[VoB2020] Manusia dan Khayalannya


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-79

Topik: Pearls from Al-Baqarah

Selasa, 8 September 2020

Materi VoB Hari ke-79 Pagi | Manusia dan Khayalannya

Oleh: Wina Wellyanna

#TuesdayAlBaqarahWeek12Part1

Ustadz mengambil contoh Husna, putri pertama beliau, Husna ini suka sekali dengan coklat.  Satu hari Ustadz NAK sedang makan coklat, Husna bertanya pada Ayahnya: 

“Bisakah aku meminta sedikit coklatmu, Ayah?”.

Ketika Ayahnya berkata “Tidak”, Husna beralih tanya pada Ibunya, 

“Bolehkah aku meminta coklatmu, Ibu?”

Ibunya berkata tidak.

Ia kembali lagi kepada Ayahnya: 

“Ayolah, Ayah, sedikit saja”

Ayah pun luluh

“Baiklah, kamu boleh makan coklatnya, Ayah beri waktu sepuluh detik saja ya”

Dan dalam sepuluh detik itu, Husna memakan coklatnya melebihi apa yang mulutnya bisa kunyah, dan ketika sang pemilik coklat meminta kembali coklatnya, Husna berlari membawa coklatnya setelah sebelumnya berkata: 

“Ini Coklatku!”

Kisah lain yang lagi-lagi bisa direpresentasikan oleh anak-anak.  

Anak-anak sebetulnya jarang sekali bermain dengan mainan milik mereka sendiri, tapi entah kenapa mereka suka sekali dengan mainan milik anak lain. 

Melihat anak lain bermain dengan mainannya miliknya sendiri, dia juga pasti ingin mainan yang sama. 

“Bolehkah aku pinjam mainan itu? Boleh ya? Ya? Ya?”

Singkat cerita, sudah waktunya pulang, karena dengan mainan pinjamannya sudah lengket, si anak akan merengek:  

“Boleh untukku saja ya? Plis? Tadi tante bilang boleh, kok”.

Sifat manusia, sejak lahir setiap kita diberikan sesuatu yang bukan milik kita, seiring berjalannya waktu dengan mudahnya kita segera lupa bahwa itu bukan milik kita.

Manusia mulai mengira, membayangkan, meyakini bahwa semua barang pinjaman itu miliknya, memeluknya terlalu sangat erat. 

Ketika ada yang ingin mengambilnya dari kita, kita akan survival-mode dan makin memeluk erat: 

“Apa-apaan sih, ini milikku”.

Allah kemudian bilang:

مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ 

…menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

Kami yang menganugerahkan

Baju yang kita kenakan bukan milik kita, rekening di bank bukan milik kita. 

Tapi kita manusia seringnya mengaku-aku :

“Bajuku”

“Mobilku”

“Tabunganku”

“Rumahku”

Saking seringnya kita menambahkan akhiran- ku pada semua barang titipan Allah, kita jadi betul-betul lupa.

“Mataku”

“Telingaku”

“Tubuhku”

Hey, lupakah kita dengan ucapan ini:  

Innalillahi wa Inna Ilaihi Rooji’un – Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali.

Bisa-bisanya kita mengakui semua itu milik kita, padahal kelak kita sendiri akan kembali kepada yang memiliki kita? 

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 02. Al-Baqarah (Ayah 3-4) – A Deeper Look (38:00 – 40:53)

(bersambung in syaa Allaahu ta’aalaa ba’da zuhur)


Diskusi dan Tanggapan VoB Hari Ke-79 Pagi | Manusia dan Khayalannya

Aman:

Alhamdulillah

Bisa gabung grup ini


Materi VoB Hari ke-79 Siang | Yang Kita Pikir Remeh, Bisa Jadi Besar di Pandangan Allah

Oleh: Wina Wellyanna

#TuesdayAlBaqarahWeek12Part2

Manusia dengan pede-nya membahas harta benda kepemilikannya, padahal dirinya sendiri akan kembali kepada Allah.

Ketika Allah menurunkan ayat 3 al-Baqarah ini, semuanya serba present tense :

Beriman – present tense

Mendirikan shalat – present tense

Menafkahkan – present tense

Satu-satunya yang past tense adalah: Rezeki 

Berarti maksudnya ‘tuh gimana ya? 

Kita enggak menunggu Allah memberikan rezeki untuk kita sedekahkan.  Ada beberapa dari kita yang suka berkata:

‘Aku akan bersedekah, beneran deh, akan bersedekah, kok, tapi nanti, kalau Allah kasih rezeki’

Di ayat 3 al-Baqarah, Allah bilang pada setiap manusia:

“Aku sudah memberikan rezeki padamu” 

Kita sudah memiliki rezeki yang Allah berikan itu.

Jika kita punya dua hari, sedekahkan satu harinya.

Jika kita hanya punya satu buah Apel, sedekahkan seirisnya.

Jika kita memiliki masa muda, sedekahkan untuk Allah sedikit dari waktumu.

Jika kita memiliki energi, sedekahkan sebagiannya.

Jika kita memiliki bakat, sedekahkan sedikitnya.

Setiap kita pasti memiliki sesuatu yang Allah rezekikan kepada kita.  Allah enggak akan mungkin menurunkan kita ke bumi tanpa kemampuan.  

Pasti ada sesuatu dari diri kita yang bisa kita sedekahkan untuk Allah.

Ayat 3 ini bukan terkhusus untuk para jutawan.

Sungguhlah, Allah enggak peduli seberapa banyak harta yang kamu pegang.

Allah hanya memperhatikan kualitas yang kamu sedekahkan, bukan kuantitas.

Kuantitas ini enggak ada arti apa-apa di hadapan Allah.

Alkisah dua orang bersedekah, yang satu sedekah 200 juta, yang satu lagi sedekah 20 ribu.

Yang sedekah 200 juta ternyata memiliki kekayaan 2 triliun, untuknya 200 juta enggak berarti apa-apa.

Yang sedekah 20 ribu ternyata hanya memiliki 100 ribu di dompetnya. 

Di hadapan Allah yang 20 ribu ini lebih bernilai, dan bisa jadi yang 20 ribu ini akan mendatangkan lebih banyak kebaikan daripada yang 200 juta, efek barakah: bisa karena niat dibaliknya dan pengorbanan yang juga jauh lebih besar.

Itu sebabnya di surat yang lain, surat at-Taubah ayat 41 Allah bilang:

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah”.

Jangan pernah meremehkan apa yang bisa kita beri untuk Allah.

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 02. Al-Baqarah (Ayah 3-4) – A Deeper Look (40:54 – 43:26)

(bersambung in syaa Allaahu ta’aalaa ba’da Ashar)


Diskusi dan Tanggapan VoB Hari Ke-79 Siang | Yang Kita Pikir Remeh, Bisa Jadi Besar di Pandangan Allah

Hafni:

MashaAllah👍🏾👍🏾👍🏾

Arie:

MasyaaALLAH

Sangat jleb bgt

😭😭😭


Materi LBP Hari ke-79 Sore | Dan Mereka yang Beriman Kepada Kitab-Kitab yang Diturunkan Sebelummu

Oleh: Wina Wellyanna

#TuesdayAlBaqarahWeek12Part3

Al-Baqarah ayat 4: 

Wallażīna yu`minụna bimā unzila ilaika wa mā unzila min qablik, wa bil-ākhirati hum yụqinụn

وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat” 

Ada banyak sekali tafsir tentang ayat ini dan semuanya menakjubkan!.

Diantaranya Imam Fakhrudin Ar-Razi.

Beliau berpendapat, ada dua kelompok yang disebut dalam ayat ini, mereka yang beriman kepada Rasulullah salallahu’alaihi wassalam dan mereka yang beriman kepada Taurat dan Injil.

Baik, mari kita rekap dulu sebelumnya dari ayat ke-3 karena ini memiliki arti yang sangat dalam.

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib – untuk mereka yang beriman kepada yang gaib.

yang mendirikan shalat – bagi mereka yang ingin membangun keterikatan dengan Allah.

menafkahkan sebahagian rezeki – bagi mereka yang ingin memberi kepada Allah, apa yang telah mereka terima dariNya sebagai rezeki.

Ketiga hal tesebut ditujukan untuk setiap orang.

Kemudian di ayat:

Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) – ada latar belakang yang sangat sangat penting disini, yaitu: 

yang telah diturunkan kepadamu – dimana disini artinya Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah salallahu’alaihi wassalam.

Jelas di ayat ini, Allah mengatakan kitab (Al-Qur’an) dan penerima kitab (Rasulullah salallahu’alaihi wassalam).

Kemudian di statement Allah selanjutnya:

dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu.

Allah enggak bilang apa kitabnya dan siapa yang menerimanya.  Kenapa? 

Karena pembawa wahyunya telah terlupakan, mereka tidak diingat.  

Malahan lebih jauh lagi, banyak sekali dari wahyu-wahyu yang pernah turun kemudian menjadi tradisi turun temurun atau perkamen yang terserak di sana-sini, dan ketika ada yang menemukan wahyu-wahyu yang tercecer ini, enggak ada seorangpun bisa melacak darimana asalnya.

Ketika kita membaca Al-Qur’an, jelas kita tau kepada siapa Al-Qur’an saat itu diturunkan: Rasulullah salallahu’alaihi wassalam.

Tapi tidak dengan orang-orang yang datang sebelum kerasulan Muhammad salallahu’alaihi wassalam, karena kemerosotan moral kaum Yahudi, banyak wahyu yang turun sebelumnya menjadi tak terlacak.

Para ilmuwan mencoba melacak Old Testament atau Taurat yang beredar sekarang ini, mereka mengakui bahwa isinya enggak bisa di lacak sampai kepada Nabi Musa.

Ada lompatan beberapa abad antara masa ketika salinan Old Testament dibakar dan masa ketika mereka harus mengumpulkannya kembali.

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 02. Al-Baqarah (Ayah 3-4) – A Deeper Look (43:26 – 46:50)

(bersambung in syaa Allaahu ta’aalaa)


Diskusi dan Tanggapan VoB Hari Ke-79 Sore | Dan Mereka yang Beriman Kepada Kitab-Kitab yang Diturunkan Sebelummu

Ilmi:

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s