[VoB2020] Opera of Muslim Women


بسم الله الرحمن الرحيم

Voice of Bayyinah (VoB)

Hari Ke-77

Topik : Leadership

Minggu, 6 September 2020

Materi VoB Hari Ke-77 Pagi | Opera of Muslim Women

Oleh: Indri Djangko

#SundayLeadershipWeek11Part1

Mengenai penggalangan dana untuk program non-profit, pekan lalu kita sudah bicara bahwa dana tersebut harusnya untuk modal program kerja dan berasal dari orang yang terlibat dalam program kerja tersebut. 

Ustaz Nouman lalu memberi contoh detail, misalnya tentang program pemberdayaan perempuan. Beliau menjelaskan berdasarkan ide yang sedang top up di kepalanya.

Program yang bisa dibuat dan dijalankan, misalnya membuat opera versi muslimah. 

Opera ini bisa dirancang untuk disiarkan di studio TV dengan mengundang perempuan-perempuan terpelajar. Berdiskusi tentang perempuan, pernikahan, parenting, perceraian, anak gadis yang akan menikah, KDRT, keluarga muslim, dll.

Program ini bisa berisi diskusi mendalam tentang perempuan muslim di masyarakat, dan direkam secara profesional untuk ditayangkan secara online.

Atau bisa juga mengundang perempuan-perempuan sukses yang sudah melakukan sesuatu yang hebat untuk masyarakat muslim.

Menyimak kisah dan project mereka, misalnya penerbitan buku atau novel anak, atau apapun yang sudah mereka kontribusikan untuk masyarakat muslim. Dengan begitu semoga program ini bisa membangkitkan semangat berperilaku positif, menciptakan role model untuk para perempuan, dan membangun media untuk para muslimah. 

Di bagian ini kita baru bicara soal jenis program yang bisa dilakukan, belum ke penggalangan dananya, ya. 

Bagaimana selanjutnya?

———————————-

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Courses – Leadership – 02. Leadership Workshop (24:00-25.00)


Materi VoB Hari Ke-77 Siang | Menjalankan Usaha Non-Profit melalui Masjid, Efektifkah?

Oleh: Indri Djangko

#SundayLeadershipWeek11Part2

Mari kita mulai bicara soal pendanaan, misalnya, untuk program pemberdayaan perempuan (oh ya, mungkin maksud Ustaz sebagaimana di bagian 1 adalah Oprah, jadi programnya berbentuk talkshow perempuan ala Oprah Winfrey tapi versi muslimah).

Untuk program tersebut, misalnya kita butuh USD 100.000 (kalo dirupiahkan kira-kira 1,4 M lah ya). Meski butuh uang segitu, jangan mengumumkan kebutuhan dana itu setelah jum’atan.

Orang yang punya ide-ide program kebanyakan adalah wirausahawan, kan? 

Jika para wirausahawan ini ingin memulai sebuah organisasi, menamainya, dan mencoba menawarkannya ‘ke masjid’, apa yang terjadi?

By the way, Ustaz disini berbicara sesuai pengalaman beliau sendiri dan juga pengamatan pada fenomena serupa, ya. Misalnya, penggagas project menawarkan kepada masjid, “Kami punya sebuah ide dan butuh pendanaan untuk women media project.”

Mungkin respon masjid akan seperti ini, “Hmm kayaknya nggak dulu, deh. Kita masih banyak pekerjaan yang harus digarap sekarang. Belum ada ruang untuk project ini.”

Atau, penggagas akan mendapatkan jawaban terindah, terbaik, terhalus dalam pertemuan syura’ : 

Insyaa Allaah, ya.”

Jazakillaahu khayran, ini ide yang bagus, kami suka ide ini, kami juga peduli tentang kepemudaan, eh, maksudnya tentang perempuan ini, sama aja kan, ya?” (ketahuan nggak concern, hehe).

Dan jawaban lain yang serupa, dan akhirnya project-nya enggak jalan.

Ustaz Nouman lalu bercerita tentang pengalamannya memulai Bayyinah, ternyata beliau juga sempat ‘ke masjid’.

Ustaz menawarkan ide. “Bagaimana kalau saya mengajar bahasa Arab, orang-orang berdatangan, kita bisa mengumpulkan uang, kita membangun ring basket, dan masjid ini tidak perlu menggalang dana tunggal lagi”.

Ide beliau ini lalu diterima. Ustaz mengajar bahasa Arab, dan mereka sukses mengumpulkan uang hingga bisa membangun 3 ring basket profesional di parkiran.

Orang-orang berdatangan ke masjid, dan program selanjutnya bahkan lebih besar daripada program bahasa Arab sebelumnya. 

Lalu di satu titik, Ustaz memutuskan untuk memperbesar program ini dan melakukannya sendiri. Menurut beliau, program non-profit akan cenderung stagnan. 

Ustaz tidak lantas menganggap masjid sebagai pesaing dan berubah menjadi membencinya, beliau masih tetap cinta masjid tersebut. Ustaz memutuskan untuk bergerak melalui kewirausahaan, dan ternyata apa yang terjadi?

Sebagai seorang wirausahawan, Ustaz lebih mudah bekerja sama dengan masjid tersebut, dibanding ketika beliau bekerja di dalam masjid. Bagaimana langkah kolaborasi yang ditawarkan Ustaz?

———————————-

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Courses – Leadership – 02. Leadership Workshop (25.00-26.59)


Materi VoB Hari Ke-77 Sore | Berkolaborasi dengan Masjid

Oleh: Indri Djangko

#SundayLeadershipWeek11Part3

Dalam kasus kewirausahaan muslim, sah-sah saja untuk mendorong wirausaha dalam masyarakat muslim tanpa harus bergabung dalam satu sistem, misalnya melalui masjid secara langsung. Karena di sana pasti sudah ada banyak prioritas lain. 

Ustaz lalu mengajak audience yang punya ide wirausaha untuk berdiskusi dengan beliau. “Saya tidak sedang membual. Jika Anda punya ide wirausaha dan serius dengan itu, datanglah kepada saya.”

“Saya akan menunjukkan bagaimana memulai dan menjalankannya.”

“Saya tidak akan menjalankannya untuk Anda. Saya akan mengajari anda bagaimana cara memancing ikan, dan anda akan pergi memancing sendiri.”

“Saya akan mengajari prinsip dasar memulai sebuah project, yang anda perlukan tidaklah banyak, anda hanya perlu serius meluangkan waktu dan berdedikasi.”

“Dan menurut saya, project wirausaha tidak akan bisa non-profit, ia harus menghasilkan keuntungan.”

Mengapa?

Ketika kita bergerak kembali secara non-profit, apa yang akan terjadi? Project akan berjalan hanya saat ada donasi yang masuk.

Tapi jika berorientasi profit, kita bisa bergerak kemudian kita meyakinkan orang lain, “Kamu yakin ini akan berjalan? Jika yakin, mari berinvestasi untuk project ini.”

Ustaz Nouman lalu bercerita lagi tentang pengalaman beliau mendirikan Bayyinah. Beliau mendapat modal awal dari para investor, bukan donatur. Semua investor akan merasa memiliki dan akan berusaha agar project sukses.

Ustaz Nouman ingin project yang dijalankan muslim bisa sukses secara finansial. Sehingga mereka tidak meminta dana, tetapi justru berdonasi. Mereka tidak mengambil hasil-hasil kotak amal, tapi justru beramal. Itu sangat mungkin terwujud.

Kita umat muslim hanya perlu menemukan target audience yang kebutuhannya belum terlayani dan kita berusaha mengadakan jasa untuk melayaninya. Penyediaan jasa tertentu yang belum tersedia bagi masyarakat muslim ini sekaligus akan mempermudah pekerjaan masjid.

Masjid hanya perlu mengarahkan masyarakat kepada lembaga jasa sesuai kebutuhan. “Hei, anda ingin belajar bahasa Arab? Silahkan mengunjungi lembaga ini.”

Masjid akan menjadi payung yang akan menaungi usaha-usaha muslim yang menyediakan berbagai jasa ini. Masjid tidak perlu melakukan semuanya, hanya perlu fokus pada dua atau tiga pekerjaan besar. Sisanya, untuk pekerjaan yang lebih detail, akan ditangani mereka yang menyediakan berbagai macam jasa. 

Setelah itu kita hanya perlu mendorong para wirausahawan untuk bergerak ke segala penjuru, menyentuh berbagai aspek jasa yang dibutuhkan. Ustaz Nouman mengajak para audiens berpikir, pilihan mana yang lebih cerdas secara finansial: setiap masjid menyediakan lembaga penyuluh, atau terdapat jasa penyuluh/bimbingan konseling yang terhubung dan bekerja sama dengan setiap masjid? 

Jadi, setiap orang yang membutuhkan konsultasi, masjid akan mengarahkan kepada lembaga jasa konseling tersebut. Bukankah akan lebih mudah?

Apalagi, apabila lembaga-lembaga ini tidak melaksanakan fungsinya dengan baik, orang-orang akan berhenti datang kepada mereka.

Mereka akan kehilangan pelanggan, sehingga untuk mencegah hal tersebut, mau tidak mau, kualitas pelayanan mereka akan selalu ditingkatkan.

Ustaz Nouman menutup penjelasan, sekaligus sebagai pengantar pada sesi baru dengan berkata:

“Organisasi muslim tidak perlu memiliki semua, begitu juga dengan masjid. Tidak perlu memiliki dan mengurus semua.”

Ustaz Nouman mengajak kita untuk membuka opsi belajar melakukan outsourcing. Karena di luar sana banyak solusi yang sudah ada. Kita perlu merangkul dan berkolaborasi dengan mereka.

———————————-

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Courses – Leadership – 02. Leadership Workshop (26.59-29.52)


Diskusi & Tanggapan VoB Hari Ke-77 Sore | Opera of Muslim Women

Ibu Hafni 

MashaaAllah. Yes, I do agree with Ustadh NAK that  the social activities and/or non profit oraganization need the hands of *entrepreneurs* and should be managed professionally. 

A friend of mine  works in an American based *non profit organization*. It’s surprising me  because she graduated (Master of Science) from a famous American University. I did not understand her decision because in my mind  the non profit organization cannot offer good pay/benefits for its employee. 

When she did explain to me, I understand that  she’s paid not less that the employee of a multinational company, even with additional amazing benefits. 

Question: 

Can masjid and/ or a social organization be organised and managed  professionally the way the entrepreneurs organise and  manage their business? 

Ario

Boleh menurut saya Bu, tapi ada batasnya karena masjid bukan pasar. Saya mendambakan masjid dikelola profesional karena punya pengalaman buruk. Dulu mengalami mendapati petugas masjid yang pergi ke masjid “untuk bekerja”. “Ada pekerjaan” datang ke masjid, “selesai bekerja” pulang.

Saat waktu salat Maghrib misalnya petugas itu pulang saat jamaah masjid berdatangan untuk salat. Datang lagi saat salat isya untuk mengunci masjid.Itu membuat saya kesal dan kecewa akhirnya pindah masjid. Saya rasa petugas masjid  sebaiknya tidak melupakan betapa mulianya menjadi petugas masjid. Kesempatan menjadi memakmurkan masjid sangat besar karena punya akses kapanpun ke masjid buat ibadah. Punya kunci masjid, bisa salat, ngaji, beramal kapanpun.

Sementara jamaah waktunya terbatas, janganlah saat kesempatan bisa beramal di masjid cuma bisa sebentar. Misalnya cuma bisa ikut salat isya saja. Habis isya ga bisa “itikaf” sejenak sebab masjid banyak yang tutup 5-10 menit setelah salat isya berjamaah selesai.

Gustya

Thanks for your thoughts, Bu Hafni @⁨hfm⁩ 😊

I don’t know about masjid, Bu, but a lot of social/non-profit/not-for-profit organisations are profesionally managed, including by providing good package and benefits for their employees, i.e. similar with experience of Bu Hafni’s friend. 

Even in Indonesia, Undang-undang Yayasan allows Yayasan to establish business arm(s) to ensure (financial) sustainability of the foundations.

Ibu Hafni

Probably one of unique professionally  Masjid in Jogya ( Masjid Jokokarian) can be the model of designing the new concept of managing the masjid. Masjid Agung Sunda Kelapa seems professionally managed too, I think. It has fixed  program everyday.

Gustya

I agree with you, Bu.

According to several members of other VoB groups, Masjid Salman Bandung has continous and various programs, too

I agree with you, Bu.

According to several members of other VoB groups, Masjid Salman Bandung has continous and various programs, too

***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s