[VoB2020] Allah Bukan Sosok yang Haus Pujian


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

 

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-78
Topik: First Ayah of Fatiha

Senin, 7 September 2020

Materi VoB Hari ke-78 Pagi | Allah Bukan Sosok yang Haus Pujian

Oleh: Nurfitri Anbarsanti
#MondayAlFatihahWeek12Part1

Dalam kata ‘Alhamdulillah‘, Allah memilih menggunakan kata benda (أسم) dan tidak menggunakan kata kerja (فعل).  Padahal, waktu khutbah, atau sebelum tidur, biasanya ada doa ‘Innal hamdalillah, nahmaduhu, wa nasta’inuhu, wanastagfiruh..’, dan seterusnya. Ketika kita mengatakan ‘nahmaduhu (نحمده)’, itu sebenarnya kita bilang ‘kami memuji-Nya’. 

Sedangkan dalam kata ‘Alhamdulillah (الحمدلله)’, dikatakan bahwa al-hamd – yang termasuk isim atau kata benda – adalah untuk Allah. Di sini, Allah tidak bilang ‘kami memuji’, tetapi Allah bilang ‘pujian hanya milik Allah’. 

Memangnya, apa bedanya penggunaan kata benda dengan kata kerja? 

Dengan menggunakan isim, maka itu berarti bahwa pujian bagi Allah itu timeless. Tidak dibatasi oleh waktu.

Sedangkan jika menggunakan fi’il, maka pasti termasuk salah satu dari kata kerja lampau, kata kerja sekarang atau kata kerja di masa depan.

Jika kita mengatakan ‘aku sedang memuji Allah’, dalam bahasa Inggris atau Arab, maka akan jelas sekali bahwa kejadian ini terjadi sekarang. Tapi tidak ada bukti bahwa ini terjadi di masa lampau dan tidak ada garansi bahwa ini akan terjadi di masa depan.

Jadi, dengan menggunakan ‘alhamdulillah‘, maka Allah menyatakan bahwa pujian untuk-Nya itu tidak terbatas waktu. Karena kata benda, noun atau isim dalam bahasa Arab, itu tidak terbatas waktu. Timeless.

Lalu, karakter dari isim tidak hanya timeless, namun juga isim tidak membutuhkan pelaku (فاعل). 

Jadi, dengan menggunakan ‘alhamdulillah’, Allah mengatakan pada kita semua bahwa Allah tidak membutuhkan kita untuk memuji-Nya. Karena Allah tidak menggunakan kata kerja dalam ‘alhamdulillah‘.

Jika digunakan kalimat ‘aku memuji Allah’, maka, jika ‘aku’ tidak ada, maka kata kerja (dan juga pekerjaan)nya juga tidak ada. ‘Aku’ tidak ada di sana, maka yang ‘aku’ kerjakan juga tidak ada.

Jika digunakan kalimat ‘semuanya memuji Allah’, maka, pujian kepada Allah tergantung pada ‘semuanya’ karena ‘semuanya’ adalah pelaku. 

Tapi,ِ Allah tidak membutuhkan siapapun untuk memuji-Nya. Allah tidak tergantung pada apapun. Allah adalah ghaniyyul hamid, sosok yang Maha Kaya dan Terpuji. Pujian itu sudah melekat pada-Nya tanpa harus ada satu makhluk pun yang memuji-Nya.

Jadi, di dalam kata ‘alhamdulillah‘, Allah menggambarkan bahwa Dia itu bukan sosok yang haus pujian. Jadi jika ada yang bertanya, “Kenapa Allah nyuruh saya untuk muji Dia?”, atau “Kenapa Allah ingin saya berterima kasih, berdoa dan memuji Dia?”, maka orang tersebut belum memahami Al-Qur’an.

Al-Qur’an dimulai dengan fakta bahwa sebenarnya Allah tidak butuh pujian kok. Al-Qur’an dimulai dengan ‘alhamdulillah‘, yang sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bahkan pertanyaan seperti itu malah seharusnya tidak ada. 

Nah, ada beberapa tempat dalam Al-Quran di mana Allah menggunakan kata perintah saat berbicara dengan kita. Di mana aja ya?

 

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Surahs – Al-Fatihah – Al-Fatihah – A Deeper Look (0:23:54 – 0:26:06)

Bersambung insya Allah ba’da zhuhur.


Oleh: Nurfitri Anbarsanti

Materi VoB Hari ke-78 Siang | Mengapa Allah Tidak Menyuruh Makhluk-Nya untuk Memuji-Nya

#MondayAlFatihahWeek12Part2

Ada beberapa tempat di dalam Al-Qur’an di mana Allah memerintahkan kita, misalnya:

u’budu (اعبدوا) yang artinya “beribadahlah!” atau wa’budu (واعبدوا) yang artinya “dan, beribadahlah!”, atau

ittaqu (اتقوا), yang artinya “bertakwalah!”, dan seterusnya.

Tapi, di surat Al-Fatihah, Allah tidak bilang “Ihmadu (احمدوا)!”, yang artinya memerintahkan, “Pujilah!”

Karena, ketika kita memerintahkan atau menyuruh seseorang untuk memuji, untuk makan, untuk minum, untuk tidur, atau apapun; hanya ada dua hal yang mungkin terjadi, ya kan?

Ketika kita menyuruh seseorang untuk melakukan sesuatu, hanya ada dua kemungkinan yang mungkin terjadi, yaitu seseorang itu akan melakukannya, atau seseorang itu tidak akan melakukannya. 

Saat menjelaskan hal ini, ust. Nouman bercanda saat mengilustrasikan saat beliau meminta anaknya, Husna, untuk mengambil segelas air. Beliau mengatakan bahwa hanya ada dua kemungkinan yang terjadi, Husna akan membawakan segelas air atau Husna akan membawakan segelas air (hehe). Maksudnya, Husna akan membawakan segelas air atau Husna tidak membawakan segelas air.

Tapi, realistisnya, jika Allah meminta kepada kita untuk bertakwa, untuk memiliki ketakwaan; apakah kita selalu memiliki takwa setiap saat? Saat Allah meminta kita untuk bertakwa, apakah kita selalu memiliki takwa? Tidak kan? Terkadang kita memiliki ketakwaan, terkadang tidak.

Jadi, kalau Allah berfirman, “Ihmadu! (اِحْمَدُ)” yang berarti “Pujilah!”, maka, pujian itu akan ada pada Allah ketika kita memuji-Nya, dan pujian bagi Allah akan hilang ketika kita tidak melakukannya atau ketika kita sedang tidak sadar atau lalai.

Jadi, Allah tidak akan memerintahkan kita untuk memuji-Nya di dalam Al-Fatihah. Karena ketika Allah memerintahkan kita memuji-Nya, maka pujian itu bisa bertahan atau tidak, bergantung pada makhluk-Nya. Dan ini tidak mungkin terjadi pada Allah.

Allah tidak membutuhkan kita, dan juga tidak bergantung sedikitpun pada kita. Allah juga tidak menunggu kita agar hamd atau pujian melekat pada-Nya. Pujian bagi Allah sudah ada dengan sendirinya, sudah ada di dalam kata hamd itu sendiri. Tidak bergantung pada perbuatan makhluk dan tidak terbatas oleh waktu.

Nah… Hanya dengan melihat frasa ‘alhamdulillah‘ saja, kita sudah merasakan betapa sempurnanya Al-Qur’an, masya Allah. Memang pembahasan ‘alhamdulillah‘ ini membutuhkan sesi terlama. Ust. Nouman mengalokasikan waktu agak panjang untuk membahas ini.

Saat menjelaskan ini, Ust. Nouman sempat bercanda lagi. Beliau mengatakan, jika kita tidak mengerti satu pun yang beliau jelaskan, setidaknya kita bisa menyelesaikan kuliah beliau sambil mengatakan ‘alhamdulillah‘.. Hehe.

Nah, jika kita perhatikan seorang khatib yang ingin memulai sebuah ceramah, biasanya beliau memulai dengan “innalhamdalillah“. Tetapi, di Al-Qur’an, khususnya di surat Al-Fatihah, kita tidak mengatakan, 

Bismillahirrahmanirrahim, innalhamdalillahirabbil ‘alamin”. Kita tidak mungkin membaca begitu kan?

Khatib mengatakan “Innalhamdalillah“, sedangkan di surat Al-Fatihah kita mengatakan, “Alhamdulillah“.

Memangnya, kata ‘inna’ itu artinya apa sih?

 

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Surahs – Al-Fatihah – Al-Fatihah – A Deeper Look (0:26:06 – 0:28:08)

Bersambung insya Allah ba’da Ashar


Materi LBP Hari ke-78 Sore | Dua Jenis Kalimat, Informatif dan Ekspresif

Oleh: Nurfitri Anbarsanti

#MondayAlFatihahWeek12Part3

Ya, ‘inna‘ (اِنَّ) dalam bahasa Indonesia artinya sebenarnya, sesungguhnya, beneran lho. Dalam bahasa Inggris, artinya indeed, for sure.

Sehingga, ‘innalhamdalillah‘ (اِنَّ الحَمْدَ لله), artinya, beneran lho, bener, hamd, pujian dan ucapan terima kasih itu untuk Allah.

Di dalam Al-Qur’an, apakah dikatakan “sesungguhnya, hamd itu untuk Allah”? Tidak. Al-Qur’an hanya bilang “pujian dan terima kasih itu untuk Allah”, “hamd hanya untuk Allah”.

Pertanyaan muncul seperti ini, “Jika Al-Qur’an itu sempurna, dan hamd itu penting sekali, seharusnya di Al-Qur’an ditambah penekanan kan? Lalu, bagaimana jika ditambahkan penekanan dengan menambahkan ‘inna‘ (اِنَّ)? Daripada hanya sekadar dikatakan “hamd hanya untuk Allah”, seharusnya ditambahkan “pasti (definitely), hamd itu untuk Allah”.

Lebih powerful kalau ditambahkan اِنَّ kan? Jadi, bagaimana mungkin Al-Qur’an tidak menggunakan bahasa yang lebih powerful, yaitu ‘innalhamdalillah‘ (اِنَّ الحَمْدَ لله)? 

Apa manfaatnya tidak menggunakan اِنَّ? Padahal banyak tempat di Al-Qur’an di mana dikatakan ‘innallaha ghofururrahim‘, ‘innallaha huwa ar-razaq al-matin’? Di mana dengan penambahan kata اِنَّ, ada penekanan di sana, kok di Al-Fatihah tidak dikatakan ‘innalhamdalillah‘ (اِنَّ الحَمْدَ لله)? Padahal para khatib mengatakan itu, tapi kenapa Al-Quran tidak berkata seperti itu?

Yuk coba mengerti kenapa.

Untuk mencoba mencari tahu kenapa, sebenarnya sangat mudah sih. Ust. Nouman mencoba menjelaskannya dari sisi linguistik yang super mudah. Lebih mudah dari konsep isim dan fi’il. Tidak perlu punya gelar Ph.D. untuk mengerti ini. 

Nah, untuk memahami ini, perlu kita tahu bahwa ada dua jenis kalimat. Yang pertama, kalimat yang bertujuan untuk memberi informasi; sedangkan yang kedua, kalimat yang bertujuan untuk mengungkapkan perasaan. Tujuan ditulisnya kalimat itu ada dua, informasi (khabariyah) atau emosi (insya’iyah).

Contoh. “Program ini dimulai setelah magrib”. Kalimat apa ini? Kalimat yang bertujuan memberi informasi atau menyampaikan emosi atau perasaan? Tentu, informasi.

Contoh lainnya, “Oh my God!!”, atau “Ya Allah!!”. Nah jenis-jenis ungkapan ekspresif seperti ini, bertujuan menyampaikan emosi dan perasaan, bukan informasi. 

Jadi, ada beberapa kalimat yang bertujuan untuk mengkomunikasikan informasi, dan ada beberapa kalimat yang bertujuan untuk mengkomunikasikan ekspresi. 

Ketika kita menyampaikan informasi, kalimat itu bisa benar dan bisa juga salah. Misalnya contoh kalimat tadi, “Program ini dimulai setelah magrib”. Bisa salah, jika program itu malah dimulai setelah isya. 

Tapi, untuk kalimat yang bertujuan mengungkapkan ekspresi seperti ini “Wow keren!”, kita tidak bisa mengatakan kalimat itu salah atau benar. Karena itu hanya ungkapan ekspresi atau emosi atau perasaan saja. 

Nah, ungkapan ‘alhamdulillah‘ di Al-Fatihah, termasuk ke dalam kalimat yang mana?

———————————————–

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Surahs – Al-Fatihah – Al-Fatihah – A Deeper Look (0:26:06 – 0:30:43)

Bersambung insya Allah minggu depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s