kanak dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. (QS Asy-Syu’ara’, 26:18)

Bayangkan Anda adalah Nabi Musa.

“Wah, enggak bisa! Saya hanya setitik debu. Apalah saya ini. Masa saya menganggap diri saya seperti nabi? Level saya terlalu jauh dari itu!”

Iya, paham. Saya juga tidak berani membayangkan diri saya menjadi Nabi Musa. Maksudnya, bayangkan Anda adalah seorang anak yang disayang, dicintai, diasuh dan dibesarkan dengan penuh kelembutan, bukan cuma beberapa hari atau beberapa bulan, tapi beberapa tahun, seperti Nabi Musa. Bayangkan Anda memiliki ayah angkat yang luar biasa kasih sayangnya seperti ayah angkat Nabi Musa. 

Menjadi anak yang diharapkan. Menjadi anak yang dibanggakan. Tapi, begitu al-furqaan turun, tiba-tiba semuanya berbalik 180 derajat. Semua harapan dan kebanggaan berubah menjadi kekhawatiran, keraguan, dan kegelisahan.

Seperti yang juga dialami oleh Nabi Shalih.

قَالُوْا يٰصٰلِحُ قَدْ كُنْتَ فِيْنَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هٰذَآ اَتَنْهٰىنَآ اَنْ نَّعْبُدَ مَا يَعْبُدُ اٰبَاۤؤُنَا وَاِنَّنَا لَفِيْ شَكٍّ مِّمَّا تَدْعُوْنَآ اِلَيْهِ مُرِيْبٍ

Mereka (kaum Tsamud) berkata, “Wahai Shalih! Sungguh, engkau sebelum ini berada di tengah-tengah kami merupakan orang yang diharapkan, mengapa engkau melarang kami menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Sungguh, kami benar-benar dalam keraguan dan kegelisahan terhadap apa (agama) yang engkau serukan kepada kami.”

Apa yang mereka katakan kepada Nabi Shalih tidak ada bedanya dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang Quraisy kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam.

“Mengapa kamu bicara seperti itu?”

“Mengapa kamu menyebabkan perpecahan?”

“Mengapa kamu membuat kita berpisah?”

Bukankah itu yang mereka bilang ke Rasulullah SAW?

Rasulullah yang mulia dituduh sebagai biang keladi terpisahnya ayah dan anaknya.

Rasulullah yang mulia dituduh sebagai biang keladi terpisahnya suami dan istrinya.

Rasulullah yang mulia dituduh sebagai biang keladi terpecahnya sebuah suku bangsa.

Rasulullah yang mulia dituduh sebagai biang keladi terpecahnya kesatuan bangsa.

Rasulullah yang mulia dituduh melakukan pelemahan bangsa. 

Semula, para pembesar Quraisy begitu dihormati dan dihargai. Rasulullah yang mulia dituding sebagai penyebab orang-orang tidak lagi menghormati dan menghargai mereka.

Itukah al-furqaan, yufarriqu, yatafarraquun

Allah menegaskan bahwa ketika pemisahan atau keretakan seperti itu terjadi, dan ketika kita berada di ujung yang lemah, maka Allah selalu ada di belakang kita. 

Di Ali ‘Imran ayat 4 disebutkan dua hukuman. Pertama, lahum ‘adzaabun syadiid. Kedua, ‘aziizun dzuntiqaam.

Apa bedanya?

Yang pertama, the punishment is coming. Sudah ada kepastian bahwa hukumannya akan datang. Mereka akan memperoleh azab yang berat. 

Yang kedua, hukumannya belum dijatuhkan. Allah masih menahannya. Tombol eksekusi belum dipencet. 

Mengapa demikian?

Karena ada dua jenis musuh. Musuh eksternal dan musuh internal. Fir’aun dan orang-orang munafik. 

Fir’aun sudah mendapatkan ‘adzaabun syadiid. Tapi orang-orang munafik, mereka tidak mendapatkan azab yang pedih di dunia. 

Fir’aun telah ditenggelamkan. Walaupun saat itu belum ada Ibu Susi Pudjiastuti. 

😊😊

Sementara itu, orang-orang munafik mungkin berpikir bahwa mereka aman dari azab. Mereka tidak ikut tenggelam. Mereka masih hidup. Mereka baik-baik saja.

Tapi mereka tampaknya lupa bahwa Allah masih ‘aziiz. Dan azab mereka mungkin ditangguhkan. Azab itu masih ada untuk mereka. Wallaahu ‘aziizun dzuntiqaam.

Jadi siapa yang mendapat penundaan azab itu? Orang-orang munafik, dan orang-orang yang mengaku beriman, tapi tidak mengikuti ajaran-Nya.

Mereka tampaknya aman. Padahal sebenarnya mereka telah melakukan reservasi untuk mendapatkan tiket ke neraka.

Terkait al-furqaan dan pemisahan ini, ada ayat di juz 30 yang menarik untuk kita perhatikan dan terhubung dengan hal ini. Surat apa dan ayat ke berapakah itu?

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > Ali Imran > 02. Ali ‘Imran Ayah 3-6 Ramadan 2018 (34:00 – 37:00)

(bersambung insyaa Allaahu ta’aalaa pekan depan)


Diskusi dan Tanggapan VoB Hari ke-80 Sore | Hukuman yang Sudah Dijatuhkan dan yang Ditunda

Gilig :

Apakah di webnya sudah ada kelanjutan tulisannya ?

Ario Darul Arqam Studio:

Di web NAK Indonesia ada jeda tulisan 1 mingguan pak dari versi WhatsApp

***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s